Terjerat Pesona Istri Tetangga

Terjerat Pesona Istri Tetangga
Bab.76 Sebuah jaminan


__ADS_3

Charly menghentikan mobilnya ketika dia melihat ada sesuatu yang janggal di depan sana, dia melihat ada pergerakan yang mencurigakan.


"Kamu tunggu di dalam, jangan ke luar kalau aku tidak menyuruhnya," ujar Charly sambil melepaskan sabuk pengaman dan bersiap untuk ke luar dari mobil.


Liora hanya mengangguk, tanpa berniat menjawab. Biarkan saja lah untuk sekarang Charly dan Ramon yang mengurusnya, sementara dia hanya akan ke luar ketika kondisi benar-benar genting. Sebut saja dia itu adalah senjata rahasia Charly. Sementara ini, itulah anggapan Liora.


Charly tampak berjalan ke depan mobil, diikuti oleh Ramon, setelah menghentikan motornya di belakang mobil Charly.


Dari arah hutan, terlihat beberapa orang laki-laki datang dengan senjata tajam di tangan. Liora melebarkan matanya ketika melihat itu semua.


"Wow, sepertinya ini akan seru." Bukannya khawatir dengan keselamatan Charly dan Ramon, Liora malah terlihat antusias.


"Siapa kalian!" tanya salah satu laki-laki yang tampak berdiri di depan empat orang lainnya.


"Siapa kami? Itu bukan urusanmu," jawab Charly.


"Sialan, berani kamu berbicara begitu pada kami, heh?!" kesal laki-laki dengan potongan rambut cepak itu.


"Memang siapa kalian? Aku juga tidak mengenal kalian, jadi untuk apa aku harus mengatakan identitasku?" ujar Charly masih dengan santainya.


"Brengsek!" umpat laki-laki itu kemudian memberi isyarat pada anak buahnya untuk menyerang Charly dan Ramon.


Melihat itu, Charly dan Ramon pun sigap untuk menerima serangan dari para anak buah Roxi. Pertarungan itu pun tidak bisa dihindarkan. Charly dan Ramon harus bekerja sama agar mereka tidak terluka oleh senjata tajam yang dibawa oleh ke lima orang itu.


Charly menahan serangan dari ketiga lawannya, dia mencoba terus menghindari senjata tajam yang siap untuk melukai tubuhnya, sekaligus menyerang balik lawan walau dia hanya menggunakan tangan kosong.


Charly menangkis salah satu tangan lawannya, kemudian memutar hingga belati yang orang itu bawa kini berbalik mengancam sang empunya, dia kemudian memukul tangan lawannya, hingga belati itu terlepas dari tangan dan jatuh terhempas jauh dari jangkauan mereka.


Namun, salah satu lawan lainnya mencoba menyerangnya dari arah belakang, hingga senjata tajam yang orang itu bawa hampir saja melukai punggung Charly. Untung saja, Charly lebih dulu mengetahui gerakan itu, hingga dengan cepat dia membalik tubuh sambil membawa lawan yang ada di dekatnya untuk dijadikan tameng.


Cras! Pisau yang berukuran cukup besar itu pun berhasil melukai kulit lawan Charly, disusul dengan tetes darah yang mulai mengalir dari luka di perut laki-laki itu. Charly melempar lawan yang terluka itu, kemudian kembali bertarung dengan dua orang lainnya.


Tidak berbeda dari Charly, Ramon pun tampak sedikit kewalahan meladeni dua lawannya yang memegang senjata tajam. Salah perhitungan sedetik saja, bisa-bisa tubuhnya terluka, dan itu tidak terlalu bagus untuk keduanya. Ini baru saja permulaan, tidak lucu jika mereka sudah mendapatkan luka, bukan.


Tidak begitu lama, hanya membutuhkan waktu kurang lebih lima menit, semua lawan Charly dan Ramon pun sudah bergelimpangan di jalanan itu dengan berbagai luka di tubuhnya. Kondisi mereka cukup mengenaskan, walau mungkin tidak terlalu fatal. Ada yang pingsan, ada juga yang setengah sadar, walau cukup sulit untuk bangun.


"Beres!" ujar Ramon sambil menepuk kedua tangannya, seolah sedang menyingkirkan debu yang ada di sana.


"Ayo, kita harus segera sampai ke atas," ujar Charly setelah mengambil ponsel dan alat komunikasi lainnya dari tubuh para anak buah Roxi.


Ramon mengangguk, dia kemudian kembali ke motor Liora, begitu juga dengan Charly.

__ADS_1


"Hebat," ujar Liora sambil mengacungkan jempolnya, begitu Charly duduk di kursi kemudi lagi.


"Apanya yang hebat? Aku bahkan tidak bisa menangkap kamu," ujar Charly sambil mulai melajukan mobilnya.


Liora tersenyum sambil menyandarkan tubuhnya kembali. Wanita itu sengaja berlaku sedikit konyol dan ceria, demi untuk menyamarkan rasa khawatir di dalam hatinya. Dia tidak mau jika sampai Charly semakain khawatir padanya, jika dia terus bersikap lemah di hadapan laki-laki itu.


"Kalau itu beda. Aku lebih dari sekedar hebat," jawab Liora membanggakan diri.


"Sssh, ternyata kamu bisa percaya diri juga." Charly menggelengkan kepalanya pelan.


"Karena aku memang pantas untuk percaya diri." Liora melipat kedua tangannya di depan dada dengan dagu sedikit naik.


Charly tersenyum sambil geleng kepala mendengar ucapan Liora yang benar-benar terdengar percaya diri.


Tidak lama kemudian, Charly kembali menghentikan mobilnya beberapa meter lagi dari gerbang hotel terbengkalai itu. Charly dan Liora pun ke luar dari mobil, mereka bergabung dengan Ramon yang juga sudah memarkirkan motor milik Liora.


Liora mengedarkan pandangannya, dari sana dia memang bisa mendengar ombak laut dengan jelas. "Pantas saja kita terkecoh, ternyata dari sini kita memang bisa mendengar suara ombak," ujar Liora sambil menatap ke salah satu sisi, di mana di sana bisa melihat jelas pemandangan laut di bawah sana. Bahkan debur ombak yang menabrak tebing pun terdengar jelas di telinga.


Charly dan Ramon mengikuti arah pandangan Liora, mereka pun mengangguk, setuju dengan ucapan Liora. "Aku tidak menyangka kalau di sini ada sebuah hotel lama," ujar Charly sambil melihat ke depan, di mana tidak jauh dari sana ada gerbang bertuliskan nama hotel yang sudah terlihat lapuk dan berkarat.


"Kita masuk sekarang," ujar Charly yang langsung diangguki oleh Liora dan Ramon.


Charly, Liora, dan Ramon saling kirik, kemudian mengangkat kedua tangan mereka seraya berbalik, ketiganya terlihat tidak terkejut sama sekali ketika melihat ada enam orang laki-laki berbadan gagah yang tengah menatap tajam dan curiga mereka.


"Siapa kalian?" tanya salah satu diantara mereka yang terlihat berbadan tinggi besar.


"Kami adalah orang yang akan membuat kalian semua menyesal karena sudah banyak menyebabkan masalah bagi orang banyak!" jawab Ramon tanpa takut.


"Sialan, Berani-beraninya kamu berbicara begitu! Memang siapa kalian, berani masuk wilayah kami?!" debat mereka sambik merangsek maju lebuh mendekat pada ketiganya.


"Siapa pun kami, nanti juga kalian akan tahu," jawab Charly dingin.


Sementara di dalam, Roxi tampak memasuki sebuah ruangan, di dalam sana ada Dery yang sedang diobati setelah menjadi samsak gratis oleh Roxi.


"Ke luar sekarang, ada orang yang berusaha mengganggu ketenangan kita. Kalau kamu mau menerima maaf dariku, kamu harus menepati janjimu dan mengalahkan mereka!" titah Roxi pada Dery.


"Baiklah, saya pasti akan mengalahkan mereka, Tuan," angguk Dery sambil beranjak dari tempat duduknya.


Walau seluruh tubuhnya terasa remuk, tetapi Dery harus melakukan apa pun perintah dari Roxi. Sejak mereka membawanya ke sini, dia sudah bertekad untuk menjadi anak buah Roxi dan menyelamatkan Tiara, ibu, dan Davi, dari sasaran Roxi.


"Bunuh mereka semua dan bawa kepalanya kepadaku!" titah Roxi tajam.

__ADS_1


Dery menghentikan gerakannya kemudian menatap wajah tegas Roxi yang terlihat tengah menahan amarah. Walau ragu akhirnya dia mencoba untuk mengangguk.


"Baik, Tuan," jawabnya.


Flashback ....


Dery melebarkan matanya ketika dia melihat salah satu anak buah Roxi membawa Davi bersamanya. Dia langsung menemui bosnya itu untuk meminta penjelasan tentang Davi yang ada di sana.


"Tuan, kenapa Anda membawa anak saya ke sini? Dia masih kecil, Tuan, tolong jangan libatkan dia di dalam masalah ini," ujarnya sambil berlutut di depan Roxi.


Walau Dery adalah orang yang brengsek dan mau menghalalkan segala cara untuk mendapatkan banyak uang, tetapi dia masih memiliki emosi seorang ayah. Dia tidak mau jika nanti Davi berakhir sama sepertinya. Tidak pernah terbesar sedikit pun di dalam hatinya untuk menjerumuskan Davi ke dalam dunia hitam.


Laki-laki yang sedang berada di balik meja kerjanya pun berbalik hanya demi melihat Dery, seringai tipis tampak terlihat di bibir tebalnya. Perlahan dia isap cerutu yang diapit di sela-sela telunjuk dan jari tengahnya, kemudian sedikit mendongak untuk mengehembuskan asap yang cukup tebal ke arah atas.


"Itu semua karena mantan istrimu itu terus membuat masalah denganku! Berani-beraninya, dia bekerja sama dengan agen rahasia untuk mengganggu bisnisku!" geram Roxi dengan tatapan tajam pada Dery.


Dery yang melihat itu langsung menunduk takut. Dalam hati dia sedikit tidak percaya jika Tiara bisa melakukan hal sejauh itu untuk melawan Roxi. Dia begitu mengenal Tiara, Tiara hanyalah wanita yang penakut dan tidak suka memiliki masalah. Mana mungkin dia bisa melakukan apa yang dikatakan oleh Roxi.


"Tapi, Tuan, dia masih terlalu kecil." Akhirnya hanya itu yang ke liar dari mulutnya, dia terlalu takut untuk membela mantan istrinya.


"Aku tidak perduli, yang aku tau, dia akan menjadi sandaraku, jika mereka berani mengusik ketenanganku!" Roxi menggebrak meja dia kemudian bernajak dari tempat duduknya lalu berjalan menghampiri Dery.


"Jangan kamu pikir, karena aku memaafkan kamu, kamu bisa semena-mena meminta dariku, Dery! Jangan melonjak, atau aku juga akan membawa ibumu ke sini!" sambung Roxi lagi dengan wajah menahan emosi.


"A–apa maksud, Tuan? I–ibuku?" Dery melebarkan matanya ketika mendengar Roxi menyebut ibunya.


"Iya, ibumu yang dengan suka rela menjaminkan dirinya agar kamu mendapatkan maaf dariku." Roxi tersenyum milih sambil berkecak pinggang.


"Jadi, semua yang kamu lakukan di sini, ada ibumu yang akan menerima akibatnya. Kamu paham, anak mama?!" Roxi sedikit membungkukkan tubuhnya hingga wajah keduanya berjarak hanya sekitar satu jengkal orang dewasa saja.


"Kamu seharusnya tau, kalau aku tidak memaafkan tanpa jaminan dan aku juga bisa saja menghabisi mereka (Tiara, Davi, ibu, dan Charly) semua dengan mudah. Tapi, aku tidak melakukannya. Itu karena apa?" Roxi tampak menegakkan tubuhnya kembali dan berjalan pelan di sekitar Dery sambil terus berbicara.


Davi mengepalkan tangannya, dia tidak pernah tahu jika ibunya yang kembali menyeretnya ke dalam genggaman Roxi. Bahkan wanita paruh baya itu berani menjaminkan nyatanya sendiri. Dery sudah tidak bisa lagi mengerti dengan pikiran wanita yang sudah melahirkannya itu.


"Tentu saja bukan karena aku memaafkan mereka. Tapi, aku hanya sedang ingin bermain saja. Aku mau mereka tahu siapa aku sebenarnya, dan itu berlaku juga untuk kamu!" ujar Roxi dengan nada yang terdengar datar.


"Jangan harap kamu bisa membantu mereka, jika masih mau hidup dengan tenang," sambungnya lagi.


Flashback off ....


__ADS_1


__ADS_2