
"Selamat siang, semuanya. Bolehkah kami bergabung dengan kalian?" ujar Liora dengan senyum penuh makna.
Semua orang yang ada di sana saling pandang dengan wajah terkejut akan kehadiran Liora yang tiba-tiba.
"Kamu? Sedang apa kamu di sini? Apa ada yang mengundangnya di sini?" tanya laki-laki dengan jas abu-abu itu.
"Tidak ada yang mengundangku ke acara ini, aku hanya kebetulan lewat saja," ujar LIora dengan santainya, sambil duduk di salah satu kursi yang masih kosong.
Liora tampak menyandarkan punggunya di sandaran kursi sambil bertumpang kaki. Di belakangnya, Charly tampak berdiri tegak, seolah seorang pengawal yang sedang bersiap siaga untuk menjaga majikannya.
Sikap Liora dan Charly saat ini memang begitu berbeda dari terakhir kali mereka bertemu, itu semua tentu membuat para laki-laki paruh baya itu merasa resah dengan keberadaan Liora di sana.
"Heuh! Baiklah, berarti kita bertambah satu anggota lagi. Benar kan, Nyonya Tiara?" Laki-laki yang lebih muda terdengar bertanya, sambil melihat pada Liora.
"Itu tergantung kalian, aku akan setuju jika memang penawarannya menarik," jawab Liora acuh.
"Jadi, kamu juga mengincar posisi CEO di perusahaan? Menjadi pengganti untuk mantan suami kamu sendiri?" tanya laki-laki itu lagi, dengan nada yang terdengar sarkas.
Liora memicingkan ujung matanya, menatap wajah laki-laki yang duduk tidak jauh darinya, dia sudah bisa menebak jika sebenarnya laki-laki yang lebih muda itu juga diam-diam menginginkan pangkat itu.
"Entah? Atau mungkin sebenarnya kamu yang menginginkan semua itu?" tanya Liora dengan tatapan yang berubah tajam, dan tubuh yang tegap.
"A–apa maksud kamu? Jangan bicara sembarangan ya!" bantah laki-laki itu yang tampak berubah panik, seolah takut ketahuan jika memang dia menginginkan untuk menjadi pengganti Dery.
"Aku hanya bertanya, jika memang tidak benar, kenapa kamu harus emosi begitu?" tanya Liora sambil terkekeh pelan, hingga membuat laki-laki itu semakin meradang, karena merasa telah dipermainkan oleh Liora.
"Jika memang kamu tidak menginginkan untuk menjadi pengganti suamimu, lalu untuk apa kamu ada di sini sekarang?" tanya laki-laki dengan jas abu-abu itu.
Liora tersenyum, dia kembali menyandarkan punggungnya sambil tumpang kaki. "Ah, aku ada di sini, tentu saja dengan sebuah informasi yang sangat mengejutkan."
__ADS_1
Charly yang mendengar ucapan Liora, langsung mengambil laptop yang dia bawa kemudian menaruhnya di atas meja. Dia lebih dulu mengaturnya hingga kini yang terlihat di layar adalah sebuah video yang belum dimainkan.
Charly memosisikan layar laptopnya agar bisa dilihat oleh semua orang yang ada di sana. Jelas saja, gambar yang ada di layar itu membuat semua orang yang ada di sana terkejut bukan main hingga saling pandang dengan bibir yang bungkam.
Ya, itu adalah video salah satu orang di sana yang sedang menikmati malam di sebuah klub malam bersama dengan beberapa orang wanita di sampingnya.
"Untuk yang lainnya, jangan iri. Karena aku juga memiliki video yang sama," ujar Liora dengan santainya. Sementara Charly bertugas memperlihatkan contoh video yang mereka miliki.
Cih, dasar tua bangka tidak tau diri, umur sudah bau tanah, tapi kelakuan masih seperti anak remaja brengsek! batin Liora mencibir. Rasanya begitu menjijikan ketika harus melihat wajah para laki-laki hidung belang di depannya.
"Apa-apaan ini? Kamu mau mengancam kami dengan semua video ini, hah?!" sentak laki-laki rambut berwarna putih sambil menggebrak meja dengan cukup kencang. Liora bahkan sempat terkejut dengan reaksi laki-laki itu, walau dengan cepat dia bisa menutupi semua itu dengan seringainya.
"Aku tidak mengancam, aku hanya ingin memberitahu apa yang selama ini Dery lakukan di belakang kalian semua," jawab Liora santai.
"A–apa kamu bilang? Ini semua milik Dery?" tanya laki-laki yang lebih muda, mungkin sekitar umur empat puluh tahunan.
Semua orang di sana tampak terkejut dengan pengakuan Liora yang tidak sepenuhnya benar itu. Mereka saling berbisik mengungkapkan rasa kecewa pada Dery.
Liora tersenyum sambil sedikit melirik Charly, Tang masih menampilkan wajah datarnya, laki-laki itu hanya mengangguk samar seolah mengerti jika Liora tengah menatapnya.
"Kalian terlalu percaya pada orang yang salah, sampai lengah dan mudah dibodohi oleh Dery. Kalian pasti tidak tahu jika klub malam tempat kalian menikmati hidup, adalah milik suamiku? Dia mempunyai perusahaan lain, selain perusahaan orang tuaku."
Liora terkekeh di akhir kalimatnya, seolah tengah berpuas hati melihat wajah pucat semua laki-laki di ruangan itu. Tentu saja kecuali Charly yang telah mengetahui semuanya lebih dulu. Charly masih tampak berdiri tegak di belakang Liora dengan wajah datarnya.
Entah kebetulan atau memang Liora tahu sebelumnya, jika Dery lah yang merekomendasikan klub malam itu pada mereka semua.
"Oke, jadi sekarang apa maumu? Kenapa kamu memilih untuk memberi tahu kita tentang semua ini?" tanya laki-laki yang memakai jas warna abu-abu. Dia tampak lebih tenang dari yang lainnya.
"Ah, ternyata Anda cukup pintar untuk mengerti apa yang aku inginkan." Liora menyeringai sambil membagikan pandangannya pada semua orang yang ada di sana.
__ADS_1
"Aku ingin–"
.
Sementara itu, rumor tentang kehancuran rumah tangga Dery dan penangkapan Niken pun sudah sampai ke telinga ibu Dery. Wanita paruh baya itu pun langsung datang ke rumah Tiara untuk memastikan berita yang beredar di luar sana. Dia yang juga hidup dari uang yang diberikan Dery setiap bulan tentu saja tidak mau sampai kehilangan anak sekaligus sumber uangnya itu.
"Apa yang kamu lakukan di sini, heh?!" tanya ibu Dery, ketika melihat anaknya yang tengah duduk di ruang penyimpanan anggur, dengan banyak botol kosong di sekitarnya.
"Ish, dasar laki-laki lemah! Kehilangan satu perempuan saja langsung minum-minum sampai hampir gila begini!" sinis ibu Dery, sambil melihat anaknya yang sudah tidak berdaya karena pengaruh minuman beralkohol.
Dery tidak menjawab, dia hanya duduk lemas di atas kursi seperti laki-laki yang sudah kehilangan semangat hidupnya.
"Bangun, Dery! Kamu harus kembali ke kantor, masih banyak wanita di luar sana. Kalau kamu punya banyak uang, mereka semua akan mengantre dan mau melakukan apa saja demi kamu, Dery! Jangan sampai kamu menjadi putus asa hanya karena satu wanita!" Ibu Dery mengomel terus-terusan, berusaha membangkitkan kembali semangat Dery untuk mencari uang.
"Ini semua gara-gara Ibu, aku begini semuanya karena Ibu," gumam Dery dengan suara yang terdengar parau. Tubuhnya perlahan bergerak hingga duduk bersandar sambil menatap wajah sang ibu.
"Apa maksud kamu, hah?! Memang apa yang ibu lakukan sampai kamu menyalahkan ibu atas semua kejadian ini?!" tanya Ibu Dery dengan wajah tak terima.
"Ini semua karena Bapak dan Ibu merencanakan kecelakaan orang tua Tiara dan membawa Tiara untuk hidup dengan kita. Karena itu aku jatuh cinta pada Tiara, Bu! Aku mencintai Tiara, Bu ... aku gak mau mau kehilangan Tiara." Dery menangis tergugu sambil kembali menangkupkan wajahnya di atas meja. Dia bahkan tidak perduli dengan botol minuman di atas meja yang tersenggol oleh lengannya dan akhirnya jatuh hingga pecah berantakan di lantai.
"Itu semua bukan salah aku dan bapakmu, itu semua karena kamu saja yang terlalu bodoh! Kamu yang tidak pernah mendengarkan ucapan kita untuk menjaga jarak dari Tiara!" sentak ibu Dery pada anaknya.
"Tapi, bukannya kalian yang menyuruhku untuk mendekati Tiara agar dia jatuh cinta? Lalu, apa salahku jika akhirnya aku juga yang jatuh cinta padanya, Bu?!" Mata merah Dery kini tampak basah dengan wajah yang begitu sendu.
"Kalian juga yang menjadikan aku cacat seperti ini? Kalian yang telah membiarkan aku menerima semua kejadian di masa lalu, sampai akhirnya aku menjadi seorang maniak tak berguna seperti sekarang!" Air mata itu perlahan turun, Dery tidak bisa lagi membendung rasa kecewa kepada kedua orang tuanya yang menjadikannya sosok seperti sekarang. Monster mengerikan yang hanya akan merasa puas ketika dia menyiksa lawan mainnya di ranjang.
Dery sering kali menutupi semua itu dari Tiara, walau terkadang rasa takut kehilangan dan cemburunya pada Tiara membuat Dery beberapa kali lepas kontrol dan memperlakukan Tiara dengan kasar.
__ADS_1