
"Apa kata mu? " Gael yang baru masuk kedalam kamar mandi itu mendengar sekilas gerutuan Nia.
"Tidak ada tuan! " Nia langsung keluar dari kamar mandi itu setelah menyelesaikan perintah Gael padanya.
Nia kembali kekamarnya dan Halima. "Ada apa tuan Gael memanggilmu? " selidik Halima begitu Nia masuk kedalam kamar itu.
"Hanya meminta ku menyiapkan air hangat untuk nya. " Jelas Nia. "Untuk apa air hangat sudah jam segini? " tanya Halima lagi.
"Ya untuk mandilah Halima. " jawab Nia asal.
"Oh... " Halima ber oh ria.
"Tapi tuan Gael seperti sedang gesrek sedikit otaknya, biasanya dia tidak mau menyuruh ku bahkan aku pernah menawarkan untuk menyiapkan air hangat dan makan untuk nya tapi ia menolaknya." Terang Nia mengingat kembali dimana Gael mengabaikan bahkan meninggikan suaranya ketika Nia ingin menyiapkan semua kebutuhannya.
"Hus... Kau jangan berbicara seperti itu bagaimana jika ada yang mendengar ucapan dan melaporkannya kepada tuan Gael bisa habis kita. " Peringat Halima.
" Mana mungkin ada yang mendengarnya, ini sudah hampir tengah malam. " Nia membela dirinya.
"Is kau ini! " Halima menggelengkan kepalanya melihat keras kepalanya Nia.
Keesokan harinya setelah Gael berangkat kekantor, seseorang datang ke mansion untuk menemui Gael dan pak Agus memberi tahu pria yang mencari tuannya itu bahwa tuan Gael sudah berangkat beberapa menit yang lalu.
Dari kejauhan Nia melihat pak Agus yang sedang berbicara dengan seseorang diruang tamu, namun Nia tidak dapat melihat siapa yang berbicara dengan pak Agus karena pria yang berkunjung itu duduk dengan posisi membelakangi Nia dan Nia hanya dapat melihat punggung dari seseorang yang sedang bersama dengan pak Agus.
"Maaf tuan Tian, tuan Gael baru saja berangkat atau anda sebaiknya langsung saja menghampiri tuan Gael di kantornya. " Ucap Pak Agus kepada Tian yang memang sudah mengenal Tian sejak lama karena persahabatan keduanya namun belakangan ini Tian tidak lagi mengunjungi Gael seperti sebelumnya.
Karena tanpa sepengetahuan Gael, Tian bertunangan dengan seoarang wanita yang merupakan kekasih dari Gael. Tian yang dijodohkan oleh orang tuanya dengan Kiren baskoro anak dari rekan bisnis orang tuanya.
Hal itu merusak persahabatan yang sudah lama mereka jalin, Gael tidak pernah lagi mau menemui Tian setelah mengetahui hal itu. Sementara Kiren hanya mengikuti permintaan orang tuanya tanpa memikirkan perasaan Gael yang begitu mencintai nya.
"Baik lah pak Agus, terima kasih atas waktunya, saya permisi dulu. " Ucap Tian pamit.
"Sama-sama tuan. " Balas pak Agus kemudian Tian pun meninggalkan tempat itu dan pak Agus mengantarkan Tian sampai kedepan pintu mansion itu.
"Pak gus... Tadi itu siapa? " selidik Nia.
"Apa nyonya tidak ada pekerjaan lain? " Bukan nya menjawab pertanyaan Nia pak Agus malah melontarkan kata-kata serangan yang membuat Nia mati kutu.
"Is pak Gus... Tidak tau apa kalau otak ku ini juga perlu traveling sedikit. " Kesal Nia. Maaf nyonya jika nyonya ingin berpergian sebaiknya anda beritahu saja tuan Gael siapa tau beliau mau mengajak anda berkeliling dunia." Ucap Pak Agus.
"Yang benar saja pak gus, jangan kan berkeliling dunia berkeliling mansion saja dengannya tidak pernah terlintas dipikiran ku! " pekik Nia merasa kesal.
"Tapi tadi nyonya sendiri yang bilang jika ingin... " Pak Agus tidak lagi menerus kan ucapannya ketika Nia memotong pembicaraan nya.
"Pak gus payah tidak bisa melihat orang senang sedikitpun. " Nia meninggalkan pak Agus yang masih bingung dengan nyonya mudanya itu.
__ADS_1
Tian pun mengikuti saran dari pak Agus menemui Gael dikantor nya. "Selamat pagi. " Sapa Tian pada wanita yang bertugas sebagai resepsionis itu.
"Selamat pagi tuan, ada yang bisa saya bantu? " sapa wanita itu dengan ramah.
"Saya ingin bertemu dengan tuan Gael, apa beliau ada ditempat?"
"Apa anda sudah membuat janji?" tanya resepsionis itu lagi. "Belum." Terang Tian.
"Maaf dengan tuan siapa? " wanita itu bertanya sambil mengangkat telpon kantor untuk menghubungi sekretaris tuan Gael.
"Tian Mahendra."
Tian pun menunggu wanita itu yang sedang berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon tersebut.
"Maaf tuan, tuan Gael sedang tidak bisa diganggu beliau ada rapat penting sekarang sebaiknya tuan membuat jadwal temu terlebih dulu tuan. "
"Baiklah!" lagi - lagi Tian tidak berhasil menemui Gael terpaksa ia kembali tanpa bertemu dengan Gael.
"Tian, bagaimana apa kau sudah bertemu dengan Gael? " wanita yang sedang terbaring lemah itu berharap jika Tian berhasil menemui Gael.
"Maaf Kiren aku belum bisa bertemu dengan Gael tapi aku janji besok akan pergi menemuinya kembali dan membawanya kesini! " Terang Tian dengan terpaksa memberitahukan Kiren yang sebenarnya.
__ADS_1
"Aku rasa Gael tidak akan mau menemui ku lagi. " Kiren dengan rasa kecewa dan murung dimana Gael tidak pernah lagi mau bertemu dengannya setelah apa yang diperbuat olehnya.
"Kiren, kau jangan berkata seperti itu Gael pasti akan datang menemui mu. Dia berhati baik aku sudah lama mengenalnya jauh sebelum kau mengenalnya, jadi kau jangan memikirkan hal yang tidak penting. Ingat kau harus sembuh! " Peringat Tian kepada Kiren wanita yang sudah bertunangan dengannya.
"Ia aku tau! " Ucap Kiren lemah.
"Kalau begitu kau istirahat lah dulu aku keluar sebentar dan nanti aku akan datang menemanimu. "
"Baiklah. " Sahut Kiren.
Tian pun keluar dari ruangan itu dan sekilas tersenyum kepada Kiren sebelum ia menutup pintu itu. Dan setelah pintu itu tertutup Tian tak bisa menahan air matanya, melihat wanita yang sudah membuatnya jatuh cinta terbaring lemah disana.
Hatinya semakin terluka melihat wanita itu menginginkan pria lain disisi nya saat ini. Gael adalah laki-laki beruntung itu dimana Tian tidak bisa menggantikan nama Gael dihati Kiren.
Meskipun sudah menjadi tunangannya ternyata wanita itu tidak bisa menghapus nama itu dari hatinya dan mengganti nama Tian dihati nya.
Tian mengusap buliran bening itu dari sudut matanya sebelum ia melanjutkan langkahnya meninggalkan rumah sakit tempat Kiren sedang dirawat.
"Bagaimana? apa dia sudah pergi? " tanya Gael tanpa melihat kearah Daren. "Sudah tuan. " Daren memberikan jawaban untuk tuannya itu. "Lain kali tak perlu memberitahukan ku jika dia datang untuk menemui ku bilang saja aku tidak ada atau cari alasan lain agar dia tidak datang lagi menemui ku! " Perintah Gael.
"Baik Tuan. "
"Apa kau sudah menyiapkan berkas yang ku minta? " Gael mengalihkan pembicaraan mereka.
"Sudah tuan, dan satu jam lagi kita ada rapat dengan ABP grup. " Terang Daren.
__ADS_1
"Baiklah, kita berangkat sekarang! " Gael pun berdiri dari kursi kebesarannya itu yang kemudian di ikuti oleh Daren dari belakang.