Terjerat Pesona Istri Tetangga

Terjerat Pesona Istri Tetangga
Bab.58 Sebuah Amplop


__ADS_3

"Apa ini?" tanya Dery dengan wajah penuh tanya, dia duduk di depan Tiara sambil mulai mengambil amplop yang ditaruh Tiara di meja.


"Buka saja, nanti juga kamu tau," jawab Tiara masih dengan gaya santai.


Niken yang penasaran dengan isi amplop yang dipegag Dery pun mulai berjalan mendekat kemudian berdiri di samping suaminya itu. Mata keduanya melebar saat barisan rangkaian kata mulai terlihat jelas. Dery langsung mengalihkan pandangannya pada Tiara dengan amarah yang semakin meninggi.


"Apa-apaan ini, Tiara?!" teriak Dery dengan wajah memerah.


"Jangan kurang ajar kamu! Dasar wanita tidak tahu diuntung! Kamu bisa hidup sampai sekarang karena belas kasihan keluargaku, yang mau memungutmu dan merawatmu setelah orang tuamu mati! Beraninya sekarang kamu menuntut cerai dariku, hah! Brengsek! Sialan!"


Dery terus berteriak dan memaki Tiara habis-habisan, dia bahkan merobek surat itu hingga hancur kemudian dia sebarkan ke depan wajah Tiara. Dery sama sekali tidak sadar dengan Niken yang tampak mengulum senyum penuh kemenangan sambil berjalan mundur ke belakang, menghindari kemarahan Dery.


Sementara itu Tiara tampak masih tenang, dia hanya sedikit terkejut hingga menutup mata sebentar saat Dery melemparkan remahan kertas surat gugatan cerai yang telah dirobek oleh Dery.


"Jangan harap kamu bisa lepas dariku segampang ini, Tiara! Aku tidak akan pernah menceraikanmu sampai kapan pun!" Dery mengarahkan ujung telunjuknya tepat ke wajah Tiara.


"Heh!" Tiara menghembuskan napas kasar sambil beranjak berdiri tepat di depan Dery, kemudian mengibaskan tangan di sekitar pundak, seolah sedang membersihkan debu di sana. Matanya tampak sedikit melirik pada Niken yang kini memilih berdiri dengan jarak cukup jauh dari keduanya.


"Sepertinya kamu salah ... di sini, bukan aku yang tidak tau diri, tapi kamu dan keluargamu," ujar Tiara dengan seringai di wajahnya.


"Selama ini keluargamu yang memanfaatkan kematian orang tuaku dan mengganti surat hak kuasa atas perusahaan orang tuaku! Kalian lah yang merebut semua harta kedua orang tuaku yang seharusnya sudah menjadi milikku!" ujar Tiara dengan nada datar, walau masih terdengar sisnis di telinga Dery dan Niken.


"Jangan bicara sembarangan!"


"Aku tidak pernah bicara sembarangan, Dery! Aku bicara dengan membawa bukti!" sentak Tiara, memotong ucapan Dery yang sepertinya hendak memakinya kembali.

__ADS_1


"Dan, untukmu." Tiara mengalihkan pandangannya pada Niken.


"Aku juga memiliki kejutan," sambung Tiara lagi masih mempertahankan seringai di bibirnya.


"A–apa maksud kamu, Tiara? A–aku tidak ada hubungannya dengan semua itu." Niken yang menyadari gelagat mencurigakan dari Tiara mulai merasa tidak tenang. Terlihat sekali jika wanita itu memang memiliki salah pada Tiara.


"Ya, aku tau jika kamu memang tidak ada hubungannya dengan masalah perusahaan orang tuaku. Tapi, kamu juga berbuat sesuatu yang salah padaku," ujar Tiara sambil membawa kakinya beberapa langkah ke arah pintu masuk, kemudian bertepuk tangan sebanyak tiga kali.


Bersamaan dengan itu, pintu utama rumahnya terbuka dan munculah beberapa orang berseragam polisi yang tengah memegang satu orang laki-laki yang kedua tangannya tampak diborgol. Melihat itu, Niken langsung melebarkan matanya, mulutnya sampai menganga tanpa sadar, karena terlalu terkejut dengan apa yang terjadi di depannya.


"Boy?" gumam Niken pelan sambil menatap laki-laki yang kini tampak menunduk dalam, diantara para polisi itu.


Salah satu polisi wanita tampak datang menghampiri Niken, dia memberikan surat penangkapan untuk wanita hamil itu karena tuduhan percobaan pembunuhan. Tentu saja, semua itu membuat Niken semakin terkejut, dia menggeleng cepat dengan kaki melangkah mundur berusaha untuk menolak semua tuduhan.


"Tidak, ini gak mungkin! Aku gak salah, aku gak salah!" ujar Niken dengan air mata yang mulai berderai, dia menatap wajah laki-laki yang sudah ditangkap sebelumnya kemudian beralih pada Dery yang tampak ikut terkejut akan kejadian siang itu.


"Apa yang kalian lakukan?! Aku gak salah! Ini semua fitnah!" teriak Niken lagi sambil terus mencoba melepaskan diri.


"Hah! Dasar wanita sialan! Beraninya kamu memfitnahku seperti ini!" teriak Niken pada Tiara, dengan tatapan mata tajam dan wajah yang memerah.


Tiara tampak cuek, dia hanya mengedikkan bahu tanpa berniat menimpali ucapan histeris dari Niken.


"Tunggu-tunggu, dia ini istriku, kalian tidak bisa membawanya begitu saja seperti ini." Dery yang tidak tahan akhirnya mencegah para polisi membawa Niken.


"Kami menerima laporan jika istri Anda melakukan percobaan pembunuhan kepada Ibu Tiara, bersama dengan laki-laki yang bernama Boy," jelas salah satu polisi yang sepertinya berpangkat cukup tinggi dari yang lainnya, sambil menunjuk laki-laki yang sebelumnya mereka tangkap.

__ADS_1


Dery tampak mengerutkan kening dalam sambil melihat Niken dan laki-laki bernama Boy bergantian. Dery tahu jika Boy adalah salah satu karyawan senior di klub malam miliknya. Dia menghembuskan napas pelan, kemudian beralih menatap Tiara yang tampak berdiri dengan bersidekap dada. Dery masih merasa tidak menyangka jika Tiara dapat melakukan semua ini, dia bahkan belum bisa percaya jika Tiara mampu mengetahui kalau kecelakaan yang menimpanya adalah rencana dari Niken.


Ya, Dery memang sudah mengetahui jika Niken yang merencanakan kecelakaan untuk Tiara, awalnya dia marah pada istri keduanya itu, tetapi semua kemarahannya mereda begitu saja ketika Niken mengingatkan Dery tentang kehamilannya. Dery memang menginginkan anak di dalam kandungan Niken untuk melanjutkan bisnis gelapnya, karena dia tidak bisa memberikannya pada Davi. Dia tidak ingin Davi mengikuti jejaknya di dunia hitam.


Dery tampak menghembuskan napas kasar sambil menundukkan kepala sebelum kembali beralih menatap polisi di depannya.


"Baiklah. Aku harap kalian menjaga istriku baik-baik, dia sedang hamil sekarang," ujar Dery pasrah yang langsung disetujui oleh polisi itu. Setelah itu para polisi pun berpamitan dan ke luar dari rumah dengan membawa Niken ikut serta.


Tiara tersenyum sarkas saat mendengar ucapan dari Dery. Dia ingin sekali tertawa karena Dery masih saja mengira jika anak yang dikandung Niken adalah anaknya.


Niken masih menjerit memanggil Dery dan memaki Tiara, ketika dibawa polisi ke luar dari rumah. Wanita itu masih tidak terima dengan kenyataan jika sekarang dirinya adalah seorang tersangka polisi yang sedang dipermalukan oleh Tiara, karena ternyata di depan rumah Tiara sudah banyak warga setempat yang berkerumun untuk menyaksikan Niken yang dibawa paksa oleh polisi.


"Heuh! Sepertinya urusanku di sini sudah cukup, jadi lebih baik aku juga pergi," ujar Tiara sambil bersiap ke luar dari rumah.


"Tunggu! Apa maksud kamu, Tiara? Ini adalah rumah kamu, jadi kamu tidak bisa ke luar begitu saja dari rumah ini!" Dery langsung mencegah langkah Tiara, dia mencekal tangan Tiara dengan begitu erat.


"Oh iya, aku melupakan sesuatu. Sebentar, aku masih memiliki sebuah kejutan untuk kamu," ujar Tiara seolah memang melupakan sesuatu. Namun, Dery tidak kunjung mau melepaskan tangannya, hingga membuat Tiara kesal dibuatnya.


"Ck!" Wanita itu berdecak pelan sambil membuang muka.


"Lepaskan tangannku, aku hanya ingin mengambil sebuah kejutan untukmu," ujar Tiara sambil menatap wajah Dery, kesal.


"Apa lagi yang kamu rencanakan, wanita sialan?!" tanya Dery yang merasa mulai waspada terhadap Tiara.


"Tidak ada, hanya sedikit kebenaran yang selama ini direncanakan oleh wanita itu. Mungkin kamu sudah mengetahuinya?" jawab Tiara acuh.

__ADS_1



__ADS_2