
Charly mengajak Liora untuk datang ke rumahnya, di sana mereka berbicara dengan Roman membersamai keduanya.
"Aku sudah menerima alamat di mana markas mereka kini berada. Setelah kita periksa, ternyata mereka berada di sebuah vila yang masih atas nama Dery," jelas Charly sambil memperlihatkan video yang dia terima dari rekannya tadi malam.
Liora tampak melihat video di laptop milik Charly dengan seksama. "Aku tidak pernah mendengar tentang vila ini," gumam Liora dengan kening berkerut dalam.
"Tapi, mungkin Niken tau," sambungnya lagi, sambil menatap Charly penuh.
"Sepertinya tidak, dari penyelidikan kami selama ini, Dery hanya menjadiken Niken sebagai alat untuk mengandung anak yang akan mewarisi bisnis hitamnya. Wanita itu bahkan tidak tahu apa-apa dibandingkan kamu, makanya dia berusaha membunuh kamu, karena dia sadar akan hal itu," jawab Charly sambil membalas tatapan Liora.
Keduanya tampak saling menatap untuk beberapa saat, seolah sedang mencari jalan ke luar dari masalah ini.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Liora lagi.
"Aku membawamu ke mari, agar kita bisa menyusun rencana untuk menyergap mereka semua. Sekarang Dery sudah ditangkap, otomatis, untuk beberapa waktu mereka tidak bisa berkutik, mengingat selama ini mereka bergantung pada Dery." Charly beranjak kemudian mengambil salah satu berkas yang tidak jauh dari sana.
"Tapi, sebelum itu, kita harus memastikan keselamatan kamu dan Davi," sambung Charly lagi sambil memberikan berkas yang ternyata sebuah tiket dan paspor dirinya dan Davi.
"Kalian harus meninggalkan negara ini secepatnya sebelum kami melakukan penyergapan, untuk menghindari jika saja mereka masih mempunyai rencana cadangan dan membalas dendam kepada kalian," jelas Charly.
Perbincangan mereka pun terus berlangsung, ketiganya fokus menyusun rencana untuk menangkap Roxi dan anak buahnya. Charly bahkan melibatkan langsung rekan lainnya yang selama ini membantu dia dari kejauhan melalui sambungan panggilan video.
Hingga ketika Liora pamit ke kamar mandi, ponselnya terus berdering. Hingga lumayan mengganggu Charly dan Ramon yang masih berdiskusi.
"Liora, ponsel kamu bedering terus!" teriak Charly di depan pintu toilet.
"Sebentar lagi aku ke luar," jawab Liora dari dalam.
"Angkat saja, siapa tau penting." Ramon ikut berbicara ketika ponsel Liora berdering tanpa henti.
Charly menatap ponsel di tangannya yang menampilkan nama sebuah rumah sakit sebagai penelepon. Baru saja dia hendak menggeser ikon berwarna hijau, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dengan kasar oleh Liora yang tampak terburu-buru. Wanita itu hanya tersenyum ketika Charly menatapnya dengan kening berkerut dalam.
"Maaf," ujar Liora sambil tersenyum kemudian mengambil ponselnya di tangan Charly.
Charly tak menunjukkan reaksi apa pun, laki-laki itu hanya kembali berjalan menuju kursi kerjanya tanpa mau perduli urusan wanita. Hingga tiba-tiba saja, Liora berteriak cukup kencang dan mengejutkan keduanya. Charly dan Ramon pun kini mengalihkan perhatian keduanya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" tanya Charly sambil berdiri di samping Liora.
"A–aku harus pergi sekarang," ujar Liora dengan wajah yang berubah panik, dia menyambar tas di sofa kemudian hendak berjalan ke luar begitu saja.
Namun, Charly lebih dulu menghentikannya dengan mencekal tangannya. "Ada apa sebenarnya, Liora? Bilang padaku!"
"Re–Rere, Davi‐-" Liora berusaha menjawab walau rasanya itu terlalu sulit, mulutnya terasa kelu secara tiba-tiba.
"Ayo aku antar kamu sekarang!" Charly yang tau keadaan Liora saat ini pun memilih untuk menyambar kunci mobil untuk mengantarkan wanita itu ke tempat tujuannya.
Charly seperti bisa menebak jika saat ini sedang terjadi sesuatu dengan Rere dan Davi, hingga membuat Liora seperti ini. Walau dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Rere dan Davi.
Liora mengangguk, dia kemudian berlari ke luar dari rumah Charly kemudian langsung masuk ke mobil milik laki-laki itu. Keduanya pun segera menuju rumah sakit yang tadi menelepon Liora.
Tidak ada pembicaraan di dalam mobil, Charly yang merasa penasaran pun tidak sampai hati untuk mendesak Liora, sementara wanita itu masih terlihat panik.
"Tenangkan dirimu dulu, Liora. Kita tidak bisa menyelesaikan masalah jika kamu terus panik seperti itu," ujar Charly setelah sekian lama mereka terdiam.
Liora mengikuti perkataan Charly, dia menarik napas dalam kemudian menghembuskannya perlahan, wanita itu melakukannya berulang kali hingga merasa lebih tenang dari sebelumnya.
"Ceritakan apa yang terjadi pada Rere dan Davi kalau kamu sudah merasa tenang," ujar Charly lagi sambil melirik wanita di sampingnya. Nada suaranya terdengar begitu rendah, walau masih ada aura dingin di dalamnya.
"Kecelakaan? Bukannya tadi Rere bilang akan menjemput Davi ke rumahnya? Lalu kenapa sekarang dia kecelakaan bersama keluarganya?" Charly mengerutkan kening dalam, dia merasa ada yang janggal dari semua ini.
"Gak tau, aku bahkan lupa menanyakan kondisi mereka," jawab Liora. Entah mengapa hatinya merasa sangat tidak tenang karena kabar yang baru saja dia dengar, padahal sebeleum dia menjadi Tiara, dia tidak akan pernah perduli pada orang lain kecuali anggota gengsternya.
Entahlah, sepertinya dia meraakan ikatan yang asing diantara dirinya, Davi, dan semua orang yang ada di dekat Tiara. Ada kalanya dia mengira jika itu adalah perasaan Tiara yang memang masih ada di dalam dirinya. Walau terkadang dia juga merasa terbawa oleh rasa peduli terhadap sesama itu.
Beberapa saat kemudian Charly berhasil menghentikan mobilnya di lobi rumah sakit. Tanpa menunggu Charly, Liora langsung ke luar dia berlari masuk ke rumah sakit mencari keberadaan Rere dan keluarganya.
"Mereka ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri, kami menemukan ada kandungan obat bius di tubuh mereka," jelas dokter yang menangani Rere dan keluarganya.
"Apa dokter tidak menemukan anak kecil di sana? Seharusnya dia ada bersama mereka?" tanya Liora yang ternyata tidak menemukan ada Davi bersama dengan keluarga Rere, bahkan Mak Onah pun tidak ada.
"Kami sama sekali tidak menemukan anak kecil bersama mereka. Coba tanyakan pada pihak kepolisian yang menangani kasus ini," jawab dokter itu kemudian.
__ADS_1
"Terima kasih, Dok." Liora mengangguk dengan hati yang masih terasa mengganjal dan khawatir akan nasib Davi dan Mak Onah.
"Biar aku suruh seseorang untuk mengecek di rumah Rere, sementara kita ke apartemen kamu." Charly tampak sigap untuk membantu Liora, dia pun ikut panik dengan kejadian yang baru saja terjadi. Namun, karena dia sudah dilatih dengan baik, Charly bisa menyembunyikan rasa paniknya dari semua orang.
Liora mengangguk sambil bergegas kembali ke luar dari rumah sakit, dia juga mengabari kakak Rere untuk segera datang ke rumah sakit dan mengurus semua yang harus dilengkapi.
Kegelisahan Liora semakin bertambah ketika tidak mendapati Davi dan Mak Onah di apartemennya. Keduanya tampak masih berdiri di ruang tengah dengan napas memburu, akibat mencari Davi ke segala tempat, ketika ponsel Charly berdering.
"Kami menemukan semua pegawai rumah terikat di dapur," ujar seseorang yang ada di seberang sana.
Deg!
Charly melebarkan matanya, dia yakin jika ini bukan sekedar kecelakaan atau perampokan rumah biasa.
"Cek semua CCTV yang ada di sana, kita harus memeriksa sesuatu. Usahakan juga kita mendapatkan rekaman kamera dashboard mobil yang mengalami kecelakaan," titah Charly pada rekan kerjanya itu.
"Ayo, kita harus ke rumah keluarga Rere sekarang juga!" Sambungnya lagi pada Liora.
"Ada apa? Apa Davi ada di sana?" tanya Liora sambil berjalan cepat mengikuti langkah Charly.
"Kita lihat saja ke sana dulu!" Jawab Charly tanpa menjelaskan apa yang terjadi di sana
.
Sementara itu, Dery le luar dari mobil yang membawanya, borgol yang tadi melekat di tangannya pun kini sudah tidak ada lagi di sana. Dery mengedarkan pandangannya, dia menyeringai ketika melihat bangunan dengan warna dominan warna hitam itu ada di depannya.
"Bagus sekali, kamu memang selalu dapat diandalkan, Dery!" Tanpa Roxi berjalan ke luar dengan langkah gagahnya, dia kemudian mendekati Dery dan menepuk pundak Dery berulang kali, sebagai sebuah penghargaan.
"Terima kasih, Tuan," jawab Dery sambil sedikit menundukkan kepala.
Ya, itu bukanlah kantor polisi, melainkan tempat persembunyian Roxi di negara ini. Semua penangkapan Dery hanyalah sebuah sandiwara untuk mengelabuhi Liora dan semua orang yang bersekongkol untuk melawannya. Kini, sesuai rencana mereka, Liora dan Charly kini sedang berada di dalam rencana mereka, tanpa keduanya sadari.
"Bagus, karena pengorbanan kamu, kita bisa tahu dengan siapa istrimu bekerja sama," puji Roxi, ketika keduanya berjalan bersama ke dalam vila.
"Benarkah? Siapa yang membantunya selama ini, Tuan? Apa aku mengenalnya?" tanya Dery dengan rahang mengeras, dia benar-benar geram ketika mengetahui jika selama ini Tiara bersekongkol dengan seseorang untuk melawannya.
__ADS_1
"Tentu, kamu cukup mengenal orang itu. Hanya saja kita belum mengetahui dengan pasti siapa orang itu sebenarnya. Dan, mengenai sahabat istri kamu itu, sebentar lagi kamu akan mendengar kabar tentang mereka," jelas laki-laki paruh baya itu.