
Gael masih duduk diam setelah Tian meninggalkan ruangannya, memikirkan ucapan Tian. setelah memikirkan nya akhirnya Gael bangkit dari duduknya. "Daren kau hendel pekerjaan ku! " perintah Gael sebelum ia meninggalkan ruangannya. "Baik tuan. " Daren membungkukkan badannya kemudian mengikuti Gael keluar dari tempat itu.
"Aku akan pergi kerumah sakit kau tak perlu ikut! " Terang Gael kemudian secepat mungkin ia mengejar Tian berharap Tian masih berada dibawah.
Dari kejauhan Gael melihat Tian keluar dari perusahaannya, berjalan kearah mobilnya. Gael berlari menghampiri Tian.
"Tunggu! " Gael berhenti begitu sudah berada didepan mobil Tian sementara Tian baru saja ingin meninggalkan tempat tersebut.
Tian pun merasa lega melihat Gael mengejarnya. "Masuk lah! " suruh Tian mengeluarkan kepalanya dari kaca mobil.
Didalam mobil sepanjang perjalanan Gael hanya diam sambil menatap lurus kedepan. Sekilas Tian melirik kearah Gael. "Kau jangan senang dulu, aku ikut dengan mu bukan berarti aku sudah memaafkan kalian berdua! " Sinis Gael yang menyadari jika Tian sedang memperhatikan dirinya.
"Aku tau itu. " Jawab Tian singkat tanpa menoleh kearah Gael dan tetap pokus pada kemudi nya.
🍀🍀🍀
Dirumah sakit.
Tian membuka pintu ruang dimana Kiren sedang dirawat. "Masuklah! " suruh Tian kepada Gael. Gael pun mengikuti Tian dari belakang memasuki sebuah ruangan yang didalam nya terbaring sosok Kiren.
"Sepertinya dia sedang tidur. " Ucapan Tian mengecilkan suaranya agar tidak membangunkan Kiren.
Gael mendekati Kiren yang sedang terbaring lemah disana. Perasaan marah yang selama ini Gael rasakan runtuh seketika setelah melihat wajah pucat Kiren berganti dengan rasa iba.
"Kau lihat, inilah alasan ku selama ini ingin menemui mu! Kiren sungguh tak berdaya saat ini dan mungkin umurnya tidak akan panjang lagi. Aku mohon disisa waktunya tolong maafkan lah kami dengan begitu Kiren akan merasa bahagia disisa hidupnya. " Lirih Tian sambil memandangi wajah pucat Kiren.
__ADS_1
Tian duduk di samping ranjang Kiren. Mengambil tangan Kiren dan menggenggnya dengan lembut.
"Apa kau begitu mencintainya? "tanya Gael menatap wajah Tian dengan sendu.
"Awalnya aku tidak ada perasaan sama sekali kepadanya. Namun seiring berjalan waktu aku memutuskan untuk belajar membuka hati ku kepadanya sama seperti yang dilakukan oleh Kiren. Namun setelah aku jatuh cinta kepadanya barulah aku tau jika Kiren mempunyai hubungan dengan mu sebelum kami bertunang. " Jelas Tian tak mengalihkan matanya dari wajah pucat Kiren.
Gael melangkah kan kakinya mundur hingga ia berada di belakang Tian. Sungguh ia tak sanggup melihat keadaan Kiren yang begitu menyedihkan itu. Wanita yang pernah mengisi hatinya kini terbaring lemah didepan matanya. Ada rasa menyesal kenapa ia baru datang diwaktu seperti ini bahkan selama ini ia selalu menghindar setiap Tian ingin menemuinya.
Perlahan Kiren mulai mengejap-erjapkan matanya terbangun dari tidurnya. "Kau sudah bangun? " tanya Tian penuh dengan kelembutan.
"Emmm.. " Sahut Kiren terdengar lemah. Kiren yang belum menyadari kehadiran Gael disana menatap wajah Tian. "Apa dia masih tidak mau menemui ku? " tanya Kiren membelai wajah Tian.
"Apa kau tidak melihatnya?" Tian mengarahkan pandangannya ke Gael yang ada di belakangnya.
Kiren tersenyum begitu melihat Gael berada dibelakang Tian. "Kalian bicara lah dulu aku akan tunggu diluar. " Terang Tian berdiri dari duduknya dan meninggalkan Kiren dan Gael didalam ruangan itu.
Gael mendudukkan dirinya dikursi yang digunakan oleh Tian sebelumnya. "Maaf baru sekarang aku menemui mu. " Ucap Gael mengabaikan pertanyaan dari Kiren.
Kiren memaksakan senyumannya. "Maaf" ucap Kiren dan tanpa ia sadari buliran bening mengalir dari sudut matanya.
"Maaf kan aku, sungguh aku tak bermaksud menyakiti mu saat itu. Aku hanya tidak ingin mengecewakan orang tuaku. " Lirih Kiren terisak.
Gael menghapus air mata Kiren yang membasahi wajah pucat nya. "Sudah kau tak perlu meminta maaf pada ku. Jauh sebelumnya aku telah memaafkan mu hanya saja butuh waktu untuk ku menata kembali hati ku. " Jelas Gael menatap penuh iba pada wanita yang pernah ia cintai itu.
"Terima kasih. Setalah mendengar kau telah memaafkan ku, aku merasa lega dan bila sudah waktunya aku akan pergi dengan tenang. " Lirih Kiren berusaha bersikap tegar menghadapi keadannya.
__ADS_1
"Kau jangan bicara seperti itu!" Peringatan Gael menggenggam tangan Kiren memberikan semangat kepada wanita itu. Kau harus kuat, aku akan ada disamping mu, mendukung mu bila perlu aku akan membawa mu berobat ketempat yang terbaik. " Terang Gael tak ingin melihat Kiren putus asa dengan kesembuhannya.
"Kau tak perlu melakukannya untuk ku, karna aku sudah menerima kenyataan bahwa hidup ku tidak akan lama lagi. " Lirih Kiren.
"Kau jangan bicara seperti itu! kau pasti sembuh! " tegas Gael. Kiren pun tersenyum mendengar setiap kata dukungan dan semangat yang di ucapkan oleh Gael kepadanya.
Sementara dibalik pintu Tian merasa sangat bersalah karena kehadirannya didalam hidup Kiren menjadikan wanita itu menderita dan merelakan kebahagiannya bersama dengan orang yang sangat ia cintai. Walaupun sesungguhnya ia tak bersalah sepenuhnya disini tetap saja Tian menyalahkan dirinya.
"Jika bersama dengan Gael adalah kebahagiaan mu maka aku akan merelakan mu dengannya. " Gamam Tian dalam hati.
Tak lama kemudian Gael membuka pintu dan memanggil Tian masuk ke ruangan dimana Kiren sedang dirawat. "Aku pulang dulu. Kau temanilah Kiren di sini! besok aku akan datang kembali melihat keadaannya. " Ucap Gael menatap kearah Tian dan Kiren bergantian.
"Baiklah. " Ucap Tian sambil mengangguk kan kepalanya.
"Kalau begitu aku pamit. "
"Terima kasih sudah meluangkan waktu mu. " Ucap Tian.
"Tidak masalah, sebagai teman aku akan senang membantu! " Gael menepuk bahu Tian. Kemudian Gael pergi keluar dari tempat itu meninggalkan Kiren dan Tian disana.
"Apa kau bahagia? " tanya Tian mendekati Kiren.
Kiren hanya tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya. "Bagus lah jika kau bahagia maka aku juga akan bahagia. " Ucap Tian memandang sendu akan Kiren yang hanya terbaring di ranjang rumah sakit.
"Jika aku bisa memilih pada waktu itu aku tidak akan mau menerima pertunangan itu. Dengan begitu kau tidak akan merasakan sakit seperti ini. " Ucap Tian menyesali keputusan nya sendiri dimasa lalu.
__ADS_1
"Kenapa kau bicara seperti itu? penyakit ini bukan karna kau dan aku bertunang. Ini sudah takdir ku, jadi tolong jangan menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi pada ku saat ini. Aku beruntung menjadi tunangan mu dan aku bahagia untuk itu dan semua apa yang kau lakukan terhadap ku dan terima kasih sudah menjadi tunangan yang baik untukku selama ini. " Ucap Kiren membantah ucapan Tian.