Terjerat Pesona Istri Tetangga

Terjerat Pesona Istri Tetangga
Bab.12 Chees Cake


__ADS_3

Charly menghembuskan napasnya kasar sambil melempar kantong belanjaan miliknya ke atas meja, sementara itu Ramon yang sedang menikmati camilan di sofa tampak mengernyit bingung.


"Kenapa, Charly?" tanya Ramon dengan kerutan halus di keningnya. Tidak biasanya Charly uring-uringan seperti ini.


"Aku bertemu dengan salah satu istri Dery, sepertinya dia istri pertama," jawab Charly sambil menjatuhkan tubuhnya di samping Roman.


"Apa? Cepat sekali kamu bertindak. Seharusnya kamu bilang dulu padaku sebelum mendekati mereka, Charly! Kalau sampai mereka tau siapa kamu sebenarnya gimana?" cerocos Ramon dengan gurat yang semakin dalam di keningnya.


"Aku bertemu tidak sengaja, Mon," jawab Charly pelan.


"Jadi, sekarang bagaimana lagi?" tanya Ramon antusias, dia memiringkan duduknya hingga menghadap penuh pada rekan kerja sekaligus sahabatnya itu.


Charly tampak diam tanpa jawaban, keningnya berkerut halus dengan mata tertutup seolah sedang ada sesuatu yang mengganggunya.


"Nanti, aku pikirkan lagi," ujarnya sesaat kemudian, sambil beranjak berjalan meninggalkan Ramon yang hanya bisa menatapnya penuh selidik.


.


Matahari kini sudah tenggelam sepenuhnya, hingga langit berubah menjadi gelap. Semilir angin malam pun terasa semakin dingin menusuk tulang, seiring dengan waktu yang semakin larut.


Cahrli berdiri di balkon rumahnya dengan secangkir kopi menemani. Tatapan tajamnya menyorot rumah yang berada di seberang, di mana target buruannya kini berada.


Sudah beberapa hari dia ada di negara ini, tetapi tidak ada satu aktivitas mencurigakan sedikit pun dari rumah itu maupun para penghuninya.


Pertemuannya dengan Liora dan Davi tadi sore, malah terus mengusik pikirannya. Wajah polos anak laki-laki itu entah mengapa selalu terbayang di ingatan apa lagi ketika dia berjalan riang, sambil bernyanyi lagu "Di sini senang"


Sikap janggal Liora yang berpura-pura terkilir pun ikut mengganggu pikirannya, dia tidak mengerti ada maksud apa, hingga wanita itu berpura-pura seperti itu.


Ya, sebenarnya Charly mengetahui tipu muslihat yang dilakukan oleh Liora, sebagai seorang agen rahasia yang sudah berulang kali menghadapi banyak orang jahat. Hanya sebuah kebohongan kecil dari seorang ibu rumahtangga biasa, tentu saja itu sangat mudah dia ketahui.


"Kenapa dia melakukan itu? Apa itu perintah Dery, karena mereka sudah mengetahui keberadaanku dan Ramon?" gumam Charly mencoba menebak.

__ADS_1


Namun, semua pertanyaan yang membuatnya hampir tidak bisa tidur semalam tadi, kini semakin menjadi saat tiba-tiba dia melihat Liora berdiri di depan rumahnya dengan wajah kacau dan berderai air mata. Di tangan terdapat sebuah kue chees cake dengan toping saus strawbery di atasnya.


"Ya ampun, kamu kenapa seperti ini?" tanya Charly yang sudah bersiap untuk lari pagi. Matanya melotot karena terlalu terkejut.


"A–aku mau mengantarkan cake ini untuk kamu, sebagai tanda terima kasih sudah mengantarkan pulang kemarin sore," ujar Liora dengan kepala sedikit menunduk, berpura-pura menyembunyikan wajahnya yang kemerahan karena siraman kopi Dery sebelumnya.


"Ah, sebenarnya tidak perlu repot-repot begini." Charly tampak enggan untuk mengambil kue di tangan Liora, walau akhirnya dia harus pasrah ketika tanpa aba-aba Ramon langsung mengambil kue itu dengan wajah sangat sumringah.


"Wah, chees cake! Tau saja, kalau aku sedang butuh asupan gula di pagi hari begini," ujar Ramon sambil mengambil kue di tangan Liora dan membawanya masuk begitu saja.


"Maaf, dia memang seperti itu." Charly meringis menahan malu melihat sikap ceroboh Ramon.


"Hehe, tidak apa. Aku senang jika kamu mau menerima kue itu." Liora terkekeh pelan sambil melihat wajah Charly sekilas kemudian menundukkan kepalanya lagi.


"Kalau begitu, aku permisi pulang dulu," ujar Liora sambil berbalik dan hendak berjalan meninggalkan Charly.


Namun, baru satu langkah kakinya beranjak, Charly sudah menghentikannya, hingga membuat senyum tipis Liora terbit begitu saja. Wanita itu lebih dulu menetralkan raut wajahnya sebelum berbalik kembali.


"Iya?" tanya Liora.


"Ah, ini hanya kecelakaan kecil saja. Aku melakukan kesalahan di rumah," jawabnya sambil menunduk kembali.


"Dan, ini adalah hukumannya." Liora meneruskannya dengan hanya gumaman kecil, yang pasti dia buat agar Charly bisa mendengarnya.


"Kalau begitu aku kembali sekarang, permisi," sambung Liora lagi, kemudian berjalan cepat meninggalkan Charly yang masih menatap punggungnya yang mulai menjauh.


.


Hari berlalu begitu saja, sekarang setiap pagi Liora akan menyempatkan lari pagi, seminggu mencoba masuk ke kamar ataupun ruang kerja Dery, ternyata belum membuahkan hasil, entah mengapa dia melihat di rumah ini terlalu banyak CCTV, hingga langkahnya semakin terasa sulit saja.


Ditambah lagi dengan keterbatasan keuangan yang dimiliki oleh Tiara, hingga Liora semakin sulit untuk melakukan sesuatu. Itu juga yang membuatnya kini berada di sini, di kantin sekolah Davi untuk bertemu dengan Rere.

__ADS_1


Liora yang awalnya tidak mau melibatkan orang lain di dalam rencananya, akhirnya harus menyerah dengan kenyataan yang terjadi, dirinya tidak bisa melakukan apa pun jika tidak ada uang ataupun teman.


"Ada apa, Tia?" tanya Rere, setelah duduk di depan Liora.


"Aku butuh bantuan, kamu. Apa kamu bisa membantuku?" tanya Liora terus terang. Dia tidak mau berbasa-basi lebih dulu.


"Bantuan apa? Kalau aku bisa pasti aku bantu," jawab Rere sambil mengaduk jus jeruk pesanannya.


Liora tersenyum, dia tahu kalau Rere pasti mau membantunya. Sedetik kemudian wanita itu memasang wajah sendu, lengkap dengan kepala menunduk.


"Aku ingin melawan Mas Dery, aku ingin lepas darinya," jawab Liora dengan nada sendu.


"Hah? Beneran?!" Rere bertanya dengan semangat, Liora bahkan bisa melihat matanya yang melotot dan bibir yang tertarik ke atas penuh, membentuk setengah lingkaran.


"Iya," angguk Liora. Dia masih bermain peran menjadi seseorang tersakiti yang berusaha untuk lepas dari belenggu.


"Akhirnya, hati kamu terbuka juga, Tiara! Aku senang banget kalau kamu mau melepaskan suami brengsek–mu itu!" Rere berbicara dengan menggebu-gebu, sepertinya ini memang moment yang sangat dia tunggu selama ini.


"Aku harus bagaimana untuk membantu kamu? Bilang saja," sambung Rere lagi.


Liora menatap Rere dengan mata berkaca-kaca, seolah sedang sangat terharu dengan pertemanan di antara mereka. Tangannya terulur menggenggam tangan Rere lembut, seraya berkata, "Makasih banyak ya, Re. Kamu memang sahabat terbaik aku."


Rere ikut menggengam tangan Liora dia mengangguk samar. "Kamu pantas bahagia, Tiara. Aku yakin itu."


Liora ikut mengangguk. "Iya, aku sadar sekarang, jika rumah itu bukanlah rumah yang pantas aku jadikan tempat kembali."


Beberapa saat berlalu, Liora pun akhirnya ke luar dari sekolah Davi bersama dengan anak laki-laki itu, pembicaraannya dengan Rere sudah selesai, dan Rere juga mau membantunya untuk mencari apa yang Liora minta.


Kini tinggal langkah untuk semakin mendekatkan diri pada Charly maupun temannya. Ternyata sulit juga untuk mendapatkan kepercayaan dari laki-laki itu, walau apa pun yang dia lakukan Charly seolah masih saja memberi batas diantara mereka berdua.


Seperti pagi ini, dia kembali melakukan lari bersama dengan Davi yang ingin ikut bersama. Liora berharap dengan Davi ikut, Charly bisa sedikit melihat mereka, setelah selama ini dia selalu diacuhkan oleh laki-laki itu.

__ADS_1


Aku akan terus berusaha untuk meyakinkan kamu, agar kamu mau membantuku, Charly. Bukankah, setidaknya kamu harus menebus kesalahan kamu yang membuatku celaka dan terdampar di sini sekarang?! batin Liora bertekad.


Hanya Charly satu-satunya orang yang dia kenal dan bisa dia percaya tidak bekerja sama dengan Dery. Hingga dengan segala cara dia akan membuat Charly untuk berada di dalam situasi yang sama dengannya, yaitu melawan Dery.


__ADS_2