Terjerat Pesona Istri Tetangga

Terjerat Pesona Istri Tetangga
Bab.57 Lebih Pendiam


__ADS_3

Brak! Suara sebuah kursi yang terlempar membentur tembok terdengar menggema di ruangan dengan cahaya remang itu. Dery tampak berlutut di tengah ruangan dengan tubuh bergetar hebat. Di sekitarnya terlihat beberapa pria berbadan kekar yang mengelilinginya dengan tatapan tajam, seolah bersiap untuk menjadikan tubuh Dery sebagai samsak hidup bagi mereka, jika Dery berani melawan.


"Brengsek! Aku bilang hati-hati dengan istrimu, dia sangat mencurigakan sejak ke luar dari rumah sakit! Tapi, kamu selalu membantahku ... sekarang lihat apa yang dia lakukan dengan laki-laki kenalannya itu di tempatku, hah! Mereka bahkan berhasil melumpuhkan beberapa anak buahku!" teriak laki-laki yang merupakan tuan mereka.


"Maafkan saya, Tuan, saya berjanji akan lebih tegas pada istri saya," ujar Dery berusaha bernegosiasi dengan bosnya.


"Cih!" Laki-laki paruh baya itu terlihat menatap jijik Dery, dia kemudian berjongkok di depan Dery dengan tangan mencengkram pipi Dery, hingga ujung kuku laki-laki itu terlihat melukai kulit Dery.


"Kalau saja bukan karena kesetiaanmu padaku dan semua yang telah kamu lakukan untukku, aku pastikan istrimu itu akan langsung mati setelah aku temukan!" desis laki-laki itu kemudian menghempaskan wajah Dery, hingga menoleh cepat.


"Terima kasih, Tuan. Saya berjanji, akan memberikan peringatan pada istri saya agar tidak berusaha untuk mengganggu Tuan lagi," janji Dery.


"Aku harap itu bukan hanya omong kosong, karena kamu tau pasti apa yang akan kamu terima jika dia berani menggangguku lagi!" ujar laki-laki itu kemudian kembali berdiri dan berjalan dengan gaya angkuh menuju ke luar ruangan, disusul oleh anak buahnya yang lain, hingga kini yang tersisa hanya Dery.


Dery mengepalkan kedua tangannya dengan rahang yang mengeras, tatapan matanya berubah tajam menahan amarah dan geram kepada Tiara. Setelah kedatangan Tiara kembali, ini adalah kedua kalinya dia dipermalukan oleh tuannya, karena ulah dari Tiara. Dary murka, dia ingin sekali memberikan hukuman bagi wanita yang telah menjadi istrinya selama ini.


"Sial! Ternyata wanita itu memang sudah berubah! Dia bukan hanya sudah berani melawanku, sekarang dia malah mencari masalah pada dia!" gumam Dery dengan amarah yang meninggi, tangannya meninju lantai berulang kali, melampiaskan kemarahan yang sudah sulit dia kendalikan.


Dengan napas memburu, Dery segera bangkit dan berjalan cepat ke luar dari ruangan itu, dengan tujuan mencari keberadaan Tiara saat ini. Namun, ternyata bukan hal mudah untuk Dery menemukan Tiara, bahkan sampai malam hari dia mencoba mencari ke seluruh tempat, nyatanya dia tidak menemukan keberadaan Tiara di mana pun.


Dery juga sempat mendatangi rumah Charly, tetapi di sana tidak ada siapa pun, bahkan Charly dan Ramon pun tidak ada. Itu hanya mempermalukannya saja karena petugas keamanan memanggil ketua RT dan beberapa tetua lainnya, hingga dia terpaksa harus pergi tanpa hasil apa pun dari sana.


"Sial! Di mana wanita itu sekarang? Kenapa dia tidak ada di mana pun?!" kesal Dery sambil memukul setir mobil miliknya, kemudian memilih mengalihkan perjalanannya menuju suatu tempat untuknya menghilangkan stres di kepala.

__ADS_1


Apa lagi jika bukan sebuah klub malam miliknya, dia menghabiskan malam di sana bersama dengan wanita penghibur yang dengan senang hati terus menemaninya melepas penat dengan cara yang berbeda tentunya.


.


Sementara itu, pagi-pagi sekali Tiara sudah tidak ada di apartemen milik Rere, dia hanya meninggalkan sebuah pesan agar sementara waktu Rere mau menjaga Davi, karena dirinya ingin membereskan urusannya dengan Dery.


"Ya ampun, Tiara, bagaimana bisa kamu melakukan ini sendiri? Bukannya kemarin aku sudah bilang, kalau aku mau membantumu?" gerutu Rere begitu dia membaca pesan yang Tiara tinggalkan di meja makan, lengkap dengan menu sarapan yang sudah siap tersaji.


Rere segera mengantongi kertas berisi pesan dari Tiara dan memasang wajah tersenyum cerah begitu melihat Davi menghampirinya dengan membawa tas sekolah.


"Davi, sudah siap? Ayo kita sarapan dulu," ujar Rere sambil menarik kursi untuk Davi duduk kemudian mengambilkan sarapan untuk anak itu.


"Mama gak pulang ya, Tante?" tanya Davi seolah tidak tahu kehadiran Tiara tadi malam, padahal Davi bahkan tahu jika Tiara tidur di sampingnya, setelah berbincang sebentar dengan Rere.


Davi terlihat menghembuskan napas kasar, kemudian mulai menyantap menu sarapan yang dibuat oleh Tiara. Davi sempat terdiam sebentar saat mengunyah, dia tahu betul rasa makanan itu adalah masakan ibunya setelah ke luar dari rumah sakit. Tanpa berkata apa pun, Davi melanjutkan sarapannya hingga akhirnya habis tak bersisa.


"Tunggu di sini dulu ya, Tante bawa tas dulu di kamar, nanti kita turun ke bawah bersama-sama," pesan Rere setelah keduanya selesai sarapan bersama.


Davi mengangguk, dia memilih menunggu Rere di sofa tanpa membuka suara sedikit pun. Satu yang Rere sadari cukup berubah dari Davi, anak itu kini terlihat lebih pendiam dari biasanya. Semua itu membuat Rere lumayan kesulitan menjaga Davi tanpa adanya Tiara.


.


Menjelang siang, Tiara tampak kembali ke rumahnya, dia langsung disambut oleh raut khawatir Mak Onah, begitu menginjakkan kakinya kembali di lantai rumah itu.

__ADS_1


"Non ke mana saja? Kenapa tidak pulang dari kemarin? Den Davi juga gak pulang, Non? Mak khawatir sama Non dan Den Davi," cerocos Mak Onah dengan mata berkaca-kaca.


"Aku gak ke mana-mana, Mak. Davi ada bersamaku, kami menginap di rumah Rere semalam," jawab Tiara sambil tersenyum lembut. Sungguh, hatinya terasa menghangat hanya karena perhatian kecil dari Mak Onah yang sebenarnya tidak pernah dia dapatkan sebelumnya.


Namun, sepertinya kebahagiaan itu memang belum bisa dinikmati lebih lama oleh Tiara, karena Dery yang mengetahui kedatangan Tiara langsung menghampirinya dan menyeret wanita itu ke dalam rumah dengan amarah yang masih tersisa.


"Dasar wanita tidak tau diri, aku sudah cukup murah hati selama ini, tapi kamu malah melunjak dan membuat aku dalam masalah!" kesal Dery sambil menghempaskan tubuh Tiara hingga membentur meja dan mengakibatkan pajangan di atasnya jatuh berantakan ke lantai.


Bukannya takut, sekarang Tiara malah menyeringai sambil kembali bangun dan berdiri tegak di depan Dery. Dia bahkan tak ambil pusing dengan tubuhnya yang terasa sakit akibat terbentur meja. Matanya melirik sekilas pada ujung tangga, di mana di sana ada Niken yang sedang menonton dirinya dan Dery dengan santainya.


"Murah hati? Memang apa yang telah kamu berikan padaku, Dery?" tanya Tiara dengan dagu terangkat, seolah tengah menantang laki-laki di depannya.


Mata Dery melotot tajam mendengar ucapan Tiara yang terdengar begitu meremehkan dirinya. Apa lagi kini Tiara sudah tak lagi memanggilnya dengan sebutan 'mas' seperti biasa. Tangan kanan Dery terangkat bersiap untuk menampar Tiara sekuat tenaga.


Namun, ternyata tak semudah itu Dery dapat menyentuh Tiara, karena dengan mudah tangan Tiara lebih dulu menepis pergerakan Dery, hingga kini tangan Dery hanya menggantung di udara sebelum akhirnya Tiara menghempaskannya.


"Aku datang ke sini bukan untuk berdebat denganmu, apa lagi harus beradu otot. Setidaknya malu lah dengan tubuh kekarmu, masa harus melawan seorang perempuan lemah sepertiku," ujar Tiara santai sambil berjalan menjauh dari Dery, nada suaranya lebih seperti mengejek Dery.


"Apa kamu bilang?! Dasar wanita sialan!" Dery sudah bersiap hendak memukul Tiara kembali, tetapi wanita itu malah tampak duduk santai di atas sofa, kemudian mengeluarkan sebuah amplop dari saku jaket yang dia kenakan.


"Aku ke sini, hanya untuk mengantarkan ini dan memastikan kalau kamu menandatanganinya," ujar Tiara sambil menyimpan amplop itu di atas meja, kemudian menyandarkan punggungnya sambil tumpang kaki di depan Dery, seolah menunjukkan jika dirinya tidak lagi merasa takut dengan kekuasaan Dery.


__ADS_1


__ADS_2