Terjerat Pesona Istri Tetangga

Terjerat Pesona Istri Tetangga
Bab.48 Drama Niken


__ADS_3

"Kenapa kamu selalu saja membuat masalah di rumah ini, Tiara? Bisa tidak kamu berbaikan dengan Niken? Aku sudah lelah bekerja dan harus melihat kalian terus berdebat ketika di rumah, menyusahkan!" sentak Dery dengan mata menatap tajam Tiara.


Ini adalah waktu makan malam, Niken yang selalu memanfaatkan Dery agar Tiara mau memakan makanan yang dia buat kini menyebabkan laki-laki itu murka. Entah bagaimana awalnya Tiara juga tidak tahu, dia hanya dipanggil ke mari dan tiba-tiba mendapatkan kemarahan Dery.


"Apa maksud kamu, Mas? Aku baru saja datang tiba-tiba kamu langsung berteriak seperti itu?" tanya Tiara dengan wajah yang masih terlihat acuh.


"Niken bilang kamu menolak dia untuk menemani berbelanja pakaian bayi? Apa susahnya sih kamu tinggal mengantarnya ke mall sebentar, hah? Memang apa yang kamu kerjakan di kamar kamu itu sampai tidak mau meluangkan waktu untuk Niken?!" Dery tampak melotot tajam, tangannya pun mengepal erat hingga buku jarinya terlihat mamutih.


"Niken dan anaknya tidak ada urusannya denganku, Mas. Mereka itu tanggung jawab kamu, tapi kenapa sekarang kamu malah menyalahkan aku karena tidak mau meluangkan waktu, heh? Seharusnya yang meluangkan waktu buat mereka itu kamu, bukan aku, Mas." Tiara membalas dengan nada santai.


"Aku tidak pernah meminta Niken untuk tinggal di rumah ini. Mereka itu istri dan anakmu, lalu untuk apa aku harus repot mengurus mereka, jika kenyataannya aku bahkan belum bisa menerima mereka di rumahku!" sambung Tiara lagi tanpa belas kasih pada Niken yang sudah kembali memulai drama istri tersakitinya. Wanita hamil itu tampak menangis tersedu dengan air mata berderai.


"Tiara, jaga mulut kamu! Niken itu istriku, setidaknya kamu hormati keputusanku!" sentak Dery yang semakin terbakar amarah.


"Hormati? Kamu tidak salah, Mas?" Tiara tersenyum remeh.


"Apa kamu pernah meminta izin padaku dulu sebelum menikah dengan wanita ini, Mas? Apa kamu meminta izin dulu padaku saat memutuskan untuk membawa wanita ini tinggal di rumahku, Mas? Tidak, kan? Kamu bahkan membawanya ke rumah ini ketika aku terbaring koma di rumah sakit."


"Ini rumahku, lalu ada hak apa Mas memasukan orang lain ke rumahku, heh?!" tantang Tiara pada Dery, dia melirik pada Niken dengan seringai hina.


"Seharusnya dia sadar diri sebagai orang yang hanya menumpang di sini, jangan terlalu serakah sampai lupa diri dan mau menggantikan kedudukan orang yang memiliki rumah ini."


Plak!


Wajah Tiara menoleh ke arah kanan, dia bisa merasakan sensasi panas dan perih yang bercampur menjadi satu di pipi sebelah kirinya. Tiara tersenyum miring, kemudian kembali berdiri tegak sambil melihat wajah orang yang telah menamparnya.


Niken tampak menatap Tiara penuh amarah, napasnya memburu hingga dadanya terlihat naik turun. Sepertinya Niken sudah terpancing amarah oleh setiap kata yang Tiara ucapkan.


"Jaga ucapan kamu, Tiara! Aku sudah berniat baik dan selalu mengalah kepadamu agar hubungan kita lebih baik, tapi kenapa kamu malah menghinaku seperti ini? Kamu tega sekali, Tiara, padahal sekarang aku sedang mengandung anak Mas Dery." Niken tampak menatap Tiara dengan sorot mata kecewa, dilengkapi oleh air mata yang sudah menganak sungai.

__ADS_1


Dasar kuntilanak bunting, seharusnya kamu jadi pemain sinetron ku menangis saja, dari pada menjadi istri ke dua begini, bikin susah saja! kesal Tiara dalam hati, dia sudah sangat muak dengan drama Niken yang selalu saja mengandalkan tangisan untuk menarik simpati Dery dan orang-orang di rumah ini.


"Lho, bagian mana dari kata-kata aku yang terdengar menghinamu, Niken? Aku hanya sedang mengucapkan fakta, mungkin semua orang di rumah ini juga tahu kalau ini memang rumahku, ada hasil keringatku di rumah ini!" tekan Tiara membalas Niken. Tidak ada anda emosi atau raut wajah marah dari Tiara, wanita itu masih tetap mengulas senyum walau mungkin lebih terlihat seperti mengejek dan menghina lawan bicaranya.


"Kamu jelas-jelas menghinaku dan menuduhku ingin menguasai rumah ini, aku dengar sendiri kamu bilang seperti itu tadi." Niken masih berusaha untuk mendebat Tiara walau sebenarnya dia sudah kalah dari awal.


"Iya, kan, Mas? Kamu juga denger, kan, dia bilang begitu tadi?" tanya Niken kini beralih pada Dery, dia sedang meminta dukungan dari suaminya untuk melawan Tiara.


Tiara tampak terkekeh kecil, sambil menatap sepasang suami istri di depannya, salah satu alisnya ikut terangkat seakan bertanya pada Dery tentang kebenaran yang kini laki-laki itu anggap, dan itu juga akan menjadi sebuah pertanda untuk Tiara tentang rasa cinta laki-laki itu padanya.


Sementara itu, Dery tampak bingung untuk menjawab pertanyaan Niken, dia menatap bergantian dua wanita yang kini tengah berdebat di depannya. Otak dan hatinya membenarkan perkataan Tiara, tetapi ego yang ada di dalam dirinya menyuruhnya untuk memihak Niken.


"Sudah hentikan semua ini, aku pusing melihat kalian terus berdebat seperti ini! Bahkan ketika aku mau makan malam saja kita harus berdebat dulu ... apa ini pantas?" kesal Dery memilih menghardik keduanya.


"Ya ... ini kan konsekuensi dari keputusan kamu untuk memiliki dua istri," gumam Tiara lirih, walau masih bisa terdengar oleh Dery. Laki-laki itu melotot tajam mendengar ucapan Tiara yang sebenarnya memang tidak salah.


"Mas, lalu aku harus bagaimana lagi agar bisa berdamai dengan Tiara? Aku sudah melakukan segalanya yang aku bisa, tapi Tiara terus saja menolak kebaikan dariku. Dia bahkan tidak mau mencicipi sedikit saja hasil masakan aku," keluh Niken lagi mengadukan Tiara pada Dery.


Sementara itu, Tiara tampak memutar bola matanya, merasa bosan dengan ucapan penuh dusta yang terus ke luar dari mulut wanita di depannya. Ternyata Niken masih belum mau mengakhiri drama seperti ini, walau wanita itu tahu jika selama ini dia selalu kalah dari Tiara.


"Tiara beri kesempatan untuk Niken, sedikit saja. Dia itu sebenarnya bukan wanita jahat, dia hanya ingin mendapatkan keluarga." Dery mendukung ucapan Niken yang jelas dibuat-buat.


Tiara terkekeh ringan, dia kemudian menatap Dery dan Niken bergantian, sebelum kembali berkata.


"Tapi, sayang sekali, Mas, aku sudah terlanjur menutup pintu maaf dan iba di dalam diriku untuk kalian, setelah aku kembali dari rumah sakit. Semua perlakuan kalian kepadaku sudah cukup membuat aku percaya jika tidak ada kejujuran di dalam diri kalian berdua. Kalian itu memang angkat cocok, sama-sama tidak tau diri," ujar tegas Tiara.


"Hei, Tiara!"


Plak!

__ADS_1


Kembali suara tamparan yang lebih keras terdengar menggema di ruangan, saat ini Tiara bahkan langsung meraskaan bau amis bercampur asin di dalam mulutnya, pertanda ada luka di sana.


"Jangan lancang kamu, Tiara! Sepertinya aku memang terlalu memanjakan kamu selama ini, sampai sekarang kamu berani menghinaku begini!" teriak Dery lantang.


"Manja apanya, Mas? Kamu bahkan memperlakukan aku seperti seorang tawanan! Kamu pikir aku tidak tahu jika sopir yang mengantarku hanyalah sebagai alat untuk mengawasi aku, hah?!" Tidak takut, Tiara kini semakin berani bertindak dan melawan Dery.


Tiara menjeda sebentar ucapannya, dia lebih dulu menetralkan napas yang kini terasa sesak akibat keberadaan mereka berdua di depannya.


"Sudahlah, berbicara dengan kalian jika tidak berakhir dengan menjadi gunjingan para pelayan dan penjaga, maka akulah yang harus menanggung luka," sambung Tiara lagi sambil mengusap ujung bibirnya yang terasa sakit, dia tersenyum saat melihat ada darah di permukaan jarinya.


"Lihatlah, bahkan sekarang aku sudah berdarah lagi. Ck! Jika dimanjakan yang kamu maksud adalah seperti ini, lebih baik aku tidak pernah mendapatkannya, Mas." Tiara menatap tepat pada iris mata Dery, dia sempat mengulas senyum tipis sebelum kemudian berbalik ingin pergi dari tempat perang dingin itu.


Namun, beberapa langkah dia berjalan Tiara kembali menoleh dan melihat Dery dan Niken yang tengah menatapanya.


"Oh iya, jika memang dia tulus padaku, coba suruh dia makan makanan yang telah dia sajikan untukku, setelah itu baru akan aku pikirkan lagi, apakah mau memberi kesempatan untuk berdamai atau meneruskan semua ini," ujara Tiara, kemudian memilih melanjutkan langkahnya dan kembali masuk ke kamar tanpa memberi kesempatan untuk Dery dan Niken mencegahnya.


Niken melebarkan mata mendengar ucapan Tiara, dia tidak mungkin memakan makanan yang telah dirinya siapkan untuk Tiara, karena tentu saja di dalamnya sudah ada sesuatu yang bisa membahayakan untuk anak di dalam kandungannya dan dirinya sendiri tentunya.


Perlahan iris mata wanita itu tampak menoleh pada wajah sang suami, dia menatap penuh waspada, diam-diam Niken merasa takut jika saja nanti Dery benar-benar mengikuti perintah yang diberikan oleh Tiara.


Walau Tiara sering kali menerima penyiksaan dari Dery, tetapi Niken bisa melihat jika masih ada sedikit rasa cinta di dalam kilat sorot mata laki-laki itu ketika menatap Tiara. Itu juga yang membuat Niken selalu merasa tidak aman selagi Tiara masih hidup. Semua itu karena kenyataannya perasaan Dery pada Tiara jauh lebih banyak dari pada pada dirinya.


"Apa maksud Tiara, Niken? Apa kamu memasukan sesuatu pada makanan yang kamu sediakan untuk Tiara?" tanya Dery penuh selidik.


"Tidak, Mas! Aku sama sekali tidak melakukan apa pun sama Tiara. Kamu tega menuduh aku seperti ini, Mas?" Niken kembali mengeluarkan air matanya yang menjadi senjata andalan selama ini.


"Kamu memang gak pernah cinta sama aku, Mas, kamu hanya memanfaatkan aku untuk mengandung anak kamu yang akan menjadi penerus bisnis gelap kamu, kan?" sambung Niken lagi.


"Sudahlah, aku lelah, napsu makanku bahkan sudah hilang karena perdebatan kamu dan Tiara. Mulai sekarang, kamu tidak usah lagi memasak apa pun untuk Tiara, biarkan dia semuanya sendiri, begitu juga kamu, aku sudah memberikan kamu kartu yang baru, kan? Gunakan semau kamu, apa pun itu. Jangan lagi buat pusing, atau kalian berdua akan menerima akibatnya!" tegas Dery kemudian mulai melangkah ingin meninggalkan Niken. Namun–

__ADS_1


Bruk!


Niken jatuh tidak sadarkan diri, hingga membuat Dery langsung menghampirinya dan membawanya ke dalam gendongannya.


__ADS_2