
"Sedang apa kamu di kamarku?" Dery tampak menatap Tiara dengan wajah mengeras, kedua tangannya yang menjuntai di sisi tubuhnya pun mengepal menandakan dia dalam keadaan menahan emosi.
"Tidak ada, aku hanya sedang kehilangan sesuatu jadi aku mencarinya di kamar ini, karena kemarin aku mengurus istri kesayanganmu yang jompo itu," jawab Tiara setelah menetralkan rasa terkejutnya, dia pun mulai melangkah hendak meninggalkan Dery.
Namun, tangannya terlebih dulu dicekal oleh Dery dengan cukup erat, laki-laki itu lalu menariknya dan mendesaknya di pintu yang sudah tertutup rapat.
"Apa kamu merindukanku? Kamu mau kembali lagi ke kamar ini, hem?" tanya Dery sambil semakin mendesak Tiara hingga kini jarak di antara mereka semakin terkikis.
Tiara membuang muka begitu melihat wajah Dery semakin mendekat padanya. Bukan tergoda dengan sikap Dery, Tiara malah merasa jijik bukan main. Dia kemudian tertawa sumbang dengan mata kembali menatap Dery tajam.
"Tidak usah terlalu percaya diri, Mas. Aku lebih sudi tinggal di kamar tamu daripada harus kembali ke kamar menjijikan ini!" sarkas Tiara dengan seringai yang masih terlihat di wajahnya.
Dery semakin geram mendapati perlawanan dari Tiara, dia tidak suka ada wanita yang membantah perkataannya, apa lagi sampai menghina dirinya seperti ini.
"Apa kamu bilang? Baiklah, jika begitu aku akan membuatmu tahu apa itu kata menjijikan yang sesungguhnya," jawab Dery dengan tatapan yang tak kalah tajam.
Dia mengambil satu lagi tangan Tiara lalu menyatukannya di atas kepala, satu tangannya kembali mengambil sesuatu di saku celana kemudian masukannya ke dalam mulut.
"Obat apa itu?!" tanya Tiara dengan mata melebar, tetapi belum sempat dia kembali berbicara bibirnya sudah dibungkam lebih dulu oleh bibir Dery.
Tiara mencoba melawan ketika Dery mencoba memasukkan obat itu melalui lidahnya. Namun, sayangnya kekuatan Tiara belum pulih sepenuhnya, dia masih jauh lebih lemah dibandingkan sebelumnya. Mungkin itu karena kini dirinya berada di tubuh yang berbeda.
Tiara berhasil membuat Dery melepaskan bibirnya ketika dia menginjak keras kaki laki-laki itu, tetapi itu sudah tidak berguna lagi karena obat di mulutnya sudah terlanjur tertelan.
"Obat apa itu, Dery sialan!" teriak Tiara yang tidak bisa lagi menahan emosinya. Dia tidak lagi bisa memikirkan perannya sebagai seorang istri, dia bahkan lupa jika sekarang dirinya masih berada di tubuh Tiara.
Dery adalah kaki tangan dari bandar obat-obatan terlarang, tentu saja semua itu membuat Tiara khawatir. Dengan koneksi Dery di dalam dunia hitam itu, Dery pasti akan mudah mendapatkan apa pun yang dia mau dari bisnis gelap yang dijalankannya.
Obat apa ini, apa ini racun atau sejenis narkoba? batin Tiara bertanya dengan kening berkerut dalam, dia merasa kepalanya mulai pening dan pandangannya terasa kabur.
Dia mengerjapkan matanya beberapa kali mencoba menarik kembali kesadaran dan akal sehatnya yang mulai terkikis karena efek samping obat yang mulai bekerja.
__ADS_1
Dery menyeringai lebar, dia kemudian memundurkan tubuhnya dan mulai mengendurkan cengkaraman tangannya begitu melihat Tiara mulai kehilangan kendali diri.
"Kamu akan tau sebentar lagi, sayang," jawab Dery sambil mengelus pelan pipi mulus yang kini dimiliki oleh Tiara. Dia kemudian mengecupnya sekilas sebelum berbisik sesuatu di depan telinga Tiara.
"Ini adalah hukuman untuk kamu, karena sudah berani bermain api di belakangku. Kita akan menikmati sesuatu yang indah setelah ini, sayang."
Tiara melebarkan matanya, walau samar dia masih bisa mendengar jelas apa yang dikatakan oleh Dery. Tiara mencoba menggelengkan kepalanya yang semakin terasa berat, diiringi dengan rasa panas yang mulai menjalar di seluruh tubuhnya.
Sial! Obat perang-sang?! batin Tiara mengumpat kesal. Dirinya tahu efek samping obat ini, karena beberapa kali dia juga pernah tidak sengaja menelan obat ini, ketika sedang menghadiri sebuah pesta.
Seseorang sengaja ingin menjebaknya dan mempermalukannya dengan obat yang begitu menjijikan ini. Untung saja waktu itu, anak buahnya langsung menolongnya dan membawanya menuju dokter kepercayaan mereka untuk segera diobati.
Tatapan Tiara kini terarah menuju ke tangga, dia ingin segera pergi dari sini agar bisa terhindar dari Dery. Namun, Dery langsung mencegah langakah Tiara yang hampir kehilangan akal sehatnya.
"Mau ke mana, sayang? Kamu milikku sekarang," ujar Dery sambil menghadang langkah Tiara.
"Awas, dasar laki-laki biadab!" Dengan sekuat tenaga Tiara mencoba menyingkirkan tubuh tegap Dary dari depannya. Namun, itu hanyalah sia-sia karena sekarang kekuatannya semakin terkuras habis.
Wanita itu memjamkan matanya, menahan gelayar rasa panas yang semakin membakar akal sehatnya, tenggorokannya terasa sangat kering karena terus menahan hasrat yang telah berhasil Dery paksa keluar dari dirinya. Tiara membuang muka, dia mulai merasa jijik kepada dirinya sendiri.
Ujung telunjuk Dery semakin turun menuju kulit leher yang terlihat putih alami, laki-laki itu tampak menelan salivanya saat melihat bulir keringat Tiara yang mulai bermunculan di sana.
"Ah, aku sudah tidak sabar," desah Dery sambil terkekeh ringan. Dia kemudian mendekatkan kembali tubuhnya.
"Aku merindukanmu, sayang," sambung Dery lagi kemudian merangkul pinggang wanita itu dan membawanya mendekati pintu. Dery menempelkan tangannya di sensor sidik jari, kemudian membuka pintu dengan satu tangan. Sementara satu tangannya lagi dia gunakan untuk menahan Tiara yang terus berusaha melepaskan diri.
Tiara menggigit tangan Dery dengan sekuat tenaga, hingga cekalan itu terlepas dan mengakibatkan dirinya terjatuh membentur lantai, karena tubuhnya yang tidak seimbang. Tiara berusaha secepat mungkin untuk bangun dan melangkah kembali dengan tubuh yang mulai mengigil akibat menahan hasrat, dia berhasil berlari sampai di ujung tangga hingga matanya melihat Mak Onah sedang berjalan di dekat ujung tangga lantai satu.
"Mak!" panggilnya, berharap wanita tua itu mendengar dan bisa membantunya.
Namun, belum sempat dia berucap kembali tangannya sudah dicekal kembali oleh Dery kemudian dia diseret paksa menuju ke kamar.
__ADS_1
"Laki-laki sialan, brengsek! Lepas, aku tidak sudah kamu sentuh walau seujung kuku pun!" Tiara terus berteriak sambil meronta berusaha untuk terlepas dari Dery.
Bayangan mimpi tentang bagaimana Dery menyetubuhi Tiara asli dengan cara kasar bagaikan orang gila kini mulai membuatnya terintimidasi. Tiara tahu jika kekuatannya saat ini tidaklah sebanding dengan Dery, ditambah di rumah ini tidak ada yang memihak padanya selain Mak Onah. Semakin kecil kesempatan untuknya melarikan diri dari laki-laki biadab di depannya.
Apa yang harus aku lakukan agar dia menyerah? Apa yang harus aku lakukan–
Tiara terus bergumam dalam hati, berpikir dan mencari cara untuk bisa melepaskan diri dari suami gila di depannya.
Sementara itu Dery yang sudah sampai depan ranjang langsung membanting tubuh Tiara ke atasnya, dia langsung menindihnya dengan tawa yang menggelegar.
"Ayo melawan lah sekuat yang kamu bisa, Tiara. Karena semakin kamu melawan, maka aku akan semakin bersemangat. Hahaha!" Dery tertawa bahagia melihat keringat yang sudah bercucuran di tubuh Tiara, wajah berantakan wanita itu dan napas yang memburu. Dery sangat menikmati semua itu.
.
Sementara itu di tempat lain, Niken dan ibu mertuanya sedang bersantai di sebuah kafe. Dua gelas minuman dan beberapa menu camilan terlihat ada di atas meja mereka.
"Aku yakin Dery pasti sedang menikmati wanita yang sudah kita siapkan. Iya, kan, Bu?" tanya Niken sambil memainkan sedotan di gelas jus miliknya.
"Tentu saja, bukankah dia mencintainya? Mungkin sekarang mereka sedang sangat menikmati siang yang panas bersama." Wanita paruh baya itu tampak tertawa senang, begitu pun dengan Niken.
Tatapan tajamnya terlihat jelas, ditambah dengan seringai puas di wajah wanita hamil itu melengkapi ekspresinya. Perlahan dia meminum jus di tanganya sambil kembali mengalihkan pandangannya pada sang ibu mertua.
"Ibu memang sangat pandai, aku kagum sama Ibu," ujar Niken sambil mengerlingkan mata manja.
Mertuanya itu tertawa, tampaknya dia senang mendapatkan pujian dari sang menantu.
"Aku sudah hidup lebih lama darimu, pastinya aku lebih tau banyak dibandingkan dirimu, menantu kesayanganku," balas ibu mertua sambil terkekeh ringan.
"Heem, Ibu benar," angguk Niken kemudian, hingga membuat keduanya tertawa bahagia.
......................
__ADS_1
Apa yang terjadi sebenarnya? kita tunggu bab selanjutnya ya😘