
"Maaf nyonya. Jika ingin mendapat masalah tolong jangan melibatkan saya. Karna tuan Gael tidak akan mengampuni nyonya jika beliau tau anda hanya berpura-pura." Peringat pak Agus.
Nia menghentakkan kakinya, merasa kesal dengan pak Agus yang menolak membantunya. "Kenapa harus aku yang datang mengantarkan makan siang untuknya? bukan kah ia memiliki begitu banyak pelayan disini? " Nia terus menggerutu sampai ia memasuki kedalam kamarnya. Menggantikan pakaiannya sebelum ia pergi ke kantor Gael.
"Ini nyonya. " Pak Agus menyerahkan rantang yang sudah disiapkan oleh pelayan sebelumnya. Nia mengambilnya dengan sedikit kasar karena merasa masih kesal dengan pak Agus. Padahal pak Agus hanya berperan sebagai penyampai perintah saja dari tuan Gael namun Nia justru melampiaskan kekesalannya kepada pak Agus. Tentunya demikian mana mungkin ia berani dengan tuannya itu.
Nia menghela nafasnya sebelum turun dari mobil. Manatap gedung yang menjulang tinggi itu dengan rasa kagum. "Pak, mungkin aku agak lama. Tidak apakan jika bapak menunggu? " Ucap Nia kepada supir yang membawanya. "Tidak apa nyonya. Saya akan menunggu anda di parkiran. " Supir itu sedikit terkejut dengan ucapan dari nyonya tersebut. Pasalnya ia pasti akan menunggu Nia walau tanpa ia memintanya.
"Terima kasih pak. " Nia mengeluarkan senyumannya.
Supir itu hanya menganggukkan kepalanya sembari ikut tersenyum.
Ragu Nia melangkah kan kakinya memasuki gedung itu. Berjalan menuju meja resepsionis. "Permisi. " Nia menyapa wanita cantik yang ada dibalik meja itu.
"Ia. Ada yang bisa saya bantu? " Resepsionis itu seperti sedang berusaha berpikir. Seperti sudah pernah melihat wanita yang ada di hadapannya.
"Saya mau mengantarkan makan siang untuk tuan Gael." Nia menjelaskan maksud kedatangannya.
"Baik. Akan saya sampaikan. Dengan nona siapa? "
"Nia. " Jawab Nia singkat.
"Anda tunggu sebentar. " Lalu wanita yang bernama Yuni itu menelpon Daren untuk memberitahu kan kedatangan Nia.
"Nona sebentar ya, pak Daren akan turun menjemput anda." Yuni mempersilahkan Nia duduk di kursi yang tak jauh darinya.
"Nyonya. " Daren datang. Nia berdiri dari duduknya. "Silahkan ikut saya nyonya." Ucap Daren. Sementara Yuni yang masih bingung dengan sebutan dari Daren untuk wanita itu mencoba menebak siapa sebenarnya wanita itu.
"Bukan kah dia wanita yang sama waktu itu?" Yuni mengingat bahwa Nia sudah pernah datang sebelum nya bersama dengan tuan Gael dan juga Daren.
"Silahkan nyonya. " Daren mempersilahkan Nia masuk setelah ia membuka pintu ruang kerja tuannya itu. Kemudian Daren menutup kembali pintu itu dari luar meninggalkan keduanya.
"Kau sudah datang? " Gael menghentikan pekerjaannya. Beranjak dari kursi kebesarannya menuju sofa yang ada di ruangan tersebut dengan tersenyum senang.
"Mana makan siang ku? " Sambil mendudukkan tubuhnya diatas sofa.
"Ini. " Meletakkan rantang nasi yang ia bawa.
Nia membuka satu persatu rantang tersebut. "Silahkan tuan. " Ucap Nia.
__ADS_1
"Kau mendekatlah. Jika kau duduk jauh disitu bagaimana kau bisa menyuapi ku? "
"Astaga dia seperti anak kecil saja. " Nia berpindah duduk kesamping Gael dan mulai menyuapkan makanan yang dibawanya tadi ke mulut Gael.
"Apa kau sudah makan siang? " tanya Gael di sela-sela makannya. "Sudah tuan, tadi sebelum kesini. " Nia kembali menyendokkan makanan itu kemulut Gael.
"Benarkah? "
"Ia tuan. "
Gael memakan makan siangnya dengan sangat lahap. Nia menyodorkan botol air mineral kepada Gael. "Ini minumnya. " Gael menerima botol minum itu kemudian meneguk air itu beberapa kali sebelum meletakkannya diatas meja.
Nia membereskan rantang makanan itu. "Aku pamit dulu tuan. Kasihan supir yang membawa ku kemari sudah menunggu sedari tadi."
"Kau mau kemana?
"Ha? " Nia menatap Gael.
"Kau jangan pulang dulu. Tunggu aku sampai selesai dengan pekerjaan ku. "
"Baik tuan. " Nia memilih untuk menuruti keinginan tuannya itu. "Tapi tuan supir itu sudah menunggu ku."
"Baiklah. "
Tok tok
Terdengar ketukan pintu dan tanpa menunggu ijin pintu itu sudah terbuka. Ternyata Daren yang datang. " Permisi tuan. " Daren masuk membawakan paperbag ditangannya lalu menyerahkan barang bawaannya itu kepada tuan Gael.
"Ini untuk mu. " Gael memberikan paperbag itu kepangkuan Nia. "Untuk ku? " Nia kebingungan menatap Daren seolah sedang bertanya apa ini.
Nia mengeluarkan sebuah kotak didalamnya. "Bagaimana, apa kau menyukainya? "
"Tapi ini? "
"Apa kau tidak menyukainya? " Kalau begitu biar Daren carikan yang lain untuk mu. " Gael hendak memberikan perintah kepada Daren yang masih setia berdiri ditempatnya.
"Bukan begitu." Nia terlihat gugup. "Aku rasa ini terlalu mahal untuk ku. " Nia menatap ponsel keluaran terbaru yang ada ditangannya. "Sudah lah itu sebagai ganti ponsel butut mu yang telah ku rusak sebelumnya." Ucap Gael.
"Tapi tuan tidak perlu menggantinya dengan ponsel mahal seperti ini."
__ADS_1
"Aku tidak suka penolakan! " tegas Gael yang membuat Nia tidak dapat berkutik.
"Baiklah, Terima kasih tuan. " Ucap Nia.
"Kau bisa berterima kasih dengan cara lain. " Seringai disudut bibir Gael.
"Cara lain? " Nia menatap Gael sambil mengerutkan keningnya.
"Ia cara lain. "
"Cara lain bagaimana? "
"Berterima kasih diatas ranjang misalnya." Gael mengedipkan satu matanya kepada Nia.
Nia terdiam. Otaknya sedang mencerna ucapan dari Gael. Berpindah menatap Daren meminta penjelasan. Namun yang ditatap hanya diam dengan ekspresi datarnya.
"Is kau ini. Aku sedang bertanya pada mu melalui tatapan mata ku ini. Tapi kau bahkan diam saja tak membantu ku." Gerutu Nia didalam hati tentunya.
"Bagaimana? " suara Gael memutuskan tatapan nya kepada Daren. "Bagaimana apa tuan? " tanya Nia yang belum sadar arah dan maksud perkataan Gael barusan.
"Kau ini. " Gael menunjuk kening Nia dengan jari telunjuknya. "Kau mau tidak berterima kasih diatas ranjang? " tanya Gael sekali lagi.
"Baik tuan. " Dengan sigap Nia berkata dan menganggukkan kepalanya.
"Bagus. " Gael tersenyum penuh kemenangan.
Sepersekian detik akhirnya otak Nia terhubung dengan maksud ucapan dari Gael. "Maaf tuan, apakah tidak ada cara lain? " Nia mulai panik.
"Kau sudah mengiyakannya tadi. " Ucap Gael acuh. "Tapi tuan. " Nia mencoba membujuk tuannya itu dengan sedikit memohon.
"Tidak ada tapi-tapian. Kau yang sudah mengiyakan dan kau harus bertanggung jawab dengan ucapan mu kepada ku."
"Nah kan. Aku seperti sedang dijebak barusan dengan kata-katanya tadi. Apa yang harus aku lakukan? Mengikuti sesuai keinginannya itu? tidak, tidak aku harus berusaha berpikir agar hal itu tidak terjadi lagi." Gumam Nia
"Persiapkan diri mu mulai dari sekarang. " Gael menggoda Nia sebelum ia berdiri dan kembali kemeja kebesarannya. Membuka beberapa berkas yang masih menumpuk disana.
"Baik tuan. " Nia menundukkan kepalanya tak berani melihat kearah Daren yang ikut mendengarkan pembicaraan mereka. Aku bahkan tidak bisa berkutik darinya. Membuat ku malu saja berbicara seperti itu sementara ada Daren disini bersama kami."
"Nia menghela nafasnya panjang. Semoga saja dia melupakan hal itu dan melupakan ucapannya itu." Nia mencoba menenangkan dirinya sendiri.
__ADS_1