Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Tian mengetahui kebenaran


__ADS_3

"Apa hubungan mu sebenarnya dengan Nia? "Ucap Tian penuh selidik.


Gael kembali duduk menatap Tian. "Apa aku perlu menjawab pertanyaan mu? " Suara Gael terdengar sangat menakutkan.


"Ck.. Kau tak perlu marah seperti itu. " Tian duduk didepan Gael sementara Nia masih berdiri tak jauh dari Gael.


"Nia kau duduklah. " Suruh Tian.


"Nia mengangguk, ikut duduk di samping Gael. " "Kenapa aku berada di tempat dan waktu yang sama dengannya tidak cukupkah hanya di mansion aku bertemu dengannya? " Gumam Nia melirik Gael.


"Kau tau, Nia sudah aku anggap sebagai adik ku. Karna itu aku ingin mengetahui hubungan apa yang kalian berdua tutupi dariku." Menatap wajah Gael penuh dengan harap.


"Kau sudah selesai bicara? " Ucap Gael.


Tian mengendus kesal. "Kenapa? " selidik Tian.


"Kak Tian, sepertinya aku harus pulang sekarang. " Nia tak nyaman dengan situasi seperti itu dimana Gael tidak mau menjawab pertanyaan dari Tian. Menjawab siapa Nia sebenarnya.


"Kau mau kemana? " Gael menoleh kearah Nia.


"A-ku mau pulang saja." Nia berdiri dari duduknya dan dengan sigap Daren juga ikut berdiri bersiap dengan perintah tuan Gael kepadanya jika nanti ia disuruh mengantarkan Nia.


"Nia adalah istri ku. "


Deg


Nia diam mematung, memiringkan kepalanya tak percaya dengan apa yang didengarnya dari mulut Gael. Dimana baru kali ini Nia mendengar Gael mengakui dirinya sebagai istrinya.


Nia memutar badannya menghadap Gael dan Tian yang masih saling menatap.


"Ternyata kecurigaan ku selama ini tidak salah. Jika kalian punya hubungan tanpa aku ketahui. Bahkan kalian pintar menyembunyikan hubungan kalian dengan baik. " Tian menatap Nia dan Gael secara bergantian.


"Aku turut bahagia dengan pernikahan kalian. Hanya saja aku sedikit kecewa, kenapa kalian menyembunyikan pernikahan kalian pada ku. "


"Kak Tian, kami tidak bermaksud seperti itu. Pernikahan kami terjadi karena.. " Ucapan Nia terhenti ketika Gael memotong ucapannya.


"Jadi kau memanggil ku hanya karena masalah ini? "


"Karena sebuah kesalahan. " Nia melanjutkan kalimatnya walaupun hanya didalam hati.


"Ya aku memanggil mu karena rasa penasaran ku dan juga aku tidak ingin melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya. "


"Apa maksud mu? " Selidik Gael.

__ADS_1


"Awalnya aku pikir Nia menganggap ku lebih dari sebagai seorang kakak baginya. Tetapi karena beberapa kejadian yang membuat ku penasaran sebelum aku menyatakan perasaan ku. " Terang Tian membingungkan semua orang termasuk Daren.


"Aku hampir saja mengambil Nia dari mu. " Ucap Tian tanpa beban.


"Beraninya kau! " Sorot mata tajam Gael penuh dengan kemarahan.


"Kak Tian.. " Lirih Nia mulai takut dengan situasi diruangan itu.


"Kau tenang saja. Aku hanya bercanda. " Tian tertawa sudah berhasil mengerjai Gael.


"Kita pulang. " Gael berdiri dan menarik tangan Nia keluar dari ruangan Tian yang diikuti oleh Daren.


"Kalian mau kemana? aku belum selesai bicara. " Setengah berteriak karena Gael mengabaikannya.


Daren yang sudah berada dipintu berbalik dan membungkukkan badannya kepada Tian sebagai tanda berpamitan.


"Lepaskan. Aku bisa berjalan sendiri. " Nia menghempaskan tangan Gael dari pergelangan tangannya.


"Kenapa? kau malu jika semua orang melihat aku menggandeng tangan mu? " Kesal Gael.


"Bukan begitu. Kau terlalu kuat mencengkram tangan ku dan itu bukan menggenggam namanya. "Protes Nia.


"Baiklah. " Gael kembali meraih tangan Nia kemudian menggenggam tangan Nia. "Begini kan maksud mu? "


Nia hanya melongo melihat kelakukan Gael yang tiba-tiba melunak. Padahal awalnya Nia sudah bersiap dengan kemarahannya.


"Kenapa kau bisa bersama dengan Tian? " Bertanya tanpa menoleh kearah Nia yang duduk di sampingnya.


"Apa perlu aku menjelaskannya lagi? kau kan tau dengan jelas ini hanya rencana kak Tian karna ingin mengetahui hubungan kita yang sebenarnya." Kesal Nia.


"Tapi kenapa kau pergi bersamanya tanpa memberitahu ku terlebih dahulu? "


Gael merasa tidak terima.


"Apa kau akan mengijinkan ku jika aku memberitahu mu? "


"Tidak. " Tegas Gael.


"Maka dari itu aku tidak memberitahu mu. Tapi aku sudah meminta ijin kepada mama sebelum aku pergi tadi."


"Tetap saja kau harus meminta seper setujuan ku meskipun mama sudah memberikan ijin kepada mu. "


"Kau ternyata keras kepala juga selain suka memaksakan keinginan mu sendiri. "Gerutu Nia.

__ADS_1


"Apa kata mu? " Gael menarik lengan Nia hingga tubuh Nia membentur dada bidang Gael.


Cup


"Itu hukuman untuk mu karna tidak mendengarkan perintah ku. " Melap bibir Nia dengan ibu jarinya yang sedikit basah bekas bibirnya.


Nia melirik Daren dari kaca spion mobil. "Kenapa? " Gael mengikuti arah sudut bola mata Nia. "Tidak perlu perdulikan dia. " Ucap Gael yang paham dengan apa yang ada dipikiran Nia.


"Ya, ya.. Kalian nikmatilah kebucinan kalian berdua. " Daren mengumpat dalam hati.


Merasa tidak enak kepada Daren yang menyaksikan perbuatan Gael barusan, Nia menjauhkan posisi duduknya dari Gael memberikan jarak aman untuknya. Takut jika Gael kembali berbuat sesukanya sementara ada Daren bersama dengan mereka.


Setelah itu suasana didalam mobil seketika hening. Daren yang sedang pokus dengan kemudi nya. Gael sibuk dengan ponselnya sementara Nia hanya melihat keluar dari kaca mobil.


"Nia. Mendekatlah dan lihat ini. " Merasa tak ada jawaban dari Nia, Gael pun menoleh dan ternyata Nia sedang tertidur.


"Astaga kenapa istri ku terlihat imut seperti ini? " Menutup ponselnya dan memasukkannya kedalam sakunya. Gael mendekatkan dirinya kemudian memiringkan kepala Nia menyandarkan di pundaknya.


"Daren, kita langsung ke mansion saja. " Perintah Gael.


"Tapi tuan. "


"Tidak ada tapi, tapian. Apa kau tidak melihat Nia sedang tertidur? mungkin dia kelelahan jadi kita ke mansion lebih dulu setelah itu kita kembali ke perusahan. " Perintah Gael tak ingin ditolak.


"Baik tuan. " Pasrah Daren mengikuti perintah tuannya itu padahal mereka sudah begitu dekat dengan perusahaan terpaksa harus putar balik.


"Nasib, Nasib. Jadi bawahan harus seperti ini. " Gumam Daren dalam hati.


"Nia, Nia." Gael membangunkan Nia dengan menepuk-nepuk pipi Nia dengan pelan. "Hum. " Nia terbangun dan membuka matanya. Mengarahkan pandangan matanya keatas melihat wajah Gael.


"Kita sudah sampai? " Nia memundurkan badannya dan melihat sekitar luar mobil. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Bukankah tadi kita akan ke perusahan tapi kenapa sekarang sudah ada di mansion? " Selidik Nia bingung.


"Kau tadi tertidur jadi aku memutuskan untuk mengantarkan mu saja lebih dulu."


"Maaf, aku jadi merepotkan."


"Apa kau lelah? " Gael tidak menanggapi ucapan Nia.


"Tidak. "


"Bagus, sekarang turunlah dan persiapkan diri mu untuk nanti malam. " Mendekatkan dirinya kepada Nia berbicara tepat ditelinga Nia.


"A-aku turun. " Ucap Nia dengan gugup.

__ADS_1


Begitu Nia turun dari mobil, Daren segera melajukan mobil meninggalkan mansion. Gael tersenyum mengingat wajah Nia ketika mendengar Gael memintanya untuk mempersiapkan diri untuk nanti malam.


"Dasar otak mesum. " Gerutu Nia


__ADS_2