
Tiara duduk di ruang makan rumah Charly dengan pikiran yang semakin berkecamuk, sementara laki-laki itu sedang mengambil air di dalam kulkas.
"Minum dulu," ujarnya sambil menaruh gelas di depan Tiara.
Tiara mengambilnya dia kemudian menenggak air putih itu hingga hampir tandas, tenggorokannya terasa kering setelah mendengar berbagai hal yang begitu mengejutkan.
Charly memang tidak memberitahu detail dari semua rencananya untuk menangkap Dery, tetapi laki-laki itu memberitahu jika Dery adalah kaki tangan dari seorang bandar narkoba yang begitu berbahaya.
"Makasih," ujar Tiara sambil kembali menaruh gelas di atas meja.
Charly hanya mengangguk, dia duduk di depan Tiara dengan siku bertumpu di atas meja, tangannya meremas kedua jari tangannya hingga membentuk sebuah kepalan.
"Maaf, aku tidak memberitahumu sebelumnya jika target kami saat ini adalah suami kamu sendiri," ujar Charly pelan. Kepalanya sedikit menunduk melihat kedua tangannya yang masih bertaut.
"Itu memang pekerjaan kamu. Seharusnya aku yang meminta maaf karena sudah mengganggu pekerjaanmu. Kamu pasti serba salah selama ini, karena istri targetmu malah mendekati kamu." Tiara akhirnya membuka suara setelah beberapa menit berlalu dengan keheningan.
Charly mengangkat kepalanya cepat, dia tidak menyangka jika Tiara akan berbicara seperti itu, bahkan suaranya terdengar begitu tenang. Sama sekali tidak seperti seorang istri yang tengah bersedih karena suaminya ternyata seorang penjahat, atau istri yang kecewa karena telah dibohongi sekian lama.
Carly sedikit memicingkan matanya, meneliti ekspresi yang ditunjukkan oleh wanita di depannya. Namun, dia tidak melihat ada kebohongan di sana, mata Tiara masihlah memancarkan kejujuran.
"Kamu tidak marah? Tidak sedih? Atau ... kecewa?" tanya Charly terus terang pada Tiara. Dia sedikit bingung dengan Tiara saat ini.
"Untuk apa?" Tiara malah balas menatap bingung Charly.
"Aku hanya terkejut. Pantas saja dia tidak segan berbuat kasar di rumah, ternyata dia memang seorang penjahat," ujarnya sambil tersenyum miris.
Dia juga seorang penjahat dulu, sebelum terjebak di tubuh Tiara, tetapi dirinya tidak pernah membawa masalah pekerjaan ke rumah. Bahkan ayahnya selalu bersikap lembut padanya, walau dia terkenal kejam di dalam gengster yang dipimpin.
Ada sedikit nada kemarahan yang bisa Charly tangkap dari nada suara Tiara. Namun, Charly tidak menanggapi itu, menurutnya wajar jika seorang istri akan marah jika ternyata suami yang dia nikahi sekian lama adalah seorang penjahat kelas kakap.
Jangankan Tiara, kedua orang tuanya pun sempat marah dan melarangnya ketika tahu dirinya masuk anggota khusus dan menjadi agen rahasi yang tentunya sangat berbahaya. Apa lagi Tiara yang jelas-jelas mendapatkan akibat dari kekejaman yang diperbuat oleh Dery.
Setelah itu keduanya kembali terdiam dalam hening untuk sesaat. Larut dalam pikirannya masing-masing. Hingga tiba-tiba Tiara tersenyum sambil menatap Charly.
"Sekarang aku sudah tau kalau orang yang menjadi target kita sama, walaupun tujuan kita berbeda. Jadi kita bisa lebih saling membantu lagi, kan?" tanya Tiara, tanpa ada sedikit pun nada keraguan di sana.
Charly terdiam, dia menatap Tiara cukup lama. Terkejut juga mendengar seorang istri yang ingin membantu agen rahasia sepertinya yang akan menangkap suaminya sendiri. Padahal tadi Charly sudah bersiap jika Tiara akan menangis lalu mendebat dirinya karena membela Dery.
__ADS_1
Namun, kenyataan ternyata tidak sesuai dengan perkiraan sama sekali. Tiara malah ingin mendukungnya?
Apa yang sebenarnya wanita ini rencanakan? batin Charly masih belum terlalu percaya pada Tiara. Wanita itu terlalu berbeda dengan wanita pada umumnya.
"Kenapa kamu malah ingin bekerja sama?" tanya Charly sambil menengakkan tubuhnya kembali.
"Tidak ada! Kalau Dery memang orang jahat, berarti memang pantas dia mendapatkan hukuman yang setimpal," jawab Tiara dengan santainya.
Charly memicingkan mata.
"Kamu istrinya. Apa kamu tidak akan sedih jika sampai suamimu mendapat hukuman berat? Lalu, bagaimana dengan Davi? Apa tidak masalah jika dia mempunyai ayah seorang narapidana?"
Untuk pertama kalinya Charly berkata panjang pada Tiara, itu pun penuh dengan kalimat pertanyaan.
Tiara terdiam untuk beberapa saat, dia teringat Davi yang pasti akan sedih bila tahu jika ayahnya seorang penjahat dan buronan agen rahasia. Dia juga memikirkan perasaa Tiara asli yang mungkin akan merasa bersedih karena perbuatannya.
Namun, Tiara juga memikirkan bagaimana nasib Davi dan Tiara asli jika sampai dirinya tidak bertindak saat ini. Mungkin saja Davi dan Tiara asli akan lebuh menderita dari sekarang karena ulah Dery dan Niken.
Tiara menggeleng pelan, di tersenyum sambil meyakinkan dirinya sendiri jika keputusan yang dia ambil saat ini adalah kebenaran dan yang terbaik untuk Davi dan Tiara asli.
Tiara beralih kembali pada Charly yang berada di depannya, dia menatap laki-laki itu dengan masih mempertahankan senyum di bibirnya.
Laki-laki itu tampak terkejut dengan ucapan Tiara, dia mengalihkan perhatiannya dari wanita di depannya dengan gerakan canggung. Dia memang tidak terlalu suka berbicara terlalu banyak, tetapi bukan berarti dirinya tidak bisa bicara santai seperti orang pada umumnya. Charly hanya tidak suka berbasa-basi dan menghabiskan waktu untuk berbicara omong kosong dengan orang lain. Dalam hidupnya, tidak ada hari tanpa tugas, apa lagi setelah dia kehilangan kedua orang tuanya.
"Terserah kamu saja lah. Dasar wanita aneh," gumam Charly sambil beranjak dari depan Tiara dan berjalan menuju ke luar saat mendengar suara mobil dari arah pintu depan.
Tiara yang tahu jika itu pasti Ramon dan Davi pun mengikuti langkah Charly, dia juga ingin menyambut kedatangan anak kecil yang sudah berhasil mendapatkan cukup banyak perhatian dan kasih sayangnya.
"Hai, Davi sayang!" Tiara langsung berjalan cepat hingga mendahului Charly agar bisa menyambut Davi.
"Mama?" Davi yang baru saja ke luar dari mobil Ramon pun tersenyum kemudian berjalan cepat menghampiri ibunya. Lalu, memeluk wanita yang semakin hari terlihat semakin cantik itu.
"Kok, Mama ada di sini?" tanya Davi begitu dia mengurai pelukan Tiara.
"Mama ada urusan sama Om Charly. Sekarang, Davi mau pulang?" tanya Tiara sambil berjongkok di depan anak itu.
"Mama, sudah selesai?" Tiara mengangguk saat Davi bertanya.
__ADS_1
"Gak mau. Davi mau main dulu di sini, boleh?" Anak itu tampak menggeleng cepat, menolak ajakan dari Tiara.
Tiara menatap Charly, dia merasa tidak enak pada laki-laki itu, dirinya sudah terlalu banyak menyusahkannya. Namun, tanpa diduga Charly tampak tersenyum kemudian mengajak Davi masuk ke rumah, dia juga sudah memesan makan siang untuk mereka semua, karena pasta yang dibuat oleh Tiara tentu tidak akak cukup.
Hari itu, Tiara dan Davi baru pulang setelah sore mulai menjelang. Davi yang asik bermain bersama dengan Ramon dan Charly selalu menolak jika diajak pulang oleh Tiara. Tampaknya di rumah Charly anak itu mendapatkan keceriaan yang selalu hilang begitu sampai di rumah. Itu semua membuat Tiara merasa tidak tega untuk memaksa Davi pulang.
.
Hari ini Niken sudah kembali seperti biasa, Tiara mendapati mereka sudah tidak ada di rumah begitu dia pulang mengantar Davi sekolah, entah pergi ke mana dua orang wanita yang sama menyebalkannya itu.
Namun, semua itu membuat Tiara ingin memanfaatkan situasi untuk menyelinap masuk ke kamar Dery. Setelah kemarin dia diizinkan masuk oleh Niken, setidaknya Tiara sudah memiliki bekal dengan mengetahui letak barang-barang di kamar itu, juga letak barang di kamar mandi dari mimpinya tempo hari.
Lama berada di dalam rumah itu, Tiara sudah bisa menghafal letak kamera CCTV dan aktivitas para pelayan di sana, hingga dengan mudah Tiara sudah sampai ke kamar Niken dan Dery.
Tidak mungkin kan di dalam kamar ada kamera tersembunyi, batin Tiara mencoba meneliti kembali seluruh sudut kamar itu.
Setelah memastikan Tiara mulai mencari di seluruh sudut ruangan, dari laci, lemari, bahkan bawah ranjang pun menjadi sasarannya.
Kenapa tidak ada satu pun sesuatu yang bisa aku temukan di sini? Apa mungkin ada ruang rahasia lagi di kamar ini?
Tiara membatin sambil mencoba mengetuk tembok di kamar itu, mencari suara yang berbeda. Namun, ternyata tangannya tidak sekuat Charly, dia sama sekali tidak menemukan perbedaan suara di tembok beton itu.
Ah, atau mungkin di balik lukisan? Tiara mulai mencari sesuatu di balik lukisan atau foto yang tergantung di dinding.
Namun, Tiara kembali tidak mendapatkan apa pun dari sana, dia akhirnya menyerah ketika tak mendapatkan apa pun di kamar utama rumah itu. Dia akhirnya memilih kembali ketika melihat ternyata sudah lebih dari tiga puluh menit berada di sana.
Namun, matanya melebar begitu dia melangkah ke luar dari kamar, jantungnya bahkan terasa berhenti untuk sesaat. Tiara terkejut bukan main dengan keberadaan orang yang kini sedang berdiri di depannya.
Wanita itu menelan salivanya dengan susah payah, rasanya tenggorokannya tercekat dengan hati terus mengumpat kebodohan dirinya sendiri.
Haish, kenapa perasaan Tiara masih ada sih? Bikin ribet aja! Mana aku kenapa jadi bodoh begini, sampe gak dengan dia pulang?!
Dulu, sewaktu Liora masih menjadi ketua gengster, masalah seperti ini tidak pernah terjadi. Bila pun ada yang hampir memergokinya, dia akan bersikap biasa saja hingga tidak ada yang bisa mencurigainya.
Namun, sekarang perasaan Tiara membuatnya sedikit canggung dan lemah, hingga wajah terkejutnya bahkan tidak bisa dia sembunyikan.
"Sedang apa kamu di kamarku?"
__ADS_1
......................
Siapa ya kira-kira yang ada di depan pintu kamar utama? Jangan lupa komen😉