Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Episode 70. Daren datang tepat waktu


__ADS_3

Daren yang terus memikirkan Ica kini memutuskan untuk melajukan mobilnya menuju tempat tinggal Ica setelah mengantarkan tuannya Gael kembali ke mansion. Daren melajukan mobilnya dan berharap secepat mungkin tiba di tempat tujuannya bertemu dengan wanita yang ia cintai itu.


Namun sepertinya Daren harus bersabar lagi, jalanan yang macet mengharuskan ia menunggu lebih lama lagi dan hanya bisa menghela nafas panjang dimana perjalan yang biasanya hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit kini sudah hampir 30 menit ia diperjalanan namun belum juga tiba ditempat tujuannya.


Dari jarak lima meter Daren melihat dengan jelas Ica naik kedalam taksi yang sedang berhenti tepat didepan rumah Ica bersama dengan wanita paruh baya yang Daren tau itu adalah tante dari Ica. Wanita itu terlihat berpenampilan berbeda dari biasanya dan raut wajah Ica seperti tidak baik-baik saja.


Daren menatap taksi yang ditumpangi oleh Ica begitu kedua mobil tersebut berpapasan dan seketika itu Daren memutuskan untuk memutar arah dan mengikuti taksi tersebut. Entah kenapa Daren merasa harus melakukan hal tersebut tapi satu yang pasti ia hanya ingin memastikan jika wanita itu dalam keadaan baik-baik saja.


Cukup lama Daren mengikuti taksi tersebut sampai pada akhirnya taksi itu berhenti di sebuah hotel berbintang. Tante Sarah turun dari dalam taksi dan kemudian disusul oleh Ica. Keduanya berjalan memasuki hotel itu.


Daren yang penasaran untuk apa Ica ikut masuk kedalam hotel memutuskan untuk turun dari mobilnya dan diam-diam mengikuti mereka dari belakang.


Sarah memasuki sebuah kamar namun Ica masih diam berdiri didepan pintu kamar itu dengan perasaan gelisah tanpa tau harus berbuat apa. Tak lama kemudian Sarah keluar dari dalam kamar dan membentak Ica sehingga ia terkejut dengan suara Sarah.


"Kenapa kau masih diam disitu ha? " Ucap Sarah dengan penuh penekanan disetiap katanya. "Tante aku.." Belum sempat Ica menyelesaikan kalimatnya Sarah sudah lebih dulu memotong ucapannya. "Kau jangan banyak tingkah sekarang masuk! " perintah Sarah sambil menarik tangan Ica.


"Tante, aku mohon jangan. " Pinta Ica namun tidak dihiraukan oleh Sarah. Daren yang menyaksikan semua itu dari kejauhan tidak tenang dan segera mendekati pintu kamar yang merupakan dimana ada Sarah dan Ica berada.


Pintu kamar hotel yang tidak tertutup dengan rapat membuat Daren bisa mendengar semua apa yang sedang terjadi didalam sana. Terdengar suara berat dari seorang pria yang sudah menunggu kedatangan Ica.


"Bagaimana? sudah aku bilangkan aku tidak akan mengecewakan anda bukan? " Ucap Sarah sementara pria paruh baya yang mereka temui itu hanya menatap Ica dari atas sampai bawah dengan tatapan mesumnya tanpa berkata apa pun.

__ADS_1


"Sesuai dengan kesepakatan kita, semua hutang ku lunas dan sekarang aku meminta sisanya. " pinta Sarah tanpa ragu meminta bayar atas Ica yang sudah ia jual kepada pria hidung belang itu.


"Tante, aku mohon jangan seperti ini. " Ucap Ica memohon didetik-detik terakhir dimana ia akan dijadikan pemuas nafsu dari pria tua yang tidak sama sekali ia kenal itu. Namun Sarah tidak bergeming bahkan ia tak menoleh sedikit pun kepada Ica.


Pria itu memberikan sebuah amplop berwarna coklat berisi uang yang sudah ia siapkan sebelumnya kepada Sarah. Dan dengan cepat Sarah mengambil amplop tersebut dan memeriksa nya setelah memastikan uang itu ia pun segera memasukkannya kedalam tasnya.


" Baiklah, aku akan pergi sekarang dan selamat bersenang-senang tuan. " Pamit Sarah kemudian bangkit dari duduknya dan menatap Ica. "Kau jangan berani membuat masalah jika tidak aku tidak segen-segan akan membunuh mu! " Bisik Sarah kepada Ica sebelum meninggalkan kamar hotel itu.


Daren yang menyadari Sarah yang hendak keluar segera menjauh dari pintu itu dan berpura-pura sedang mencari sebuah kamar. Begitu Sarah menjauh dan memastikan Sarah tidak curiga terhadapnya segera ia berlari menuju kamar tadi dan dengan segera membuka pintu itu dengan kasar yang memang tidak terkunci sebelumnya.


Brak


Suara pintu kamar itu mengagetkan pria tua yang hendak memaksa Ica untuk melayani nafsunya. Sementara Ica segera mendorong tubuh pria itu yang sudah begitu dekat dengannya bahkan pria itu sudah hampir menarik pakaian Ica.


"Kau tidak perlu tau aku siapa! " Ucap Daren sambil melayangkan pukulan mengenai wajah pria tersebut. "Beraninya kau! " Sentak pria itu hendak membalas pukulan dari Daren namun dengan cepat Daren menghentikan tangan yang hendak membalasnya dan menghempaskan tangan tersebut dengan kasar.


"Jangan kau coba-coba menyentuh wanita ku! " Peringkat Daren.


Deg


Ica mendengar ucapan Daren seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan itu.

__ADS_1


"Aku sudah membayarnya. Jadi kau tidak punya hak menghentikan ku." Ucap pria paruh baya tersebut tak kalah sengit.


"Ck, kau itu memberikan bayaran kepada orang yang berbeda bukan kepadanya jadi itu urusan mu dan tidak ada kaitannya dengan wanita ku." Ucap Daren masih berusaha bersabar kemudian menarik tangan Ica meninggalkan pria itu begitu saja tanpa memperdulikan teriakan pria yang hampir menghancurkan hidup wanita yang begitu ia cintai.


Tanpa banyak bertanya Ica pun mengikuti langkah kaki Daren yang terus menggenggam tangannya. Dirasa sudah cukup jauh, Daren menghentikan langkahnya dan membuka jasnya kemudian menutup tubuh Ica dengan jas tersebut. "Pakai ini! " Ucapnya karena tidak ingin orang lain melihat tubuh Ica yang menggunakan pakaian sedikit terbuka dibagian atas seperti saat itu.


Ica menundukkan kepalanya karena merasa malu kerana Daren sudah menyaksikan hal itu. Kemudian Daren kembali meraih tangan Ica dan berjalan meninggalkan hotel tersebut.


Ica menatap wajah Gael dari samping sambil terus berjalan mengikuti langkah kaki Daren yang terus menggenggam tangannya. Sungguh hati Ica sangat tersentuh dengan perlakuan Daren.


Begitu berada diparkiran Daren membukakan pintu untuk Ica tanpa berkata apa pun kemudian setelah Ica berada didalam mobil ia juga ikut masuk kedalam mobil.


Kini Daren tengah melajukan mobilnya, suasana diantara keduanya terasa canggung karena tak satu pun dari mereka yang memulai pembicaraan. Ica yang menyadari jalan yang mereka lewati bukan merupakan jalan menuju tempat tinggalnya akhirnya angkat bicara.


"Kita mau kemana? " tanya Ica hati-hati. "Pulang. " Sahut Daren singkat. "Tapi ini bukan jalan menuju tempat ku tinggal. " Terang Ica.


"Siapa bilang kau akan kembali ketempat itu? " Ucapan Daren tanpa mengalihkan pandangan mata dan tetap fokus melihat kedepan.


"Maksudnya? " Bingung Ica atas ucapan Daren.


"Kau akan tinggal di apartemen ku sampai kau benar-benar aman untuk kembali kesana. " Tegas Daren.

__ADS_1


"Tapi.. " Ica hendak protes. "Tidak ada tapi-tapian. Ikuti saja apa yang aku katakan karna tidak menutup kemungkinan hal yang sama akan terjadi lagi. Mungkin hari ini aku bisa menyelamatkan mu tapi aku tidak tau besok aku bisa melindungi mu atau tidak jika kau tetap berada ditempat yang tidak seharusnya kau berada. "


Bersambung.


__ADS_2