
"Hentikan semua ini! Saya masih hidup dan masih bisa menjalankan tugas sebagai CEO perusahaan ini dengan baik!" teriak laki-laki yang baru saja hadir dan kini berdiri di depan pintu.
"Dery? Kenapa dia ada di sini?" Rere tampak terkejut dengan kehadiran Dery di acara itu.
"Tenanglah, Re. Sekarang ini dia bukan lagi siapa-siapa di perusahaan ini. Rere tidak punya pilihan lain selain percaya pada perkataan Liora, walau dalam hati dia begitu khawatir kali ini.
Dery berjalan cepat menuju panggung kecil di depan tempat pembawa acara tengah berdiri dengan memegang kertas terakhir di tangannya. Dery langsung merebut kertas itu dan mrobeknya kemudian meleparnya ke sembaraang arah.
"Aku tidak akan menyerahkan jabatanku pada siapa pun, selama aku masih hidup dan mampu mengelola perusahaan ini!" ujar Dery lagi dengan suara yang lantang.
"Tapi kamu sudah menghilang selama satu minggu. Apa itu namanya jika bukan mengabaikan tanggungjawabmu sebagai CEO?" debat salah satu orang yang ada di sana.
"Oke, maafkan aku atas kelalaianku beberapa hari terakhir. Tapi, apakah itu semua bisa menghapuskan pengabdianku di perusahaan selama ini? Bagaimana pun aku lah yang telah membuat perusahaan berkembang dengan baik dan memberikan kalian keuntungan yang banyak!"
"Apa kalian tidak bisa memberiku kesempatan satu kali lagi? Aku janji akan berusaha untuk lebih memaksimalkan keuntungan yang akan kita dapatkan!"
Semua orang terdengar saling berbisik satu sama lain, membicarakan tentang kedatangan Dery yang tiba-tiba dan semua janji manis laki-laki itu.
"Gimana kalau Dery berasil menarik kepercayaan para pemegang saham lagi?" Rere tampak khawatir.
"Sudahlah, biarkan saja dia melakukan apa pun yang dia mau, karena sebentar lagi dia tidak akan bisa melakukannya," jawab Liora masih dengan gaya santainya.
Ya ampun, sebenarnya apa yang sedang direncanakan wanita ini? Kenapa dia masih saja terlihat tenang di dalam suasana genting seperti ini? batin Rere.
Dery menatap Liora dari atas panggung, hingga untuk beberapa saat pandangan mereka sempat bertemu sebelum Liora memutuskannya lebih dulu. Wanita itu kemudian menekan earphone yang terpasang di salah satu telinganya.
"Laksanakan rencana B sekarang," bisiknya dengan suara lirih. Bahkan Rere yang ada di sampingnya pun tidak bisa menangkap apa yang dikatakan oleh Liora.
"Oke!" seru seseorang dari seberang sana, hingga membuat seringai di wajah Liora terlihat.
Wanita itu tampak menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi sambil duduk tumpang kaki, pandangannya lurus ke depan di mana sebuah layar besar yang menampilkan logo perusahaan terlihat tepat di belakang Dery dan pembawa acara berdiri.
Namun, sedetik kemudian gambar di layar itu berubah menjadi sebuah video yang menampilkan di mana Dery tengah memanfaatkan mobil trasportasi perusahaan untuk pengiriman barang, dia jadikan kamuflase untuk mengirim obat terlarang. Tentu saja semua itu sangat mengejutkan untuk semua orang yang ada di dalam ruangan itu.
Bukan hanya itu, video itu juga memperlihatkan bagaimana Dery memerintahkan untuk menggunakan bahan-bahan ilegal yang berbahaya untuk membuat produk dari perusahaan mereka. Selama ini bahkan sudah ada beberapa tuntutan yang diterima oleh pihak perusahaan karena korban dari produk yang mereka produksi sudah terlapau banyak.
Namun, Dery berhasil menutupi semua itu dari para pemegang saham dan petinggi perushaan yang lain. Dia memanfaatkan koneksinya dan kekuasaannya di perusahaan juga di bisnis gelap untuk menyembunyikan semua itu.
__ADS_1
"Tidak! Semua ini tidak benar! Ini semua fitnah! Aku tidak pernah melakukan semua ini!" teriak Dery dengan wajah panik.
"Kalinya harus percaya padaku, aku sudah berkorban banyak demi memajukan perusahaan ini, mana mungkin aku melakukan itu semua!" sambungnya lagi, dengan wajah yang memerah.
Suasan ruangan yang sejak tadi tenang pun kini berubah menjadi gaduh karena video yang baru saja di putar. Dery tampak terkejut dengan semua yang terjadi, dia berusaha menyuruh seseorang untuk menghentikan pemutaran video itu, tetapi video terus berlangsung hingga berakhir dengan pintu masuk yang kembali terbuka.
Semua orang kini mengalihkan perhatiannya lagi pada beberapa orang berseragam polisi yang datang. Mereka langsung menghampiri Dery dan menangkapnya di depan orang banyak. Laki-laki itu tidak bisa berkutik lagi, dia hanya bisa pasrah dan mengikuti para penegak hukum yang membawanya melalu lift khusus, untuk menghindari kekacauan yang lebih besar di perusahaan.
"Aku bilang apa? Dia sudah tidak bisa melakuakn apa pun di perusahaan ini," ujar Liora yang sejak tadi masih telrihat tenang, walau wajahnya tampak datar.
"Kamu yang merencanakan ini semua?" tanya Rere dengan mata melebar, terkejut bukan main.
"Sekarang kamu sudah percaya padaku?" Liora menjawab dengan pertanyaan kembali.
"Rencana berhasil. Terima kasih," ujar Liora pada earphone di tangannya, kemudian beranjak berdiri.
"Ayo, acaranya sudah selesai," sambungnya lagi sambil merapihkan blazernya yang sedikit kusut.
"Tapi, bagaimana dengan keputusannya?" Rere masih belum mengerti dengan tujuan Liora.
"Tenang saja, aku akan pastikan kamu yang menjadi CEOselanjutnya di perusahaan ini," jawab Liora kemudian berbalik dan mulai melangkahkan kakinya untuk pergi dari ruangan itu.
Begitu sampai di lobi perusahaan, mereka bertemu dengan Charly yang juga baru turun dari lift lainnya. Liora sempat tersenyum pada laki-laki yang telah mebantunya melakkukan rencananya ini.
Flash back.
Suara dering ponselnya, mengalihkan perhatian Liora ketika dia baru saja ke luar dari kamar mandi, keningnya berkerut ketika melihat ternyata sudah ada tiga panggilan tak terjawab dari Charly.
"Ada apa dia meneleponku malam-malam begini?" gumam Liora sambil duduk di sisi ranjang. Baru saja dia akan menghubungi Charly ketika ponselnya kembali berdering dengan panggilan yang sama.
"Maaf tadi aku sedang di kamar mandi. Ada apa?" tanya Liora begitu dia mengangat telepon dari Charly.
"Aku ada di depan unit apartemen kamu," ujar laki-laki itu yang membuat Liora langsung melebarkan matanya.
"Hah? Untuk apa kamu datang ke sini?" tanya Liora sambil berdiri saking terkejutnya.
"Ada yang harus aku sampaikan tentang Dery, cepat buka pintunya sebelum aku disangka menjadi penguntit," ujar Charly dengan nada suara yang terdengar kesal.
__ADS_1
"Sebentar, aku ganti baju dulu," jawab Liora sebelum mematikan sambungan teleponnya kemudian melemparkan ponsel ke sembarang arah. Wanita itu pun berlari menuju lemari, dia mengambil baju asal kemudian memakainya.
"Kenapa harus datang malam-malam begini sih?" gerutu Liora sambil memakai bajunya.
Bukan tanpa alasan dia kesal pada Charly, laki-laki itu memang kadang-kadang tidak tau waktu. Saat in sudah pukul sebelas malam, Mak Onah dan Davi sudha tertidur pulas sejak beberapa jam yang lalu, dan Charly tiba-tiba saja datang di waktu seperti ini.
Dengan rambut yang masih basah, Liora berlari dari kamar dan membuka pintu apartemen milik Rere yang kini dia tinggali. Dalam hati Liora juga memendam rasa rindu untuk Charly setelah beberapa hari ini mereka tidak berkabar sama sekali.
Sementara itu, Charly berdeham pelan sambil menatap ponselnya yang sudah mati. Apa tadi dia bilang? Ganti baju? Untuk apa dia ganti baju malam-malam begini?
Charly menatap pakaiannya malam ini yang hanya menggunakan kaos biasa yang dia balut dengan jaket untuk menjaga diri dari angin malam. Entah mengapa perkataan Liora barusan membuat jantungnya berdebar kencang, dengan pikiran yang tidak bisa dia kendalikan.
Charly memutar tubuhnya ketika mendengar pintu apartemen terbuka, dia mengernyitkan keningnya begitu melihat penampilan Liora malam ini. Tidak ada yang aneh, wanita itu hanya memakai pakaian rumahan biasa. Hanya saja rambut wanita itu tampak masih basah, hingga ada air yang masih menetes membasahi kaos berwarna abu-abu yang dia pakai.
"Kamu cuci rambut malam-malam begini?" tanya Charly.
"Aku baru selesai berolahraga, jadi gak enak kalau tidak mencuci rambut," jawab Liora yang memang benar adanya. Padahal tadi siang dia telah melakukan perawatan rambut di salon, tetapi karena sore harinya dia melakukan olahraga dan latihan bela diri, dia kembali merasa rambutnya lepek dan bau.
Charly menganggukkan kepalanya sambil melangkah masuk, mengikuti Liora yang berjalan lebih dulu. Dalam hati dia tersenyum, merasa lucu dengan pikirannya sendiri tentang Liora.
"Mau minum apa?" tanya Liora sambil menoleh pada Charly sambil menyuruh Charly duduk dengan isyarat tangannya.
"Apa saja," jawabnya kemudian duduk di kursi pantry yang menyerupai sebuah bar. Diam-diam Charly memperhatikan semua gerak-gerik Liora yang tengah menyiapkan kopi panas untuk mereka.
"Oke, sekarang apa yang ingin kamu katakan?" tanya Liora sambil menaruh dua cangkir kopi di meja bar, kemudian duduk di samping Charly.
"Dery sudah pergi dari rumah, dia dijemput oleh anak buah Roxi," ujar Charly langsung pada intinya.
Liora melebarkan matanya. "Benarkah? Berarti sekarang rumah itu kosong? Apa aku bisa kembali ke sana?"
"Tunggu beberapa hari dulu, kita harus melihat situasi dan memastikan jika di sana terbebas dari semu alat penyadap atau kamera tersembunyi yang mungkin saja mereka letakkan untuk mengawasi kami dan Davi," jawab Charly.
Liora mengangguk, setuju dengan usul Charly.
"Bukankah besok adalah rapat pemegangs saham dan dewan direksi? Sepertinya kita harus melakukan rencana cadangan untuk berjaga-jaga," ujar Charly lagi.
Liora kembali mengangguk. Malam itu keduanya hampir tidak tidur untuk mengatur rencana lainnya, jika nanti Dery berusaha menghancurkan rencana mereka.
__ADS_1
Flashback off