Terjerat Pesona Istri Tetangga

Terjerat Pesona Istri Tetangga
Bab.13 Transaksi


__ADS_3

Tanggal dua puluh lima sudah tiba. Sejak tadi malam Charly sudah sibuk dengan berbagai rencana sekaligus memantau pergerakan polisi setempat, yang sebelumnya telah dia kirimkan lokasi transaksi narkoba malam ini.


Ya, inilah rencana awal yang akan dilakukan oleh Charly. Berada di belakang layar dan memerhatikan bagaimana para polisi akan membuat kekacauan pada jaringan pengedar narkoba itu. Karena, bukan ini tujuannya dikirim ke sini, melainkan untuk mencari tahu orang yang berkuasa di dalam organisasi itu dan menangkapnya hingga tidak tersisa satu orang pun yang bertahan.


Saat ini, ketika malam telah larut di tanggal dua puluh lima, Charly dan Ramon tampak sedang bersembunyi di sebuah gedung, di mana tidak jauh dari sana akan dilakukan transaksi narkoba beserta penggerebekan.


Sementara di tempat lain, Dery tengah melajukan mobilnya ke luar dari kantor dengan earphone terpasang di telinga.


"Bagaimana, apa semuanya sudah siap?" tanyanya pada seseorang di seberang sana.


Beberapa saat dia terlihat diam dan mendengarkan lawan bicaranya hingga akhirnya dia bergumam sambil mengangguk kemudian menutup teleponnya begitu saja.


Mobil pun terus melaju membelah jalan yang sudah mulai sepi seiring malam yang semakin larut, dia kemudian membelokkan mobilnya pada sebuah hotel kecil di pinggiran kota.


Sementara itu di tempat lain, transaksi narkoba sudah hampir di mulai, anak buah Roxy terlihat sedang memperhatikan pergerakan lawan yang mulai menuruni mobil dengan koper di tangan.


Namun, tiba-tiba pintu terbuka hingga membuat mereka terkejut dan mengalihkan perhatiannya, tetapi sedetik kemudian semua orang yang ada di sana menghembuskan napas kasar bersamaan.


"Sampai di mana prosesnya sekarang?" tanya orang yang baru saja datang.


"Semuanya berjalan lancar, Tuan. Mereka sudah memesan kamar di lobi," ujar orang yang tengah duduk di depan sebuah laptop. Dia kemudian berdiri dan membiarkan orang yang baru masuk itu mengambil alih posisinya.


Layar itu menunjukan beberapa video CCTV hotel yang sudah mereka retas sebelumnya. Senyum miring terlihat di wajah laki-laki itu di saat dia melihat orang yang sudah mereka awasi kini tengah mendapatkan kunci kamar yang telah mereka siapkan untuk menaruh koper berisi uang yang dia bawa.


Setelah orang itu menaruh koper berisi uang di dalam lemari hotel, dia langsung ke luar lagi dengan gaya santainya.


"Suruh dia menunggu di restoran hotel," titah laki-laki itu, yang memiliki andil besar dalam transaksi ini.

__ADS_1


"Periksa uangnya," titahnya lagi pada anak buah yang lain.


Satu orang di antara mereka pun pergi setelahnya, mereka masuk ke dalam kamar tempat koper berisi uang itu berada kemudian memeriksa apa yang ada di dalamnya.


Setelah laki-laki yang memeriksa mengirimkan laporan, mereka kembali memberi instruksi pada seseorang yang sudah menyamar sebagai staf dapur.


"Berikan barangnya."


Mendengar instruksi itu, orang berpakaian pelayanan pun membawa box makanan dari restoran hotel, sebagai sebuah kamuflase. Sebenarnya di dalam box itu bukanlah makanan seperti yang tertulis di luarnya, tetapi sebuah tepung putih yang memiliki harga selangit dan begitu berbahaya.


Laki-laki yang memantau di depan laptop pun tersenyum miring begitu melihat rencananya berjalan mulus, dia kemudian beranjak seraya berkata pada earphone di telinganya, "Transaksi berhasil."


Namun, baru saja earphone dimatikan, suara tembakan yang diiringi oleh jerit para pengunjung restoran mengejutkan mereka semua, termasuk pemimpin transaksi malam ini.


"Segera tinggalkan tempat ini, dan pastikan kita tidak kehilangan uangnya!" teriaknya dengan wajah panik.


Suasana restoran pun menjadi sangat mencekam, semua pengunjung diamankan, sedangkan orang yang dicurigai terpaksa harus melakukan pemeriksaan. Tangis dari para pengunjung perempuan yang panik dan ketakutan karena adegan penembakan pun terdengar menambah suasana malam itu menjadi kacau.


Polisi tampak berjaga di setiap sudut dengan membawa senjata api, tidak ada satu orang pun yang bisa ke luar dari hotel, sebelum penggeledahan ini selesai di dilakukan.


Di balik suasana kacau malam itu, Charly yang berada di atap gedung tidak jauh dari lokasi, tampak tersenyum dengan tropong kecil di tangan. Hingga di saat dia melihat seseorang yang sejak tadi dirinya tunggu ke luar dari hotel, Charly langsung menghubungi Ramon yang berjaga di parkiran.


"Dia sudah ke luar, ikuti sekarang juga!" perintahnya, sambil berbalik dan berjalan cepat menuju lift, untuk segera menyusul Ramon.


"Aku ke luar sekarang," jawab Ramon tanpa beban, kemudian melajukan mobilnya ke luar dari parkiran.


Sementara itu di rumah Tiara, Liora yang mendapati rumah sudah sepi sejak jam sembilan malam mencoba ke luar dari kamar dan mencoba untuk masuk ke ruang kerja Dery.

__ADS_1


Di tangannya sudah ada catatan beberapa kombinasi angka yang kemungkinan besar bisa menjadi kata sandi pintu. Itu semua dia dapatkan dari investasi yang dia lakukan selama beberapa hari ini.


Kesempatan yang aku miliki hanya tiga kali. Aku harus berhasil membukanya malam ini, batin Liora ketika dia berdiri di depan pintu ruang kerja Dery. Matanya tidak lepas dari gagang pintu berwarna hitam dengan kunci sidik jari itu.


Liora terlebih dulu menoleh ke belakang dan ke seluruh arah memastikan jika tidak ada yang melihatnya. Setelah memastikan kalau semuanya aman, dia kemudian mulai berjongkok di depan pintu.


Mengelap telapak tangannya yang tampak berkeringat karena gugup, Liora mulai mencoba menekan setiap angka dengan kombinasi tanggal ulang tahu Dery sendiri.


Namun, ternyata itu semua gagal. Liora menutup matanya sambil mengepalkan tangan, menahan geram pada dirinya sendiri. Menarik napas pelan, Liora kembali melakukan percobaan kedua, dengan menggunakan tanggal lahir Davi.


Liora menggigit bibir bawahnya ketika pasword yang dia tekan salah kembali, dan sekarang dia hanya tinggal tersisa satu kesempatan lagi. Jantungnya terasa berdetak tak menentu, dia lebih dulu menegakkan tubuhnya sambil mengatur detak jantung yang berdebar tak menentu.


Menarik napas dalam kemudian menghembuskannya perlahan, sambil mengedarkan pandangan, memastikan kalau tidak ada penjaga atau pelayan yang melihatnya. Tangannya yang terasa dingin dan sedikit lembab, dia kibaskan berulang kali agar lentur kembali.


"Huh, astaga ini benar-benar menegangkan. Aku tidak menyangka bisa meraskan hal seperti ini lagi setelah hampir melupakannya," gumam Liora sambil terus mengatur napas.


Lama bergelut dengan dunia hitam dan rencana kejahatan, Liora bahkan sudah tidak bisa meraskan ketegangan lagi, ketika menjalankan berbagai misi. Namun, ternyata melakukan hal yang dia anggap sepele seperti membobol kunci pintu seperti ini, malah bisa membuatnya panas dingin karena menahan gugup.


"Apa karena perasaan Tiara? Atau memang aku yang jadi pengecut setelah hampir mati?" gumam Liora lagi.


Setelah merasa sudah rileks kembali, Liora pun mulai membungkukan tubuhnya dan bersiap untuk menekan barisan angka yang ada di bawah gagang pintu. Namun, di saat ujung jarinya hampir mengenai salah satu angka, tiba-tiba suara dari arah belakangnya membuat Liora langsung menegakkan kembali tubuhnya sambil berbalik cepat.


"Ngapain kamu, di sini?" tanya wanita itu yang tidak lain adalah Niken.


Wanita yang mengenakan gaun tidur yang sangat seksi itu, tampak berdiri di belakang Liora dengan membawa gelas kosong di tangannya.


Liora melebarkan matanya, dengan kepala mulai mencari alasan agar Niken tidak mencurigainya dan mengadukan dirinya pada Dery. Akan lebih sulit lagi nanti jika sampai Dery mulai curiga padanya dan bertindak waspada.

__ADS_1


__ADS_2