Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Meminta penjelasan.


__ADS_3

Gael membuka pintu kamarnya dengan sedikit kasar membuat Nia terkejut. "Kau! sedang apa tadi kau disana? " tanya Gael begitu berada didalam kamar.


"A-aku.. "


"Aku apa ha? " Gael mulai mendekati Nia yang sedang berada di sisi ranjang.


"A-aku hanya merasa bosan dan mengajak Pirdo untuk menemaniku kepantai. " Jawab Nia dengan terbata-bata.


"Benarkah? kenapa kau selalu saja keluar tanpa sepengetahuan ku? " selidik Gael menatap tajam kearah Nia.


"Aku tak bermaksud seperti itu. "


"Lalu apa namanya itu ha? " Gael meninggikan suaranya.


"Pernah kah tuan berpikir bagaimana aku melewati hari ku tanpa melakukan apapun? " Nia memberanikan dirinya untuk mengatakan hal itu.


"Untuk apa aku memikirkan hal itu? " sengit Gael.


"Benar, untuk apa anda melakukan itu? aku bahkan hampir melupakan siapa diri ku ini? " Nia tersenyum getir dibibirnya.


"Dan karna itu aku rasa tuan tidak perlu menyakan kenapa aku berada di sana? " karna jawapan nya kita berdua adalah orang asing yang terjebak dalam situasi ini." Nia menekan setiap perkataan nya.


"Apa maksudmu? dan tadi kenapa kau memeluk laki-laki lain didepan ku? " Gael mulai tak bisa mengontrol emosi nya.


"Laki-laki lain?"


"Ya, apa kau lupa jika aku ada disana dan menyaksikan apa yang kau lakukan tadi?"


"Maksud tuan Kak Tian? "


"Kanapa kau menanyakannya lagi?"


"Tuan, kak Tian sudah aku anggap seperti kakak ku sendiri. Apa salah nya jika aku memeluknya karna aku merindukan nya? "


"Benar, tidak ada salahnya. Jadi dengan begitu aku tau kalau kau sama saja dengan wanita murahan diluar sana! "


Nia sungguh tak percaya dengan apa yang didengarnya saat ini. Sakit hati tentunya Nia mendengar kata yang tak pantas diucapkan seorang suami kepada istrinya. Ah aku lupa jika Gael tidak mengganggap Nia sebagai istrinya.

__ADS_1


"Ya. Anda benar tuan. Aku memang wanita murahan seperti apa yang anda katakan. Sebutan apa lagi yang pantas untuk ku selain kata murahan. Karna aku memang wanita murahan yang tak bisa menjaga kehormatan ku dan menyerahkan kehormatan ku kepada pria yang bukan suami ku. " Nia tak lagi bisa menahan air matanya namun secepat mungkin ia menghapus air matanya, tidak ingin terlihat lemah di depan Gael.


"Kau mau kemana? " Gael menghentikan langkah Nia yang ingin keluar dari kamar itu. "Bukan urusan anda! " ketus Nia namun hal itu membuat Gael semakin marah.


"Berhenti! " suara berat Gael sangat menakutkan di telinga Nia namun Nia berusaha menenangkan dirinya sebelum membalikkan badanya menghadap Gael.


"Apa lagi? " kali ini Nia tidak lagi berkata sopan seperti biasanya.


"Siapa yang mengijinkan mu keluar dari kamar ini? " Gael menatap tajam kearah Nia yang sedang menatap Gael dengan keberaniannya. Entah apa yang ada dipikiran Nia namun yang jelas ia tidak lagi menundukkan kepalanya ketika berhadapan dengan Gael seperti biasanya.


Karna Gael melarang Nia untuk keluar, jadi Nia memutuskan untuk beristirahat saja. Nia naik keatas ranjang ingin merebahkan tubuhnya namun lagi-lagi Gael memancing perdebatan diantara mereka sebelum Nia sempat merebahkan tubuhnya.


"Aku belum selesai bicara! " Sengak Gael tak terima jika Nia tidur lebih dulu.


"Aku lelah! "


"Kau lelah karna seharian ini sudah pergi dengan laki-laki lain? "


"Aku lelah terkurung bersama dengan anda didalam mansion ini! aku juga butuh menikmati hidupku seperti orang lain. "


"Jika kau lelah berada disini, maka kapan saja kau boleh pergi dari mansion ini! " Ucap Gael tanpa memikirkan akibat dari ucapan nya itu.


Nia menangis tanpa suara dibawah selimut yang menutupi tubuhnya itu. Air matanya tak bisa berhenti mengalir dari sudut matanya.


"Kau jangan mengabaikan ku seperti ini! " Teriak Gael menarik kasar selimut yang menutupi Nia.


Nia yang masih terisak hanya diam saja tanpa menoleh kearah Gael. Sementara Gael terdiam mendapati Nia sedang menangis. Gael sebenarnya tidak tega melihat Nia menangis namun ego nya lebih dari apapun.


Memilih untuk membiarkan Nia terus menangis. Pernah kah tuan memikirkan sedikit saja tentang perasaan ku? pernah kah tuan berpikir berapa terlukanya aku dengan semua kata yang menyakitkan tuan tujukan pada ku? pernah kah sedikit saja tuan berpikir betapa beratnya hidup yang ku lalui setiap hari? " cecar Nia sambil terisak.


Nia turun dari atas ranjang, berjalan mendekati Gael. Aku juga sudah tidak sanggup hidup di istana megah mu ini! kenapa bukan sedari awal kau mengusir ku? dengan begitu hidup ku akan bebas, berbuat semau ku tanpa terkekang seperti ini! "


"Maka pergilah! "Ucap Gael terbawa emosi.


"Baik, aku akan pergi! Aku berharap suatu saat nanti kau tidak akan menyesali kepergian ku." Lirih Nia.


"Tidak akan. Aku tidak akan menyesali nya. " perkataan Gael itu sungguh menghancurkan hati Nia.

__ADS_1


Tanpa menunggu lebih lama Nia keluar dari kamar tersebut dengan membantingkan pintu kamar dengan begitu kuat.


Gael pikir Nia tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya barusan. Beranggapan jika Nia tidak akan berani meninggalkan mansion karena Nia tidak mempunyai tempat tinggal selain di mansion.


Nia berlari keluar dari mansion tanpa sepengetahuan siapa pun. Bahkan ia keluar tanpa membawa apapun. Nia berlari keluar dari gerbang mansion, berlari sejauh mungkin dari jangkauan Gael.


Setelah cukup jauh berlari Nia berhenti di trotoar jalan, memperhatikan penampilannya yang hanya menggunakan baju tidur dan sandal jepitnya.


"Aku harus kemana? "Nia bingung kemana ia akan. pergi. "Pirdo. Hanya Pirdo tujuan ku satu-satunya. " Gumam Nia kemudian ia kembali berjalan menyusuri jalanan dimalam itu.


Gael terus memikirkan ucapan Nia, entah kenapa hati dan ucapan Gael sangat bertolak belakang.


🍀🍀🍀


Keesokan harinya.


Gael yang baru saja turun dari kamarnya menghampiri pak Agus di meja makan. "Dimana Nia? " tanya Gael yang tak melihat keberadaan Nia di meja makan.


"Nyonya belum ada turun dari kamar tuan. " Terang pak Agus.


"Apa? coba kau cari keberadaan nya karena tadi malam Nia tidak tidur di kamar ku." Perintah Gael kepada kepala pelan mansion.


"Baik tuan. " Pak Agus hendak mencari Nia namun langkahnya terhenti ketika melihat Halima berjalan hendak kembali kebelakang.


"Halima.. " Panggil Pak Agus.


"Ia, ada yang bisa saya bantu pak Agus?" tanya Halima dengan sopan.


"Apa nyonya berada di kamar mu? tolong kau panggilkan nyonya untuk sarapan bersama dengan tuan Gael." Pinta pak Agus.


"Nyonya tidak ada di kamar ku. " Sahut Halima bingung.


"Benarkah? " pak Agus tampak ragu. "Jika tidak ada di kamar mu lalu nyonya pergi kemana? " Selidik Pak Agus kebingungan.


"Coba saya bantu carikan, siapa tau nyonya sedang berada di taman belakang." Ucap Halima meninggalkan pak Agus.


"Maaf tuan, nyonya tidak ada di kamar Halima. " Jelas pak Agus menghadap tuannya itu yang sedang menikmati sarapannya.

__ADS_1


"Maaf pak Agus nyonya tidak ada di taman belakang." Halima yang baru mencari keberadaan Nia.


"Lantas kemana dia? " selidik Gael menghentikan sarapan nya.


__ADS_2