Terjerat Pesona Istri Tetangga

Terjerat Pesona Istri Tetangga
Bab.27 Jangan memberi harapan


__ADS_3

Selepas kepergian Liora, Dery memilih untuk naik ke lantai dua, meningalkan ibu dan istri keduanya yang tengah sibuk memesan makan siang lewat aplikasi pesan antar, karena masakan yang dibuat Liora tidak bisa dimakan sama sekali.


Sementara itu, Liora yang baru saja ke luar dari gerbang rumah Tiara langsung berlari menuju seberang jalan begitu melihat mobil Charly juga ke luar dari rumahnya.


Dia berdiri di depan mobil laki-laki itu untuk menghadangnya, kemudian masuk begitu saja setelah melihat Charly menghentikan mobilnya.


"Kenapa kamu masuk ke dalam mobilku?" Charly menatap bingung Tiara yang kini tampak duduk di sampingnya.


"Sudahlah jalan saja, aku tidak akan menganggumu. Tapi, tolong antarkan aku ke sekolah Davi dulu, aku mau istirahat sebentar," ujar Tiara kemudian menyandarkan tubuhnya dan mulai menutup mata.


Charly tidak lagi berbicara, dia hanya menghembuskan napas pelan kemudian mulai melajukan kembali mobil miliknya tanpa mau mengganggu Liora yang sepertinya memang begitu lelah.


Sementara itu, Dery yang tengah berdiri di ujung balkon lantai dua menatap tajam Tiara yang tengah menghadang mobil tetangga depan rumahnya kemudian masuk begitu saja.


Tanpa sadar tangannya mencengkram kuat batang pagar besi yang berada di sisi balkon. Dia bahkan memukul besi itu ketika melihat mobil Charly melaju bersama dengan Tiara di dalamnya.


"Dasar wanita murahan! Beraninya dia masuk ke mobil tetanggaku sendiri! Tidak tau malu!" Dery mengumpat Tiara dengan semua ucapan buruknya, dia benar-benar marah saat ini.


Setelah melihat mobil Charly menghilang dari pandagan, Dery pun memilih pergi meninggalkan balkon tersebut dengan hati yang masi terasa mengganjal.


.


Tiara membuka matanya begitu mobil berhenti tepat di depan sekolah Davi. Sebenarnya sejak tadi dia tidak benar-benar tertidur, Tiara hanya menutup mata dan mengatur emosinya yang terasa ingin meledak.


"Wah, enak banget, ya punya teman seorang agen rahasia, walau aku tidak memberi tahu alamat sekolah Davi, kamu sudah tau lebih dulu," ujar Tiara menatap Charly dengan sorot mata takjub.


"Kamu tidak tidur?" Charly enggan menanggapi kekaguman Tiara terhadapnya, dia malah merasa kesal karena sepanjang jalan Tiara tampak menghindarinya dengan berpura-pura tidur.


Tiara tersenyum dengan jari menggaruk pelan keningnya, merasa canggung karena sudah berpura-pura tertidur sepanjang jalan.


"T--tidak, aku memang tertidur tadi," jawab Tiara dengan sedikit terbata. Bersamaan dengan itu, Davi tampak ke luar dari sekolah dengan beberapa teman sekelasnya.


"Ah, itu Davi sudah ke luar. Terima kasih, ya atas tumpangannya," sambung Tiara lagi kemudian bergerak cepat ke luar dari mobil Charly. Tiara sempat melambaikan tangannya sekilas sebelum berlari menghampiri Davi yang masih tampak mencari keberadaannya di depan gerbang.


Charly menggeleng lemah sambil menghembuskan napasanya, merasa aneh dengan sikap Tiara yang menurutnya tidak seperti seorang ibu pada umumnya. Wanita yang bisa mendekatinya itu terlihat lebih seperti seorang gadis yang ceria walau banyak masalah yang menimpanya.

__ADS_1


Semua itu sungguh sangat berbeda dari informasi yang dia dapatkan sebelumnya. Di sana Tiara digambarkan dengan seorang wanita yang sangat keibuan, lemah lembut dan sangat ramah, walau memang jarang bergaul dengan tetangga.


Namun, Charly sama sekali tidak melihat sikap itu dari Tiara yang terus mendekatinya, bahkan dari awal mereka bertemu. Kadang Charly sering merasa curiga pada Tiara dengan perubahan sikap yang sangat signifikan ini.


Charly tentu tidak mungkin mencurigai atasan yang memberikannya misi ini dan rekan kerja yang mencaritahu tentang keluarga Dery, termasuk Tiara. Dari semua informasi yang dia dapatkan, hanya Tiara yang tampak berbeda, sementara yang lainnya memang sama dengan berkas yang dia dapatkan.


Tersadar dari lamunannya, Charly melihat Tiara tengah berbincang dengan teman yang merupakan guru dari Davi, sementara para wali murid yang lainnya sudah hampir pergi semua.


Setelah melihat di sana hanya tertinggal Tiara, Rere, dan Davi, Charly memutuskan untuk ke luar dan menghampri mereka.


"Lho, kamu belum pergi?" Tiara lebih dulu menyapa Charly di sela perbicangannya dengan Rere.


"Siapa itu, Tia?" tanya Rere yang baru melihat Tiara akrab dengan seorang laki-laki.


"Oh, ini tetangga depan rumahku, namanya Charly. Tadi aku menumpang sama dia, hihi." Tiara mengenalkan Charly pada Rere sambil terkekeh geli.


Rere terlihat sedikit bingung dengan sikap Tiara, sebelumnya dia tidak pernah melihat Tiara mau dekat dengan seorang laki-laki selain Dery. Namun, yang dia lihat saat ini benar-benar mengejutkan, dia bahkan hampir tidak percaya dengan apa yang terjadi di depannya sekarang.


"Ini, ponsel kamu ketinggalan." Charly mengacuhkan perbincangan antara Tiara dan Rere, dia malah mengulurkan ponsel milik Tiara yang tertinggal di mobilnya.


"Eh, Davi sayang, Om Charly-nya mau ada urusan lain. Kita pulang naik taksi saja, ya?" Tiara tampak tidak enak pada Charly dengan permintaan Davi.


"Yah, naik taksi lagi." Davi tampak menghembuskan napas kasar sambil mengerucutkan bibirnya. Wajah anak itu terlihat berubah murung dan mundur beberapa langkah dari Charly.


Charly tiba-tiba saja merasa iba dengan kesedihan Davi. Laki-laki itu memang sudah terbiasa menghadapi banyak tangisan permohonan para penjahat di berbagai belahan dunia, tetapi untuk anak kecil Charly tidak bisa menghadapi rasa iba pada dirinya.


Charly berjongkok di depan Davi, dia kemudian memegang kedua tangan bagian atas anak itu.


"Kamu mau pulang bersama dengan Om?" tanya Charly lembut.


Tiara mengernyit melihat sikap lembut yang ditunjukkan oleh Charly membuat dirinya terkejut bukan main. Selama dirinya menjadi Liora yang merupakan target penangkapan laki-laki itu, dia hanya bisa melihat sisi kejam dan dingin seorang Charly.


Namun, saat ini dia melihat sisi lain seorang Charly yang begitu lembut dan perhatian terhadap anak kecil. Itu membuatnya hampir saja tersedak oleh salivanya sendiri.


"Eum." Davi mengangguk cepat, dengan binar penuh harap di matanya.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu kita pulang bersama," angguk Charly yang langsung mendapatkan senyum lebar dari Davi.


"Hore, pulang sama Om Charly!" Anak itu tampak langsung memeluk erat tubuh Charly dengan senyum sumringah.


"Sepertinya kamu sudah memiliki cadangan nih," goda Rere.


"Apa sih, Re? Kita cuman berteman," sangkal Tiara dengan wajah yang tampak memerah.


"Ayo, Mah!" Davi menarik tangan Tiara dengan penuh semangat tanpa perduli perbincangan yang sedang Tiara dan Rere lakukan.


"Aku pulang dulu," ujar Tiara sambil berjalan menjauh dari Rere yang tampak masih terkekeh geli padanya.


"Terima kasih sudah mau mengabulkan permintaan Davi," ujar Tiara begitu dia duduk di samping Charly.


Charly tidak menjawab, dia hanya mengangguk samar kemudian mulai melajukan mobilnya menjauh dari area sekolah Davi. Keduanya tampak canggung, hingga beberapa waktu berlalu di dalam mobil hanya diisi dengan celotehan dari Davi.


"Om Charly, baik gak seperti Papah. Papah gak pernah jemput Davi ke sekolah," keluh Davi dengan wajah muram.


Charly menatap Tiara penuh tanya, dia terkejut karena Dery bahkan tidak pernah meluangkan waktunya untuk Davi. Sementara itu, Tiara sendiri juga terkejut dengan pengakuan Davi, dia tidak menyangka jika perlakuan dingin Dery bukan hanya pada dirinya, tetapi juga pada Davi.


"Dia terlalu sibuk bekerja," jawab Tiara seadanya.


Charly menatap Davi dari kaca spion dalam, terlihat sekali gurat kesedihan di wajahnya. Walau dulu dirinya bukanlah dari keluarga kaya seperti Davi, tetapi setidaknya Charly kecil tidak pernah kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya.


Berbeda sekali dengan Davi, yang memiliki orang tua kaya, tetap kehilangan kasih sayang seorang ayah. Padahal itu sangat penting bagi seorang anak laki-laki, karena dari seorang ayah anak bisa melihat sosok panutan yang akan dirinya banggakan di kemudian hari.


"Kalau Davi sedang mau di jemput ke sekolah, Davi boleh bilang sama Om. Kalau ada waktu pasti Om mau jemput Davi," ujar Charly menghibur anak yang kekurangan kasih sayang itu.


"Jangan memberikannya harapan, jika kamu tidak bisa menepatinya. Itu akan lebih menyakitkan." Tiara menyela, dia tahu jika pekerjaan Charly mengharuskan dia terus berpindah tempat, dan itu berarti dia tidak akan bisa selamanya berada di dekat Davi.


Davi akan lebih merasa kehilangan jika nanti tiba-tiba Charly menghilang, di saat Davi sudah mulai bergantung pada laki-laki itu. Dan, Tiara tidak mau itu sampai terjadi.


......................


Mau nanya dong, lebih enak pake Liora atau pake Tiara? Jawab di komen ya🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2