Terjerat Pesona Istri Tetangga

Terjerat Pesona Istri Tetangga
Bab.79 War 2


__ADS_3

Charly masuk ke dalam bersama dengan dua orang rekan kerjanya yang datang menyusul, mereka berlari sambil mencari keberadaan Livia dan Ramon. Hingga tidak lama kemudian mereka mendapati Ramon yang sudah babak belur dikroyok oleh anak buah Roxi. Walau begitu, Ramon masih mencoba untuk menghalangi mereka, agar tidak menyusul Liora.


"Ramon!" Charly langsung menghampiri Ramon dan mengambil alih pertarungan bersama dengan dua orang rekannya.


Hanya sebentar, Charly sudah hampir bisa mengalahkan mereka, hingga tiba-tiba serbuan peluru menghentikan pertaruangan itu dan memaksa Charly, Ramon, dan dua rekan lainnya bersembunyi di mana saja, demi menghindari serangan peluru yang tidak terduga itu.


Charly buru-buru memapah Ramon dan membawanya bersembunyi di balik sebuah meja yang ada di sana. Seorang rekan tampak memperlihatkan senjata yang dia bawa dari seberang sana. Dia kemudian melemparkan senata api itu pada Charly untuk berjaga-jaga.


"Kamu diam di sini, aku akan mencoba untuk mengalahkan mereka," ujar Charly memperingatkan Ramon yang terkulai lemas di balik meja.


Ramon tampak menahan tangan Charly ketika laki-laki itu hendak ke luar dari tempat persembunyiannya, hingga Charly menghentikan gerakannya dan kembali menatap Ramon.


"Hati-hati," ujar Ramon memperingatkan.


Charly menangkup tangan Ramon, dia menggenggamnya mencoba memberi kekuatan pada sahabatnya itu. "Aku pasti akan kembali, cepat ke luar dari gedung ini dan dapatkan pengobatan untuk lukamu," ujar Charly.


Ramon tersenyum tipis kemudian mengangguk lemah. Charly pun menoleh pada rekan yang ada di depannya, dia memberikan kode pada mereka untuk menyelamatkan Ramon dan membawa Ramon ke luar dari gedung secepatnya.


Setelah semua setuju dia kemudian bersiap untuk ke luar dari ruang persembunyiannya. "Tolong lindungi aku," ujarnya pada dua rekannya yang lain, agar dia bisa menerobos masuk dan mengalahkan beberapa orang anak buah Roxi yang tengah menembak mereka.


Dor, dor, dor! Suara tembakan saling bersahutan di lorong hotel terbengkalai itu. Charly berusaha berlari semakin maju dengan memanfaatkan apa saja yang ada di sana untuk melindunginya dari peluru. Kini, dia sedang bersembunyi di balik pilar yang cukup besar. Sesekali dia tempak muncul dan menembak para lawannya.

__ADS_1


Charly berusaha melumpuhkan satu per satu anak buah, hingga kini terlihat hanya tertinggal dua orang saja yang masih berdiri tegap. Sementara Charly pun sudah semakin mendekati mereka. Namun, sayangnya senjata apinya kehabisan peluru, hingga dia tidak bisa lagi menggunakannya.


"Ah, sial!" umpatnya sambil kembali memperhatikan para lawannya yang hanya berjarak beberpa meter saja darinya.


Namun, kemudian dia melihat ada sebuah senjata api di salah satu tubuh lawan yang sudah terkapar tidak jauh darinya. Charly memperhatikan situasi dan memperhitungkan waktu untuknya mengambil senjata api itu dan peluru yang berkesempatan mengenai tubuhnya.


Dengan modal tekad kuat yang dibarengi oleh skil, Charly akhirnya mencoba ke luar dengan cara berguling ke depan secepat mungkin, di sela itu tangannya mengambil senjata api di tubuh lawannya kemudian menarik pelatuknya dengan arah ujung senjata mengarah ke dua lawannya secara bergantian.


Tanpa disangka, salah satu dari dua lawannya tumbang karena peluru yang Charly tembakan berhasil menembus perutnya. Kini tinggal satu lawan lagi, yang dalam waktu beberapa detik saja sudah tumbang mengikuti para temannya karena terkena peluru dari Charly.


Charly menyeringai ketika melihat banyaknya anak buah Roxi yang sudah tumbang. Dia yakin, kini jalannya untuk menangkap laki-laki yang menjadi terget misinya itu akan semakin mudah. Charly melanjutkan langkahnya mencari keberadaan Liora, hingga secara tidak sengaja dia melihat Dery memasuki sebuah ruangan yang ada di sana.


Sebelumnya, ketika Charly disibukkan oleh pertarungannya dan menyelamatkan Ramon, Dery memanfaatkan itu untuk menyusul Liora dan memastikan keselamatan Davi. Namun, ketika dia mencari Davi di tempatnya disekap, ternyata anak itu sudah tidak ada, hingga Dery pun kini mencari keberadaan Liora dan Davi, yang pasti sudah dibawa oleh Roxi ke suatu tempat yang masih ada di gedung ini.


Ya, Roxi memang tidak mungkin ke luar dari gedung hotel itu, mengingat di seluruh sisi gedung sudah dikepung oleh pasukan khusus yang dibawa oleh Charly, hingga memang tidak ada jalan ke luar dari gedung ini.


Sementara itu, Liora sudah bertemu dengan kedua anak buah Roxi yang ditugaskan untuk mencarinya, mereka tampak menyeringai tajam pada Liora karena menganggap sudah menemani target yang dierintahkan oleh Roxi.


"Akhirnya kita menemukanmu juga," ujar mereka dengan senyum meremehkan pada Liora.


"Cih! Aku tidak ada urusan dengan kalian. Mana bos pengecutmu itu? Beraninya cuman bersembunyi di balik para anak buahnya." Liora menatap sinis dua orang laki-laki di depannya.

__ADS_1


"Berani kamu menyebut bos kami pengecut? Dasar wanita ja*ang!" sentak salah satu anak buah Dery sambil mulai menyerang Liora.


Liora menghindar dengan cekatan, dia mundur sedangkan kemudian memutar tubuhnya sambil memasukan tendangan pada perut lawannya, hingga laki-laki itu mundur beberapa langkah sambil memegang perutnya yang terasa berdenyut.


"Heh, segitu saja kemampuan kalian?" tanya Liora sambil melakukan posisi kuda-kuda, bersiap untuk menghadapi kedua orang itu yang pasti tidak akan mudah untuknya.


"Cih! Jangan sombong dulu, tendanganmu itu bahkan tidak terasa sama sekali," ujar anak buah Roxi sambil kembali menyerang Liora dengan terang-terangan.


Liora meliukkan tubuhnya hingga condong ke belakang untuk menghindari serangan dari lawan, kemudian bertumpu dengan tangan untuk melakukan gerakan kaki yang menyapu lantai hingga dua lawannya jatuh sekaligus karena di sleding cukup keras dan cepat Liora, sampai mereka tidak sempat menghindar.


Liora kemudian berdiri dan kembali menyerang kedua anak buah Roxi tanpa membiarkan mereka menengakkan dulu tubuhnya, hingga lagi-lagi mereka jatuh. Namun, kali ini salah satu di antara mereka berhasil untuk menariknya hingga jatuh bersama, dia juga memeganginya hingga Liora tidak bisa melepaskan diri.


Di saat itu, laki-laki satunya terlihat mengambil.jarum suntik di saku celananya kemudian menusuk kulit lengan Liora dengan benda itu. Liora yang terbarung tengkurap denagn laki-laki duduk di atasnya sambil memiting kedua lengannya pun tidak bisa lagi bergerak. Walau dia terus menggoyangkan tangan dan kakinya, nyatanya itu tak cukup kuat untuk membuat mereka melepaskannya.


"Apa yang kalian berikan padaku, brengsek! Dasar bajingan gila!" teriak Liora terus mengumpat kedua laki-laki itu.


Namun, beberapa saat kemudian gerakannya semakin terasa lemah, begitu juga dengan suaranya yang perlahan menghilang, lalu matanya berat hingga tidak bisa dia tahan untuk tetap terbuka. Akhirnya Liora menutup mata ketika kesadarannya sudah benar-benar menghilang di tangan kedua anak buah Roxi.


Kedua laki-laki itu tampak tersenyum puas ketika melihat Liora sudah tidak berdaya. "Sekarang kita bawa dia menemui bos," ujar salah satu dari mereka yang langsung diangguki oleh temannya yang lain.


Lora pun dibawa bagaikan sebuah karung beras kemudian mereka segera pergi dari situasi itu dengan perasaan puas karena sudah melakukan perintah Roxi dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2