
"Ada apa?" Tiara berjalan menuju ke jendela kecil di salah satu sisi kamarnya dengan ponsel menempel di telinga. Nada suaranya terdengar datar, karena hati yang masih perih terasa.
"Ada apa, suaramu berbeda?" Bukannya menjawab Charly yang ternyata memang peka dengan perubahan Tiara malah bertanya pada wanita itu.
Tiara menghembuskan napas pelan sebelum menjawab, dia mencoba menetralkan perasaan yang saat ini tengah dilanda kegundahan.
"Ah, aku tidak apa, hanya sedang melihat hujan," jawab Tiara sambil mendongak melihat rintik hujan yang mulai lebat. Suaranya dia buat senormal mungkin.
Charly tersenyum, dia yang tengah mengendarai mobil, juga tampak melihat air yang mulai berjatuhan lalu membasahi mobil berwarna hitam miliknya.
"Ada apa, menelepon?" tanya Tiara lagi saat dia tidak mendengar suara Charly.
"Ada satu informasi yang bisa sangat membantu kita, tapi aku ingin membicarakan ini secara langsung," ujar Charly dengan nada penuh semangat.
Berbeda dengan Charly yang terdengar senang, Tiara malah menghembuskan napas kasar.
"Aku sudah ada di rumah, bagaimana bisa kita bertemu?" tanya Tiara.
"Lagi pula saat ini aku sedang tidak ingin ke luar, jadi lebih baik nanti saja kita bicarakan lagi," sambung Tiara lagi, kemudian menutup teleponnya begitu saja.
Charly dibuat terkejut dengan semua itu, sikap Tiara terasa janggal dan berbeda dari biasanya, itu membuatnya khawatir pada wanita itu.
"Apa dia sakit?" gumam Charly sambil menatap layar ponsel yang sudah mati kembali.
.
Setelah menutup panggilan teleponnya dengan Charly, Tiara berdiri di depan jendela untuk beberapa saat, dia menatap rintik hujan yang terlihat semakin lebat. Angin yang berhembus pun terasa sangat menyejukkan.
Puas menatap hujan, Tiara kembali duduk di meja rias, dia singkirkan semua peralatan yang ada di sana kemudian memberi ruang untuk menaruh laptop peninggalan dari Tiara asli.
"Maaf kalau aku lancang, aku hanya ingin tahu masa lalumu," gumam Tiara kemudian membuka beberapa berkas di sana, seperti foto, video dan yang lainnya.
Dulu waktu dirinya baru saja ke luar dari rumah sakit, dia memang pernah memeriksa isi laptop milik Tiara, tetapi itu hanya sekilas, tidak ada niat untuk mengenal Tiara lebih jauh. Namun, itu berbeda dengan sekarang, dia mulai memiliki rasa yang menuntunnya untuk memiliki simpati pada kehidupan Tiara. Liora ingin mengetahui lebih dalam tentang Tiara, dia ingin meresapi setiap rasa yang hadir ketika foto dan video itu diambil.
Lama terhanyut oleh berbagai rasa yang dia dapatkan dari beberapa foto dan video di sana, dia dikejutkan oleh seseorang yang tiba-tiba mengetuk jendela kamarnya.
Tiara mengernyit, dia mencoba menajamkan pendengarannya karena suara ketukkan itu samar terdengar oleh suara hujan. Perlahan Tiara berjalan menuju jendela yang memang sengaja dia buka hingga angin terlihat membuat tirai di sana berkibar, tetapi anehnya dia tidak melihat seseorang pun di sana.
Melangkah dengan mata waspada, Tiara mengedarkan pandangan mencari arah suara tadi, dia berdiri di depan jendela kemudian sedikit memunculkan kepalanya ke luar mencari seseorang yang mungkin ada di sana. Keningnya mengernyit ketika melihat ada percikan air di kusen jendela.
Orangnya sudah masuk ke dalam, batin Tiara sambil perlahan menegakkan lagi tubuhnya. Semua indra di dalam dirinya tiba-tiba saja menjadi lebih peka, dia mencoba mencari sesuatu yang janggal di dalam kamarnya sendiri.
__ADS_1
Siapa yang berani masuk ke kamarku secara diam-diam, padahal aku sedang ada di dalamnya? Tiara kembali bergumam mencari kemungkinan orang yang ada di kamarnya saat ini. Namun, pikirannya sama sekali tidak bisa menebak orang itu dan apa tujuan dia menyelinap ke kamarnya.
Perlahan Tiara mencoba berbalik, saat tiba-tiba ada sebuah tangan yang menepuk pundaknya, dengan cepat dia mengambil tangan itu kemudian membawanya berputar, bersiap hendak memitingnya, tetapi ternyata lawannya lebih pintar dan memiliki kekuatan lebih besar darinya, hingga kini dia berakhir dengan dikunci oleh orang yang masih berada di belakangnya. Tangan besar yang terasa sedikit lembap karena air hujan itu melingkar tepat di lehernya, bersiap untuk mencekik jika dia bergerak sedikit saja.
"Siapa kamu, untuk apa kamu lancang masuk ke kamarku, heh?!" sentak Tiara dengan napas yang memburu, dadanya teras sedikit sesak karena posisi mereka saat ini.
"Coba tebak sendiri," ujar orang di belakang Tiara, berbisik tepat di depan telinganya. Untuk sesaat Tiara tampak terdiam dengan suara yang familiar, tubuhnya meremang merasakan hembusan napas hangat dari seseorang di belakngnya yang kini dia tahu siapa itu.
Namun, itu tidak berlangsung lama, secepat mungkin dia mengembalikan kesadrannya kemudian menginjak kaki laki-laki itu hingga lengan di lehernya terlepas, dia memanfaatkan itu untuk melepaskan diri kemudian berbalik dan menendang laki-laki itu tepat di perutnya.
"Arrgh!" Laki-laki itu tampak membungkuk sambil memegangi perutnya, wajahnya meringis menahan sakit. Namun, semua itu tidak membuat Tiara iba, dia sudah cukup kesal oleh orang itu hingga rasanya Tiara ingin memukul laki-laki itu hingga babak belur sekalian.
"Kamu mempermainkanku, hah?!" kesal Tiara, napasnya bahkan masih memburu hingga dadanya terlihat naik turun, ada kilat amarah di dalam pandangannya.
Laki-laki itu malah terkekeh mendapati kekesalan Tiara, sepertinya dia merasa puas karena sudah mengerjai wanita itu.
"Siapa suruh kamu membuat aku khawatir dengan menutup teleponku secara sepihak, hem? Lagi pula kenapa pula ponsel kamu tidak bisa dihubungi setelahnya?" tanya laki-laki itu yang tak lain adalah Charly.
Ya, Charly langsung bergegas menyelinap ke rumah Tiara begitu dia sampai setelah melakukan pekerjaannya. Rasa khawatir karena sikap Tiara yang berbeda ditambah ponsel Tiara yang tidak bisa dihubungi setelahnya, tanpa sadar telah membuat laki-laki seperti Charly melakukan hal nekat dan tidak bisa seperti ini.
"Aku hanya sedang ingin sendiri saja, ngapain juga kamu malah ke sini," gerutu Tiara sambil kembali duduk di depan meja riasnya.
"Ternyata kamu cukup pandai bela diri, apa kamu belajar nela diri sebelumnya?" Charly tampak tersenyum tipis, laki-laki itu mengikuti Tiara kemudian berdiri di belakangnya.
Tiara terdiam, dia bingung mau menjawab apa pada Charly.
Kenapa aku lupa berpura-pura tidak bisa melakukan bela diri sih? gerutu Tiara merutuki dirinya sendiri. Padahal itu memang udah refleks yang sudah dia latihan sejak kecil, ditambah dengan suasana hatinya yang tidak baik, hingga membuatnya melupakan posisinya saat ini yang sedang berada di dalam tubuh Tiara.
"A–kau tidak bisa bela diri, i–itu hanya kebetulan saja, mungkin gerakannya mirip dengan gerakan bela diri," ujar Tiara memberi alasan.
"Hem, begitu?" tanya Charly sambil menatap Tiara penuh selidik dari pantulan cermin di depan keduanya. Reaksi Tiara yang terlihat gugup malah membuat Charly mulai curiga. Namun–
Deg!
Mata mereka sempat bersitatap untuk beberapa saat, membuat hati keduanya tiba-tiba berdebar tak karuan. Itu semua membuat mereka jadi salah tingkah sendiri dibuatnya.
"Ekhm!" Charly berdeham sambil berjalan menjauh dari Tiara kemudian memilih duduk di sisi ranjang milik Tiara, dia mencoba untuk menetralkan lagi degub jantung yang tiba-tiba saja bertalu.
Begitu juga dengan Tiara, tiba-tiba saja pipinya terasa memanas hanya karena sebuah tatapan yang dilakukan oleh Charly beberapa saat lalu, sungguh dia tidak menyangka semua ini akan terjadi padanya. Sekuat tenaga Tiara mencoba untuk menyangkal rasa yang seharusnya memang tidak pernah ada.
Untuk beberapa saat keduanya membiarkan keheningan berada di antara mereka, hanya rintik hujan yang masih saja terdengar di telinga sebagai musik alami yang menemani keduanya.
__ADS_1
Tidak mau suasana canggung itu berlangsung lama, Charly mengambil ponselnya, dia kemudian kembali menghampiri Tiara dan memperlihatkan salah satu foto di sana.
"Ini yang ingin aku beritahu padamu," ujarnya sambil meletakkan ponsel miliknya di atas meja rias, kemudian memilih berdiri di sisi meja rias itu sambil bersidekap dada.
Tiara mengernyit, dia sedikit mendongak demi melihat wajah tampan dan berkarisma milik laki-laki di hadapannya. Sayang sekali, Tiara harus kembali sadar diri jika dirinya diharamkan untuk memiliki rasa pada laki-laki itu.
"Apa ini?" tanyanya kemudian.
"Coba kamu baca dulu, pasti nanti kamu tahu itu apa," jawab Charly masih dengan posisinya yang membuat hati Tiara semakin tak menentu.
Perlahan tangan itu mengambil ponsel milik Charly yang masih tergeletak di depannya, dia melihat gambar yang ada di sana dan membaca setiap kata yang tertera di sana. Untuk sesaat Tiara tampak terdiam dan fokus pada foto sebuah dokumen itu, hingga beberapa saat kemudian dia melebarkan matanya sambil melihat Charly dengan wajah terkejut.
"Ini–" Tiara tampak terkejut dengan apa yang dia lihat.
"Iya, itu adalah surat pengalihan hak kuasa pengelolaan perusahaan dari kedua orang tuamu pada Dery dan keluarganya," jawab Charly yang tahu apa arti tatapan wanita itu.
"Tapi, bagaimana dengan surat yang kemarin?" tanya Tiara masih tidak percaya.
"Itu adalah surat kuasa yang sudah dipalsukan oleh keluarga Dery, sementara ini adalah surat aslinya," jawab Charly sesuai dengan yang dia tahu.
"Jadi pengacara itu menipu kita?"
"Tidak, dia hanya ingin memastikan jika kita bisa melindunginya dan keluarganya sebelum memberikan surat asli ini."
"Jadi surat ini dari dia?"
Charly mengangguk pasti, hingga senyum di bibir Tiara tampak mengembang.
"Dengan ini kita bisa langsung menuntut Dery dengan kecurangan dan pemalsuan surat kuasa, kan? Jadi sebentar lagi kita bisa mendapatkan perusahaan orang tuaku lagi?" tanya Tiara dengan penuh semangat, dia bahkan sampai berkaca-kaca karenanya. Walau sebenarnya Tiara sendiri tidak tahu apa arti air mata itu, apa benar dirinya bahagia atau mungkin malah kesedihan karena sebentar lagi tugasnya selesai dan tidak akan ada alasan lagi untuknya tetap di sini.
"Tidak semudah itu, Tiara. Kamu harus bisa mengambil hati para pemegang saham dan membuktikan pada mereka jika Dery berbuat curang di perusahaan, agar mereka bisa membuat Dery dicabut dari posisinya sebagai CEO." Charly mencoba memberi pengertian pada Tiara jika ini memang sesuatu yang besar, tetapi jika tidak ada pendukung lainnya, mereka akan tetap kalah dari Dery. Apa lagi dia tahu jika Dery adalah kaki tangan dari seorang Roxi, jika saja mereka salah langkah, maka bukan tidak mungkin mereka yang akan jadi korban dari kekejaman mereka.
Sontak perkataan Charly langsung membuat senyum Tiara kembali redup.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang? Bagaimana caranya agar aku bisa membuat para pemegang saham yang lainnya memihakku?" tanya Tiara. Dia pandai dalam mengelola sebuah wilayah yang tunduk pada kepemimpinan dirinya, tetapi dia tidak pernah mengelola sebuah perusahan.
"Kita pikirkan itu nanti, kebetulan aku mempunyai informasi jika ada beberapa kecurangan yang dilakuakn Dery di perusahaan. Tapi, semua itu belum terbukti dengan jelas, sepertinya orang-orang yang bekerja di sana sudah tau, tetapi tidak ada yang berani mengatakannya di luar perusahaan," ujar Charly mengingat apa yang dia dengar sewaktu menyusup ke perusahaan.
"Apa yang harus aku lakukan? Berikan aku tugas, aku kan membantu sekuat yang aku bisa," pinta Tiara.
Charly terdiam, dia seperti sedang berpikir keras, matanya menatap Tiara yang masih duduk di depannya. Entah apa yang sedang laki-laki itu pikirkan dan rencanakan selanjutnya?
__ADS_1