
Halima yang sedang membersihkan ruang tamu mansion keluarga Atmaja tempat ia bekerja, mengelap meja dengan perasaan kesal di hatinya bahkan kain yang ia gunakan menjadi sasaran kekesalannya. Menggerutu tak jelas sedari tadi sambil mengerjakan pekerjaannya yang tak kunjung selesai.
Bagaimana tidak jika ia bekerja lebih lama menggerutu dari pada menyelesaikan pekerjaannya. Kesal karena mengetahui kabar pernikahan Daren dan wanita yang ia cintai. Perasaannya terus bertanya siapaakan wanita yang sudah memikat hati Daren yang selama ini ia incar untuk menjadi pasangannya kelak.
Pak Agus yang sedari tadi memperhatikan Halima berdehem menegur Halima.
"Ehemm.. Kau sedang apa? kenapa sedari tadi pekerjaan mu tidak selesai? " Cecar pak Agus.
Halima tidak menjawab sepatah kata pun ucapan dari pak Agus, ia hanya membungkkan badannya kemudian pergi begitu saja.
"Ada apa dengannya?" Bertanya pada dirinya sendiri sambil menatap punggung Halima yang berjalan menuju rumah belakang.
"Sampai kapan kau akan uring-uringan tidak jelas seperti ini?" suara salah satu pelayan yang mengetahui suasana hati Halima sedang tidak baik.
"Sudah lah Halima tidak ada gunanya kau seperti itu, tuan Daren sudah bahagia sekarang dan satu lagi pelayan seperti kita sebaiknya jangan berharap berjodoh dengan orang seperti mereka. Hanya ada satu diantara seribu yang beruntung seperti nyonya Nia." Peringat pelayan yang lebih senior diantara semuanya.
Halima pun menundukkan kepalanya merasa malu dengan ucapan dari para pelayan yang lainnya yang mengetahui jika Halima berniat mendekati Daren. Namun kini ia hanya bisa pasrah dan melupakan semua keinginannya untuk mendapatkan Daren agar bisa mengubah hidupnya.
Tian yang juga turut menghadiri acara pernikahan Daren dan Ica menghampiri pasangan yang sedari terus menempel, menggandeng wanitanya dengan mesra yang tak lain adalah Gael dan Nia.
"Apa kabar? " tanya Tian menjabat tangan Gael. Aku baik, bagaimana dengan mu? " Gael bertanya balik.
"Seperti yang kau lihat aku juga baik. " Terang Tian kemudian ia beralih mantap Nia.
"Kau terlihat jauh lebih bahagia dari terakhir kita bertemu. " Ucap Tian kepada Nia.
Nia hanya tersenyum mendengar pernyataan dari Tian. "Tentu saja diakan bahagia berada disamping ku! " Ucap Gael memotong ucapan Tian.
"Ya ya kau benar! Aku percaya kau adalah orang tepat untuk menjaga Nia." Ucap Tian menepuk pundak Gael kemudian pergi begitu saja setelah memastikan jika Nia sudah bahagia bersama dengan Gael.
Jika Daren dan Ica kini sedang berada didalam kamar hotel tempat mereka menginap di bali, menghabiskan malam dan mengulang kembali percintaan diantara keduanya.
Dan bisa dipastikan kali ini mereka melakukannya dengan berbeda dari kejadian pada waktu itu. Tentu saja kali ini mereka melakukannya dengan perasaan penuh cinta diantara keduanya. Saling melepaskan hasrat ingin bercinta diantara pasangan yang baru saja sah sebagai suami istri.
__ADS_1
Berbeda dengan Gael dan Nia, keduanya tengah menghabiskan waktu bersama di tepi pantai. Duduk bersama menghadap lautan dengan penerangan seadanya yang terlihat hanya kerlap kerlip lampu perahu yang jauh ditengah lautan. Suara ombak menderu di tengah keheningan malam.
"Apa kau tidak kedinginan? " suara berat Gael menghentikan lamunan Nia. Tanpa menoleh Nia menggelengkan kepalanya pelan.
Gael menyentuh kedua tangan Nia merasakan dinging dari tangan yang ia sentuh itu. Gael menggenggam kedua tangan itu dan mengecup secara bergantian. Sentuhan Gael itu berhasil menghentikan pandangan mata Nia yang sejak tadi menatap lurus kedepan kini menoleh kepadanya.
"Apa yang sedang kau pikirkan? " selidik Gael menatap manik mata wanita yang ia cintai itu.
Nia menggelengkan kepalanya lemah namun Gael tau jika wanitanya itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Katakan! apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu? " tanya Gael penuh harap Nia mengatakan sesuatu.
"Aku hanya iri dengan Ica. " Nia menundukkan kepalanya. "Iri? " Gael mengkerutkan keningnya berpikir dengan apa yang baru didengarnya dari mulut Nia.
"Ica terlihat bahagia bukan? " tanya balik Nia mengalihkan pandangan matanya dari Gael.
"Lantas? " Gael belum menangkap arah pembicaraan Nia.
Nia memaksakan untuk tersenyum. "Aku merasa dia sangat beruntung, dia merasakan kebahagiaan dihari pernikahannya dan mendapatkan cinta yang begitu besar dari pasangannya. " Terang Nia.
Gael menghela nafasnya panjang begitu mendengar ucapan Nia. "Dengar! " Gael menarik bahu Nia menghadap kepadanya. Seharusnya kau tidak berpikir seperti itu. "Mereka bahagia seperti saat ini bukan berarti hubungan mereka tidak pernah dalam pase yang buruk. " Gael menjeda kalimatnya sejenak.
"Aku tau apa yang ada dipikiran mu saat ini. Aku minta maaf sudah pernah membuat mu terluka dan bahkan tidak menganggap mu pada waktu itu. Tapi percayalah saat ini aku sangat mencintai mu dan aku tidak bisa membayangkan hidup ku jika tidak bersama mu. Jadi tolong cintai aku seperti aku mencintai mu. " Terang Gael panjang lebar.
Mata Nia berkaca-kaca dengan ucapan Gael namun masih ada sesuatu yang mengganjal dihatinya.
__ADS_1
"Apa kau tidak mencintai ku? " Selidik Gael menatap wajah Nia menelisik di kedua bola mata indah yang sedang ditatap nya itu.
"Tentu saja aku mencintai mu! bahkan aku jauh lebih dulu mencintai mu walapun aku tau pernikahan kita tidak akan berakhir bahagia. Aku sadar jika sudah waktunya maka aku akan pergi dari kehidupan mu. " Lirih Nia.
"Kenapa kau berkata seperti itu? " tanya Gael.
"Bukan kah kau pernah bilang jika pernikahan kita hanya sementara dan pada waktunya tiba kau akan menceraikan ku. " Ucap Nia mengingat kembali perkataan Gael diawal pernikahan mereka.
"Dengar, itu dulu dan sekarang itu semua tidak berlaku lagi! " tegas Gael.
"Mulai sekarang jangan mengingatkan ku tentang semua itu! karna bagi ku sekarang kau adalah kehidupan ku. " Pinta Gael membawa tubuh Nia kedalam pelukannya.
"Apa kau yakin dengan ucapan mu? " Selidik Nia sambil melepaskan dirinya dari pelukan Gael dan mendongakkan kepalanya menatap wajah pria yang berstatus suaminya tersebut.
Gael mencium kening Nia dengan lembut. "Aku sangat bersungguh-sungguh dengan apa yang aku katakan. Aku tidak bisa hidup tanpa mu dan menyadari semua kesalahan ku yang pernah menyia-yiakan mu." Terang Gael membuat hati Nia menghangat.
"Tetaplah disisiku dan jadilah ibu dari anak-anak ku kelak. " Pinta Gael sepenuh hati.
Kemudian Gael mencium bibir yang sudah menjadi candu baginya itu dengan lembut.
"Berjanjilah pada ku jika kau akan terus berada di sisi ku sampai maut memisahkan kita! " Pinta Gael lagi.
"Aku berjanji akan bersama mu sampai akhir hayat ku! " Tegas Nia tulus kemudian ia pun mengulang kembali ciuman yang dilakukan Gael tadi.
TAMAT
__ADS_1