
Malam menjelang, setelah menemani Davi sampai tertidur, Tiara kembali ke dapur untuk melakukan rencananya –memberikan semua orang cairan dari Charly.
Dimulai dengan kopi bagi para penjaga di luar rumah, kemudian teh untuk para pelayan yang sudah bersiap untuk istirahat, susu hamil untuk Niken, dan segelas teh herbal untuk ibu mertuanya.
Kopi dan Teh menjadi tugas Mak Onah untuk memberikannya, sedangkan susu hamil dan teh herbal akan Tiara antarkan sendiri pada Niken dan ibu mertuanya.
"Ini susu hamil dan teh herbal milik kalian," ujar Liora dengan gestur tubuh yang seperti biasanya, wajahnya terlihat sekali terpaksa melakukan itu.
"Apa kamu yakin tidak memasukan apa pun pada minuman ini?" tanya ibu mertua dengan tatapan penuh curiga.
Deg! Tubuh Liora sempat menegang mendengar pertanyaan dari wanita paruh baya itu. Namun, sekilas kemudian dia berusaha untuk mengembalikan raut wajahnya.
"Kalau tidak percaya, ya sudah, lebih baik aku buang saja dan tidak usah lagi menyuruhku menyiapkan ini dan itu di dapur. Bikin capek saja," gerutu Liora sambil hendak mengambil kembali gelas di atas meja.
"Eh, tidak-tidak!" Niken tampak mengambil kembali gelas di tangan Tiara dan memberikan teh herbal pada sang ibu mertua. Dia merasa senang jika dilayani oleh Tiara, itu seperti menunjukkan kalau posisinya di rumah ini lebih tinggi dari Tiara.
"Gak ada apa-apanya kok, Bu. Ini memang tugas dia setiap hari. Buktinya, aku masih hidup dan sehat sampai sekarang," ujar Niken penuh percaya diri.
Selama ini Liora memang ditugaskan menyiapkan susu hamil untuk Niken, dan Liora juga tidak pernah mencampurkan apa pun di dalamnya.
Liora tersenyum tipis sambil mengangguk yakin begitu mendengar ucapan Niken yang membelanya. Tidak disangka jika kegiatan yang dia paksaan selama ini, malah mempermudah rencananya dan Charly.
"Terserahlah, kalian mau percaya atau tidak, aku mau tidur!" ujar Liora kemudian memilih pergi meninggalkan kedua wanita itu di ruang televisi, dan masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar, Liora berjalan mondar mandir menunggu waktu cairan itu bereaksi pada semua penghuni rumah. Setengah jam berlalu, Liora kembali ke luar dari kamar.
Langkahnya terayun menuju pos satpam, di mana ada monitor CCTV yang akan memperlihatkan seisi rumah.
Setelah melihat semua penghuni tertidur, Liora memberi kabar pada Charly untuk segera datang ke rumah dan mematikan semua CCTV di rumah itu.
Ya, cairan yang diberikan oleh Charly pagi tadi ternyata hanyalah sebuah obat tidur yang akan bekerja perlahan, hingga tidak akan ada yang curiga dengan reaksi obat itu.
Beberapa saat menunggu akhirnya Charly datang, mereka pun masuk ke dalam rumah dengan lelusa. Charly yang sudah tahu kode rahasia untuk membuka pintu pun menekan rangkaian angka yang membuat Liora terkejut bukan main.
Hah, ternyata itu tanggal ulang tahun Tiara?! batin Liora dengan mata melebar sepenuhnya.
Charly membuka pintu dengan mudahnya, dia sedikit melirik wajah Liora sambil mulai melangkahkan kakinya masuk ke ruang kerja Dery.
"Kamu terkeju?" tanyanya.
"Heem." Liora mengangguk dengan perasaan yang masih bingung.
__ADS_1
Apa Dery sebenarnya mencintai Tiara? Tapi, kenapa dia melakukan semua ini pada Tiara? batin Liora memikirkan prasangka yang mungkin bisa saja terjadi.
Tiara mengedarkan pandangannya, melihat semua ruangan kerja yang begitu dijaga oleh Dery. Tidak terlalu besar, ruangan dengan cat dominan berwarna coklat dan emas itu mungkin hanya memiliki luas lima meter persegi.
Di ujung pandangan lurus dengan pintu masuk, terlihat sebuah meja kerja dengan kursi berlapis kulit berwarna hitam, di atasnya terlihat banyak berkas yang tertata rapih. Sementara di setiap sisinya terdapat rak buku yang tersusun hingga menjulang tinggi.
Charly mulai mencari berkas yang mencurigakan dan apa pun informasi yang dia bisa gunakan untuk membantu Tiara ataupun misinya sendiri. Liora menyusul setelah merasa cukup memperhatikan semua isi di dalam ruangan kerja itu.
Mulai dari buku yang tersusun rapih, berkas yang ada di meja bahkan laci dan kotak yang terlihat ada di ruangan itu mereka buka dan periksa semuanya untuk mencari apa yang keduanya inginkan.
"Bagaimana?" tanya Liora saat dia melihat Charly sudah selesai memeriksa area meja kerja.
Charly menggeleng, dia tidak menemukan apa pun di sana, selain berkas perusahaan biasa.
"Kamu?" tanya Charly sambil beranjak ke tempat lain.
"Tidak ada apa pun," geleng Liora, kemudian mulai mencari lagi.
Charly tampak berdiri di tengah ruangan, setelah mereka hampir menghabiskan waktu tiga puluh menit hanya untuk memeriksa ruangan yang sebenarnya tidak terlalu besar itu. Dia merasa ada yang janggal dari ruang kerja Dery.
"Ada apa?" tanya Tiara sambil mengikuti Charly untuk berdiri di tempat yang sama.
Charly kemudian menyetuh earphone kecil yang terpasang di salah satu teliganya.
"Kirimkan denah yang kita dapatkan ke ponselku," ujarnya kemudian pada seseorang yang berada di ujung sambungan.
Setelah mendapatkan jawaban, Charly kemudian memeriksa ponselnya yang terasa bergetar di dalam saku --tanda ada pesan masuk.
Charly melihat kembali denah rumah Tiara yang dia dapatkan beberapa hari lalu dengan kening yang bertaut, dia kemudian menghampiri salah satu rak buku yang ada di sisi sebelah kiri mereka.
"Seharusnya masih ada ruangan di sini," ujarnya sambil mengeluarkan buku dari salah satu rak, kemudian mengetuk dinding di belakangnya.
Liora tampak memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh Charly sambil memperhatikan sekitar, siapa tahu ada yang bisa dia temukan.
Charly melebarkan matanya saat suara ketukkan di dinding terdengar berbeda. Dengan cepat dia mengembalikan buku di tangannya ke tempat semula kemudian mulai mencari jalan agar bisa membuka rak buku itu.
"Cari sesuatu yang sekiranya bisa membuka pintu lemari ini," titah Charly pada Liora, begitu dia yakin dengan perkiraannya.
Liora pun mencoba mencari apa pun yang sekiranya bisa membuka pintu rak buku itu, mulai dari vas bunga, patung kecil, dan segala pajangan yang mungkin bisa menjadi sebuah tuas yang terhubung untuk membuka pintu.
Namun, usahanya terhenti ketika Charly melihat sesuatu di balik sebuah buku berwarna merah.
__ADS_1
"Tiara, coba ke mari," ujar Charly sambil menoleh sekilas melihat Liora yang berada di belakangnya.
Sigap, Liora langsung berjalan cepat menghampiri Charly. "Ada apa?" tanyanya kemudian.
"Lihatlah," jawab Charly sambil menggeser tubuh tingginya agar Liora bisa melihat apa yang ada di depannya.
"Kode lagi?" desah Liora saat melihat layar yang akan menampilkan barisan angka ketika disentuh.
"Coba pindai sidik jarimu," titah Charly yang membuat Liora terkejut bukan main. Dia bahkan sampai melebarkan matanya sambil melihat Charly.
"Kamu tidak salah? Aku bahkan tidak pernah masuk ke ruangan ini." Liora merasa Charly sedang bercanda padanya. Dia lupa jika mungkin saja sebelum kecelakaan dan lupa ingatan Tiara pernah masuk ke ruangan itu.
"Coba saja dulu." Charly tampak yakin dan serius hingga membuat Liora menelan salivanya.
"Kamu yakin?" Liora masih merasa ragu dengan perkiraan Charly.
Laki-laki itu mengangguk yakin kemudian menggerakan kepalanya agar Liora mau melakukan apa yang dia perintahkan.
Liora menghembuskan napas pelan kemudian mulai mengangkat tangannya untuk dia tempelkan di sensor sidik jari di depannya. Wanita itu tampak menutup matanya ketika ibu jarinya menempel di sensor itu, hingga ketika sebuah bunyi yang menandakan jika sidik jarinya disetujui, diiringi dengan lemari buku yang mulai bergerak membuat Liora langsung mengangkat wajah sambil melebarkan matanya.
Sementara Charly langsung membawa tubuh Liora yang belum bereaksi, mundur beberapa langkah agar tidak menghalangi pergerakan lemari buku itu.
Liora langsung melebarkan matanya begitu melihat ruangan yang memang benar ada di balik rak buku itu. Walau itu sudah menjadi hal lumrah bagi orang di kalangan atas, tetapi Liora masih saja terkejut ketika mendapati semua itu, apa lagi ini hanyalah sebuah ruang kerja.
"Wah, ternyata kamu hebat juga, gak percuma aku berusaha mengajak kamu kerja sama," ujar Liora penuh semangat sambil berjalan ke dalam ruangan tersembunyi, mendahului Charly.
Mereka pun mulai kembali mencari berkas atau apa pun yang diletakkan di ruang rahasia itu, hingga Liora menghentikan kegiatannya ketika tanpa sengaja dia membuka sebuah album foto yang terlihat ditata sangat rapih. Mulai dari kenangan waktu kecil sampai berakhir di foto pernikahan.
...Cahayaku...
Itulah judul album foto yang terlihat begitu dia membuka halaman pertama, dengan sebuah foto dua orang anak kecil yang sedang bermain di sebuah ayunan sambil tertawa bahagia.
Apa ini? Apakah ini Tiara dan Dery? batin Liora penuh tanya.
Dia terus membuka lembar demi lembar album foto berisi banyak gambar yang seolah menceritakan perjalanan kisah antara kedua orang itu, hingga berakhir di sebuah pernikahan.
"Kamu mendapatkan sesuatu?" Pertanyaan Charly membuat pikiran Liora buyar begitu saja, dia berdehem sambil menutup album foto di tangannya.
"Tidak ada," jawabnya sambil mengembalikannya lagi dan mencari ke tempat lain. Hingga dirinya menemukan laci yang terkunci.
"Ish, terkunci lagi." Liora mendesah kesal, kenapa di sini banyak sekali kunci, hingga membuatnya jengah setengah mati.
__ADS_1