
Pirdo menemui Nia dimansion Gael.
"Nyonya ada yang mencari anda orangnya ada didepan." Ucap salah satu pelayan mansion.
"Ha? " Nia meletakkan sendok yang ada ditangan kepiring nya. Menghentikan sarapan nya. "Siapa? " selidik Nia melirik Gael sekilas yang berada didepannya sedang menikmati sarapannya.
"Maaf nyonya, saya sudah menyuruh nya masuk tapi beliau menolak." Jelas pelayan itu. "Tidak apa, biar aku saja yang kedepan." Jelas Nia berdiri dari duduknya.
Gael menatap Nia, "siapa yang datang mencarinya?" Gumam Gael mengelap mulutnya dari sisa bekas makanannya dengan tisu kemudian ia mengikuti Nia keluar.
"Ada apa kau mencari ku? " Nia yang baru keluar dari mansion. "Kau ini, bukannya mengajak masuk. " Gerutu Pirdo.
"Pirdo, kau tau tuan Gael masih ada didalam. Aku tidak ingin kau mendapat perlakuan kurang menyenangkan darinya." Jelas Nia.
"Aku datang haya ingin mengetahui kabar mu."
"Aku baik-baik saja. " Sahut Nia.
"Kenapa kau tidak bisa dihubungi akhir-akhir ini?"
"Ponsel rusak, aku tidak sengaja menjatuhkan. "
"Benarkah? "
"Umm."
"Apa masih bisa diperbaiki? "
"Entahlah, sepertinya tidak lagi. Kau datang jauh-jauh kesini hanya untuk itu? " Selidik Nia.
"Ia, memangnya tidak boleh? " tanya balik Pirdo.
"Bukannya begitu. Oya bagaimana kabar bibi Nina? " Niaengalihkan pembicaraan mereka.
"Ibu baik. "
"Syukur lah jika begitu. "
"Kalau begitu aku permisi dulu. " Pamit Pirdo melirik jam tangannya.
"Kau hati-hatilah. "
"Siap nyonya. " Seloroh Pirdo.
"Is, dasar. " Nia mengerucutkan bibir nya.
Nia kembali masuk kedalam mansion ketika Pirdo sudah berlalu dan ketika hendak membalikkan badanya ia terkejut melihat Gael berdiri tepat dihadapannya.
Nia mencoba bersikap biasa saja dan meninggalkan Gael yang masih menatapnya penuh dengan arti.
__ADS_1
"Mengagetkan ku saja. " Gerutu Nia sambil terus menjauh dari Gael.
Nia teringat ponsel nya setelah berbicara dengan Pirdo tadi. Nia berlari menaiki tangga ke lantai dua. Mencari ponsel nya yang sudah tak berbentuk lagi. Menarik laci dimana ia meletakkan kepingan ponsel nya yang terbagi menjadi beberapa bagian.
Nia menghembuskan nafasnya kasar. "Mana mungkin ini bisa diperbaiki lagi? " lirih Nia menatap sedih ponsel yang tak utuh miliknya itu.
Nia mengambil dompetnya dan melihat sisa uang yang ia miliki. "Ini tidak akan cukup. " Nia menghitung sisa uang yang tersisa dari dompetnya. Uang terakhir yang diberikan ibunya sebelum pergi meninggalkan Nia. Uang dari hasil jeripayah ibu Nia di akhir hidupnya.
"Tak apa. Hidup ku tidak akan berhenti walau pun tanpa memilki sebuah ponsel." Ucap Nia menyemangati dirinya sendiri.
"Halima.." Panggil Nia yang datang kebelakang mansion tempat para pelayan beristirahat.
"Kau kenapa kemari? " Halima membalikkan badannya menghadap Nia.
"Pinjamkan aku ponsel mu sebentar. " Ucap Nia mengadahkan tangannya.
"Buat? " selidik Halima menahan ponsel nya ketika sudah mengeluarkan dari sakunya.
"Aku hanya ingin menghubungi seseorang. " Terang Nia mengambil ponsel Halima dari tangannya.
Ketika ponsel itu sudah berada ditangannya, Nia terlihat kebingungan. "Kenapa? " tanya Halima.
"Aku tidak ingat nomor yang ingin ku hubungi. " Jawab Nia tanpa beban.
"Astaga Nia. " Halima menepuk jidatnya sendiri melihat kebodohan temannya itu.
"Jika kau tak mengingat nomornya bagaimana bisa kau menghubungi nya! " Halima mengambil kembali ponsel nya dari tangan Nia.
"Nia, Nia." Halima menggelengkan kepalanya sebelum berbalik dan kembali dengan pekerjaannya.
Dirumah sakit.
"Kiren semakin lemah. " Terang Tian kepada Gael yang sedang menatap Kiren yang sedang terbaring diranjang rumah sakit. "Apa tidak ada pilihan lain? " Ucap Gael. "Aku sudah mencoba berbagai hal bahkan aku sudah membawanya keluar negeri. Namun tidak ada hasilnya." Jelas Tian kepada Gael.
"Terkadang aku tak sanggup melihat nya menderita seperti itu. " Lirih Tian. Gael menepuk bahu Tian. "Kau harus kuat dengan situasi apa pun yang akan terjadi nanti nya. " Peringat Gael yang dibalas anggukan kepala oleh Tian.
"Bagaimana keadaan Kiren? " tanya Triana ibu Kiren yang baru datang bersama dengan suaminya Baskoro.
"Tante, om. Seperti yang kalian lihat tubuh Kiren semakin hari semakin melemah." Terang Tian kepada orang tua Kiren yang baru tiba dari perjalanan bisnis mereka.
"Kau? " mata Triana tertuju kepada Gael.
"Tante, om. " Sapa Gael dengan membungkukkan badannya.
"Terima kasih sudah ada bersama dengan Tian menemani Kiren. " Ucap Triana. "Sama-sama tante. " Balas Gael menatap Triana dan Baskoro secara bergantian.
Baskoro menepuk lembut punggung Gael. Seolah ia sedang berterima kasih sekaligus meminta maaf atas kesalahan nya dimasa lalu yang memisahkan hubungan putrinya dan Gael.
Gael hanya tersenyum kepada Baskoro. Bagi Gael itu adalah masa lalu. Sekarang yang terpenting adalah kesembuhan dari Kiren. Maka ia rela membuang jauh rasa benci dan kecewanya kepada Kiren selama ini.
__ADS_1
Clek
Pintu ruang rawat Kiren terbuka. Ternyata Nia yang berada dibalik pintu tersebut. Semua yang berada didalam ruangan itu sontak melihat kearahnya.
Ditatap seperti itu membuat Nia diam mematung diambang pintu itu. Terutama ketika pandangan matanya bertemu dengan mata Gael.
Deg
Kaki Nia terasa kaku untuk bergerak. "Nia masuklah. "Suruh Tian yang di anggukan kepala oleh Nia. Ia berjalan masuk mendekati mereka semua dengan senyuman kaku diwajahnya.
"Ini siapa? " tanya Triana menatap Nia.
"Ini Nia tante. Dia sudah aku anggap seperti adik ku sendiri. " Terang Tian mengenalkan Nia.
"Halo, apa kabar? " Triana mengulurkan tangannya kearah Nia.
"Baik tante. " Jawab Nia singkat nerima ulurun tangan Triana. Kemudian ia mengulurkan tangannya ke Baskoro. "Om. " Sapanya yang dibalas oleh Baskoro menerima uluran tangan dari Nia sambil tersenyum ramah.
"Terima kasih sudah merepotkan mu menjenguk Kiren. " Ucap Triana. "Tidak merepotkan sama sekali tante." Nia melirik kearah Gael yang ternyata sedang menatapnya.
"Cukup lama mereka berbincang. Kalau begitu saya permisi tante, om." Pamit Nia.
"Sering lah datang biar tante ada teman disini. " Pinta Triana.
"Ia tante. Besok aku usahain buat datang. " Ucap Nia sambil beranjak dari duduknya.
"Biar aku antar sampai depan. " Terang Tian.
"Kak, aku pulang dulu. Besok aku kemari lagi. "
"Kau hati-hatilah. " Tian mengelus kepala Nia.
"Ia kak. " Nia tersenyum sebelum meninggalkan Tian melangkah kan kakinya menuju parkiran rumah sakit.
"Tian, aku pulang dulu. Ada hal yang harus aku selesaikan. " Pamit Gael yang baru keluar dari ruangan itu menyusul Tian dan Nia.
"Oh begitu. Terima kasih atas waktu mu. " Ucap Tian sementara Gael pergi begitu saja tanpa menjawab ucapan darinya.
Gael mempercepat langkahnya kaki nya menyusuri lorong rumah sakit mencari keberadaan Nia.
"Ternyata itu dia. " Gael menangkap bayangan Nia yang menuju parkiran rumah sakit.
"Kau ikut dengan ku! " Gael menarik tangan Nia.
"Kau pulang lah. " Suruh Gael kepada supir yang bertugas membawa Nia.
"Baik tuan. " Jawab supir tersebut.
"Lepas. " Nia berusaha melepaskan tangan nya dari Gael.
__ADS_1
"Diam lah dan turuti apa kata ku! " suara Gael terdengar begitu tegas membuat Nia tidak berkutik.