Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Sisi berbeda dari Halima


__ADS_3

Halima menunggu Nia di pintu masuk mansion yang sedang mengantarkan tuan Gael sampai kedepan mobil. Begitu Nia masuk kembali Halima menarik tangan Nia. "Nia tadi ada apa dengan tuan Daren? " Tanya Halima dengan penasaran.


"Apa? " Nia balik bertanya.


"Maksud ku tentang tadi sewaktu di meja makan. " Ucapan Halima.


"Memangnya kenapa? "Nia berjalan meninggalkan Halima. "Tunggu dulu dong, aku kan belum selesai. " Halima mengejar Nia dan menggandeng tangan Nia sambil berjalan disamping Nia.


"Ada apa? kanapa hari ini tiba-tiba menanyakan Daren? " Berbicara tanpa melihat kearah Halima. Tidak ada hanya saja aku penasaran dengan apa yang aku dengar tadi.


"Aku tidak tau apa-apa, sama dengan mu hanya mendengar sekilas saja. " Jelas Nia.


"Ada apa? "Mita yang sedang duduk diruang tengah mendengar pembicaraan keduanya.


Halima segera melepaskan tangannya dari tangan Halima. "Maaf nyonya."


"Kami hanya sekedar menyapa saja mah. " Terang Nia.


"Oh, begitu ya. Sini duduk. " Mita menepuk sofa disebelahnya. Nia dengan patuh duduk di samping mama mertuanya. Sementara Halima melihat kedekatan keduanya merasa iri Nia dapat merasakan peruhan hidup yang luar biasa setelah menikah dengan tuan Gael.


"Beruntungnya kau Nia, mendapatkan semua kebahagiaan dari keluarga ini. Jika saja aku bisa seperti mu. Menikah dengan seseorang yang bisa mengubah hidup ku seperti dirimu." Gumam Halima menatap kedua orang tersebut.


"Halima kau bisa kembali ke pekerjaan mu. " Perintah Mita. "Baik nyonya. " Halima pun kembali menuju ramuh belakang bergabung dengan pelayan lainnya.


"Dari mana saja kau Halima? " Salah satu pelayan senior dibanding dengannya mencecar Halima. "Aku dari depan menemui nyonya Nia. " Jawab Halima.


"Sepertinya kau selalu saja beralasan seperti itu setiap kali kelayapan didepan sana. Ingat Halima tempat kita dibelakang sini bukan didepan sana." Pelayan yang satu lagi menimpali.


"Benar Halima jangan karna menemui nyonya Nia kau mengabaikan tugas mu. " Peringat pelayan yang lebih senior tadi.


"Kalian semua diamlah aku tidak ingin mendengar ocehan kalian semua. " Ketus Halima pergi dengan kesal.


Semua pelayan disana menggelengkan kepalanya masing-masing melihat tingkah Halima yang akhir-akhir ini susah diperingatkan.


"Kalian semua menyebalkan. Dan ini semua pekerjaan ini membuat ku muak. Kenapa bukan aku yang berada di posisi Nia? Dia bisa hidup dengan tenang sekarang seharusnya aku juga bisa seperti Nia mendapatkan laki-laki kaya yang akan mengubah hidup ku. " Gerutu Halima berdecak pinggang sambil menatap semua pakaian yang harus ia setrika.


"Bagaimana pun caranya aku harus bisa mendekati tuan Daren. Mungkin dia jalan satu-satunya agar aku terlepas dari semua pekerjaan ini. " Seringai licik disudut bibir Halima.


Rupanya Halima yang dekat dengan Nia dan menyaksikan langsung bagaimana perubahan hidup Nia merasa iri dan ingin merasakan hal yang sama seperti Nia.


Sementara diruang tengah mansion Nia dan mama Mita Saling mengobrol disana. "Nia.. Apa Halima begitu dekat denganmu? " tanya mama Mita.


"Ia mah. " Nia menjawab apa adanya.


"Begitu rupanya. "


"Ada apa mah? " tanya Nia merasa penasaran tiba-tiba mama Mita menanyakan hal itu kepadanya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa sayang. " Ujar mam Mita.


"Aku harap Halima adalah orang baik dan selalu menjadi teman baik mu. " Gumam Mita didalam hati.


Daren terus saja memikirkan jika wanita yang dilihatnya tadi pagi adalah Ica. Pikirannya gelisah ingin mengetahui kebenarannya namun pekerjaan yang menumpuk mengharuskan untuk tetap berada dikantor. Jika tidak dia pasti akan datang ke toko tersebut untuk memastikannya secara langsung.


"Ada apa denganmu Daren? " Gael menyadari kegelisahan Daren yang sedari tadi terus menerus melihat jam tangannya.


"Tidak ada tuan. " Kilah Daren menyembunyikan kegelisahannya.


Daren melewati hari ini dengan rasa penasaran dan gelisah di hatinya namun tetap melakukan pekerjaan dengan baik. Itulah Daren yang selalu menyampingkan urusan pribadinya demi pekerjaannya.


"Kau pulanglah. " Suruh Gael kepada Daren begitu tiba dimansion. Gael menyadari jika terjadi sesuatu namun Gael enggan untuk memaksanya untuk memberitahu apa yang sedang dihadapi oleh Daren.


Membiarkan Daren menyelesaikannya sendiri. Begitu ia mengantarkan tuan Gael kembali ke mansion Daren segera melajukan mobilnya menuju toko kue tempat yang didatangi oleh wanita yang mirip dengan Ica tadi pagi.


Namun Daren kecewa ketika toko kue tersebut sudah tutup. "Sial! aku terlambat. " Daren menggusar wajahnya dengan kedua tangannya.


Dengan perasaan kecewa terpaksa Daren pergi meninggalkan toko tersebut. Berharap besok ada kesempatan baginya untuk menemui Ica.


"Bagaimana nanti aku menyapanya jika bertemu dengannya? " Daren bingung harus menyapa Ica dengan cara seperti apa.


"Ada apa dengan ku ini? bukankah aku sudah terbiasa berhadapan dengan banyak orang tapi mengapa aku begitu gugup jika bertemu kembali dengan Ica? Ini baru membayangkannya saja bagaimana jika terjadi nanti? " erang Daren frustasi.


Ih Daren norak ya?


"Maklum lah secara kan Ica adalah wanita yang sudah lama ia nantikan. "





Setelah memberanikan dirinya, akhirnya Daren masuk dengan rasa gugup. Memastikan jika Ica memang berada disana. Dan ternyata benar, Ica memang kembali beberapa hari yang lalu. Namun sayangnya Ica tidak berada ditempat.



Menurut penuturan salah satu pekerjaan disana Ica sedang keluar bersama teman yang lainnya untuk membeli makan siang.



Daren memutuskan untuk kembali walaupun penjaga toko itu sudah menyarankan agar menunggu Ica kembali.



Daren keluar dari toko tanpa menoleh kanan dan kirinya masuk kedalam mobilnya. Dari kejauhan Ica melihat sosok Daren keluar dari toko. Menghentikan langkahnya menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya pada saat itu.

__ADS_1



"Daren. " Lirih Ica.



Kantong plastik berisikan makan yang ia bawa terjatuh begitu saja. "Ada apa? " Rika menatap wajah Ica bingung kemudian mengikuti arah pandangan mata Ica yang sedang memperhatikan mobil hitam yang sedang terparkir didepan toko tempat mereka bekerja.



"Ca, Ica. " Rika menggoyangkan lengan Ica.



"Ha? " Ica tersentak.



"Kau kenapa? dan ada apa dengan mobil itu? " tanya Rika sambil menatap mobil yang sudah bergerak melewati mereka berdua.



"Tidak ada apa-apa Rika, mungkin aku salah mengenali orang. " Terang Ica kemudian memungut kantong plastik yang sempat ia jatuhkan tadi.



"Ayo! " Ajak Ica merangkul kembali tangan Rika berjalan bersama menuju toko.



"Kalian sudah kembali? " tanya vira penjaga toko yang lainnya.



"Ini pesanan kamu. " Ica meletakkan kantong plastik milik Vira.



"Oya Ca, tadi ada yang datang nyarin kamu. " Terang Vira.



"Siapa? " Tanya Ica penasaran.



"Nah itu dia aku lupa menanyakan siapa namanya tapi orangnya ganteng bangat. " Ucap Vira berbinar sambil membuka bungkusan makan siangnya.

__ADS_1



"Apa dia memang Daren seperti yang aku lihat tadi? " Gumam Ica.


__ADS_2