Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Bertemu kembali


__ADS_3

"Kak... ini aku. Aku sangat merindukan mu. Aku mohon biarkan seperti ini sebentar saja." Pinta Nia memeluk erat tubuh yang sudah lama tidak ia lihat selama bertahun-tahun.


Tian membiarkan tubuhnya dipeluk seseorang yang ia sendiri tidak tahu siapa sebenarnya yang memeluknya.


Gael yang menyadari hal itu melihat kearah belakang Tian namun karena posisi Nia yang berada dibelakang tubuh Tian Gael tak bisa melihat dengan jelas siapa yang memeluk Tian tersebut.


Cukup lama Nia berada di posisi itu, kemudian ia mulai melonggarkan pelukannya. Sedangkan Tian segera membalikkan badannya menghadap Nia begitu tangan Nia tidak lagi berada di pinggangnya.


Deg


"Kau? apa kau Tania? " Selidik Tian dengan wajah yang berbinar menantikan jawaban dari Nia.


"Ia kak. Ini aku Nia! " Jawab Nia kembali lagi memeluk Tian melepaskan rasa rindu yang selama ini memenuhi hatinya.


Sementara Gael yang mendengar suara dan nama Nia segera memutar badannya dan mendongakkan kepalanya agar dapat melihat bahwa itu adalah Nia yang sudah menjadi istrinya.


Deg


Dan benar seperti dugaannya bahwa yang berdiri bersama dengan Tian dengan posisi saling meluk adalah Nia istrinya.


Gael berdiri dari duduknya kemudian mendekati Nia dan Tian, meninggalkan Kiren disana. "Ada apa ini? " selidik Gael manatap tajam kepada Nia yang masih berada dipelukan Tian.


Mendengar suara Gael, Tian melepaskan pelukannya. "Gael.. Kenalkan ini Nia yang sudah aku anggap seperti adik ku sendiri dan kami sudah bertahun-tahun lamanya tidak bertemu, suatu kebetulan aku dan Nia bisa bertemu sekarang." Jelas Tian kepada Gael yang tak mengetahui hubungan keduanya.


Sementara Nia hanya menundukkan kepalanya tak berani melihat Gael yang berada didepannya. "Mati aku! pak Agus mengijikan ku keluar tanpa sepengetahuan tuan Gael dan menyuruhku untuk kembali sebelum tuan Gael tiba lebih dulu. Tapi apa ini? aku bahkan bertemu dengannya diwaktu yang tidak tepat." Gumam Nia didalam hati.


"Nia, ayo kita pulang! " Pirdo menarik tangan Nia menjauh dari Tian dan Gael yang hanya bisa diam menatap kepergian Nia. Jika Tian bingung dalam diam maka lain hal nya dengan Gael. Ada rasa marah dan tidak suka ketika melihat Nia memeluk orang lain di hadapannya sendiri.


"Tian, sebaik ya kita pulang sekarang! kasihan Kiren terlalu lama berada disini. " Terang Gael membuyarkan lamunannya.


"Baiklah, ayo! " Tian berjalan kearah Kiren yang masih bingung ada apa yang terjadi dan siapa wanita yang barusan bersama dengan Tian.

__ADS_1


"Kita pulang sekarang ya!" Terang Tian yang di anggukkan oleh Kiren sebagai jawabannya. Tian menggendong Kiren dan mendudukkan Kiren kedalam mobil.


"Kau naiklah, biar aku yang mengemudi. " Ucap Gael kepada Tian dan tanpa menunggu jawaban dari Tian Gael sudah masuk lebih dulu kedalam mobil.


Sepanjang perjalanan Gael hanya diam, tak sabar rasanya ia segera pulang ke mansion dan menginterogasi Nia.


"Fian... Tadi itu siapa? " tanya Kiren yang merasa penasaran. Sementara Gael yang tadi fokus mengemudikan mobilnya, kini ikut penasaran sama seperti Kiren. Melirik ke kaca mobil yang ada didepannya untuk melihat kearah belakang tanpa harus memutarkan badannya.


" Namanya Tania dan biasanya kami memanggilnya dengan sebutan Nia saja. Orang tua nya dulu bekerja dengan kami sebagai art. Dan selama bekerja ibunya dan Nia tingal bersama dengan kami. Bahkan aku sudah menganggap Nia seperti adik ku sendiri." Terang Tian menghentikan sejenak ucapannya.


"Ketika kami pindah keluar negeri, mama meminta tolong kepada tante Mita mamanya Gael untuk memperkerjakan nya." Tian belum menyadari ucapannya.


"Berarti Gael juga mengenalnya? " tanya Kiren.


"Astaga aku melupakan hal itu. " Tian baru tersadar setelah ucapan Kiren


"Gael, kau mengenalnya kan? " Selidik Tian. "Tentu saja akau mengenalnya. " Sahut Gael dengan suara datarnya.


"Sebaiknya kau tanya kan lagsung kepadanya bukan kah kalian cukup dekat? " pekik Gael.


"Lain kali jika kau datang ke rumah sakit sekalian bawakan Nia, aku masih ingin mengobrol dengannya. Banyak hal yang ingin aku tanya kan kepadanya. " Pinta Tian kepada Gael.


Sementara Gael terlihat enggan untuk menanggapi perkataan dari Tian, yang ada dipikirannya saat ini ingin secepat nya menemui Nia.


Setibanya dirumah sakit, Tian mengangkat tubuh Kiren yang sedang tertidur di saat perjalanan menuju rumah sakit. Begitu tiba diruang rawat Kiren, Tian membaringkan tubuh Kiren diranjang rumah sakit dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan Kiren.


"Kalau begitu aku pamit dulu. " Terang Gael kepada Tian yang sedang menyelimuti tubuh Kiren dengan selimut.


"Terima kasih atas waktu mu seharian ini sudah menemani Kiren. " Ucap Tian menatap wajah Gael dengan tulus.


"Tidak masalah, selagi aku bisa membantu maka aku akan senang hati membantu untuk menemani Kiren. " Terang Gael menepuk bahu Tian sebelum ia pergi meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


Gael mengemudikan mobil nya meninggalkan rumah sakit, ia tidak sabar lagi untuk bertemu dengan Nia dimansion, banyak hal yang ingin ia tanyakan saat ini kepada Nia.


Sementara ditempat lain, Nia yang baru saja tiba di gerbang mansion bersama dengan Pirdo segera turun dari motor Pirdo, membuka helem nya dengan tergesa-gesa. "Aku masuk ya, kau hati-hati lah dijalan. " Peringat Nia kepada sahabatnya itu.


"Kau juga bersiaplah! sebentar lagi tuan Gael pasti akan membombardir mu dengan pertanyaannya." Peringat balik Pirdo.


"Ia, ia aku tau itu! sekarang pulanglah sebelum tuan Gael melihat mu disini. " Suruh Nia


"Memangnya kenapa jika melihat ku disini? "


"Astaga, kau ini? sudah pulang sana! " usir Nia dan kemudian ia meninggalkan Pirdo disana.


"Dasar. Sudah tau aku dalam bahaya masih saja terus menggoda ku! " Gerutu Nia memasuki mansion.


"Dimana Nia? " tanya Gael kepada pak Agus sambil melangkahkan kakinya memasuki mansion.


"Nyonya ada di kamar nya tuan. " Jawab pak Agus. "Kenapa kau mengijinkan kan nya keluar dari mansion? " selidik Gael yang membuat pak Agus ketakutan. "Bagaimana bisa tuan Gael mengetahui hal itu? " Gumam pak Agus didalam hatinya.


"Maaf tuan. " Pak Agus menundukkan kepalanya.


"Sudah aku katakan pada mu pak Agus, agar mengawasinya dan tidak mengijinkannya keluar dari mansion ini! " Tegas Gael melipat kedua tangannya didadanya.


"Maaf tuan. " Lagi-lagi hanya itu yang mampu keluar dari mulut pak Agus.


"Aku tidak ingin mendengar hal yang sama, aku butuh penjelasan dari mu! "


"Tuan, saya hanya merasa kasihan kepada nyonya. Dan saya tidak tega melihat beliau memohon kepada saya." Jelas pak Agus dengan hati-hati sambil bersiap apa yang akan tuannya itu lakukan setelah itu.


"Kau pergilah, aku akan berbicara langsung dengannya kenapa dia begitu tidak patuh kepada ku? " Suruh Gael kepada pak Agus.


"B-baik tuan. "

__ADS_1


Pak Agus pun pergi meninggalkan tuannya diruang tengah mansion.


__ADS_2