Terjerat Pesona Istri Tetangga

Terjerat Pesona Istri Tetangga
Bab.45 Rasa yang mulai terkikis


__ADS_3

Waktu menujukkan pukul sepuluh malam saat Charly melajukan mobil ke luar dari rumahnya, Ramon pun tampak duduk di sebelahnya menatap lurus ke depan dengan senyum penuh semangat yang tidak pernah luntur dari wajah laki-laki berambut pirang itu.


"Begini dong, Charly, tau saja kalau sekarang aku sedang butuh hiburan," ujar santai Ramon sambil menikmati jalanan kota yang mulai terasa lengang, mengingat waktu yang semakin malam.


Beberapa saat berkendara, Charly akhirnya menghentikan mobilnya di area parkir salah satu klub malam milik Dery. Ya, itu adalah klub malam tempat Niken bekerja sebelumnya. Tentu saja, Charly menyembunyikan sebuah misi yang harus dia lakukan di sini, di balik ajakannya untuk bersantai sejenak pada Ramon.


"Ini bukannya klub malam milik Dery? Mau apa kita ke sini?" Ramon memicingkan matanya, dia mulai merasa curiga pada Charly.


"Iya," jawab Charly santai kemudian ke luar dari mobil begitu saja, tanpa menunggu Ramon, atau menjelaskan maksudnya pada sahabat sekaligus rekan kerjanya itu.


"Jelaskan dulu, mau apa kita ke sini, Charly?" Ramon langsung mengejar langkah Charly dan berusaha menanyakan niat sahabatnya untuk datang ke klub malam itu.


"Sudahlah, bukannya tadi kamu bilang butuh hiburan? Bersikap biasa saja, aku hanya ingin mengamati," jawab Charly sambil terus meneruskan langkahnya.


Roman tampak menghentikan langkahnya sebentar, dia menggeleng pelan sambil menatap punggung tegap Charly yang terus berjalan menjauh darinya. Entah rencana apa yang sekarang Charly akan lakukan di dalam klub malam itu hingga dia tidak memberitahunya. Namun, nama seseorang tiba-tiba melintas di kepala Ramon.


"Semua ini pasti berhubungan dengan Tiara, makanya dia tidak mau memberitahuku apa rencananya," gumam Ramon pelan, dia kemudian berlari kecil untuk mengejar Charly yang sudah hampir melewati pintu masuk.


Keduanya kini mulai berjalan memasuki klub malam terbesar di kota itu, bau asap rokok dan minuman keras langsung menyapa indra penciuman keduanya begitu mereka masuk, ditambah dengan suara musik yang keras hingga memekakkan telinga dan mengajak untuk penikmat dunia malam menggerkan badan.


Charly mengedarkan pandangannya, dia memilih langsung duduk di depan sebuah bar di mana seorang bartender terlihat sibuk membuat minuman untuk para pelanggan.


"Dua cocktail!" seru Ramon saat dia baru saja duduk di kursi.


Charly langsung menatap tajam sahabatnya itu. "Aku mocktail," ralat Charly langsung.


"What? Ngapain kita datang jauh-jauh ke sini kalau gak minum?" ujar Ramon tidak habis pikir pada sahabatnya itu.


"Aku harus menyetir," jawab Charly cepat. Mana mungkin dia minum alkohol di saat nanti dia harus menyetir ketika pulang. Lagi pula bukan itu tujuannya datang ke sini.


"Oh, oke," jawab Ramon sambil menganggukkan kepala, walau masih terlihat raut wajah kecewa di sana.


Charly kembali mengedarkan pandangannya, dia sedang mencari seseorang yang dia yakini sedang berada di sini sekarang. Namun, cahaya yang remang memang tidak terlalu menguntungkan untuk matanya, ditambah suasana klub malam yang semakin ramai ketika malam semakin larut.


"Hai, tampan, mau minum bersama." Seorang perempuan berpakaian seksi tampak mendekati Charly dengan gaya manja, bahkan dia berani menyentuh dada Charly yang terlihat dari kancing baju yang terbuka, dengan sangat lancang.


Charly langsung menepis tangan lentik yang lancang sudah menyentuh tubuhnya, dia tidak suka jika sembarangan disentuh apa lagi itu adalah seorang wanita. Tentu saja sikap Charly membuat wanita itu tampak terkejut hingga melebarkan matanya. Namun, itu hanya bertahan beberapa detik saja, karena setelahnya wanita itu kembali mendekati Charly.

__ADS_1


"Satu cocktail dan satu mocktail." Bartender menyajikan pesanan Ramon dan Charly bersamaan.


Perkataan bartender itu membuat wanita yang ada di samping Charly kini tampak menahan tawa, karena minuman yang dipesan oleh Charly.


"Ftth, ternyata kamu anak baru di sini, pantas saja kamu tidak melirikku sama sekali," ujar wanita itu dengan pandangan mengejek.


"Hei, kawan, ajari temanmu ini untuk menjadi lelaki sejati, percuma saja memiliki badan bagus kalau tidak tertarik dengan seorang wanita cantik dan seksi sepertiku," sambungnya lagi beralih pada Ramon, walau tujuan perkataannya masih saja mengejek Charly.


Charly tidak menjawab, dia hanya menggeleng pelan kemudian mengacuhkan wanita itu kembali. Laki-laki itu mengambil minuman miliknya kemudian meneguknya sedikit sambil mengedarkan pandangannya.


"Jangan ganggu dia, cantik, kami tidak tertarik dengan wanita," ujar Ramon sambil merangkul pundak Charly begitu saja.


Melihat itu, wanita yang tadi merayu Charly mundur beberapa langkah dengan wajah terkejutnya. Ada rasa jijik dari tatapan wanita itu pada Charly dan Ramon.


"Cih, kenapa laki-laki tampan tidak menyukai wanita? Ish, menyebalkan," gerutu wanita itu sambil berjalan menjauh kemudian.


Ramon tertawa melihat wanita yang tampak bergidik ngeri melihat mereka. Akibat ucapan main-main dirinya demi mencegah Charly mengamuk di sana, karena wanita bandel dan tidak tau diri seperti tadi.


Charly masih tampak acuh, terserah apa yanga akan dilakukan Ramon, dia tidak perduli selama itu menguntungkan untuknya. Matanya melebar begitu melihat seseorang yang sejak tadi dia cari kini tampak berjalan ke arahnya. Ya, itu adalah laki-laki yang berbicara dengan Niken saat di restoran beberapa hari lalu.


Ternyata dia adalah salah satu bartender di klub malam itu. Tampaknya dia juga termasuk bartender senior di sini, itu terlihat dari cara orang-orang menyapanya.


Ya, Charly hanya menggunakan Ramon agar dirinya tidak dicurigai, Ramon adalah laki-laki yang menyukai dunia malam, walau begitu dia tahu saatnya melakukan itu, makanya saat ini Ramon mabuk berat karena terlalu banyak minum, itu berani dia lakukan di saat dia bersama dengan Charly.


Berbeda dengan dirinya yang tidak pernah memikirkan hal lain selain pekerjaan. Dulu sewaktu keluarganya masih hidup, Charly akan lebih suka menghabiskan waktunya dengan berkumpul bersama mereka dengan melakukan camping atau memasak dan makan bersama. Namun, begitu keluarganya meninggal, Charly tidak pernah melakukan itu, dia hanya akan menikmati waktu libur dengan tidur, walau itu hanya beberapa hari dalam setahun.


"Ini adalah bayaran dariku karena kamu sudah mau menemaniku ke sini, Ramon," ujar Charly begitu dia berhasil membawa sahabatnya itu untuk kembali ke rumah bahkan membaringkannya di atas tempat tidur. Napasnya tampak memburu karena harus menahan tubuh Ramon yang besar sambil menaiki anak tangga.


Setelah itu Charly kembali berkutat dengan laptop miliknya, laki-laki itu bahkan menghubungi seseorang yang selalu membantunya dalam menjalani misi.


Charly bahkan belum tidur sama sekali saat langit di luar rumahnya sudah berubah terang, laki-laki itu masih berkutat dengan laptop di depannya dengan wajah yang serius. Tidak ada raut lelah sama sekali, tampaknya dia tengah mengerjakan sesuatu yang sangat penting.


Sementara itu, Ramon baru saja menggeliatkan tubuhnya, rasa pening dan mual langsung membuat laki-laki berambut pirang itu terbangun dan bergegas menuju ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya yang masih tersisa sejak tadi malam.


Dia terkejut ketika baru saja ke luar dari kamar, saat melihat Charly yang terlihat ke luar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah rapih seperti hendak pergi.


"Charly, mau ke mana?" tanya Ramon memanggil sahabatnya yang kini sudah hampir menuruni anak tangga.

__ADS_1


"Aku ada urusan sebentar," jawab Charly sambil kembali mulai melangkahkan kakinya menuruni anak tangga.


"Tapi, ke mana?!" Ramon yang masih merasa penasaran berlari menuju besi pembatas tangga untuk melihat sahabatnya itu.


"Ada lah." Charly tampak menjawab seadanya, secepat kilat laki-laki itu bahkan sudah ke luar dari rumah dan masuk ke mobilnya.


Ramon menghembuskan napas kasar melihat sahabat sekaligus rekan kerjanya itu kembali meninggalkannya.


Sementara itu, Charly mulai melajukan mobilnya ke luar dari area rumah, dia melesat pergi ke suatu tempat di mana seseorang memiliki janji temu dengannya.


.


Tiara tampak ke luar dari mobil bersama dengan Davi, sementara itu Rere yang tampak sudah ada di sana melambaikan tangan dari arah dalam.


"Di sini gak ada parkir mobil, lebih baik kamu parkir di dalam pasar saja, biar tidak bikin macet," ujar Tiara pada sang sopir.


"Tapi, Nyonya–"


"Kamu mau diprotes sama pedangan dan keamanan pasar gara-gara parkir sembarangan? Kalau memang mau ikut sarapan parkir dulu di pasar, terus jalan kaki ke sini," saran Tiara dengan nada ketus.


Sopir itu tampak terdiam, dia serba salah karena kini suara klakson dari para pengguna jalan yang mulai terganggu oleh mobil yang dia kendarai terus saja berbunyi dan mengusik konsentrasinya.


"Baiklah, kalau begitu saya parkir di depan pasar saja," jawab sopir itu dengan raut wajah terpaksa dan penuh tekanan.


Tiara tampak acuh, dia memilih berjalan menuju kedai bubur ayam kesukaan Davi. Tiara dan Rere memilih tempat ini untuk sarapan bersama demi terbebas dari pengawasan sopir Tiara, juga sekaligus agar Davi merasa senang.


"Ya ampun rasanya lega banget aku bisa ngusir tuh sopir dari sisiku. Dia udah kayak benalu yang nempel terus, tau gak?" kesal Tiara sambil duduk di depan Rere, sedangkan Davi duduk di sampingnya.


"Sekesal itu kamu sama sopir kamu, Tia?" Rere terkekeh ringan dengan tingkah Tiara, tampaknya dia sudah cukup terbiasa dengan perubahan wanita itu.


"Heem, dia itu cuman sok polos dan penurut, padahal setiap malam dia lapor ke Mas Dery apa saja yang aku lakukan dan siapa saja yang bertemu denganku. Serasa kayak tahanan aku sekarang," ujar jujur Tiara.


"Sabar, Tia, ini kan demi tujuan kamu," jawab Rere sambil tersenyum, matanya melirik Davi yang tampak asik memakan sate telur puyuh sambil menunggu bubur pesanan mereka jadi.


"Heem, kalau saja aku sudah berhasil mengambil kembali perusahaan orang tuaku, aku akan pastikan pergi darinya sejauh mungkin, lebih baik aku hidup berdua bersama Davi daripada terus seperti ini," jawab Tiara yakin.


Tanpa kedua orang dewasa itu sadari, Davi yang sebenarnya sejak tadi mendengarkan obrolan dari Tiara dan Rere mengulas senyum ketika Tiara lebih memilih hidup berdua dengannya. Hatinya sungguh merasa senang akan hal itu, walau Davi tahu jika Dery adalah ayah kandungnya, tetapi karena dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang sama sekali dari Dery, ditambah dirinya juga sering melihat Dery melakukan kekerasan pada Tiara, membuat rasa sayang dan hormat pada ayahnya semakin terkikis.

__ADS_1


Walau Davi hanyalah anak kecil, tetapi justru karena itu, karena dia masih kecil dan belum mengenal arti kata kewajiban anak, maka dia hanya mengetahui caranya memberi dan menerima kasih sayang.


Sedangkan Davi tidak pernah merasakan itu dari Dery, laki-laki yang selalu disebut sebagai ayah itu, malah terus mengabaikannya dan asik berbagi cinta dengan wanita lain di dalam rumah. Sungguh, hatinya ikut merasa sakit akan hal itu, apa lagi saat dia harus mendengar tangis kesakitan ibunya ketika dipukul oleh Dery, tanpa sadar itu menjadi bibit kebencian yang perlahan tumbuh semakin besar di dalam hati Davi dan semakin mengikis rasa sayang anak itu pada ayahnya sendiri.


__ADS_2