Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Hukuman


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan? " Mengelap bibirnya yang sedikit basah bekas bibir Gael. Gael memajukan langkahnya mendekati Nia. "Kau masih bertanya apa yang kulakukan? " Menatap tajam wajah Nia.


"A-aku keluar dulu. " Berbalik menuju pintu kamar. mandi. "Tunggu" Gael menahan tangan Nia. "Apa? " ucap Nia tanpa membalikkan badannya menghadap Gael. Merasa situasinya tidak bisa ditebak olehnya.


Tanpa berkata apapun Gael memeluk Nia dari belakang. "Apa kau tidak menyadari perasaan ku kepada mu? " masih tetap memeluk tubuh Nia.


Deg


Nia menggigit bibir bawahnya. Mencoba mencerna apa yang baru saja didengarnya. "Apa ini? kenapa dia berkata seolah dia mencintai ku? tapi itu tidak mungkin. " Menipis semua yang ada dipikirannya.


Gael membalikkan tubuh Nia menghadap kepadanya. "Kenapa kau diam saja? "


"A-aku.. " Nia keluar dari kamar mandi berjalan dengan cepat takut jika Gael menghalanginya lagi. "Jangan harap kau bisa lepas setelah apa yang kau lakukan. Aku tak akan membiarkan mu keluar dari dalam kamar ini begitu saja." Gumam Gael.


"Mau kemana? " Selidik Gael ketika Nia meraih gagang pintu kamar. "Aku mau menemui mama. " Ucap Nia. "Kau tidak bisa keluar dari kamar ini karna aku belum selesai bicara dengan mu. " Gael mengunci pintu kamar. "Aku tidak akan mengijinkan mu keluar dari kamar sebelum kau mendapatkan hukuman mu. "


"Hukuman? " Nia mengerutkan keningnya.


"Ia hukuman atas perbuatan mu. Aku bahkan tidak lagi menyentuh mu setelah terakhir kalinya dan kau berani melakukan hal bodoh semacam itu. " Menarik tangan Nia menjauh dari pintu. "Sekarang aku ingin mendapatkan hak ku sebagai suami mu. "Mendorong tubuh Nia ke dinding kamar. Mengunci pergerakan Nia dengan kedua tangannya menghimpit tubuh Nia.


Mendekatkan wajahnya ke wajah Nia. Kedua bola matanya tertuju kepada bibir Nia seakan ingin mengulang menyatukan bibirnya disana. Semakin lama semakin dekat dan cup. Menempelkan bibirnya sementara Nia memejamkan matanya menikmati sentuhan itu.


Seakan melupakan semua keraguannya. Gael memperdalam ciumannya mencoba semakin menuntut. Menggiring Nia keatas tempat tidur tanpa melepaskan pa****** bibir keduanya.


Gerakan Nia mengikuti gerakan Gael. Mulai menjatuhkan tubuhnya dengan perlahan. "Tunggu. " Nia mendorong tubuh Gael menjauh darinya. "Ada apa? " tanya Gael menahan hasratnya.


"A-aku.. "

__ADS_1


"Sudah ku bilang kau akan menerima hukuman atas perbuatan mu. " Suara Gael terdengar parau. Kembali lagi melanjutkan kegiatan panasnya. "Buka mulut mu! " suruh Gael karna Nia tak kunjung melakukan kemajuan dengan adegan ciuman mereka.


Dengan patuh Nia melakukan seperti apa yang dikatakan oleh Gael. Membuka sedikit mulutnya dan tanpa menunggu lama Gael memasuki melakukan keinginannya.


Pikiran Nia menolak untuk melakukan nya namun tubuhnya berkata lain. Menginginkan sesuatu yang menjalar di sekujur tubuhnya. Apa lagi kali ini Gael melakukannya dengan lembut berbeda dari biasanya.


Dan sore itu pun mereka habiskan dengan memadu kasih. Nia menutup tubuhnya dengan selimut begitu Gael selesai melakukannya. Gael yang sedang berbaring disebelah Nia menarik selimut itu dari tubuh Nia. Dengan sigap Nia menahan selimutnya.


",Aku bahkan sudah melihat semuanya untuk apa kau menutupinya lagi dari ku." Gael tetap menarik selimut itu sampai memperlihatkan tubuh Nia.


Gael memiringkan tubuhnya memeluk tubuh Nia yang sama-sama polos dengannya. "Lepaskan. " Nia mencoba melepaskan tangan Gael yang sudah mendekapnya.


"Tidak mau. " Gael malah mempererat pelukannya dan terjadilah kembali kegiatan panas keduanya.


Nia turun dari tempat tidur dengan terburu-buru untuk menghindari Gael akan kembali menyerangnya. Menarik selimut dan melilitkan nya ditubuhnya. Secepat mungkin bergerak berjalan memasuki kamar mandi tanpa memperdulikan Gael yang terus menatapnya sambil tersenyum.


Keluar dari dalam kamar mandi Nia melihat kearah Gael yang sedang tertidur diatas tempat tidur. "Kau bahkan bisa tertidur sekarang sementara aku merasa badan ku remuk semua karena ulah mu. " Gerutu Nia sambil mengambil pakaiannya didalam lemari. Selesai memakai pakaiannya, Nia menutup tubuh Gael dengan selimut namun tiba-tiba Gael menarik tangannya. Melingkarkan tangannya dibadan Nia.


"Kau sudah bangun? " tanya Nia waspada jika Gael melakukannya lagi.


"Umm. " Tanpa membuka matanya.


"Kau mandilah lebih dulu aku ingin menemui mama. " Terang Nia melepaskan tangan yang melingkar di punggungnya.


Tanpa menunggu jawaban dari Gael. Nia meninggalkan Gael didalam kamar. Tujuannya adalah kamar mama Mita. Ingin menjelaskan kenapa ia melakukan hal yang membuat Mita kecewa kepadanya.


Tok tok

__ADS_1


Nia mengetuk pintu kamar Mita. Membuka pintu setelah mendapat ijin dari dalam kamar. "Mah. " Nia berjalan mendekati Mita diatas tempat tidurnya. Berdiri disamping ranjang dengan menundukkan kepalanya tanpa berani melihat kearah Mita yang sedang duduk bersandarkan bantal di punggungnya.


"Ada apa? " Mita meletakkan majalah yang ada ditangannya kemudian menatap Nia yang berada di dekatnya.


"Mah, aku tau aku salah. Melakukan hal yang membuat mama kecewa tapi aku punya alasan tersendiri kenapa aku melakukan itu." Terang Nia.


"Apa alasan mu melakukan itu? "


"Aku dan Gael menikah bukan atas dasar cinta. Aku hanya melakukan hal itu demi kebaikan ku. Aku tidak ingin Gael berada disisi ku hanya karena terpaksa. Apa aku salah jika aku serakah mengharapkan ia akan mencintai ku? " Lirih Nia.


"Tidak. Kau tidak salah." Mita mengulurkan tangannya menuntun Nia untuk ikut duduk bersama dengannya diatas ranjang. "Mama tau kau melakukan itu karena apa. Dan tak perlu merasa bersalah terhadap mama. Sekarang kau bisa memutuskan apa yang terbaik untuk mu. Mama tidak akan memaksa mu lagi bertahan disisi Gael. " Terang Mita merasa bersalah kepada menantunya itu.


Mita tau bagaimana selama ini Gael memperlakukan Nia dibelakangnya. Dan kali ini Mita merasa tidak tega jika Nia mendapat perlakuan kurang pantas dari putranya itu.


Mita memeluk Nia. "Mama akan menyerahkan semua keputusan ditangan mu. " Ucap Mita mengurai pelukannya.


"Mama jangan bicara seperti itu." Menggenggam tangan mertuanya itu dengan lembut. "Aku akan bertahan disisi Gael. Tapi aku tidak akan bisa memaksanya untuk tetap bertahan disisi ku. " Lirih Nia.


"Aku tidak tau bagaimana perasaannya terhadap ku. Tapi kadang ia memperlakukan ku dengan baik hingga aku terbuai akan sikap baiknya kepada ku tapi adakalanya dia bagaikan orang asing bagi ku. Kemarahannya hanya karena sesuatu yang tidak tidak aku mengerti. " Nia mencurahkan semua perasaannya kepada mama Mita.


"Mama rasa Gael sudah mencintaimu namun ia tidak menyadari perasaannya. " Terang Mita.


"Mama jangan memberiku sebuah harapan yang pada akhirnya membuat ku kecewa. " Lirih Nia menundukkan kepalanya.


"Maaf nyonya, tuan Gael memanggil anda. " Pak Agus berdiri di depan pintu kamar mama Mita yang tidak tertutup.


"Apa? " Nia beranjak dari duduknya. "Baru saja aku terlepas darinya sekarang sudah memanggil ku kembali." Gerutu Nia didalam hati.

__ADS_1


__ADS_2