
Dibalik pintu kamar Nia menggerutu kesal. "Ada apa Nia? " mama Mita datang mengejutkan Nia.
"Tidak ada apa-apa mah. " Sahut Nia kikuk.
Mama Mita memiringkan kepalanya melihat kearah pintu. Seiring dengan itu Nia juga mengikuti gerakan mama Mita menutup pintu dengan punggungnya.
"Sebaiknya kita turun saja mah. " Menuntun mama Mita menjauh dari pintu kamar. Mama Mita pun menurut ikut dengan Nia.
Di meja makan Mita terus memperhatikan Gael dan Nia secara bergantian. Gael yang sedari tadi terlihat senang sementara Nia terlihat engan untuk melihat kearah Gael. "Kalian kenapa? " akhirnya mama Mita tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya.
"Tidak apa-apa mah. " Jawab Nia secepat kilat. Lain lagi dengan Gael yang hanya diam sambil melahap makan malamnya.
Mita kembali melanjutkan makan malamnya penuh dengan tanda tanya.
Selesai makan malam Nia menemui Halima sebelum kembali ke kamar. "Kau kenapa kesini? " tanya Halima melihat kebelakang Nia.
"Tidak ada siapa-siapa? " Terang Nia tau maksud dari Halima yang melihat kebelakangnya. "Kau pergilah nanti tuan Gael mencarimu. " Suruh Halima. "Kau mengusir ku? " pekik Nia.
Aku tidak punya keberanian untuk mengusir mu hanya saja aku memilih untuk mencari aman dari tuan Gael.
"Apa? " Nia tidak Terima dengan apa yang dikatakan oleh Nia. "Pergilah kekamar mu karna ini bukan waktunya untuk menghindari tuan Gael. " Halima membawa Nia keluar dari kamarnya.
"Teman macam apa kau ini? " ketus Nia menghentakkan kakinya ke lantai. Halima tertawa mendengar ucapan dari Halima. "Aku tak ingin tuan Gael terlalu lama menunggu mu didalam kamar. " Ucap Halima mengerlikan sebelah matanya sebelum menutup pintu kamarnya.
Nia kesal namun tak bisa berbuat apa-apa. "Teman macam apa dia? " Gerutu Nia sambil meninggalkan rumah belakang.
"Kau dari mana saja? " Tanya Gael meletakkan ponselnya diatas nakas begitu Nia memasuki kamar.
"Aku dari kamar Halima. " Jawab Nia naik ke tempat tidur.
"Halima? " Gael mengkerutkan keningnya.
"Halima pelayan yang bersama ku sore tadi. " Jelas Nia merebahkan tubuhnya kemudian menarik selimut menutupi badannya hingga sebatas dadanya.
"Untuk apa kau menemuinya sampai datang kerumah belakang? " Selidik Gael ikut berbaring disamping Nia.
"Aku hanya sekedar ingin berbincang dengannya. " Sahut Nia memutar badannya membelakangi Gael.
"Kau kenapa membelakangi ku? " Gael menarik lengan Nia. "Aku mengantuk. " Nia kembali membelakangi Gael.
"Tidak bisa seperti itu. Aku belum mengantuk jadi kau belum bisa untuk tidur. " Pekik Gael menarik kembali tubuh Nia hingga menghadap kepadanya.
"Kau belum aku ijinkan untuk tidur. "
"Tapi aku sudah mengantuk. " Ucap Nia.
"Baiklah jika kau sudah mengantuk, tidurlah. " Gael membawa tubuh Nia kedalam pelukannya. Mengelus pucuk kepala Nia dengan lembut. Nia mendongakkan kepalanya menatap wajah Gael. Tanpa sadar ia menyentuh rahang Gael sambil menatap lekat.
Gael mengambil tangan Nia dari wajahnya mengecup tangan itu kemudian kembali melingkarkan tangannya mendekap Nia sampai mereka berdua tertidur dengan posisi saling berpelukan.
Keesokan harinya.
Gael dan Nia turun dari tangga menuju meja makan, tangan Gael menggandeng tangan Nia dengan erat.
__ADS_1
"Gael. " Seorang wanita yang sedang ikut duduk bersama dengan mama Mita di meja makan berdiri dari duduknya. Menghampiri Gael dengan tiba-tiba memeluk Gael. Nia menatap bingung dengan wanita itu yang tak lain adalah Selri.
Gael tak menolak pelukan dari Serli dan tak juga membalas pelukan itu. Hanya diam tanpa ekspresi.
Merasa pelukannya tak dibalas oleh Gael, Serli pun akhirnya melepas pelukannya. "Selamat pagi Nia. " Ucap Serli bersikap santai seolah tidak terjadi apa-apa.
Nia memaksakan senyumannya lalu membalas sapaan dari Serli. "Selamat pagi."
Gael menatap Nia dan Serli secara bergantian. "Kau mengenalnya? " Selidik Bastian menatap Nia.
"Hum. " Kembali tersenyum sambil melepaskan tangannya dari genggaman Gael. Menarik kursi untuknya ditempat biasa ia duduk.
"Makasih Nia. " Serli langsung menyerobot duduk dikursi yang hendak diduduki oleh Nia. Dengan terpaksa Nia berpindah menarik kursi yang ada disebelah Serli. Sementara Gael juga ikut duduk ditempat biasa ia duduk.
"Nia sayang ini untuk mu. " Mama Mita meletakkan sepotong daging diatas piring Nia sambil tersenyum. "Makasih mah. " Ucap Nia membalas senyuman mama Mita.
Sementara Serli yang melihat itu tidak ingin melewatkan kesempatan, mengangkat piringnya kearah Mita. "Tante, aku juga mau dong. " Ucapnya terdengar manja.
"Ini. " Mita memberikan sepotong daging untuk Serli.
Gael menikmati sarapannya tanpa memperdulikan kehadiran Serli disana. Sesekali Nia melirik kearah Gael dan Serli bergantian. "Ada hubungannya apa mereka? " Gumamnya.
"Aku sudah selesai. " Ucap Gael kemudian berdiri dari duduknya. Nia yang melihat Gael sudah selesai dengan sarapannya ikut berdiri.
"Kau lanjutkan sarapan mu tidak perlu mengantar ku. " Perintah Gael. Nia hanya menganggukkan kepalanya kemudian duduk kembali ditempatnya sambil menatap punggung Gael dengan banyak pertanyaan di benaknya.
"Tante, aku sudah selesai aku ingin berbicara sebentar dengan Gael. " Ucap Serli kepada Mita.
__ADS_1
"Ia. Pergilah. " Suruh Mita kepadanya.
Nia menghentikan sarapannya begitu mendengar Serli ingin berbicara dengan Gael namun tak bisa mencegah Serli untuk mengejar Gael.
"Kenapa dia ada disini? " Tanya Gael kepada pak Agus. "Tadi pagi-pagi sekali nona Serli datang dan diajak oleh nyonya untuk sarapan bersama. " Jelas pak Agus. "Kenapa bisa dia dan Nia saling mengenal? " Selidik Gael.
"Kemarin nona Serli datang berkunjung tuan. " Jelas pak Agus lagi.
"Oh ternyata dia datang tanpa sepengetahuan ku. " Kesal Gael.
Daren membukakan pintu mobil untuk tuan Gael. "Silahkan tuan. " Ucap Daren mempersilahkan tuannya itu.
"Gael. " Panggil Serli. Gael menghentikan langkah kakinya menoleh kearah sumber suara. "Ada apa? " tanya Gael.
"Apa aku bisa ikut dengan mu? tadi aku tidak bawa mobil ke sini. " Ucap Serli bergelayut di lengan Gael.
Dari kejauhan ternyata Nia melihat keduanya. Ketika Gael menyadari akan keberadaan Nia, ia segera membuat rencana baru. "Sedikit mengerjai Nia pasti akan menarik. " Gumam Gael.
"Masuklah. " Suruh Gael kepada Serli.
Dengan senang hati Serli segera masuk kedalam mobil dengan wajah berbinar. Gael kemudian ikut masuk dan Daren menutup pintu mobil untuk tuannya itu.
"Jalan. " Suruh Gael kepada Daren begitu Daren sudah duduk di depan stir mobil. "Baik tuan. " Daren melirik kaca spion mobil melihat Nia yang berada dibalik pilar kokoh mansion yang berada dibagian teras. Kemudian ia melirik sekilas kepada Gael sebelum ia melajukan mobilnya.
Nia menatap sendu mobil yang ditumpangi oleh Gael, semakin lama semakin menjauh dan keluar melewati gerbang utama mansion. Dengan langkah gontai Nia kembali masuk kedalam mansion.
"Apa aku salah jika aku tidak terima suami ku pergi dengan wanita lain? " Lirih Nia.
**Part ke 3 untuk hari ini**.
__ADS_1