Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Mama Mita berangkat


__ADS_3

Diruang kerja yang berukuran minimalis, Gael memikirkan apa yang baru saja didengar dan dilihatnya. Jauh di lubuk hatinya terdalam ia merasa kasihan kepada Nia.


Bagaimana pun juga ini semua adalah kesalahannya, merenggut sesuatu yang berharga dari wanita itu.


"Gael kau belum tidur? " suara Mita menghentikan lamunan Gael yang masuk ke ruang kerja nya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Belum mah.. " Gael melihat kearah mana Mita yang berdiri di sampingnya. "Mama ingin bicara sebentar apa kau sedang sibuk? " terang Mita langsung pada intinya.


"Tidak mah aku tidak sedang sibuk. Memangnya ada hal penting apa yang ingin mama bicarakan? " selidik Gael. Mita menaik kursi yang ada didepan Gael dan kemudian duduk disana. "Besok mama akan berangkat ke Paris. " Jelas Mita kepada Gael mengatakan hal yang ia maksud tadi.


"Besok? " Gael sedikit terkejut kenapa mamanya baru memberitahukan nya sekarang. "Ia besok! " Mita mengulangi ucapannya.


"Ada apa kenapa mama seperti terburu-buru ingin kembali ke Paris? " Gael menatap ibu yang sudah melahirkannya itu dengan lekat.


"Mama hanya merindukan papa dan juga kakek mu, dan kau juga aturlah pekerjaan mu agar kau bisa membawa Nia ke pusara Papa dan juga kakek mu! " Jelas Mita yang ingin mengunjungi makam suami dan juga ayah mertuanya yang berada diParis.


Tiga tahun lalu Haikal dan juga Robert mengalami kecelakan mobil yang mengakibatkan hilangnya nyawa ayah dan anak itu setelah mereka menetap tinggal di Paris kurang lebih sepuluh tahun yang lalu.


Kejadian naas itu merubah dunia Gael dalam sekejap, ia harus menanggung beban atas semua perusahaan keluarga Atmaja dimana hanya ia satu-satunya pewaris dari keturunan Haikal dan Mita.


Gael bekerja keras menjalankan semua perusahaan yang sudah dirintis oleh kakek dan orang tuanya sedari nol. Melanjutkan kembali hidupnya tanpa adanya bimbingan dari orang-orang yang paling berpengaruh pada hidup nya dalam masalah bisnis.


"Baiklah, mama hati-hati disana dan jangan terlalu lama disana. " Pinta Gael yang kemudian dibalas senyuman dari Mita.

__ADS_1


"Mama sudah siap? " Nia menghampiri mertuanya itu yang sedang merapikan barang bawanya sebelum berangkat. "Sudah sayang.. " Mita meraih kopernya sebelum keluar dari kamarnya itu. "Biar Nia saja yang bawa sampai ke mobil mah! " Nia menarik koper yang sudah dipegang oleh Mita.


"Terima kasih. " Mita sangat bersyukur mendapat kan menantu seperti Nia yang selalu bersikap baik kepada orang-orang yang ada disekitarnya.


Mita berjalan keluar dari pintu mansion itu dengan Nia yang berada dibelakangnya menuju mobil yang akan mengantarkannya ke bandara.


"Silahkan nyonya! " Daren membukakan pintu kepada nyonya besarnya itu. "Nia ayo masuk! suruh Mita yang ingin menantunya itu juga ikut mengantarkan ke bandara. "Baik mah..." Nia hendak ikut masuk kedalam mobil itu.


"Kau mau kemana? " surat datar Gael menghentikan langkah kaki Nia.


"A aku mau mengantarkan mama sampai bandara. " jawab Nia gugup. "Tidak perlu! kau disini saja." Tegas Gael. "Tapi..." Ucapan Nia terhenti ketika sorot mata Gael berubah menjadi menakutkan baginya.


"Gael biarkan dia ikut! " pinta Mita. "Tidak bisa mah..Setelah mengantarkan mama ke bandara aku ada rapat penting dan masih banyak pekerjaan yang harus aku dan Daren selesaikan." Tolak Gael akan perintah mamanya itu.


"Tidak apa-apa sebaiknya aku tidak ikut jika aku ikut itu hanya akan merepotkan kalian saja." Ucap Nia berusaha bersikap biasa saja namun hatinya kembali terluka dengan ucapan suami nya itu.


"Tentu mah, Nia akan selalu ingat pesan mama. " Nia memberikan senyuman manisnya menutupi rasa kecewa atas perkataan Gael suaminya itu.


Daren mengambil alih koper yang Nia bawa dan memasukkannya kedalam bagasi mobil dan setelah itu Daren ikut masuk bersama tuan Gael dan nyonya besarnya itu.


"Gael cobalah kau bersikap baik sedikit saja kepada istri mu itu! " peringat Mita kepada putranya itu begitu mobil yang mereka tumpangi melaju meninggalkan mansion. Namun Gael hanya diam mendengarkan perkataan mamanya itu tanpa berkata sepatah kata pun.


"Gael apa kau mendengarkan mama? " selidik Mita yang tak mendengar sepatah kata pun keluar dari mulut Gael.

__ADS_1


"Ia mah. " Jawab Gael singkat.


"Kau ini, sebenarnya hati mu itu terbuat dari apa ha? Nia itu wanita yang baik tidak seperti kekasih mu itu yang meninggalkan mu tanpa memberi alasan apa pun kepada mu." pekik Mita.


"Mah.. Jangan membandingkan mereka berdua karna sampai kapan pun mereka itu tidak akan pernah bisa di posisi yang sama di hati ku! " Tegas Gael tidak terima jika Nia dibandingkan dengan mantan kekasihnya yang jelas berbeda dari Nia.


"Ya. ya.. Terserah kau saja! mama hanya ingin yang terbaik untuk mu. Satu hal yang perlu kau ketahui wanita yang sudah meninggalkan mu itu pada akhirnya hanya akan memberi mu luka yang lebih dalam lagi." Peringat Mita kepada Gael putranya itu yang sampai sekarang belum bisa melupakan kekasihnya yang sudah bertunangan dengan sahabatnya sendiri.


Gael terdiam dengan ucapan mamanya itu dimana bahwa kebenarannya ia dan wanita yang pernah menjadi kekasihnya itu sampai kapan pun tidak akan bisa bersatu lagi.


"Coba kau buka hati mu untuk Nia sedikit saja dan mama yakin dengan seiring waktu cinta diantara kalian berdua akan tumbuh dengan sendirinya. " Tambah Mita lagi mencoba memberikan saran kepada Gael.


"Mah... Bagaimana aku bisa membuka hati ku untuk pelayan itu? " pekik Gael yang memicu kemarahan Mita kepadanya sampai Daren yang tadi pokus mengemudi merasa terkejut dengan suara Gael yang sedikit meninggi.


"Gael, mama tidak suka jika kau menilai orang dari segi status nya saja! " Bentak Mita menasehati putranya itu.


"Semua orang itu sama Gael dimata sang Pencipta! " Terang Mita meredam emosinya.


"Maaf. " Hanya itu yang keluar dari mulut Gael.


"Mama tidak butuh kata maaf keluar dari mulutmu itu, mama ingin kau memikirkan sedikit saja apa yang mama katakan pada mu barusan. "Ucap Mita menekan setiap perkataan nya.


Gael pun tidak ingin membantah ucapan mamanya itu yang hanya akan memperpanjang perdebatan diantara mereka. Jalan satu-satunya hanyalah diam agar tidak terkena masalah dari setiap ucapan yang ia katakan.

__ADS_1


Sementara Daren diam-diam memperhatikan raut wajah tuannya itu dari kaca spion yang ada di depannya. "Sesekali menikmati wajah tuan yang dibawah tekanan dari nyonya besar sungguh menyenangkan." Gumam Daren dalam hati menatap puas pemandangan dari raut wajah tuannya itu.


Bersambung!


__ADS_2