
Charly duduk di sofa kamar pribadinya, keningnya bertaut dengan wajah yang terlihat sangat kalut. Matanya melihat ke depan menyorot tubuh wanita yang kini sudah terbaring tak sadarkan diri di atas ranjangnya.
Ya, Charly terpaksa memberi Tiara obat penenang dengan dosis cukup tinggi untuk membuat dia tertidur, saat wanita itu semakin bertindak liar dan meminta hal yang tidak mungkin dia berikan.
Walau di negaranya hal itu termasuk lumrah dilakukan, tetapi dia sadar jika di negara ini aturannya berbeda, apa lagi dia hanya sementara berada di sini dan Tiara juga masih berstatus istri orang. Dia tidak mungkin menuruti permintaan wanita itu dan mengabaikan hati nuraninya.
Charly juga yakin, jika sampai dia mau menuruti permintaan Tiara, maka itu akan menjadi sebuah penyesalan bagi wanita itu ketika sudah tersadar dari pengaruh obat perang-sang yang entah kenapa bisa diminum oleh Tiara.
Semenatara itu, Ramon yang kebetulan tengah berada di luar rumah Charly suruh untuk menjemput Davi di sekolahnya sekaligus membawanya berjalan-jalan lebih dulu. Dia tidak mungkin memperlihatkan keadaan Tiara yang sedang kacau pada anak kecil itu.
Setelah menenangkan diri, Charly kembali pada pekerjaannya, mengacuhkan Tiara yang masih tertidur dengan tenang.
Waktu berlalu tanpa terasa, Charly masih tampak duduk di depan meja kerjanya lengkap dengan laptop yang masih menyala. Dia yang sudah menyuruh salah satu rekan kerjanya meretas CCTV rumah Tiara, untuk memastikan siapa yang memberikan obat itu pada Tiara, kini sedang menunggu hasilnya.
Sementara itu Tiara yang mulai tersadar tampak mengerutkan keningnya cukup dalam, rasa pening bercampur sakit di sekujur tubuh begitu terasa menyakitkan, diiringi ingatan tentang kejadian beberapa saat lalu yang mulai kembali, bagaikan sebuah potongan adegan film yang belum tersusun sepenuhnya.
Suara getar ponsel terdengar, mengalihkan perhatian Charly yang memang menunggu kabar sejak tadi.
"Hem." Charly hanya bergumam dengan mata masih menatap fokus pada layar laptop di depannya.
"Sudah berhasil, aku sambungkan pada laptop milikmu sekarang," ujar seseorang di seberang sana.
"Iya, sambungan sekarang," jawab Charly, tanpa sadar bahwa Tiara sudah membuka mata.
Wanita itu tampak menatap lama punggung lebar Charly yang sedang duduk memunggunginya, jelas jika Charly tidak tahu kalau dirinya sudah tersadar.
Perlahan dia mulai membawa tubuhnya untuk bersandar, walau itu semua terasa masih sangat berat. Tiara melihat kedua pergelangan tangannya yang membiru, dia tersenyum miris saat tahu jika itu akibat dari perbuatan gila Dery.
Dasar laki-laki gila! umatnya dalam hati.
Tiara kemudian menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya, lalu melihat bekas pukulan ikat pinggang yang terlihat jelas di kakinya. Berwarna biru keunguan dengan kulit yang sedikit terkelupas. Rasanya begitu perih dan sunguh menyakitkan ketika dia hanya mengusapnya menggunakan jari yang sedikit bergetar.
__ADS_1
Apakah seperti ini yang Tiara terima selama ini dari suami brengseknya itu? Tiba-tiba hatinya terasa perih saat mengingat nasib Tiara asli yang pasti sangat tidak berdaya dan tidak ada pertolongan, selama bertahun-tahun lamanya.
Saat ini dirinya mungkin masih beruntung karena ada Charly, tempatnya bersembunyi dan meminta tolong untuk sesaat. Namun, bagaimana dengan Tiara asli? Rumah Rere bahkan berada jauh dari sini, dan dia juga tidak memiliki pelindung lain di rumahnya sendiri.
Sementara itu Charly yang sedang menunggu laptopnya tersambung dengan perangkat milik temannya, melihat bayangan Tiara yang mulai bangun dan duduk di ujung ranjang, tanpa menoleh dia kemudian mengambil aerphone lalu memasangnya, agar wanita itu tidak mendengar apa yang akan dia lihat nantinya.
Laptop sudah tersambung, dengan menekan satu tombol kini dia bisa melihat apa yang terjadi di rumah Tiara, tangannya mengepal saat dia melihat Dery melakukan penganiayaan pada Tiara di depan kamar, dirinya tidak menyangka jika Dery bisa melakukan itu pada istrinya sendiri.
Ada rasa geram di dalam dada, ketika melihat Tiara yang terus meronta dan berusaha tetap sadar untuk bisa pergi dari Dery. Charly semakin dibakar amarah saat melihat Tiara diseret secara paksa ke dalam kamar, dan setelah itu tidak ada lagi kamera CCTV yang bisa menangkap apa yang terjadi di sana.
Charly langsung menutup laptopnya begitu melihat Tiara mulai beranjak, dia berbalik dengan wajah yang sudah berubah biasa saja.
"Mau ke mana?" tanyanya, tanpa beranjak dari kursi.
Tiara yang mendengar suara Charly, langsung mengangkat kepalanya cepat. Ada rasa canggung ketika dia mengingat perbuatannya pada Charly beberapa saat yang lalu. Sungguh, Tiara sangat malu saat ini.
Bagaimana mungkin wanita yang masih berstatus sebagai seorang istri malah kabur dari suaminya sendiri dan meminta berhubungan badan dengan laki-laki lain? Mengingat itu, Tiara merasa dia tidak ada bedanya dengan Dery.
"Kamar mandi! Iya, ke kamar mandi," sambungnya sambil meringis menahan rasa malunya.
"Oh." Charly hanya mengangguk samar kemudian beranjak dari bangku dan menghampiri Tiara yang masih berdiri di sisi ranjang.
Astaga, kenapa dia malah jalan ke sini sih? batin Tiara mulai panik, jantungnya bahkan berdebar tak menentu seiring langkah kaki Charly yang semakin mendekat.
"Mau aku bantu? Kamu pasti kesulitan berjalan," ujar Charly sambil mengulurkan tangannya ke depan Tiara, dia sama sekali tidak tahu jika Tiara saat ini merasa tertekan dengan kehadirannya. Atau mungkin hanya mengacuhkannya saja?
"T‐tidak usah, a–aku bisa sendiri," jawab Tiara terbata, dia mencoba melangkahkan kaki, walau ternyata kepalanya masih terasa sangat pusing hingga langkahnya goyah dan hampir terjatuh, bila Charly tidak sigap menangkapnya.
"M–maaf," ujar Tiara sambil berusaha menegakkan tubuhnya kembali.
"Biar aku bantu saja." Charly tidak melepaskan tangannya dari pundak Tiara.
__ADS_1
Tiara akhirnya mengangguk pasrah, dengan jantung yang terasa bertalu di dalam sama. Charly mulai menuntun Tiara untuk berjalan menuju kamar mandi, dengan kondisi jantung yang tidak jauh berbeda seperti Tiara. Entah mengapa, ada gelanyar rasa yang berbeda jika dirinya tengah berada di sisi wanita yang notabene sudah bersuami itu?
Charly sudah berusaha menepisnya, dia juga tahu aturan. Selain itu dirinya juga belum memikirkan untuk memiliki sebuah hubungan. Pekerjaannya yang memiliki bahaya tinggi, membuatnya enggan untuk menjalani hubungan dengan seseorang.
"Sudah, sampai sini aja." Taira menghentikan langkahnya begitu sampai di depan pintu kamar mandi.
"Baiklah," jawab Charly kemudian melepaskan tangannya di pundak Tiara dan memberi jarak bagi wanita itu.
"Terima kasih," ujar Tiara sambil melirik sebentar wajah Charly, kemudian mulai membuka pintu dan masuk ke dalam kamar mandi.
.
Suara mobil yang berhenti di halaman membuat Tiara dan Charly mengalihkan perhatian mereka. Tiara yang hendak bangkit ditahan oleh Charly, dia tahu jika wanita itu masih lemah.
"Biar aku yang melihat," ujar Charly. Tiara mengangguk sebagai jawaban.
Saat ini Tiara sudah merasa lebih baik, dia juga sudah membersihkan tubuhnya bahkan mengganti baju dengan baju yang diantarkan Mak Onah secara diam-diam ke rumah Charly. Semua lukanya sudah diobati, hingga tidak lagi terasa terlalu sakit seperti tadi.
Ternyata itu adalah Ramon yang membawa Davi pulang, anak itu tampak sedang tertidur di gendongan Charly ketika masuk ke dalam rumah. Tampaknya Davi kelelahan karena Ramon mengajaknya bermain hampir seharian.
"Dia terus menanyakan kamu ketika bermain, sepertinya dia tahu kalau kamu sedang tidak baik-baik saja. Apa selama ini jika kamu sedang dalam keadaan begini, dia juga selalu diajak bermain?" ujar Ramon sambil duduk di depan Tiara.
Tiara membisu, dia tidak tau apa yang Tiara asli lakukan jika dirinya sedang disiksa oleh Dery. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba saja hadir ketika mendengar jika Davi mengkhawatirkannya. Rasa senang yang hadir ketika ada yang memikirkan keadaannya walau itu hanya seorang anak yang menganggap dia adalah ibunya. Membuatnya sekaligus merasa bersalah pada anak yang masih polos itu.
.
Sementara itu di rumah Tiara, semua pelayan sedang sibuk membersihkan rumah yang sudah hancur karena Dery yang mengamuk. Laki-laki itu menghancurkan seisi rumah, hingga kini tidak ada lagi yang tersisa.
Niken dan Ibu mertuanya yang baru saja datang pun dibuat terkejut dengan kondisi rumah yang hancur berantakan. Mereka yang mengira sudah berhasil memberikan Tiara sebagai umpan untuk kegilaan Dery, terkejut bukan main saat mendengar jika Tiara kabur dari rumah.
"Sial, ternyata sekarang wanita itu bisa kabur dari Dery!" umpat wanita paruh baya itu, sambil melihat seisi rumah yang sudah hancur berantakan.
__ADS_1