
Liora menghembuskan napas pelan begitu melewati gerbang tinggi yang selama ini bagaikan sebuah penjara untuknya. Kepalanya mendongak dan mata tertutup rapat. Tak lupa dengan senyum tipis yang terlihat begitu tulus dan penuh kebahagiaan menghiasi wajah cantiknya. Rasa sesak yang selama ini menyiksanya tiba-tiba saja berkurang, hingga menimbulkan rongga di dalam dada yang membuatnya dapat bernapas dengan leluasa.
"Non." Mak Onah yang menyusul Liora dengan sebuah tas di tangannya menyapa, begitu wanita tua itu berdiri di samping anak asuhnya itu.
Liora membuka mata sambil menoleh menatap wajah wanita tua yang katanya telah menemani Tiara dalam masa tersulitnya. Senyum di bibir semakin terlihat merekah dengan mata yang kembali berbinar.
"Mak, akhirnya aku bisa terlepas dari laki-laki toksik itu," ujar Liora dengan mata yang berkaca-kaca.
"Iya, Non. Non pasti bisa mengalahkan Tuan Dery di pengadilan," jawab Mak Onah sambil memeluk tubuh anak asuhnya itu. Wanita tua itu terisak di pelukan Liora, dengan perasaan senang yang membuncah di dalam dada.
Entah perasaan dari mana, Liora pun malah ikut terbawa oleh emosi Mak Onah, hingga kini dia pun ikut menangis terisak di pelukan Mak Onah. Untuk beberapa saat, keduanya tetap berada dalam posisi yang sama, hingga tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan mereka. Menyadari itu, Liora langsung menghapus air matanya sambil mengurai pelukan mereka.
Charly tampak ke luar dari mobil setelah sebelumnya dia memperhatikan Liora dari balkon kamarnya, dia kemudian berjalan menghampiri Liora dan Mak Onah.
"Ayo masuk, aku antar ke apartemen Rere," ujar Charly pada Liora.
Liora mengangguk pada Charly, kemudian mengalih kanperhatiannya pada Mak Onah.
"Kita pergi ke apartemen Rere dulu untuk sementara ya, Mak," ujar Liora yang langsung diangguki oleh wanita tua itu.
Liora pun mengantarkan Mak Onah untuk masuk ke mobil dan duduk di kursi tengah, sementara Charly membawa tas milik Mak Onah lalu dia taruh di bagasi belakang. Liora pun duduk di samping kursi kemudi yang langsung disusul oleh Charly setelahnya.
Liora dan Charly tampak saling menatap tanpa ada satu orang pun yang mau membuka suara, keduanya seperti sedang berbicara dengan menggunakan sorot mata, hingga akhirnya Charly melepaskan tautan mata mereka lebuh dulu dan mulai melajukan mobilnya. Sepanjang jalan hanya keheningan yang menemani, hingga tanpa terasa Charly pun menghentikan mobilnya di area parkir gedung apartemen milik Rere.
__ADS_1
Laki-laki itu ke luar dari mobil terlebih dahulu kemudian membuka pintu untuk Liora dan Mak Onah, lalu mengambil tas milik Mak Onah di bagasi belakang.
"Terima kasih, ujar Liora lirih, ketika Charly mempersilahkan mereka berjalan di depannya. Ketiganya pun berjalan bersama menuju pintu lift untuk mencapai lantai di mana unit apartemen milik Rere berada dengan Charly yang berjalan di belakang Mak Onah dan Liora, bagaikan seorang lelakiyang sedang menjaga istri dan ibunya.
"Tiara, akhirnya kamu datang juga," ujar Rere begitu membuka pintu langsung melihat wajah Tiara dan Mak Onah.
"Maaf, Re," jawab Liora sambil tersenyum canggung.
"Mama!" Dari arah dalam terdengar suara teriakan Davi yang begitu nyaring, hingga membuat Rere otomatis melangkah mundur beberapa langkah untuk memberi jalan bagi Davi. Semua orang yang ada di sana pun langsung mengalihkan perhatiannya pada anak kecil itu.
Liora melebarkan matanya sambil melangkah melewati Rere, demi untuk melihat wajah sang anak. Jantungnya tiba-tiba berdebar begitu kencang saat suara kaki kecil itu berlari ke arahnya sambil memanggilnya, membuat hati Liora selalu terasa menghangat.
"Davi sayang!" Liora berlutut sambil merentangkan kedua tangannya, bersiap untuk menyambut kehadiran anak kecil yang telah berhasil merebut perhatian dan kasih sayangnya.
"Mama jangan tinggalin Davi lagi, Davi gak mau pisah lagi sama Mama," ujar Davi di sela isak tangisnya.
"Maafin mama, sayang. Maafin mama, sudah buat khawatir Davi," jawab Liora sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh anak kecil itu. Sesekali, Liora tampak menciumi wajah tampan Davi dan mengusap kepalanya.
"Mama ke mana aja? Kenapa lama sekali pulangnya? Davi tungguin Mama dari tadi," rengek Davi, di sela isak tangis yang terdengar begitu memilukan itu.
"Maaf, sayang. Mama ada urusan sebentar tadi. Davi kan harus sekolah makanya mama gak ajak Davi," jelas Liora, penuh kasih sayang. Dia berharap jika anak itu dapat mengerti.
"Mama jangan tinggalin Davi lagi," pinta Davi.
__ADS_1
"Heem, Mama gak akan tinggalin Davi," angguk Liora, walau dalam hati dia berteriak menyalahkan dirinya sendiri karena mengatakan sebuah janji yang belum tentu dapat dia tepati.
"Davi anak mama, sampai kapan pun Davi akan tetap menjadi anak mama. Mama sayang Davi selamanya," sambung Liora lagi, yang malah membuat tangis Davi semakin menjadi.
"Mama!" Davi berteriak di sela tangis yang semakin besar.
Anak kecil yang masih belum mengerti dengan permasalahan orang dewasa itu, kini sudah tidak perduli dengan wanita yang tengah dia peluk sekarang. Yang dia tahu, jika itu adalah ibunya, dan selamanya akan tetap menjadi ibunya.
Davi memang sempat merasa risih dengan perubahan ibunya setelah ke luar dari rumah sakit. Mulai dari cara wanita itu menatapnya, memanggilnya, bahkan memberikan kasih sayang, semuanya sungguh jauh berbeda dari sebelumnya. Begitu juga dengan rasa makanan yang dia masak. Davi bahkan tahu jika makanan itu bukanlah masakan yang biasa dimasak oleh ibunya sebelum kecelakaan.
Namun, bagaimana pun perubahan yang terjadi pada wanita di dalam pelukannya ini, Davi hanya bisa melihat satu nama dan satu kasih sayang yang masih terasa sama sampai sekarang, yaitu kasih sayang seorang ibu. Pikiran sederhana anak kecil itu, hanya mengetahui jika itu adalah ibunya, orang yang telah melahirkan dan menyayanginya dengan setulus hati.
Setelah merasa Davi sudah lebih tenang, perlahan Liora mengurai pelukannnya, lalu menghapus jejak air mata yang menganak sungai membasahi pipi, kemudian menyingkirkan rambut yang sedikit menutup bagian keningnya. Dia tersenyum lembut pada anak itu, lalu kembali mencium kedua pipi Davi yang menggembung karena merajuk, dan ujung hidungnya yang memerah karena habis menangis.
Terlihat sangat lucu, hingga membuat Rere dan Mak Onah terkekeh dibuatnya. Sementara Charly yang berdiri paling belakang, hanya bisa mengulas senyum tipis melihat kasih sayang tulus seorang Liora pada Davi.
Kini aku mulai bimbang dan bertanya lagi. Apa benar kamu adalah Liora, sang ketua gengster tercantik di California?
Charly bertanya dalam hati. Pendiriannya tentang jati diri Tiara yang sebenarnya masih sangat membingungkan untuknya. Semuanya tentang Tiara dan Liora terasa ambigu untuknya. Dua wanita yang sama-sama dia tidak terlalu kenal, baik itu dari sikap dan sikap mereka masing-masing. Namun, kini wanita di depannya malah mengaku menjadi keduanya.
Hatinya ingin percaya jika wanita di depannya adalah Liora, yang mungkin sudah sedikit memiliki hati. Namun, logika dan akal sehatnya selalu membantah dan menolak untuk percaya.
Jika memang benar kamu Liora. Aku berharap kamu akan lebih baik dari sosok kamu yang dulu. Walau sebenarnya, siapa pun kamu ... aku yakin kamu adalah wanita yang berhati baik. Hanya saja jalan hidup kalian yang membuat kalian begitu berbeda.
__ADS_1