Terjerat Pesona Istri Tetangga

Terjerat Pesona Istri Tetangga
Bab.67 Roxi yang sesungguhnya.


__ADS_3

"Apa-apaan ini? Kenapa kamu menjadikan aku salah satu kandidat untuk pemilihan CEO perusahan ini?!" Rere tampak protes pada Liora, dia manatap sahabatnya itu dengan kening berkerut dalam. Sungguh dia tidak menyangka jika namanya akan disebut sebagai calon CEO selanjutnya.


"Hanya kamu yang bisa aku percaya untuk menjaga perusahaan sebelum Tiara kembali atau Davi tumbuh dewasa," jawab Liora dengan senyum lembut, hingga untuk sesaat Rere seolah tengah melihat Tiara yang asli.


"Kamu gila, Liora. Mana mungkin aku bisa mengurus perusahaan sebesar ini? Lagi pula siapa yang akan mendukung ide gilamu ini?" Rere masih berusaha menyangkal rencana yang dibuat oleh Liora.


Liora tersenyum miring, sambil kembali menatap ke depan dengan dagu terangkat. "Kita lihat saja nanti," jawabnya ambigu.


"Ish!" Rere prustasi, wanita itu benar-benar tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh Liora. Rere bahkan belum percaya apa yang terjadi di depannya kini.


"Bu Renata, harap berdiri!" ujar pembawa acara yang sedang menyebutkan beberapa nama kandidat yang telah diajukan oleh para pemegang saham yang lain.


"Berdirilah, Re. Tampilkan senyum yang terbiak untuk menyapa para pemegang saham," gumam Liora tanpa mengalihkan pandangannya.


Rere mantap kembali wajah Liora yang kini tampak berubah menjadi datar. Dengan terpaksa Rere berdiri kemudian menyapa para pemegang saham yang kini mengalihkan perhatian padanya.


"Ini terlalu gila," gumam Rere masih tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.


Ada tiga orang yang mengajukan diri untuk menjadi pengganti Dery. Pertama adalah wakil Dery sendiri. Kedua adalah salah satu anak pemegang saham yang lumayan besar dan berpengaruh di perusahaan. Ketiga adalah Rere yang diajukan langsung oleh Liora.


Setelah memperlihatkan profil dari para calon CEO, kini waktunya untuk pemilihan suara dari semua pemegang saham dan pejabat tinggi perusahaan untuk menentukan pengganti Dery yang berikutnya.


"Baiklah, kali ini kita sudah sampai di dalam acara puncak, yaitu pemilihan suara. Silahkan kalian tuliskan nama calon CEO pilihan Anda di kertas yang sudah kami bagikan sebelumnya!" Pembaawa acara kembali memberi instruksi.


"Bersiaplah, Re. Sebentar lagi kita akan melihat pertunjukan yang sangat mengejutkan," bisik Liora sambil menuliskan nama Renata di kertas.


Setelah semuanya melakukan pemilihan, kini giliran pembawa acara membacakan satu per satu kertas berisi nama kandidat CEO untuk menghitung jumlah suara.


Di pertengahan acara wakil CEO mendatkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan Rere dan satu calon lainnya. Rere tersenyum melihat semua itu, setidaknya dia tidak harus mengikuti rencana gila dari Liora. Namun menuju di akhir ternyata Rere berhasil menyusul jumlah suara yang didapatkan oleh wakil CEO sebelumnya hingga kini mereka mempunyai pendukung dengan jumlah yang sama.

__ADS_1


"Ini gak mungkin." Rere menggeleng lemah dengan mata melebar. Dia tidak menyangka jika orang yang mendukungnya ternyata banyak juga.


"Kamu gak curang kan?" tanya Rere dengan mata memicing pada Liora.


Liora kembali tersenyum, dia seolah tidak terintimidasi dengan semua ucapan Rere yang meragukan kinerjanya sebagai mantan ketua gengster. Dia hanya mengedikkan bahu tanpa menjawab pertanyaan Rere.


"Baiklah, sekarang di tangan saya tersisa satu kertas lagi yang akan menentukan posisi CEO selanjutnya. Dari jumlah yang didapatkan oleh dua kandidaat terkuat, kini mereka mendapatkan poin yang sama. Jadi kertas ini menjadi penentu kita!" ujar pembawa acara sambil memperlihatkan kertas di tangannya.


Namun, ketika pembawa acara akan membuka kertas terakhir di tangannya, tiba-tiba saja pintu ruang rapat terbuka lebar, hingga mengalihkan perhatian semuanya.


"Hentikan semua ini! Saya masih hidup dan masih bisa menjalankan tugas sebagai CEO perusahaan ini dengan baik!" teriak laki-laki yang baru saja hadir dan kini berdiri di depan pintu.


"Dery? Kenapa dia ada di sini?" Rere tampak terkejut dengan kehadiran Dery di acara itu.


"Tenanglah, Rere. Sekarang ini dia bukan lagi siapa-siapa di perusahaan ini.


Byur!


Dery mengerjapakan matanya dengan napas yang memburu, ketika rasa dingin di seluruh tubuh membuatnya terkejut bercampur perih yang menusuk hidung, karena ada air yang masuk ke sana.


Laki laki itu mendongakkan kepala sambil memicingkan mata, mencoba memperjelas pandangannya yang sedikit kabur. Dia melihat beberapa orang laki-laki berbaju hitam tengah mengelilinginya.


Suasana pencahayaan yang remang membuat Dery tidak bisa melihat dengan jelas wajah orang-orang di sekelilingnya.


"Siapa kalian? Kenapa kalian membawaku ke tempat ini?" tanya Dery masih dengan tubuh bersimpuh. Tenaganya masih belum cukup hanya untuk berdiri, dia masih lemah karena pengaruh terlalu banyak meminum alkohol tanpa asupan makanan yang cukup selama beberapa hari.


Tok, tok, tok.


Suara ketukkan di salah satu sisi ruangan mengalihkan perhatian Dery, dia mngerjapkan matanya sambil menggelengkan kepala, mencoba untuk memeperjelas penglihatannya. Matanya kemudian melebar ketika melihat sosok laki-laki berperawakan gagah yang kini tampak duduk di sebuah kursi besi dengan belati di tangan. Di sampingnya laki-laki paruh baya yang begitu dia kenal pun berdiri sambil melihatnya tajam.

__ADS_1


"T--tuan?" gumam Dery dengan kepala yang menunduk dalam.


"Besujudlah di depan Tuan Roxi, Dery! Karena permasalahan keluargamu ini, dia terpaksa menampakkan dirinya seperti ini! Kamu harus meminta ampun padanya, Dery!" ujar laki-laki paruh baya yang selama ini menjadi tuan bagi Dery.


Dery melebarkan matanya ketika mendengar penjalasan dari sang tuan, selama ini dia hanya bisa bertemu dengan tuannya tanpa bisa mengetahui rupa dari bos besarnya yang bernama Roxi. Roxi selalu bersembunyi di belakangnya tuannya yang berperan menjadi cangkang untuk menutupi keberadaan Roxi.


Orang luar akan mengira jika Roxi adalah tuanyya yang selalu berada di depan untuk memimpin semua aktivitas kelompok pengedar narkoba itu. Namun, sebenarnya yang terjadi, Roxi yang asli adalah orang yang kini tampak duduk di atas kursi. Laki-laki yang berumur sekitar empat puluhan dengan postur tubuh tinggi tegap dan wajah yang menawan.


Dery saja tidak pernah menyangka jika Roxi adalah laki-laki yang hanya beberapa tahun lebih tua darinya, mengingat sekarang Roxi telah mengusai bisnis pengedar narkoba di beberapa nagara asia, termasuk negara ini.


"Ampuni saya, Tuan! Maafkan saya atas kekacauan ini!" Dery langsung bersujud meminta ampun di depan kaki Roxi.


"Hk!" Napas Dery tercekat ketika kaki Roxi kini menapak tepat di kepala bagian belakangnya dan menekannya dengan cukup keras hingga menyusahkan dia untuk bernapas.


"Ini adalah kesempatan pertama dan terakhirmu! Jika kamu berani untuk melakukan masalah lagi, jangan harap kamu akan melihat matahari lagi!" geram Roxi kemudian berdiri dengan kaki masih berada di atas kepala Dery, dia menjadikan kepala Dery sebagai bantalan untuknya melangkah.


Roxi menghentikan langkahnya ketika dia hampir saja melintasi pintu ke luar.


"Selesaikan masalahmu secepatnya, bila perlu bunuh semua orang yang mengancam bisnis kita, atau kamu sendiri yang akan berakhir mati di tangaku!" ujarnya tanpa menoleh sedikit pun, kemudian melanjutkan langkahnya dengan diikuti para anak buahnya yang lain.


Laki-laki tua yang selama ini menjadi bos Dery pun menghampiri Dery yang masih dalam posisi bersujud, dia kemudian berjongkok tepat di sisi kepala Dery.


"Aku harap kamu tidak bertindak bodoh untuk kedua kalianya, jika tidak mau mati sia-sia di tangan manusia berdarah dingin sepertinya," ujarnya penuh peringatan.


Untung saja selama ini Dery sudah berbuat banyak dalam mengembangkan bisnis mereka di negara ini, hingga dia bisa diberi kesempatan ke dua oleh Roxi, karena jika tidak mungkin sudah dari beberapa hari yang lalu mereka akan mendengar kabar Dery yang telah tewas entah dengan cara apa pun itu.


"Ingatlah, dia hanya memberikan kamu satu kesempatan, tapi, ini bukan berarti dia memaafkan!" sambung laki-laki paruh baya itu lagi kemudian beranjak berdiri dan ke luar dari ruangan yangg terasa pengap itu meninggalkan Dery sendiri dengan pikirannya yang kalut.


__ADS_1


__ADS_2