Terjerat Pesona Istri Tetangga

Terjerat Pesona Istri Tetangga
Bab.71 Di mana Davi


__ADS_3

Mak Onah menghampiri dan memeluk tubuh Liora, begitu wanita itu sampai di rumah Rere. Liora mengerutkan kening sambil mengedarkan pandangannya, melihat betapa berantakan rumah tinggal keluarga Rere saat ini.


"Apa benar ini sebuah perampokan? Tapi, sekarang ke mana Davi? Mak, di mana Davi?" tanya Liora linglung, dia bahkan lupa untuk membalas pelukan Mak Onah.


"Den Davi, Den Davi dibawa orang-orang itu bersama keluarga Non Rere. Maafkan Mak, Non. Mak tidak bisa menjaga Den Davi dengan baik," jawab Mak Onah sambil menangis keras di pelukan Liora.


Liora terdiam, dia mengerjapkan matanya ketika Charly menepuk pundaknya. Untuk sesaat tatapan keduanya saling bertemu, Charly seolah sedang memberi kekuatan kepada Liora, agar wanita itu tidak sampai kehilangan kendali atas dirinya sendiri.


Liora menutup mata sambil menghirup napas dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Dia perlahan mengurai pelukan Mak Onah kemudian memeriksa seluruh tubuh Mak Onah.


"Mak, gak apa-apa? Ada yang sakit atau luka?" tanya Liora setelah dia bisa menenangkan dirinya sendiri.


"Mak gak apa-apa, Non. Tapi, keluarga Non Rere sama Den Davi--" Mak Onah menangis tergugu, dia tidak sanggup melanjutkan perkataannya.


"Rere dan keluarganya ada di rumah sakit, mereka mengalami kecelakaan. Tapi, kami belum menemukan Davi." Charly yang kembali menghampiri Liora pun menjawab kegelisahan Mak Onah.


"Den Davi tadi dibawa sama keluarga Non Rere, gak mungkin dia gak ada di sana, Tuan," ujar Mak Onah yakin, dia jelas-jelas melihat Davi dibawa ke mobil yang berisi keluarga Rere kemudian mereka membawanya bersama.


"Tenang, Mbok. Di mana pun Davi berada, aku yakin Davi anak yang kuat, dia pasti dalam keadaan baik-baik saja." Liora berusaha menenangkan walau hatinya sendiri sedang sangat gelisah kali ini.


"Kita harus ke tempat kecelakaan, untuk memastikan," ujar Liora beralih pada Charly.


"Ayo," angguk Charly.


Cjarly terlihat berbicara dulu dengan salah satu temannya yang berada di sana, setelah dirasa sudah menyampaikan apa yang ingin dia katakan dan ketahui, Charly pun segera menghampiri Liora dan keduanya pergi dari rumah itu.

__ADS_1


Sampai di tempat terjadinya kecelakaan, Liora dan Charly melihat masih ada beberapa anggota polisi dan warga sipil yang sedang melihat bekas kejadian. Tempat itu memang lumayan sepi, di sana hanya jalan alternatif yang jarang dilalui oleh kendaraan.


Sayangnya, di sana juga tidak ada kamera CCTV, hingga membuat Liora, Charly, dan para anggota polisi, merasa kesulitan untuk mengetahui kronologi kecelakaan siang itu.


"Ini adalah kecelakaan tunggal, mobil hilang kendali dan menabrak pohon besar di pinggir jalan. Namun, yang membuat janggal, tidak ada bekas pengereman di sekitar sini, sementara kondisi mobil juga tidak ada yang aneh, bahkan rem masih berfungsi dengan baik." Seoramg polisi menjelaskan kepada Charly dan Liora.


Liora juga sempat menanyakan keberadaan Davi yang mungkin ada bersama keluarga Rere ketika kecelakaan. Namun, ternyata anak itu memang tidak ada di dalam mobil ketika polisi datang.


"Ini memang tempat yang tepat untuk melakukan ini. Tapi, jika memang mereka berniat untuk membunuh Rere dan keluarganya, sepertinya kecelakaan ini terlalu ringan," ujar Charly mencoba menerka apa yang dipikirkan oleh pelaku.


"Bagaimana jika mereka salah perhitungan? Atau, mungkin salah satu di antara keluarga Rere ada yang sadar kemudian mencoba mengendalikan situasi?" Liora memberikan opsi lain.


Keduanya tampak melihat sekitar, di sana kondisi jalan memang menurun, tetapi tidak ada jurang dalam atau kondisi ekstrem lainnya. Medan yang ada di sana masih kategori aman jika memang mobil kehilangan kendali dan ke luar dari jalan.


"Mungkin saja, itu juga bisa terjadi. Tapi, sepertinya kita harus segera menemui Dery, untuk mengetahui ke mana mereka membawa Davi," ujar Charly kembali.


Menjel itu, Charly dan Liora disibukkan dengan mencari keberadaan Davi yang menghilang. Keduanya tentu sudah mengira jika ini adalah ulah dari Dery atau mungkin Roxi. Namun, bagaimana dan ke mana mereka membawa Davi, itulah yang sekarang Liora dan Charly sedang cari tahu.


"Aku sudah menyuruh temanku untuk memeriksa ke vila tempat persembunyian Roxi," ujar Charly sambil terus fokus mengendarai mobil.


Liora menatap Charly, dia baru ingat dengan alamat vila yang ditempati oleh Roxi sekarang. "Kenapa kita gak langsung ke sana sekarang?" tanya Liora langsung.


"Kita harus memastikan dulu pada Dery, tentang vila itu. Kita tidak bisa bertindak gegabah jika tidak mau masuk ke dalam perangkat mereka, Liora. Makanya, aku minta kamu harus lebih tenang lagi, karena aku juga membutuhkan ide kamu untuk mengalahkan mereka," sambung Charly lagi.


Liora meremas tangannya gelisah, entah mengapa kini dia tidak bisa menghilangkan bayangan wajah Davi dari pikirannya, walau itu hanya untuk sedetik saja. Walau begitu, Liora mencoba untuk lebih tenang dalam batin yang kebingungan.

__ADS_1


Keduanya pun sampai di kantor polisi setelah matahari sudah tenggelam sepenuhnya, tempat Dery harusnya berada. Namun, lagi-lagi Liora dan Charly dibuat terkejut karena ternyata Dery sama sekali tidak berada di sana. Mereka bahkan tidak pernah melakukan penangkapan di alamat yang diucapkan oleh Liora.


"Apa maksud kalian? Jalas-jelas aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, jika kalian membawa Dery dari ruang rapat dengan tangan diborgol?!" teriak Liora di kantor polisi itu.


Salah satu anggota terdengar memberikan penjelasan yang menurut Liora sangat berbelit, mereka hanya memberikan pembenaran atas apa yang mereka lakukan. Sungguh, saat itu rasanya Liora ingin sekali mengamuk di sana. Mungkin, jika saja Charly tidak terus menggenggam tangannya, kantor polisi itu sudah hancur oleh amukan Liora.


"Sudahlah, lebih baik kita pergi dari sini," ujar Charly sambil menarik tangan Liora untuk segera ke luar dari kantor polisi itu.


"Ini pasti rencana Dery, doa sengaja menculik Davi untuk menggantikan anak yang dikandung Niken. Dia akan mendidik Davi untuk meneruskan bisnis gelapnya," panik Liora sambil kembali duduk di mobil.


"Aku janji akan menemukan Davi dan membawanya kembali padamu. Sekarang lebih baik kita pulang dulu, aku akan mengabari semua rekanku untuk segera datang dan membantu kita secara langsung," ujar Charly sambil mulai mengemudikan kembali mobilnya ke luar dari area kantor polisi itu.


Liora tak menjawab, dia hanya diam sambil melihat ke luar dari jendela mobil. Liora membuang muka dengan satu tetes air mata yang jatuh tanpa terasa. Cepat, dia menghapusnya agar tak terlihat oleh Charly, walau sebenarnya laki-laki itu sudah terlanjur melihat semuanya.


Mereka sampai di rumah ketika malam sudah hampir larut, keduanya bahkan sampai lupa untuk makan. Ternyata di rumah itu sudah ada beberapa orang laki-laki lagi yang merupakan rekan kerja Charly dan Ramon yang sudah datang untuk membantu.


Namun, Liora dibuat kebingungan karena kini mereka tidak lagi pulang ke rumah Charly, tetapi rumah asing yang bahkan dia tidak pernah tahu sebelumnya.


"Di rumahku tidak lagi aman karena mereka mungkin sudah tau identitas aku dan yang lainnya, makanya untuk sementara kita tinggal di sini saja. Kami yakin, di sini sangat aman," ujar Charly pada Liora.


Ternyata itu adalah tempat tinggal sementara Helen, seorang wanita yang bekerja sebagai agen rahasia. Dia bertugas untuk memantau semua pergerakan lawan dari jarak jauh, keahliannya ada di bidang IT, membuatnya tidak harus ikut terjun ke lapangan.


"Dia adalah orang luar, akan sangat berbahaya jika kita mengikuti sertakannya dalam misi! Bagaimana kalau ketua tahu semua ini? Aku yakin kamu tau konsekwensinya!" Helen tampak keberatan dengan keberadaan Liora bersama mereka.


"Dia adalah korban, aku percaya padanya, Helen." Charly tampak menjelaskan. Dia tidka mungkin meninggalkan Liora sendirian. Akan sangat berbahaya bagi wanita itu jika sampai Roxi dan Dery mengetahui keberadaannya.

__ADS_1


"Kamu menang percaya padanya, tapi aku tidak! Siapa yang akan menjamin kalau dia tidak akan berkhianat? Dia itu mantan istri target kita, Charly! Sadarlah!" Helen masih menolak, wanita itu tampak sangat berhati-hati untuk menerima anggota baru.



__ADS_2