
"Tuan... Turun aku! " Nia memukul-mukul punggung Gael sambil terus berteriak meminta untuk diturunkan.
Namun Gael tetap tidak mau mendengarkan teriakan Nia. Begitu sudah berada di kamarnya, Gael langsung menurunkan Nia diatas tempat tidur nya.
"Aku bukan karung beras kenapa tuan mengangkat ku seperti itu? " ketus Nia memalingkan wajahnya dari Gael yang terus menatapnya.
"Diam dan jangan kemana-mana! " perintah Gael kemudian ia hendak kekamar mandi dan Nia menggunakan kesempatan itu untuk kembali keluar dari kamar itu.
Namun Gael yang menyadari hal itu segera berbalik dan mengejar Nia yang hendak membuka pintu kamar tersebut. Gael managkap dan memeluk Nia dari belakang dengan erat sambil berjalan mundur menjauh dari pintu itu.
"Diam di situ! "tunjuk Gael begitu mendudukkan Nia kembali di pinggiran ranjang. Kemudian Gael mengunci pintu kamarnya dan menyembunyikan kunci pintu tersebut didalam saku celana nya.
"Tuan.. Tolong jangan seperti ini aku kan sudah minta maaf! " lirih Nia dengan wajah memohon ampun.
"Tapi aku menolak permintaan maaf mu itu! " Gael duduk disofa menghadap ke arah Nia.
"Kalau begitu terserah tuan, lakukan apa saja yang membuat tuan senang? " ketus Nia dan kali ini ia tidak lagi menundukkan kepalanya melainkan memberanikan diri untuk menatap wajah Gael.
Deg
Keduanya saling menatap satu sama lain. Pandangan mata mereka bertemu, membuat Nia jadi salah tingkah. Namun sejurus kemudian Nia mencoba mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Aku harap kau tidak lagi melakukan sesuatu yang tidak pantas dilakukan seseorang yang sudah menikah! " ucap Gael dengan suara datarnya.
"Aku tidak melakukan apa pun! dan jika aku melakukan hal demikian kenapa tuan marah? lagian aku tidak merugikan tuan kan? " Nia menatap bingung kearah Gael.
"Kau ini kenapa terus membantah? "
"Karna aku merasa tidak melakukan yang menurut ku salah. " Jawab Nia tak kalah sengit.
"Kau diam-diam menemui laki-laki lain sementara kau sudah menikah! Apa kau melupakan hal itu? "
"Aku tidak melupakan status ku tuan. Kenapa tuan harus repot-repot memikirkan sejauh itu? bukankah pernikahan kita hanyalah sebuah sandiwara? "
"Ya kau benar, tapi bukan berarti kau bisa bebas melakukan apa pun semau mu diluar sana! " peringatan Gael untuk kesekian kalinya.
"Ya ya.. Anda tuan nya disini jadi bisa kah tuan tidak lagi mempermasalahkan nya lagi? "
"Beritahu aku siapa laki-laki yang bersama mu tadi siang? "
"Dia Pirdo teman ku. " Terang Nia. "Tapi kenapa tuan bisa tau kalau aku bersama dengan nya? apa tuan mengikuti ku? " tanya Nia dengan percaya diri.
"Memangnya aku tidak punya pekerjaan lain? " elak Gael.
__ADS_1
"Jika tidak mengikuti ku, lantas dari mana tuan bisa tau kalau aku bertemu dengannya? "
"Kau, jangan lupa siapa aku? " ucap Gael berdiri dari duduknya mendekat kearah Nia yang masih duduk di sisi ranjang.
"Jika kau mengulanginya maka aku akan memberi mu hukuman! " bisik Gael di telinga Nia membuat tubuh Nia menegang merasakan hembusan nafas Gael.
Dengan cepat Nia bergerak untuk pindah ke sofa yang sebelumnya diduduki oleh Gael. Nia menggeleng kan kepalanya menipis pikiran kotornya. Membuat Gael tersenyum penuh kemenangan.
Gael yang baru keluar dari kamar mandi mengarahkan pandangannya ke sofa dan ternyata Nia sudah tertidur disana.
Gael mengambil pakaian nya didalam lemari, setelah mengenakan pakaian nya Gael menghampiri Nia yang masih tertidur dengan pulsanya diatas sofa tersebut.
Merasa kasihan Gael mengangkat tubuh Nia memindahkan keranjang miliknya namun Nia yang merasa tubuh nya melayang di udara, terbangun dari tidurnya.
Gael menurunkan Nia diatas ranjang kemudian ikut naik ke atas ranjang tersebut disebelah Nia. "Mau apa? " Nia mulai panik takut terjadi sesuatu pada dirinya.
Bukannya menjawab, Gael malah mentoyor jidat Nia. "Kau pikir apa ha? tidurlah! " suruh Gael kemudian membaringkan tubuhnya disamping Nia.
"Aku sebaiknya tidur disana saja! " Nia menunjuk sofa sambil menurun kan tubuhnya dari ranjang tersebut. Dengan gerakkan cepat Gael menarik tangan Nia hingga Nia terjatuh diatas dada bidang Gael.
Nia terpaku merasa tubuhnya bersentuhan dengan tubuh Gael. Sementara Gael menyunggingkan senyuman di bibir nya kemudian merengkuh tubuh Nia dengan posisi menyamping.
"Tidurlah!" suruh Gael dengan memeluk tubuh Nia dari belakang. Nia ingin memberontak namun tubuhnya menginginkan pelukan itu. Dan pada akhirnya Nia membiarkan tubuhnya menikmati pelukan dari suaminya nya tersebut.
__ADS_1
Gael mempererat pelukan nya dan menenggelamkan wajahnya di tengkuk leher Nia. Deru nafas Gael sungguh begitu menusuk tubuh Nia.
Jantung Nia sungguh berdegup dengan kencang, ada rasa yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata saat ini. yang ia tahu tubuhnya menginginkan pelukan itu. Pelukan dari suaminya sendiri, ia tidak ingin merusak suasana diantara mereka malam ini.
Tak berapa lama nafas Gael berubah menjadi teratur pertanda ia sudah terlelap. Nia membalikkan tubuhnya menghadap Gael yang masih memeluk tubuh Nia.
Nia membelai wajah teduh Gael, menyusuri setiap sudut wajah itu seolah sedang melukiskan wajah itu didalam hatinya. "Akan kah kau dan aku bisa bersatu? akan kah kau membuka hati mu untuk ku dan menerima ku sebagai istri mu? " lirih Nia memandangi wajah Gael.
Dan tak butuh waktu lama Nia juga ikut tertidur menyusul Gael ke alam mimpi.
Keesokan harinya Gael lebih dulu terbangun dari tidur panjang nya sementara Nia masih tertidur pulas didalam pelukan Gael.
Gael mengecup kening Nia dengan lembut dan cukup lama ia menahan bibirnya disana. "Aku tak tau perasaan apa ini? tapi aku marah jika melihat mu bersama dengan laki-laki lain. " Lirih Gael mengelus wajah Nia yang menurutnya cantik dengan keadaan. polos.
"Aku akan berusaha membuka hatiku untuk mu, dan berusaha menerima kenyataan bahwa kau dan aku terikat didalam satu hubungan yaitu hubungan pernikahan." Gael kembali berucap tanpa didengar oleh Nia.
"Maaf jika aku terlambat memutuskan hal ini! sejujurnya aku bingung dengan diri ku sendiri namun kali ini aku akan memantapkan hati ku untuk menerima mu sebagai istri ku dan menjadikan mu hanya milik ku. " Gael menarik nafas dalam sebelum ia melepaskan pelukannya itu dengan pelan agar tidak membangunkan Nia dari tidur nya.
Dan tentunya ia tidak tahan jika terus menempel dengan tubuh Nia. Ada sesuatu yang harus ia tidur terlebih dahulu didalam kamar mandi. Menidurkan Gael junior sebelum ia berangkat ke kantor tentunya.
"Untuk sementara aku akan melakukan nya dengan sendiri. tapi tidak untuk selanjutnya kau harus bertanggung jawab sudah membangunkannya? " Gumam Gael.
__ADS_1