
"Hk!"
"Tidak!" Charly melebarkan matanya ketika Liora memeluknya seiring suara tembakan yang memekakkan telinga.
"Liora! Tidak ... jangan tinggalkan aku lagi, aku mohon!" teriak Charly sambil memeluk tubuh Tiara semakin erat.
"Aku mencintaimu," gumam Liora sambil tersenyum sebelum akhirnya menutup mata dengan kepala bersandar di dada bidang Charly.
"Liora, jangan menutup matamu, aku mohon! Aku mohon tetaplah sadar!" Charly menggoyangkan tubuh Liora dengan histeris. Saat ini dia bisa merasakan cairan hangat yang mulai mengalir membasahi tangannya yang melingkar di pinggang Liora.
Duarrr! suara satu per satu bom yang mulai meledak terdengar bersamaan api yang mulai menyebar dan asap hitam pekat membumbung tinggi, semakin membuat Charly dan yang lainnya panik.
"Charly! Cepat naik!" teriak Ramon dari pintu helikopter yang masih mengudara di atas Charly, setelah menembak beruntun Roxi hingga meregang nyawa di tempat yang sama.
Charly menatap ibu Dery yang juga masih hidup. Namun, wanita itu menggeleng. Sepertinya kepergian Dery membuat wanita itu begitu terpukul hingga enggan untuk hidup lagi.
"Pergilah! Aku akan mati bersama anakku di sini," ujar Ibu Dery dengan air mata berderai, sambil memeluk tubuh Dery yang masih ada di dalam pangkuannya.
Sementara gedung itu sudah mulai bergetar dan runtuh di beberapa bagian akibat ledakan bom yang terus terjadi. Dengan berat hati, Charly harus menyelamatkan dirinya dan Liora yang kini juga sedang sekarat di dalam pelukannya.
Dengan satu tangan dia menggapai tangga yang menjuntai di bawah helikopter dengan membawa Liora bersamanya. Helikopter pun langsung putar arah dan meninggalkan gedung yang perlahan mulai runtuh dan terbakar dengan ledakan bom yang terus terjadi.
.
Beberapa hari kemudian .....
"Bagaimana keadaan Tiara?" tanya Charly ketika dia baru saja datang ke rumah sakit setelah beberapa hari ini dia sibuk memebereskan semua keadaan yang terjadi di gedung hotel terbengkalai itu, dan melaporkannya kepada atasannya. Setelah memastikan semua korban ditemukan dan dimakamkan dengan baik, dia bari bisa menjenguk Tiara yang terbaring di rumah sakit.
Rere berdiri begitu melihat Charly datang, dia kemudian melangkah pelan menjauhi tempat duduk untuk memberi ruang bagi Charly.
"Dia dinyatakan koma," jawab Rere lesu. Dia kemudian beranjak ke luar, memberi waktu untuk Charly berdua dengan Tiara atau mungkin Liora.
Charly menghembuskan napas pelan, dia menatap wajah pucat wanita yang kini tampak terlelap di depannya.
"Liora, apa kamu masih ada di sini? Aku mohon, kamu segera bangun ... jangan tinggalkan aku lagi, Liora. Aku mohon," gumam Charly sambil menggengam tangan Tiara yang terasa dingin.
Cukup lama Charly duduk di ruangan itu, hingga setelah jam besuk selesai, dia pun terpaksa harus meninggalkan ruangan.
"Bagaimana jika ketika dia bangun dia bukan lagi wanitamu?" tanya Rere, ketika mereka berdua sedang menikmati kopi di kafe dekat rumah sakit.
"Aku tidak tau. Tapi, aku berharap dia bisa segera sadar, terlebih masih ada Liora atau bukan di tubuh itu," jawab Charly dengan suara yang terdengar berat.
"Aku juga berharap begitu," balas Rere lemah.
Rere pun kini sudah tidak perduli dengan siapa yang akan terbangun di tubuh Tiara, yang dia inginkan hanyalah dia bisa melihat kembali salah satu sahabatnya membuka mata. Walau dia juga tidak bisa memungkiri jika dirinya merindukan sosok Tiara yang lemah lembut.
.
__ADS_1
Satu minggu sudah berlalu, hari ini adalah hari terakhir Charly berada di negara ini. Masa kerja di sini sudah selesai, dia tentunya harus segera kembali ke negara asalnya.
"Aku pergi dulu," ujar Charly sambil berjalan ke luar dari rumah.
"Mau ke mana, ingat jam sepuluh kita harus sudah ada di bandara." Ramon mengingatkan.
"Hm, aku tau," jawab singkat Charly sambil meneruskan langkahnya.
Ramon hanya menghembuskan napasnya pelan, dia menatap kepergian sahabatnya yang sejak kejadian sepuluh hari lalu, sikapnya semakin dingin.
Beberapa saat kemudian Charly menghentikan mobilnya di parkiran rumah sakit. Untuk terakhir kalinya, dia harus menemui Liora walau mungkin dia tidak bisa melihat wanita itu membuka mata. Jika saja dia bisa menolak, Charly akan lebih memilih untuk tetap tinggal, setidaknya sampai dia bisa memastikan keberadaan Liora di tubuh Tiara.
Namun, ada urusan yang harus dia selesaikan di negaranya dan memastikan semuanya terselesaikan secepatnya. Semua itu memaksanya untuk meninggalkan Liora dan Davi yang kini begitu dekat dengannya. Anak kecil yang sangat kuat itu, kini juga tengah melakukan perawatan bersama dengan keluarga Rere, karena kejadian sepuluh hari lalu menyisakan trauma yang cukup besar bagi mentalnya.
"Kamu jadi pergi hari ini?" tanya Rere ketika keduanya tengah menunggu pemeriksaan dokter di luar ruangan.
"Hm." Charly hanya berdehem pelan sebagai jawaban.
"Kamu tidak mau menunggunya sampai sadar?" tanya Rere lagi.
Charly terdiam, sesungguhnya dia sangat berat untuk meninggalkan Liora di sini. Namun, setidaknya di sini Liora ada Rere yang akan menjaganya. Lagipula tidak akan ada lagi orang yang membahayakan Liora lagi, karena semuanya telah mati bersama dengan bom di gedung bekas hotel, tempo hari.
Sementara untuk urusannya, tidak ada yang bisa menyelesaikan selain dirinya sendiri. Maka dari itu, Charly terpaksa memilih keputusan seperti ini.
Suara pintu ruangan terbuka mengalihkan perhatian Rere dan Charly yang baru saja hendak menjawab pertanyaan dari wanita itu. Keduanya pun beranjak menghampiri dokter yang baru saja ke luar dari ruangan rawat Tiara.
"Pasien menunjukan reaksi dan mulai sadar, kita hanya menunggu sampai dia membuka mata saja," ujar dokter yang membuat senyum di wajah Rere dan Charly terlihat.
"Benar. Semoga saja hari ini pasien bisa membuka mata," ujar dokter itu sebelum kemudian pamit untuk melakukan pemeriksaan pada pasien lainnya.
"Masuklah dulu," ujar Rere pada Charly.
Laki-laki itu tampak menatap Rere dalam hingga kemudian mengangguk pelan, sambil berkata, "Terimakasih."
Rere mengangguk sambil tersenyum tipis pada laki-laki itu. Dia berharap dengan keberadaan Charly di dekat Tiara atau Liora, sahabatnya itu bisa segera bangun.
Charly kembali masuk ke dalam ruangan Liora kemudian duduk di kursi yang tersedia di sana. Tangannya terulur menggenggam tangan Tiara dengan sangat lembut.
"Hari ini aku akan pergi. Aku harap bisa melihatmu membuka mata kembali. Siapa pun yang ada di dalam tubuh ini sekarang, setidaknya beri aku kejelasan dulu, agar aku tidak terus berharap pada keberadaanmu, Liora," gumam Charly pelan.
Charly beranjak berdiri, dia mengusap pelan wajah Tiara yang masih tenggelam di dalam alam mimpinya. "Maaf, aku lancang," ujar Charly, sebelum kemudian mengecup kilas kening Tiara dengan bayangan wajah Liora di matanya.
"Aku lancang, maka bangunlah. Tendang aku ... maki aku sekarang, Liora." Charly menunduk dalam. "Aku lebih suka kamu menendang dan memaki aku daripada melihatmu diam seperti ini," lanjutnya lagi dengan satu tetes air mata jatuh begitu saja.
Sadar dirinya terlalu tenggelam dalam kesedihannya, cepat dia menghapus air mata itu sambil menarik napas dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Charly melakukan itu berulang, hingga rasa sesak di dalam dada sedikit berkurang.
"Aku pamit, setelah ini mungkin kita tidak akan bertemu lagi. Aku harap akan ada kabar bahagia darimu yang aku dengar, suatu hari nanti," ujar Charly sebelum kemudian berbalik dan pergi dari ruangan itu tanpa mau menoleh lagi ke belakang.
__ADS_1
"Aku pergi sekarang, Re. Titip Tiara. Kabari aku kalau ada perkembangan kesehatannya," ujar Charly begitu dia ke luar dari ruangan Tiara.
"Kamu mau pergi sekarang?" tanya Rere tidak percaya. Setelah mendengar perkataan dokter, Charly masih ingin pergi hari ini.
"Iya," jawab Charly singkat.
"Apa kamu tidak mau menunggu samapai dia bangun?" tanya Rere, ingin mencoba menahan kepergian Charly.
"Aku berharap dia segera siuman, walau mungkin aku tidak lagi di sini," jawab Charly masih tetap pada pendiriannya.
"Baiklah, jika itu sudah keputusan yang kamu ambil, aku mau bilang apa lagi," balas Rere dengan hembusan napas pelan.
"Semoga kamu selamat sampai tujuan," sambung Rere lagi.
Charly mengangguk. "Terimakasih," jawabnya.
Keduanya pun berpisah di sana. Charly langsung pergi setelah melihat Rere masuk ke ruang rawat Tiara. Dia harus segera pulang ke rumah dan berangkat ke bandara karena satu jam lagi dia harus melakukan cek bording pass.
Sementara itu, Rere melebarkan matanya dengan kaki yang terasa kaku, bahkan untuk melanjutkan langkahnya pun itu sangat berat dia lakukan.
"Ti--Tiara?" gumam Rere dengan suara terbata.
Ya, saat ini Rere melihat Tiara sudah membuka matanya. Perlahan Rere mulai membawa kakinya kembali melangkah mendekati brankar tempat Tiara terbaring selama sepuluh hari ini. Matanya tampak berkaca-kaca, tidak percaya jika dia bisa melihat sahabatnya kembali membuka mata.
"Kamu sudah sadar, Tiara?" tanya Rere dengan suara sedikit bergetar.
Tiara tampak menatap Rere dalam, matanya terlihat berkaca-kaca dengan bibir bergetar seolah ingin membuka suara walau mungkin itu masih terlalu sulit untuk orang yang baru saja sadar dari koma.
"Re--re, D--Davi, mana?" gumamnya sangat pelan, hingga suara Tiara tidak terdengar oleh Rere.
"Charly?!" Bukanya menjawab, Rere malah teringat pada Charly yang pasti belum berjalan jauh dari sana.
"Sebentar, Tiara, aku harus mengejar Charly dulu. Dia harus tahu kalau kamu sudah bangun," ujar Rere sebelum berlari ke luar tanpa memedulikan apa pun.
Rere berlari cepat menyusuri koridor rumah sakit untuk mencari keberadaan Charly setelah berbicara dengan perawat tentang keadaan Tiara. Namun, sampai di parkiran, Rere tidak menemukan keberadaan Charly. Sepertinya laki-laki itu memang sudah pergi dari rumah sakit.
Rere pun berjalan kembali ke ruang rawat Tiara dengan perasaan kecewa, dia sudah mencoba menghubungi Charly, tetapi ponsel laki-laki itu juga sama sekali tidak terhubung. Akhirnya Rere menyerah, mungkin memang sudah keputusan Charly untuk meninggalkan Tiara seperti ini.
Setelah melakukan pemeriksaan kembali, dokter menyatakan jika keseluruhan tubuh Tiara dalam keadaan baik, walau luka bekas tembakan di punggungnya belum sepenuhnya sembuh dan masih memerlukan perawatan. Namun, selain itu, tidak ada lagi yang harus dicemaskan.
"Syukurlah kamu sudah bangun, Tiara. Aku senang bisa melihat kamu membuka mata lagi," ujar Rere sambil menggenggam tangan Tiara erat. Air mata pun mengalir begitu deras membasahi pipi Rere karena rasa bahagianya.
"Aku juga senang bisa melihat kamu lagi, Re," jawab Tiara dengan suara yang sangat lembut.
"Sayang sekali, Charly sudah terlanjur pergi sebelum melihat kamu bangun," guman Rere lagi sambil mendesah berat.
"C‐-Charly? Siapa itu?" tanya Tiara bingung, hingga membuat Rere melihat wajah sahabatnya itu dengan kening berkerut dalam.
__ADS_1
"Kamu tidak tahu Charly?" tanya Rere cepat.
Jadi sebenarnya siapa yang terbangun di tubuh Tiara sekarang? Tiara atau Liora?