Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Sampaikan pada bintang


__ADS_3

"Diamlah dan turuti apa kata ku! " Ucap Gael terdengar tegas membuat Nia tak bisa berkutik.


"Masuk! " Gael membukakan pintu mobilnya untuk Nia. Setelah Nia berada didalam mobil, Gael menutup pintu mobil kemudian mengitari mobil masuk ke mobilnya.


Gael memiringkan badannya kearah samping mendekatkan wajahnya kewajah Nia. Spontan Nia memundurkan punggungnya sampai kesandaran kursi mobil yang ia duduki.


Deg


Bola mata keduanya saling bertemu satu sama lain. Jantung Nia berdegup sangat kencang, bola mata hitam lekat itu seolah menghipnotis dirinya. Cukup lama mereka berdua berada diposisi tersebut. Saling beradu pandangan mata seolah sedang menyelami bola mata itu terhanyut dalam suasana yang mendebarkan itu.


Sejurus kemudian Nia memalingkan wajahnya kesembarang arah memutus kontak mata yang membuat jantungnya berlari maraton.


"Ehem. "


Gael berdehem melepas rasa canggung nya. Tangannya meraih seatbelt lalu memasangkan nya. Sementara Nia mengikuti gerakan tangan Gael yang sedang memasangkan nya seatbelt.


Gael kembali memperbaiki posisi duduknya sebelum ia menyalakan mesin mobilnya. Melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Sesekali Gael melirik kearah Nia.


Sementara Nia menatap keluar melalui kaca mobil, berharap secepat mungkin tiba di mansion agar terlepas dari suasana canggung itu.


"Kenapa tidak memberitahu ku sebelumnya jika kau ingin mengunjungi Kiren." Gael menoleh kearah Nia sembari menunggu jawaban darinya.


"Aku tidak sempat. " Jawaban yang mencengangkan.


"Apa kata mu? " Gael memperjelas ucapan yang baru keluar dari mulut nya.


Nia menggigit bibir bawahnya. Merutuki ucapannya sendiri. "Kenapa diam? " Selidik Gael.


"A-aku tadi hanya asal bicara. "Nia memaksakan senyumannya. Padahal terlihat jelas ia sedang merasa ketakutan didalam senyuman keterpaksaan itu.


Kenapa lama sekali tiba di mansion? Gumam Nia dalam hati. "Ada apa? " Gael melihat Nia yang sedang meremas jari tangannya.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa." Nia menatap lurus kedepan.


Tiba di mansion.


Gael membuka pintu mobil lebih dulu ingin membukakan pintu untuk Nia. Namun belum saja Gael turun dari mobil, Nia sudah lebih dulu membukakan pintu untuknya sendiri.


Meninggalkan Gael yang sedang menatap nya dari samping mobil, berdiri sambil bertolak pinggang.


"Kenapa kau selalu berusaha menghindari ku? " Gael berkata kepada dirinya sendiri.


"Akhirnya. " Nia merebahkan tubuhnya diatas ranjang. "Aku sangat lelah pada hal aku tidak melakukan apa pun. " Terang Nia menatap langit-langit kamar.


"Aku takut dengan perasaan ku sendiri. Aku takut mencintai mu jika selalu berada disamping mu. Aku takut suatu saat aku dan kau tak lagi bersama. Aku takut hati ku akan terluka nantinya.


Mengapa kau mengambil hati ku tanpa permisi? aku hidup dengan begitu banyak kesulitan. Tapi kau tidak mengetahuinya. Aku sadar bahwa orang yang kau cintai bukanlah diri ku, aku tak pantas berada disisi mu. Bahkan hanya untuk sekejap saja aku tak pantas bersama mu.


Tapi tak bisakah kau berikan senyum mu pada ku sekali saja? Meski pun itu bukan cinta. Ku mohon tersenyumlah walau hanya sesat. Jika aku terus berada disisi mu seperti ini maka ada sebuah kata yang tidak bisa terus ku pendam.


"Ingin ku sampaikan pada bintang mengapa bukan aku yang ada didalam hati mu? mengapa nama orang lain yang kau ukir didalam hati mu?"


Nia tertidur dengan segudang isi hatinya di atas ranjang. Terlelap menahan hatinya agar tidak terlalu dalam jatuh ke lubang perasaannya kepada Gael yang suatu saat akan menyakitkan baginya.


Gael masuk kedalam kamar, setelah sebelumnya ia keruang kerjanya. Menatap Nia yang sedang tertidur pulus diatas ranjang. Garis wajah Gael seketika berubah menjadi sebuah senyuman. Senyuman yang ingin Nia lihat seperti keinginan tadi. Tersenyum kepadanya walau hanya sekali saja. Namun sayang senyuman itu tidak dapat dilihat oleh Nia saat itu.


Ingin rasanya Gael ikut berbaring disamping Nia yang sedang tidur terlentang. Gael melupakan pekerjaannya hanya demi mengantarkan Nia pulang dan menikmati pemandangan dimana Nia terlihat cantik dimatanya dengan gaya tidurnya.


Menaiki ranjang dan merebahkan tubuhnya disamping Nia memiringkan badannya menghadap ke Nia. Tangannya ia gunakan menopang kepalanya.


Tanpa sadar jari telunjuknya menyentuh bibir Nia. ingin rasanya ia melahap habis bibir itu. Bibir yang beberapa hari ini ingin ia rasakan kembali. Nia menggeliat kan badanya merasa terusik akan ulah Gael yang menyusuri bibirnya.


Nia memiringkan badannya menghadap Gael, jarak mereka begitu sangat dekat. Hembusan nafas Nia begitu terasa diwajah Gael.

__ADS_1


Cup


Akhirnya Gael tak bisa menahan rasa ingin mencumbu bibir milik Nia. Mencuri sebuah ciuman tanpa Nia tahu. Terbersit dikepala nya untuk mengerjai Nia dan tanpa menunggu lama ia menjalankan aksinya tersebut.


Ia sengaja menepuk dengan keras kaki Nia berulang kali sampai Nia merasa terusik dan terbangun dari tidur nya. Mengerjapkan matanya sambil mengumpulkan kesadarannya. Ketika matanya menangkap sosok yang sedang duduk di sampingnya diatas ranjang, Nia kelagapan mendudukkan badannya diatas ranjang.


"Ma-maaf tuan aku tertidur. " Secepat mungkin Nia turun dari tempat tidur dan berdiri disana menghadap tuannya itu.


"Apa kau lelah? " Masih dengan posisi duduk diatas ranjang nya.


"Tidak tuan. " Nia menundukkan pandangan nya tak berani menatap kearah Gael.


"Sudah jelas-jelas ia tertidur karena lelah tapi dia takut mengatakannya. Apa aku semenakutkan itu baginya? "


Gael ikut turun dari atas ranjang berjalan mendekati Nia dengan sigap Nia memundurkan langkahnya ketika Gael semakin dekat dengannya. Nia terpojok di dinding kamar, sementara Gael terus mendekat sampai tidak ada jarak diantara mereka.


"Jika kau tidak lelah, bagaimana kalau aku buat menjadi lelah? " seringai licik dibibirnya Gael.


"A-apa? " Nia terbata-bata.


"Apa kau mau merasa kan nya lagi? " Sorot mata Gael penuh dengan misteri. "A-aku? " Nia tak mampu melanjutkan kata-kata nya lagi. Otaknya sudah tak bisa berpikir dengan jernih disaat bayangan dimana Gael menyentuh nya dengan paksa.


Gael menikmati raut wajah Nia yang terlihat sedang ketakutan dengan ucapannya. Namun sialnya ia terjebak dengan permainannya sendiri. Justru sekarang ia lah yang lebih tersiksa menahan sesuatu yang ingin segera dipuaskan.


Nia mendorong kuat dada bilang Gael menjauh darinya. Ketika merasa ada celah Nia menjauh dari Gael. Tentu saja Gael tidak tinggal diam, menarik tangan Nia hingga Nia tertarik kedalam pelukannya.


Deg


Mata keduannya kembali saling bertemu. Dengan cepat Nia berusaha terlepas dan mengalihkan pandangannya. Tak tahan jika harus berlama-lama memandangi mata hitam pekat milik Gael.


Namun Gael manahan tubuh Nia semakin kuat. Disaat Nia sudah merasa putus asa, getaran ponsel milik Gael menyelamatkannya. Gael merogoh sakunya melihat siapa yang sudah mengganggu waktunya. Kesempatan itu digunakan Nia untuk kabur dari lubang singa yang hampir siap melahap nya habis.

__ADS_1


Boleh dong ya minta like, vote dan coment nya biar author up lagi.


__ADS_2