Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Menghindar


__ADS_3

Nia yang merasa bosan hanya berdiam diri sedari tadi. Duduk disofa, sesekali ia melirik kearah Gael yang sedang sibuk dengan tumpukan kertas yang banyak didepannya.


"Sampai kapan aku harus duduk manis disini? " Nia menghela nafasnya.


"Ada apa? " Gael menatap Nia yang sedang gelisah. "Tidak ada tuan," Nia menundukkan kepalanya namun didalam hatinya tentu sedang mengumpat dan merutuki tuannya itu.


Gael kembali fokus dengan pekerjaannya. Sesekali ia mencuri pandang kepada Nia. Bukannya mempercepat pekerjaannya, Gael malah tersenyum senang melihat tingkah Nia.


Menyandarkan tubuhnya disandaran sofa, membuang nafasnya kasar kemudian duduk kembali. Sesekali mulutnya seperti sedang berbicara. Semua yang dilakukan Nia membuat Gael senyum-senyum sendiri dengan tingkah laku Nia yang sedang bosan dan menggerutu namun tak berani untuk protes.


Setelah merasa cukup untuk bermain-main dan membuat Nia kesal karena menunggunya seharian ini Gael pun menyudahi pekerjaannya.


Setelah beberapa jam lamanya menunggu tanpa melakukan apa pun akhirnya Nia dapat bernafas lega dimana ia terbebas dari berdiam dirinya menunggu Gael menyelesaikan pekerjaannya.


Nia duduk disamping Gael dikursi penumpang, sementara Daren mengemudikan mobil membawa tuan dan nyonyanya itu menuju mansion.


"Apa kau lelah? " tanya Gael menoleh kearah samping dimana Nia sedang memandang keluar kaca mobil. "Tidak tuan." Nia menoleh kearah Gael berusaha tersenyum secerah mentari. Pada hal hatinya sangat kesal dengan tuannya itu.


"Kau masih bertanya aku lelah atau tidak? seharian menunggu mu lebih baik aku disuruh membersihkan mansion mu dari pada aku harus berdiam diri seperti orang bodoh."


"Apa kau sedang kesal? "


"Ha? tidak tuan. " Sambil menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana ia tau kalau aku sedang kesal? apa aku memperlihatkannya dengan begitu jelas? aku rasa tidak. Tapi biarkan saja ia berpikir seperti itu. Yang terpenting aku menyangkal hal itu."


Mobil yang dikemudikan Daren akhirnya tiba dimansion. "Silahkan tuan. " Daren membuka pintu mobil untuk Gael. Gael pun keluar dari dalam mobil diikuti oleh Nia.


Nia terus mengikuti langkah kaki Gael sampai ke dalam kamar. "Bagaimana apa kau ingin melakukannya sekarang?" Gael mendekat, bahkan kini ia sudah memeluk tubuh Nia dari belakang.


"Maksudnya? " Nia berpura-pura tak mengerti dengan ucapan Gael. Gael membenamkan wajahnya di tengkuk leher Nia. Hembusan nafasnya begitu terasa menjalar ketubuh Nia. Jantung Nia berdegup lebih cepat dari biasanya.


Debaran itu sungguh berbeda, kali ini rasanya sangat jauh berbeda dari sebelumnya. Nia meraih tangan yang melingkar di tubuhnya. "Tuan, sebaiknya anda mandilah lebih dulu. Biar saya siapkan air hangat untuk anda."


Gael tak bergeming, ia mempererat pelukannya kepada Nia. "Tuan. " Nia kembali mencoba melepaskan diri dari Gael.

__ADS_1


"Aw.. " Rintih Nia merasakan gigitan kecil di lehernya. Menjauhkan kelapanya dari Gael.


"Baiklah. Aku akan mandi lebih dulu." Melepaskan pelukannya kemudian mengedipkan sebelah matanya.


Nia tertegun sejenak, melototkan kedua bola matanya. Memiringkan kepalanya kemudian membalikkan badannya menuju kamar mandi.


"Aneh. Kenapa aku rasa akhir-akhir ini dia begitu berbeda? "


Setelah selesai menyiapkan air hangat untuk tuan Gael, Nia keluar dari kamar mandi dan menghampiri Gael yang sedang duduk diatas sofa. "Sudah tuan. " Ucap Nia tak berani mengangkat kepalanya melihat Gael.


"Humm. " Gael beranjak dari duduknya melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Sementara Nia dengan langkah seribu bayangan secepat kilat keluar dari kamar itu.


Kali ini Nia berniat menghindar dari tuannya itu. Menerobos masuk kedalam kamar Halima yang ada di rumah belakang mansion.


"Hei, kau mau apa? " Halima terkejut dengan kedatangan Nia ke kamarnya.


"Sstt. " Nia memberi isyarat kepada Halima agar tidak berisik. "Aku menumpang mandi. " Nia masuk kedalam kamar mandi yang ada di kamar Halima tanpa menunggu Halima yang hendak berbicara.


Halima geleng-geleng kepala melihat tingkah Nia yang tetap apa adanya sama seperti sebelum ia menikah dengan tuan Gael. Mungkin Nia cukup tau diri dengan statusnya. Walau pun sudah menikah dengan Gael, Nia sadar bahwa pernikahan itu hanya karena keterpaksaan saja tidak atas dasar saling mencintai.


"Kenapa kau kemari? " Selidik Halima.


"Aku hanya tidak ingin berada dalam bahaya. " Nia ikut naik keatas tempat tidur bersama dengan Halima. Membaringkan tubuhnya disamping Halima.


"Ah, nyaman sekali. "


"Memangnya ada apa? " Halima terus mengorek apa yang sedang terjadi.


"Aku lelah." Nia mengalihkan pembicaraan.


"Is, kau ini? " Halima menendang kaki Nia.


Nia tidak tinggal diam, ia membalas menendang kaki Halima. "Sudah, aku mau tidur. " Ucap Nia ketika Halima hendak kembali membalasnya.


"Ya, ya. Kau tidurlah tapi bersiaplah untuk mendapatkan hukuman mu. " Peringat Halima. Namun Nia sudah tidak memperdulikan itu. Memilih memejamkan matanya secepat mungkin.

__ADS_1


"Dimana Nia? " tanya Gael kepada pak Agus begitu Nia menuruni anak tangga ke lantai bawah.


"Bukannya nyonya ada di kamar tuan? " ucap pak Agus hati-hati.


"Jika dia ada di kamar untuk apa aku bertanya. " Gael terlihat kesal dengan perkataan pak Agus barusan.


"Maaf tuan. Saya akan mencari nyonya sepertinya beliau ada dirumah belakang. " Ucap pak Agus kemudian meninggalkan tuannya itu diruang tengah mansion.


Ketukan pintu mengejutkan Halima yang sedang duduk diatas ranjangnya sambil membaca novel.


"Siapa? " Halima membuka pintu dan ternyata pak Agus yang berada dibalik pintu kamarnya.


"Apa nyonya muda ada didalam? "


"Nyonya sudah tidur pak Gus. " Ucap Halima tak menyadari sebutannya. Karena biasanya hanya Nia yang memanggil namanya tidak utuh.


"Maaf. " Halima memundurkan langkahnya karena melihat pak Agus sedang menatapnya dengan tatapan yang berbeda.


Pak Agus keluar begitu saja setelah memastikan bahwa nyonya yang ia cari memang benar-benar sudah tidur.


"Huh. " Halima menghembuskan nafasnya kasar.


"Apa? " Gael cukup terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh pak Agus. Tanpa tunggu lama Gael melangkahkan kakinya menuju rumah belakang.


Gedoran pintu kamar Halima semakin lama semakin terdengar lebih keras. Halima berlari kecil menuju pintu.


"Kau ini lama sekali. " Gael masuk melewati Halima yang masih terkejut dengan kehadiran tuan Gael dikamarnya.


Gael mendekat kearah ranjang. Melihat Nia yang sedang tertidur pulas. Gael mengangkat tubuh Nia dari atas ranjang. Menggendong Nia meninggalkan kamar tersebut tanpa berkata apa pun.


Pak Agus mengikuti tuannya dari belakang sampai ke depan pintu kamar Gael. Membukakan pintu kamar untuk tuannya itu. "Kau boleh pergi." Suruh Gael kepada pak Agus begitu memasuki kamar.


"Baik tuan. " Pak Agus menutup kembali pintu kamar sebelum ia meninggalkan kamar tuan Gael.


Membaringkan tubuh Nia dengan sangat hati-hati takut jika Nia terbangun. "Sejauh mana pun kau lari dari ku, aku akan tetap bisa menemukan mu. " Gael mencium lembut kening Nia sebelum ia ikut berbaring disamping Nia.

__ADS_1


__ADS_2