Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Pertemuan tak terduga


__ADS_3

Pirdo mengajak Nia kesebuah pantai dihari libur kerjanya, karena ia tau persis sahabatnya itu butuh sedikit hiburan dari keterkurungan di istana megah milik Gael. Bangunannya memang berdiri megah namun hati penghuni didalamnya tidak merasakan kebahagian seperti yang dialami oleh Nia.


Walaupun pada awalnya pak Agus tidak memperbolehkan Nia untuk pergi namun dengan sedikit memohon Nia berhasil membujuk pak Agus dan mendapatkan ijin dari pak Agus. Dengan syarat Nia kembali ke mansion sebelum tuan Gael tiba di mansion.


Mendapatkan kesempatan keluar mansion membuat Nia merasa senang, ia sangat menikmati suasana pantai. Sejenak Nia melupakan kehidupannya bersama dengan Gael.


"Bagaimana hubungan mu dengan tuan Gael? " tanya Pirdo ikut duduk disamping Nia menghadap ke pantai. Baru saja Nia melupakan sejenak tentang Gael, Pirdo malah membahasnya di suasana yang tidak tepat.


"Untuk apa aku menjelaskannya pada mu? bulan kah kau sudah tau betul bagaimana hubungan kami? " tanya balik Nia kepada Pirdo tanpa menoleh kearah Pirdo. Pandangan Nia lurus jauh kedepan memandang ke tengah lautan.


"Aku pikir ada sedikit kemajuan, ternyata aku salah dilihat dari jawapan mu barusan. " Pekik Pirdo mengikuti arah pandangan mata Nia.


"Sudahlah, sebaiknya kita tidak usah membahas tentangnya. Aku kesini untuk menenangkan pikiran ku. " Pinta Nia kepada sahabatnya itu.


"Baik nyonya muda. "


"Apaan sih. " Nia menoleh ke Pirdo.


"Aku lupa kalau kita diluar mansion tuan Gael. " Pirdo menggoda Nia. "Huuh.. Dasar! "


Nia menyenggol lengan Pirdo dengan sikut tangannya.


🍀🍀🍀

__ADS_1


Sementara ditempat lain, Gael dan juga Tian sedang bersiap-siap untuk membawa Kiren kesebuah pantai sesuai permintaan dari Kiren. Gael mendorong Kiren dengan menggunakan kursi roda menuju parkiran rumah sakit. Sementara Tian mengikuti mereka dari belakang.


Gael menghentikan kursi roda tersebut ketika sudah tepat disamping mobilnya. "Kau yakin tidak apa-apa? " selidik Gael sebelum mereka menaiki mobilnya. "Ia, aku sudah lama tak pergi ke pantai. " jawab Nia dengan suara lemahnya.


Tian memalingkan wajahnya dari Kiren, menghapus air matanya. Sungguh ia sangat sakit melihat kondisi wanita yang berstatus tunangannya itu. Tubuh nya yang semakin hari sakin kurus bahkan kini rambut indah Kiren tidak tersisa lagi dikepalanya.


"Kau pakai ini! " Tian memakaikan topi jaket hudi milik Kiren. "Disana dingin." Ucap Tian yang dibalas anggukan oleh Kiren. Lalu Tian menggendong Kiren masuk kedalam mobil setelah Gael membukakan pintu mobilnya. Mendudukkan Kiren dibangku penumpang.


"Biar aku saja yang mengemudi, kau duduk lah bersama dengan Kiren dibelakang! " Suruh Tian kepada Gael yang di anggukan oleh Gael. Tian melakukan mobil tersebut dengan kecepatan sedang, sesekali ia melirik Kiren dan Gael dari kaca mobil.


Walaupun ada rasa sakit dihatinya melihat Kiren bersama dengan Gael namun Tian tidak punya pilihan lain selain membiarkan tunangannya itu menghabiskan waktu bersama dengan mantan kelasihnya itu di waktu terakhir hidupnya dengan begitu kepergian Kiren tidak akan semenyedihkan sebelum ia bertemu dengan Gael.


Begitu tiba di pantai Gael menggendong Kiren dari mobil sampai ketepi pantai dan mendudukkan Kiren diatas pasir pantai. "Kau senang sekarang? " tanya Gael ikut duduk disamping Kiren.


Kiren menyandarkan kepalanya dibahu Gael. Sementara Tian hanya bisa menatap keduanya dari belakang mereka. Tian sengaja memberi ruang untuk Kiren dan Gael berdua.


"Mungkin ini akan menjadi kenangan terakhir kita. " Lirih Kiren menitikan air mata nya. "Kau jangan berbicara seperti itu Kiren! kau pasti akan sembuh." Ucap Gael menghibur Kiren.


"Sekuat apa pun aku berusaha melawan penyakit ini, tetap saja pada akhirnya aku akan pergi. " Kiren menarik kepalanya dari bahu Gael berusaha melihat wajah Gael pada waktu itu.


"Terima kasih kau sudah pernah menjadi bagian dari hidup dan juga kebahagiaan ku. " Lirih Kiren menatap wajah Gael dengan tatapan sendu.


Gael menghapus air mata Kiren. "Kau tak perlu berterima kasih pada ku. Karna kau juga bagian dari hidup ku. " Ucap Gael kemudian membawa Kiren kedalam pelukannya.

__ADS_1


Tian yang menyaksikan keduanya tengah berpelukan ikut menangis, menangis melihat kedua insan yang saling mencintai namun terpaksa terpisah karena terikat pertunangan dengannya. Walaupun hatinya merasa sakit dengan apa yang dilihatnya itu namun ia berusaha menerima kenyataan bahwa Kiren mencintai Gael dan itu sudah terjadi sebelum Kiren berstatus tunangannya.


"Sungguh aku menyesali keputusan ku untuk mau menerima pertunangan kita pada saat itu. " Gumam Tian dalam hati. Kini ia hanya bisa menundukkan kepalanya sambil menangis tanpa suara. Berulang kali Tian menghela nafasnya disela tangisnya.


Tian bukan sosok yang pandai mengekspresikan perasaannya, ia ingin ikut memeluk Kiren seperti yang dilakukan oleh Gael kepada Kiren. Namun ia harus menahannya karena dengan kondisi yang sedang berlinang air mata bagaimana mungkin ia membangun kepercayaan diri Kiren untuk sembuh.


Tian tau betul Kiren tidak akan mempunyai banyak waktu lagi untuk bertahan hidup, dan kini ia pun mulai mempersiapkan hatinya jika suatu saat nanti ia harus menerima kenyataan bahwa Kiren akan pergi dari hidupnya.


Gael melepaskan pelukannya dari Kiren. "Jangan menangis lagi! saat ini aku ingin kau menikmati suasana pantai yang kau rindukan ini. " Terang Gael.


Kiren pun segera menghapus sisa air matanya dan memaksakan senyumannya kepada Gael. Kemudian Kiren kembali menyandarkan punggung nya di bahu Gael. Gael pun tak tinggal diam. Gael merangkul tubuh Kiren dengan tangan kirinya.


Selanjutnya mereka berdua hanyut dalam pikiran mereka masing-masing sambil memandangi ombak yang berlomba menuju tepi pantai. Begitu juga dengan Tian, masih berdiri tepat dilakang Gael dan Kiren.


Namun dari kejauhan Nia melihat sosok yang ia kenali, sedang berdiri membelakangi nya. "Punggung itu? apa benar punggung itu? " gumam Nia menatap punggung yang begitu ia rindukan selama ini. Nia yakin jika ia tidak salah melihat orang yang berada didepan sana adalah orang yang ia nantikan selama ini.


Pirdo melihat Nia dibelakangnya yang sedang menghentikan langkahnya dan mengikuti pandangan mata Nia. "Ada apa Nia? " Pirdo mendekati Nia.


Bukannya menjawab Nia malah berlari menghampiri seseorang yang sedang berdiri disana. Mengabaikan Pirdo yang memanggilnya.


"Nia... Nia kau mau kemana? " teriak Pirdo.


Bruk

__ADS_1


Nia menabrakkan badan nya memeluk tubuh yang ia rindukan itu dari belakang. Tian yang merasa terkejut hendak melepaskan tangan yang melingkar di pinggangnya itu sambil berusaha melihat kebelakang siapa yang sedang melakukan itu kepadanya.


"Kak.. Ini aku. Aku sangat merindukan mu. Aku mohon biarkan aku memeluk mu seperti ini, sebentar saja. " Pinta Nia memeluk erat tubuh yang sudah lama tidak ia lihat selama bertahun-tahun.


__ADS_2