Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Sekilas kehidupan Daren


__ADS_3

Serli yang merasa tidak terima atas penolakan Gael mengemudikan mobilnya meninggalkan perusahaan Gael. Mencengkram erat stir mobil sambil memikirkan cara baru mendapatkan hati Gael.


"Aku tidak terima dengan semua ini. Selama ini aku bersabar namun apa yang aku dapat sekarang? kali ini aku tidak akan membiarkan wanita lain menang dari ku. Karna hanya aku yang akan bersama dengan Gael apapun caranya aku harus memisahkan mereka. " Pekik Serli dengan sorot mata penuh kemarahan.


Sesekali ia memukul stir mobil melampiaskan kekesalannya. Apalagi jika mengingat Daren yang membawanya keluar secara paksa. "Tunggu saja kau asisten sialan. Aku akan membalas perbuatan mu padaku tadi. " Gerutu Serli.


"Daren, pastikan Serli tidak berbuat seperti ini lagi. " Tegas Gael memerintahkan Daren mengatasi Serli.


"Baik tuan. " Daren membungkukkan badannya.


"Dasar wanita tak tau diri, merepotkan ku saja. " Gerutu Daren dalam diam.




Nia menuruni tangga setelah beberapa jam menghabiskan waktu nya hanya berada didalam kamar. Nia menoleh kearah jendela kaca yang tebus keluar mengarah halaman depan mansion. "Ternyata sudah hampir gelap." Nia menyadari dia sudah terlalu lama tidur didalam kamar melewatkan waktu sampai hari hampir magrib.



Berjalan menuju dapur, tujuannya kali ini adalah lemari pendingin. Mengambil sebotol minuman dingin, meneguknya sampai hampir setengah botol.



"Apa kau begitu haus? " Suara yang sudah sangat ia kenali. Memutar badannya kearah sumber suara masih dengan mulut botol yang menempel pada mulutnya.



"Brut" Nia menyemburkan minuman dari dalam mulutnya mengenai wajah Gael.



Gael mendesah kesal. "Maaf, maaf aku tidak sengaja. " Nia meletakkan botol minumannya dimeja makan kemudian mengambil tisu dan membersihkan wajah Gael yang basah akibat ulahnya.



Gael menarik wajahnya menjauh dari tangan Nia. "Sudah. " Ketus Gael. Nia menatap Gael dengan penuh rasa bersalah. Menggigit bibir bawahnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.



Gael berbalik dan pergi begitu saja. Nia yang merasa akan terjadi sesuatu segera mengikuti Gael dari belakang. Gael menoleh kearah Daren yang sedang menahan tawanya.



Nia yang berjalan sambil menunduk, menabrak punggung Gael ketika sang pemilik punggung menghentikan langkahnya secara tiba-tiba.



"Aw. " Nia mengelus keningnya.



"Kau mentertawakan ku? " Melemparkan tatapan membunuhnya kepada Daren.



"Maaf tuan. " Daren menundukkan kepalanya tak berani menatap mata yang sedang menatapnya.



Gael kembali melanjutkan langkahnya setelah memperingatkat Daren. Daren mengeluarkan suara tawanya begitu tuan Gael sudah menaiki tangga yang disusul boleh Nia dari belakang.



"Kapan lagi aku mentertawakan mu tuan jika tidak kali ini. Kau sungguh berbeda ketika sudah berada bersama dengan nyonya. " Ujar Daren sambil mengarahkan pandangan matanya mengikuti tuannya.


__ADS_1


"Ada apa tuan? " Halima yang baru datang dari rumah belakang melihat Daren yang sedang tersenyum sendiri.



"Ehem. " Daren berdehem kemudian menoleh merah Halima. "Tidak ada apa-apa. " Ucapnya.



"Tidak ada apa-apa bagaimana? jelas-jelas aku melihat anda tersenyum barusan. " Pekik Halima merasa penasaran.



"Kau sudah bosan bekerja? " tanya Gael penuh dengan arti.



"Tidak tuan. " Ucap Halima segera meninggalkan Daren.



"Dasar manusia aneh. " Gerutu Halima.



"Aku mendengar mu. " Ucap Daren.



"Apa tuan? " Halima membalikkan badannya dan memasang wajah pura-pura tidak mengerti yang dikatakan oleh Daren.



"Aku mendengar ucapan mu tadi. " Tegas Daren.




"Ck. Kau pikir aku percaya dengan pembelaan mu itu? " Daren menatap tajam Halima.



"Terserah anda saja tuan Daren. Kalau begitu aku permisi. " Halima membalikkan badannya membelakangi Daren sambil mengelus dadanya.



Baru dua langkah Daren meneriaki nya. "Hei, kau mau kemana? aku belum selesai bicara. " Bukannya menghentikan langkah kakinya Halima semakin mempercepat langkahnya dan semakin lama berlari menuju rumah belakang.



"Kau bilang tidak berbicara apa tentang ku tapi kau berlari menghindari ku. Kita lihat saja masih ada hari esok untuk mengerjai mu. " Gerutu Daren kesal kemudian ia segera bergegas ingin kembali ke apartemennya.



"Astaga! " Daren terkejut begitu membalikkan badannya melihat pak Agus yang berada tepat di depannya.



"Kau mengejutkan ku pak Agus! "



"Maaf tuan Daren. " Membungkukkan badannya sepertinya Pak Agus tau apa yang harus ia lakukan.



"Sejak kapan kau berada disini? " tanya Daren lagi.

__ADS_1



"Barusan saja tuan. " Memilih jawaban yang aman padahal pak Agus menyaksikan semua yang tejadi antara Halima dan Daren.



Dan tentu saja Halima berlari karna melihat sosok pak Agus dibelakang Daren takut jika pak Agus memberi hukuman kepadanya sudah berani berkeliaran di mansion dan mengganggu Daren.



"Is, kau ini. " Kesal Daren pergi meninggalkan pak Agus disana.



"Untung saja aku selamat dari kedua manusia itu. " Pekik Halima dengan nafas ngos-ngosan meraih gagang pintu kamarnya. "Hah." Menjatuhkan badannya diatas kasur miliknya.



Di tempat lain Daren yang sedang melajukan mobilnya menuju tempat tinggalnya. Butuh waktu tiga puluh menit dari mansion ke apartemennya. Memacu kendarannya melewati jalanan yang sedikit macet dari biasanya.



Biasanya tidak akan semacet sekerang, karna biasanya ia melewati jalanan sudah hampir larut malam. Tentunya tidak akan seramai sekarang dimana orang-orang masih banyak berlalu lalang.



Setibanya di apartemennya Daren memarkirkan mobilnya setelah itu naik menuju lantai paling atas tempat ia tinggal.



Ruangan yang sangat luas untuknya sendiri. Tertata rapi, setiap barang ditempatkan sesuai dengan keinginannya.



Mengambil minuman dingin untuknya dilemari pendingin. Meneguk air dingin melepaskan dahaganya. Berjalan menuju sofa sambil membuka ponselnya. Duduk sebentar disana sambil meneguk kembali minumannya.



Setibanya di apartemennya Daren tidak begitu saja dapat beristirahat. Ia harus memeriksa kembali beberapa laporan dimeja kerjanya. Memastikan tidak ada yang terlewatkan olehnya. Dengan begitu tuan Gael akan puas dengan cara kerja yang dilakukan oleh Daren.



Kesibukannya bekerja membuatnya melupakan kehidupan pribadinya. Memastikan segala kebutuhan tuan Gael terpenuhi sesuai dengan keinginannya.



Menjadi orang kepercayaan tuan Gael menjadi kebanggaan tersendiri baginya. Tentunya ia mendapatkan setimpal dengan apa sudah ia lakukan selama bekerja dengan tuan Gael



Setelah selesai memeriksa beberapa berkas, Daren meregangkan otot-otot tangannya. Memijit tengkuk lehernya sampai ke bahunya yang terasa pegal seharian ini bekerja.



Bergegas membersihkan diri sebelum ia beristirahat malam ini. Mengumpulkan tenaganya untuk kembali bekerja menghadapi berbagai masalah pekerjaan yang harus ditangani.



Daren perlahan menutup matanya menuju alam mimpi. Sekilas terlintas bayangan wajah yang sudah begitu lama ia rindukan. Wajah yang sudah tiga tahun lamanya tak dilihat olehnya.



Daren kembali mendudukkan dirinya diatas ranjangnya. Menggelengkan kepalanya mengusir bayangan itu.



"Ck. Sudah bertahun-tahun lamanya ternyata aku belum bisa melupakan mu. Kau masih saja terus berkeliaran dibenak ku sampai pada detik ini. Sementara kau sudah bahagia dengan kehidupan mu disana." Gumam Daren menarik nafas sebelum kembali membaringkan tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2