
"Charly, tunggu aku!" teriak Ramon sambil berlari menuruni tangga, menyusul Charly yang sudah hampir melewati pintu depan.
Charly menoleh sekilas pada Ramon seraya berkata. "Kejar aku kalau bisa."
Bukannya menunggu, laki-laki itu malah melanjutkan kembali langkahnya menuju ke luar rumah, hingga membuat Ramon berdecak sebal. Dia kemudian melihat ke bawah, di mana kakinya bahkan masih menggunakan sandal rumah.
"Ish, dasar tega!" gerutu Ramon, sambil duduk di kursi kemduian memakai sepatu yang sejak tadi dia bawa.
Roman pun mulai berlari menyusul Charly, begitu dia selesai memakai sepatunya. Namun, getaran ponsel di saku celana membuatnya tidak berkonsultasi hingga tanpa sengaja badan tinggi kekarnya menabrak seorang wanita hingga jatuh terjermbap di depannya.
"Oh Astaga!" Ramon melebarkan matanya dengan mulut sedikit terbuka, ponsel di tanggnya bahkan sekarang di lupakan.
"Haish! Dasar sial!" umpat wanita itu sambil memukul aspal di sampingnya.
Untuk sesaat Ramon terpaku menatap wajah cantik alami yang sedikit memerah di pipinya karena marah. Bibir berwarna merah muda alami yang tampak segar itu mencebik kesal, ditambah dengan kerutan halus di keningnya.
"Ma–maafkan aku, Nona, aku tidak sengaja," ujar Ramon sambil mengantongi ponselnya kembali, dan hendak mengulurkan tangan untuk membantu wanita cantik itu bangun kembali.
Namun, niat baiknya langsung terhenti ketika dia melihat sudah ada yang membantu wanita itu bangun dengan sigap. Bahkan Ramon tidak tahu kapan laki-laki itu datang menghampirinya setelah tadi meninggalkannya begitu saja.
"Anda tidak apa-apa?" tanya Charly sambil memeriksa seluruh tubuh Liora.
"Iya, aku tidak apa-apa," ujarnya sambil menepuk celana di bagian bokong yang terlihat kotor karena terkena aspal yang lembap.
Sesaat dia sempat tidak percaya jika Charly bisa berlari menghampirinya begitu melihat dia terjatuh karena ditabrak oleh Ramon.
"Syukurlah kalau begitu." Charly tampak menghembuskan napas pelan sambil berdiri tegak kembali.
"Kapan kamu datang? Bukannya tadi kamu sudah lari duluan?" tanya Roman dengan wajah bingungnya.
Charly tidak menjawab, dia hanya menatap Ramon dengan wajah datar dan tatapan tajam.
"Ish, dasar ceroboh!" hardik Charly kemudian.
Roman mengerjapkan matanya beberapa kali, terkejut dengan ucapan Charly.
__ADS_1
"Ini semua, kan gara-gara kamu ninggalin aku!" Ramon tidak terima.
Namun, Charly tidak menghiraukan temannya lagi, dia malah beralih pada Liora.
"Mau lari bersama?" tanyanya kemudian.
Ramon yang melihat itu langsung melebarkan matanya dengan wajah terkejut. Tidak pernah selama ini dia melihat Charly bersikap lembut, walau itu pada seorang wanita sekali pun. Namun, sekarang yang dia lihat malah sebaliknya. Charly bahkan menatap wanita itu dengan sorot mata penuh minat.
"Boleh," angguk Liora, keduanya kemudian lari pagi bersama, meninggalkan Ramon yang hanya bisa melihat mereka dengan wajah terkejut bukan main.
"Apa aku sedang bermimpi?" gumamnya lebih pada diri sendiri. Dia linglung karena mendapati sikap Charly yang tidak biasa.
"Charly, tunggu aku!" teriak Ramon lagi ketika menyadari jika Charly dan Liora kini sudah berjarak cukup jauh darinya.
"Oh astaga, senang sekali dia meninggalkan aku," gerutu Ramon sambil berlari kembali menyusul Charly dan Liora.
Berbeda dengan hati Liora yang senang karena Charly sudah menunjukan kemajuan, di balkon lantai dua rumah Tiara, seseorang tampak melihat mereka dengan amarah terpendam di dalam hati.
Dia tampak mencengkram besi pembatas balkon dengan sangat erat, hingga buku-buku jarinya terlihat memutih.
Deri memukul keras pagar pembatas balkon itu hingga menimbulkan suara nyaring. Dia kemudian pergi begitu saja dari sana. Niat hati ingin melihat Liora yang berlari pagi, dia malah melihat pemandangan yang membuatnya tidak enak hati.
.
Beberapa waktu kemudian, Liora menyudahi lari paginya setelah waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Dia harus bersiap untuk mengantar Davi ke sekolah sekaligus bertemu dengan Rere.
"Sampai jumpa di lain waktu," ujar Liora sambil melambaikan tangan ke arah Charly dan Ramon, sebelum dia melewati gerbang.
Charly hanya meliriknya sekilas, sedangkan Ramon membalas lambaian tangan Liora penuh semangat.
Namun, senyum Liora langsung redup begitu dia melewati gerbang, tepat di depannya terlihat Dery yang tengah berdiri sambil menatapnya tajam. Wanita itu tampak menghembuskan napas pelan kemudian beralih melihat ke arah pintu masuk, di mana Niken tampak berjalan dengan langkah genitnya menuju ke arah mereka berdua.
Tidak mau ambil pusing dan curiga, Liora tersenyum pada Dery kemudian menyapa seperti biasa.
"Pagi, Mas. Mau berangkat ke kantor?" tanya Liora, walau dari pakaiannya Dery tidak seperti orang yang akan pergi ke kantor.
__ADS_1
Tidak menjawab, laki-laki itu malah menarik pergelangan tangan Liora kemudian berbalik dan menyeret wanita itu masuk ke dalam rumah, gerakannya sangat kasar hingga Liora meringis merasa sakit karena cangkraman tangan Dery.
"Ada apa ini, Mas? Kenapa kamu tarik aku begini?" tanya Liora sambil mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman sang suami.
Masih tidak menjawab, Dery hanya terus menyeret Liora tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan istri pertamanya. Liora menatap Niken dengan kening berataut begitu mereka melewati wanita itu yang tampak menghentikan langkahnya.
Jelas sekali Liora bisa melihat seringai tipis di bibir wanita itu, Liora kembali mengalihkan pandangannya memperhatikan raut wajah Dery dari samping. Dalam hati dia mulai menebak apa yang membuat Dery bisa begitu murka seperti ini.
Selama dirinya pulang dari rumah sakit, Dery tidak pernah berbuat kasar padanya, hanya saja laki-laki itu memang cenderung acuh dan tidak perduli dengan apa yang dirinya lakukan di rumah ini.
Namun, pagi ini Liora dibuat terkejut melihat sikap Dery yang sudah mulai berbuat kasar lagi padanya. Apa mungkin ini karena dirinya sudah hampir pulih? Atau ini semua karena ulah Niken, yang membuat Dery marah dan melampiaskannya pada Liora?
Liora menggeleng kepala samar, belum tahu apa yang membuat Dery begini, hingga beberapa saat kemudian laki-laki itu menghempaskannya hingga jatuh terjerembap di atas kerasnya lantai marmer rumah itu.
Cepat Liora bangun dan berdiri di depan Dery, matanya menatap nyalang laki-laki yang merupakan suaminya itu. Dia tidak terima telah diperlakukan kasar seperti ini.
"Ada apa sih ini, Mas? Kenapa kamu kasar begini?" tanya Liora tepat di depan wajah Dery.
"Diam! Atau aku robek mulut kotormu itu!" sentak Dery tak kalah keras, hingga membuat Liora mundur beberapa langkah.
Liora menatap wajah merah Dery, entah mengapa matanya berkaca-kaca hingga menghalangi pandangan. Liora sedikit mendongak dengan hidung memerah, menahan air mata agar tidak sampai tumpah.
Sial, kamu memang benar-benar bodoh Tiara! Untuk apa kamu menangisi laki-laki brengsek macam dia?! Liora memaki Tiara di dalam hati. Dia yakin jika perasaan Tiara yang membuatnya seperti sekarang.
"Dasar wanita murahan! Jadi ini alasan kamu pergi lari pagi dari rumah setiap hari, heh ... cuma untuk mendekati laki-laki itu?!" Dery sedikit membungkukkan tubuhnya, dia berbicara dengan nada tinggi sambil menatap Liora dengan senyum remeh.
"A–aku ...."
"Aku bilang diam!" Dery langsung memotong perkataan Liora yang ingin memberikan bantahan.
"Tapi, Aku–"
"Aku bilang diam, ya diam! Tidak usah membantah terus! Mau aku kurung kamu di kamar, tanpa bisa bertemu dengan Davi, hah?!" ancam Dery dengan penuh amarah.
Entah apa yang membuat Dery hilang akal seperti itu, Liora merasa dirinya tidak melakukan apa pun yang bisa membuat suaminya itu murka.
__ADS_1
Tidak jauh dari mereka, Niken tersenyum puas melihat Dery sudah kembali mau menyiksa Tiara. Dia semakin bersemangat setiap kali melihat Liora mendapatkan siksaandari Dery.