
Lima tahun kemudian ....
"Selamat, Nyonya, kita berhasil menaikan omset penjualan," ujar Deren yang berdiri di depan Liora. Laki-laki itu tampak tersenyum senang sambil menyerahkan sebuah dokumen laporan hasil penjualan tahun ini.
"Baguslah, sekarang semuanya sudah kembali baik-baik saja. Kamu boleh ke luar," jawab Liora sambil mengambil syal yang tergantung di kastop kemudian memakainya.
Ya, sekarang Liora sudah membubarkan gengster yang dulu dia pimpin, sebaliknya dia kini menjadi salah satu pengusaha ternak sapi yang sukses di negara S. Walau begitu, Liora masih bekerja sama dengan para mantan anggota gengster yang setia padanya. Itu termasuk Deren dan beberapa mantan anggota lainnya.
"Anda mau ke mana, Nyonya?" tanya Deren ketika melihat Liora mengambil tasnya dan bersiap untuk pergi.
Liora baru saja mau menjawab ketika suara pintu terbuka mengalihkan perhatian mereka.
"Baby, apa kamu sudah siap?" tanya seorang laki-laki dengan jaket panjang berwaran coklat membalut tubuhnya.
"Tentu saja sudah. Kita berangkat sekarang?" tanya Liora sambil tersenyum tipis.
Laki-laki itu mengangguk sambil berjalan menghampiri Liora dan memakaikan jaket tebal pada wanita itu.
"Thank's, Charly," ujar Liora, tersenyum manis pada laki-laki yang kini berdiri tepat di sampingnya.
"Tentu, Baby," jawab laki-laki itu yang ternyata adalah Charly.
Ya, Charly memang berhasil menemukan Liora setelah dua tahun mereka terpisah, waktu itu Liora sedang merintis usaha barunya dengan modal seadanya, hingga akhirnya mereka bertemu dan Charly ikut menanamkan modal di dalam usaha yang sedang Liora kembangkan.
Sejak itu mereka bekerja sama, walau Charly lebih memilih mendirikan sebuah sanggar bela diri untuk anak-anak dan mengajar di sana. Dia sudah tidak mau pusing dengan semua urusan perusahaan dan sebagainya, walau sebenarnya Charly masih suka membantu Liora mengurus peternakannya.
"Deren, aku ingin berlibur bersama suamiku. Jangan ganggu aku bila tidak ada yang mendesak," ujar Liora sambil memeluk lengan Charly mesra.
Charly dan Liora sudah menikah satu tahun lalu, setelah menjalin hubungan selama dua tahun lamanya. Charly cukup sabar menunggu Liora yang ingin fokus dulu pada peternakannya, hingga akhirnya wanita itu menerima lamarannya tepat di perayaan hari kasih sayang.
"Baik, Nyonya. Tapi, Anda mau ke mana?" tanya Deren, yang penasaran. Sebenarnya dia juga belum siap untuk ditinggalkan oleh Liora dan mengurus peternakan bersama beberapa orang lainnya, hanya saja dia tidak bisa melakukan protes pada atasannya itu.
Liora menatap Charly sekilas sambil melepaskan lengan Charly, dia kemudian melihat Deren kembali dan berkata. "Kami ingin bernostalgia," jawabnya sambil tersenyum senang.
Charly menarik pinggang Liora agar lebih menempel padanya, mereka kemudian pamit dan pergi dari area kantor yang terletak di salah satu bangunan yang ada di area peternakan.
Charly mengendarai mobil menuju ke bandara, di sini mereka bisa bergerak bebas tanpa takut apa pun, karena mereka hanyalah warga biasa. Kesuksesan Liora tidak terlalu spesial jika dibandingkan dengan pengusaha dan peternak lainnya yang pasti lebih besar dan sukses berkali lipat dari Liora. walau memang peternakan Liora tidak bisa dikatakan kecil juga. Di negara ini, Charly memang bisa hidup tenang dan bahagia, sesuai dengan keinginannya.
"Sudah siap bertemu dengan anak dan sahabat yang belum pernah kamu temui secara fisik, Baby?" tanya Charly ketika keduanya sudah berada di dalam kabin pesawat.
Liora menghembuskan napas pelan. detak jantungnya berdebar begitu kencang walau perjalanan mereka menuju Indonesi masih sangat lama. Mereka memerlukan lebih dari lima belas jam untuk sampai di Indonesia.
"Rasanya begitu gugup. Apa aku bisa bertemu dengan mereka?" tanya Liora sambil menekan dadanya yang terasa bergemuruh.
"Tenanglah. Aku yakin, mereka bisa menerima kamu dengan baik," jawab Charly sambil menggenggam tangan Liora dengan sangat lembut dan hangat.
Liora tersenyum, laki-laki di sampingnya itu selalu bisa membuat hatinya tenang dengan caranya sendiri.
"Tidurlah, perjalanan kita masih sangat lama. Bukankah dari semlama kamu belum tidur?" ujar Charly sambil mengambil selimut untuk sang istri dan memosisikan kursi menjadi seperti tempat tidur, agar Liora bisa berbaring di sana. Liora memang sibuk sejak beberapa hari lalu, demi untuk liburnya kali ini.
"Heem, baiklah," angguk Liora sambil memosisikan dirinya untuk berbaring, dia menutup matanya dengan tangan tidak pernah lepas dari lengan Charly. Bagi Liora keberadaan Charly seolah menjadi sebuah penenang yang bisa membuatnya tertidur nyenyak walau dalam keadaan apa pun.
.
Enam belas jam kemudian ....
Liora dan Charly terlihat berjalan ke luar dari pintu kedatangan internaisonal, setelah melakukan berbagai macam pemeriksaan di bandara. Mereka kemudian memasuki sebuah taksi khusus bandara menuju sebuah hotel bintang lima yang terletak di pusat kota.
"Apa kamu begitu gugup, sampai tanganmu dingin begini, hem?" tanya Charly sambil terkekeh ringan.
"Heem, aku takut mereka tidak akan menerima kita," angguk Liora sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang milik suaminya itu.
"Jangan berpikir buruk. Kamu tau kalau mereka semua adalah orang baik, bukan?" tanya Charly sambil mengelus pelan rambut Liora.
__ADS_1
"Heem," angguk Liora.
Tanpa terasa taksi yang mereka tumpangi pun sudah sampai di lobi hotel. Begitu keduanya turun dari taksi seorang penyambut tamu sudah menyapa mereka. Karena sudah melakuakan pemesanan kamar sebelumnya, keduanya hanya tinggal memastikannya saja.
"Kita akan menemui mereka besok. Sekarang aku mau menikmati waktu untuk kita berdua saja," ujar Charly begitu mereka sampai di kamar.
"Heem, baiklah. Aku juga merasa sangat lelah sekarang," jawab Liora sambil menjatuhkan dirinya di atas ranjang.
Charly menyeringai, melihat Liora yang kini terlihat menutup matanya dengan senyum tipis menghias wajah cantiknya.
"Kalau begitu kita istirahat bersama," ujar Charly sambil membuka bajunya dan ikut merebahkan diri di samping Liora.
"Tapi, hanya istirahat, jangan berbuat lebih, oke?" pinta Liora sambil memeluk tubuh Charly yang terasa begitu nyaman untuknya.
"Iya, aku juga lelah sekarang, Baby," jawab Charly sambil mengelus pelan puncak kepala Liora kemudian menciumnya berulang sebelum kemudian keduanya terlelap karena terlalu lelah.
.
Hari ini adalah akhir pekan, Charly sudah menghubungi Davi tadi malam, untuk mengabari jika saat ini dia sudah berada di Indonesia, dan ingin bertemu dengannya. Ya, selama ini Charly masih berhubungan dengan anak itu, yang kini sudah menginjak usia remaja. Walau memang itu tidak terlalu sering.
"Ayo, Baby, anak itu pasti sudah menunggu kita di bawah sekarang," ujar Charly yang melihat Liora belum siap dengan bajunya, padahal dari satu jam yang lalu dia sudah menunggu wanita itu.
"Sebentar lagi, Sayang," jawab Liora sambil memastikan jika riasannya tidak terlalu tebal dan mencolok.
"Bagaimana? Apa seperti ini tidak apa-apa?" tanya Liora sambil berdiri di depan Charly.
"Sudah bagus, Baby. Kamu sangat cantik hari ini," jawab Charly sambil mengacungkan dua jempolnya. Sungguh, sebenarnya dia sudah lelah terus ditanyai tentang baju, make up, dan semua tentang penampilan wanita yang sampai sakarang belum bisa dimengerti olehnya.
Bahkan sebenarnya Liora juga tidak selalu menurut dengan apa yang dia pilih, terkadang wanita itu malah memilih kebalikan dari apa yang dia sarankan untuknya.
Namun, sayangnya Charly terlalu lemah untuk marah bahkan protes dengan tingkah ajaib wanitanya itu. Dia hanya bisa pasrah sambil terus melatih kesabarannya dengan semua yang selalu dianggap benar oleh Liora.
Setengah jam kemudian, akhirnya Charly bisa bernapas lega sambil merangkul tubuh sang istri di dalam lift yang akan membawa mereka menuju ke lobi hotel.
Seorang anak laki-laki remaja tampak melambaikan tangan ke arah mereka, membuat Charly pun membalasnya kemudian mengajak Liora untuk berjalan menghampirinya.
"Om Charly? Akhirnya Om dateng juga," ujar Davi sambil tersenyum senang.
"Karena kamu tidak datang dan bermain ke tempat Om, maka sekarang Om yang datang ke sini," jawab Charly sambil mengacak pelan rambut Davi.
"Oh iya, kenalkan ini istri om, namanya tente Liora," sambung Charly lagi.
"Ta--tante Liora?" Davi terlihat menatap Liora dengan sorot mata tak terbaca. Bibirnya pun tampak bergetar seolah sedang menahan tangis.
"Hai, tampan, kenalin, aku Liora," ujar Liora sambil mengulurkan tangan ke depan Davi.
Namun, yang terjadi berikutnya malah membuat Liora dan Charly terkejut bukan main.
"Mama," gumam Davi dengan mata berkaca-kaca. Anak itu pun langusng menghambur memeluk Liora seolah itu adalah ibunya yang sangat dia rindukan. Tanpa Liora sadari, panggilannya pada Davi masih sama seperti dulu. Davi tampan, atau Davi, sayangnya mama.
"Ini mama Liora, Mama yang udah ngorbanin nyawanya demi aku 'kan, Om?" tanya Davi memastikan.
Liora pun menatap Charly, dia sama sekali tidak menyangka jika anak kecil itu ternyata mengenalinya, dia bahkan tahu jika dirinya pernah ada di tubuh ibunya.
"Iya, ini Mama Liora," angguk Charly sambil tersenyum pada Liora agar wanita itu mau membalas pelukan Davi.
"Davi, sayangnya Mama. Mama kira kamu tau semuanya, Nak?" tanya Liora sambil membalas pelukan remaja itu.
"Iya, Mah. Davi tau semuanya," angguk Davi masih memeluk erat tubuh wanita yang dia kenal tanpa mengetahui raga.
"Ayo kita ketemu Mama sama tante Rere, mereka pasti seneng banget bisa ketemu Mama Liora," ajak Davi setelah acara melepas kangennya sudah selesai.
Ya, setelah perpisahan mereka dan Tiara kembali sadar, Rere menceritakan semua yang sudah terjadi pada mereka, termasuk keberadaan Liora yang hidup di dalam raga Tiara dan berjuang mati-matian untuk mendapatkan keadilan bari Tiara dan Davi. Hingga akhirnya semuanya berhasil, perusahaan kini kembali menjadi atas nama Davi dan dikelola oleh Tiara juga Rere, hingga menjadi jauh lebih sukses dibanding sebelumnya.
__ADS_1
"Ayo," angguk Liora sambil tersenyum senang, dia bahkan tanpa sungkan merangkul pundak Davi dan berjalan bersama.
"Baby, kenapa aku ditinggal?!" Charly menatap tak percaya pada Liora yang kini berjalan lebih dulu bersama Davi dan meninggalkannya sendiri.
Liora tak menjawab, dia bagaikan wanita yang sedang mendapatkan pacar baru dan melupakan suaminya.
"Ish!" Charly mendesah kesal sambil berjalan di belakang Liora dan Davi, walau senyum kecil pun terlihat di bibirnya.
Charly kembali dibuat terkejut ketika Liora memilih duduk di belakang bersama dengan Davi dan menyuruhnya duduk di depan bersama dengan sopir.
"Baby, masa kamu lebih milih sama Davi daripada sama suami kamu sendiri," keluh Charly menatap melas sang istri.
"Aku lagi kangen sama anakku, Charly. Masa, kamu sama anak remaja saja cemburu," jawab LIora santai kemudian masuk ke kursi belakang bersama dengan Davi.
Akhirnya Charly kembali mengalah demi senyum di wajah sang istri yang terlihat begitu cantik hari ini. Dia berharap rencana reuni masa lalu pun akan berjalan baik, termasuk dengan reaksi Tiara dan Rere terhadap kehadiran mereka.
.
Beberapa saat kemudian, mobil yang mereka tumpangi pun akhirnya berhenti di sebuah pelataran rumah mewah yang terlihat masih sama seperti terakhir kali mereka datang ke sana lima tahun lalu. Hanya ada sedikit perubahan di beberapa tempat, seperti letak taman dan bunga yang ada di sana.
Ya, Tiara memang memutuskan untuk tetap tinggal di rumah lamanya bersama Dery. Rumah yang penuh dengan kenangan yang begitu unik dan tidak pernah akan terulang kembali sepanjang hidupnya. Kenangan di mana tempat tangis dan tawa pernah hadir di sana.
"Mama, lihat siapa yang datang!" teriak Davi sambil berlari menuju ke dalam rumah.
"Ada apa sih, Nak? Kenapa teriak-teriak di dalam rumah, hem?" tanya Tiara yang telihat menghampiri Davi dari pintu belakang.
"Mama, ada Om Charly sama Mama Liora!" teriak Davi dengan senyum yang tidak pernah luntur dari bibinya.
"Hah? Tadi kamu bilang siapa, Nak? Om Charly dan Mama Liora?" Tiara tampak mengerjapkan mata berulang kali, sebelum akhirnya berjalan terburu-buru menghampiri Davi.
Mata Tiara kini melebar melihat sepasang manusia yang tampak tersenyum kepadanya. Wajah yang terlihat asing di mata tetapi begitu dekat di hati itu membuat Tiara tanpa sadar menghampiri Liora dan memeluknya dengan air mata yang tiba-tiba mengalir begitu saja.
"Terima kasih, telah menyelematkan anakku, Liora. Aku berhutang banyak padamu," ujar lirih Tiara.
Liora tersenyum, dia kemudian membalas pelukan Tiara. "Tidak ada yang berhutang pada siapa pun, Tiara. Kamu juga telah memebrikan aku banyak pelajaran hidup selama meminjamkan hidupmu untukku, dan itu tidak akan pernah tergantikan oleh apa pun," jawab Liora.
Kedua wanita itu pun sama-sama terisak sambil saling memeluk, hingga sebuah teriakan yang sangat nyaring terdengar dari arah luar.
"Davi, anterin tante ke pasar yuk, nanti tante beliin bubur ayam!" teriak Rere sambil berjalan masuk ke rumah Tiara dengan perut buncitnya.
Liora dan Tiara yang mendengar suara itu pun melepaskan pelukan mereka, keduanya terlihat mengalihkan perhatiannya pada wanita hamil yang baru saja masuk ke area rumah Tiara.
"Rere," gumam Liora sambil terkekeh lucu. Tubuh Rere yang lebih pendek darinya kini terlihat bulat karena tengah hamil besar, dan itu terlihat lucu dimata Liora.
"Eh, ada tamu," ujar Rere sambil menggaruk tengkuknya dan tersenyum malu. Namun, sedetik kemudian matanya melebar ketika mengingat wajah Charly.
"Charly? kamu kapan datang?" tanya Rere sambil mengampiri mereka.
"Eh, Tiara, kenapa kamu nangis, hem? Apa yang laki-laki ini lakukan padamu? Kamu juga, siapa? Kenpaa kalian berdua menangis begitu?" tanya Rere dengan wajah bingungnya.
"Rere, aku kangen banget sama kamu." Liora langsung memeluk Rere tanpa memberi tahu lebih dulu siapa dirinya, hingga membuat Rere mematung, dia bisa merasakan dia yang kini sedang memeluknya. Sesuai janjinya dulu, Rere pasti akan mengenali Liora jika sampai mereka bertemu walau dalam raga yang berbeda.
"Itu mama Liora, Tante," ujar Davi yang baru saja datang dengan Mak Onah yang membawakan minuman untuk mereka.
"Hah? Liora? I--ini Liora? Dia masih hidup?" tanya Rere, kemudian wanita itu tiba-tiba menangis histeris sambil balas memeluk Liora lebih keras lagi. Perasaannya tentang wanita itu memang benar, dia bisa mengenali Liora dan itu sangat membuatnya senang.
Hormon kehamiln sepertinya membuat Rere menjadi tidak bisa mengendalikan emosinya sendiri. Kini mereka menghabiskan hari bersama di rumah Tiara. Ternyata takdir yang awalanya begitu tidak masuk akal dan rumit telah memberikan sebuah pelajaran besar bagi kedua belah pihak, bahkan orang-orang disekitarnya. Semua itu juga membuat mereka memiliki keluarga baru walau tanpa ada hubungan darah di dalam tubuh mereka.
...TAMAT...
Akhirnya sampai juga di akhir cerita Liora, Tiara, dan Charly. Semoga kalian terhibur dengan ceritaku kali ini. Terima kasih untuk yang sudah setia menunggu aku up dan selalu memberikan dukungan melalui like, komen, dan gift‐nya. Jangan lupa mampir di karya aku yang lainnya ya. Aku tunggu lho👋👋❤️❤️❤️
__ADS_1