
Charly melebarkan matanya ketika melihat sebuah CCTV tersembunyi yang berada di salah satu sudut ruangan, dia kemudian berpura-pura tidak tahu sambil terus mengedarkan penglihatannya, mencari keberadaan CCTV lainnya.
Charly mengepalkan tangannya ketika dia mendapati setidaknya ada dua CCTV yang terpasang di ruangan itu. Charly kini beranjak ke luar ruangan, dia masih mencari letak CCTV yang ada di luar, dan dia semakin terkejut karena di sana juga ada banyak CCTV yang terpasang.
"Ternyata selama ini dia mengawasi setiap gerak-gerik kita. Dasar licik!" geram Charly dengan mata yang menyorot tajam.
Charly memutar otak untuk mencari cara agar dia terbebas dari semua CCTV itu, tetapi dia juga ingin memastikan kalau Dery memang tidak tahu apa-apa dengan semua yang dilakukan oleh Roxi.
Sementara Dery menatap bingung Charly yang tampak berbeda dari sebelumnya, laki-laki itu terlihat seperti sedang mencari sesuatu, hingga tiba-tiba Charly menyerangnya sampai dia terdorong beberapa langkah karena terkena tendangan Charly.
Dery yang masih terkejut kini kembali diserang Charly hingga dia terdesak dan kini keduanya jatuh ke belakang tumpukan barang dan berguling bersama.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau di gedung ini sudah penuh dengan CCTV, heh? Dasar bajingan!" geram Charly sambil kembali menyerang Dery.
"Apa maksudmu?" tanya Dery sambil terus menahan serangan Charly.
"Seluruh gedung ini diawasi oleh Roxi melalui CCTV," ujar Charly sambil mengarahkan kepala Dery pada salah satu CCTV tersembunyi yang ada di sana.
"A--apa? CCTV? Aku tidak tahu itu!" ujar Dery dengan mata yang melebar, ketika melihat CCTV yang tengah mengarah padanya.
"Dasar bodoh! Lalu, selama ini sebenarnya posisi kamu di dalam organisasi ini apa? Kamu bahkan tidak tahu apa-apa!" kesal Charly kemudian melepaskan Dery sambil sedikit menghentaknya. Dia memang melakukan itu agar bisa berbicara dengan Dery walau tidak terlalu kentara dengan oleh Roxi dari CCTV.
Dery terdiam, dia sendiri sebenarnya tidak tahu apa posisinya di dalam organisasi yang dipimpin oleh Roxi ini. Awalnya dia mengira jika dirinya adalah salah satu kaki tangan Roxi yang dipercaya memegang beberapa rahasia besar tentang bisnisnya di negara ini.
Namun, beberapa waktu yang lalu dia dikejutkan jika ternyata sebenarnya dia hanya tahu sebagian kecil saja dari bisnis ini, dirinya bahkan baru mengetahui siapa Roxi yang sesungguhnya setelah sekian banyak yang dia korbankan untuk organisasi ini.
Charly berdecak pelan ketika melihat Dery yang malah melamun, dia kemudian berusaha menghubungi Helen dan menyuruhnya menyambungkannya dengan rekannya yang berada di luar.
"Kita semua diawasi melalui CCTV, tolong kamu retas semua CCTV di gedung ini dan cari tahu di mana Tiara dan Davi berada. Mereka ada bersama dengan Roxi," ujar Charly memberi perintah.
"Baiklah!" jawab Helen dari seberang sana.
__ADS_1
Charly kini masih diam, dia harus menunggu Helen untuk bisa meretas semua CCTV di gedung ini dan mencaritahu keberadaan Liora, sebelum dia bertindak.
Saat itu, Charly seolah sedang dalam situasi yang begitu genting. Dia hanya memiliki waktu tiga puluh lima menit untuk menyelamatkan Liora dan Davi sebelum helikopter itu datang. Charly bergerak gelisah, hingga sekitar lima belas menit kemudian, Helen kembali mengabari dengan lokasi Liora.
"Tiara dan Davi ada di lantai paling atas, tapi kamu tidak bisa ke sana menggunakan lift, aku menemukan ada kerusakan di lift, mungkin mereka memang menyiapkan itu untuk menjebakmu," ujar Helen dari seberang sana.
"Baiklah, terima kasih! Tolong sekarang tuntun aku ke sana dan amankan jalanku dari manusia biadab itu." Charly kembali meminta tolong pada Helen.
"Oke," jawab Helen.
"Tapi, Charly--" Helen tampak kembali bicara dengan sedikit ragu.
"Ada apa, Helen? Jangan membuang waktu, sebaiknya kamu bicara denganku sekarang," jawab Charly masih dengan suara yang biasa saja walau kini khawatir tengah melanda hatinya.
"Aku melihat ada sesuatu yang janggal di gedung itu, ketika aku meretas semua CCTV di sana," ujar Helen terdengar hati-hati.
"Apa itu?" tanya Charly cepat sambil mulai berjalan menuju tangga darurat.
"Ada bom di gedung itu, Charly, dan itu lebih dari satu," jawab Helen pelan.
"Iya. Kabar buruknya, kita tidak bisa menangani bom itu. Itu tidak akan sempat," ujar Helen lagi.
"Berapa lama waktu kita?" tanya Charly.
"Bom itu belum diaktifkan, sepertinya Roxi memegang kendali atas bom itu," ujar Helen.
"Baiklah, sekarang yang penting kita selamatkan mereka dulu, baru aku akan memikirkan tentang bom itu. Sekarang cari tahu tentang alat kendali itu," ujar Charly sambil terus melanjutkan langkahnya di dalam tangga darurat gedung itu.
"Apa yang kamu maksud tadi? Bom?" tanya Dery, setelah percakapan Charly dan Helen selesai.
"Iya. Jangan bilang kalau kamu juga tidak mengetahui tentang bom itu?" jawab Charly sambil melirik Dery sekilas.
__ADS_1
Charly menghembuskan napasnya kasar, dia sudah tahu jawabnnya dari perubahan raut wajah Dery yang terlihat muram.
"Dasar bodoh!" decaknya pelan.
Dery masih terdiam, dia menerima semua umpatan yang dilayangkan oleh Charly. Kini hatinya pun merasa panas karena merasa dikhianati oleh Roxi. Saat ini, satu-satunya pilihan untuk menyelamatkan Tiara dan Davi adalah tetap bersama dengan Charly, walau mungkin nanti dia akan berakhir mati di dalam penjara. Namun, setidaknya dia bisa menyelamatkan dua orang yang sangat dia cintai untuk terakhir kalinya.
Waktu terus berjalan, kini hanya tinggal sepuluh menit lagi, ketika Charly dan Dery sudah berada di depan pintu sebuah ruangan yang diyakini ada Liora, Davi, dan Roxi di dalamnya.
.
Sementara itu, Liora kini sudah bisa melepaskan tali yang mengikat pergelangan tangannya, dia berdesis lirih sambil mengibaskan tangan di belakang kursi yang sudah terasa pegal dan kebas karena mereka mengikatnya dengan sangat erat.
"A--ah, aku mau ke toilet," ujar Liora sambil membungkukkan tubuhnya seolah sedang menahan buang air kecil.
Roxi yang terlihat tengah bersandar nyaman di atas kursinya pun membuka mata, dia kemudian mengalihkan perhatiannya pada Liora.
"Aku mau ke toilet, apa kamu dengar?" tanya Liora lagi dengan nada suara yang lebih kencang.
"Tahan saja lah, di sini tidak ada toilet," ujar Roxi sambil kembali menyandarkan tubuhnya kemudian menutup matanya kembali.
"Tidak bisa! Aku benar-benar ingin ke toilet! Bagaimana jika nanti aku malah buang hajat di sini, heh? Apa kamu mau mencium baunya juga?" cerocos Liora, seolah kini dia sedang menjadi wanita yang cerewet agar Roxi bisa jengah padanya.
"Astaga, bagimana ini? I--ini sudah mau ke luar! Aku tidak tahan lagi!" sambungnya lagi.
"Aaah! Tidak, tidak, jangan sekarang ... aku mohon!" teriak Liora lagi penuh dengan drama.
"Oke-oke! Bawa pergi dia ke toilet, aku muak mendengar teriakannya!" kesal Roxi pada salah satu anak buahnya.
Liora menyeringai ketika mendengar ucapan dari Roxi yang sebenarnya telah dia rencanakan. Ketika anak buah Roxi mendekat dan hendak membawanya ke toilet, tiba-tiba Liora menyerangnya dengan brutal dan membuat semua orang di sana terkejut bukan main.
Para anak buah Roxi yang lain pun akhirnya mendekat dan ikut menyerang Liora, mereka berusaha untuk menghentikan wanita itu, walau ternyata semuanya cukup kesulitan karena kekutan Liora yang entah bagaimana bisa meningkat beberapa kali lipat dari sebelumnya.
__ADS_1
"Dasar wanita ja*ang sialan! Dia pikir bisa menglahkanku begitu saja, disaat teman-temannya saja sudah menyerah dengan keadaan ini?" geram Dery sambil mengepakan tangannya erat.
"Apa pun hasilnya nanti, yang penting aku masih bisa berusaha," ujar Liora seolah dia mendengar ucapan Roxi yang sebenarnya cukup pelan.