
"Apa? " Gael terkejut mendengar apa yang barusan didengar olehnya. "Kenapa kau tidak memberitahu ku terlebih dulu jika ingin pergi dengannya? "
"Maaf, tapi tadi aku pergi atas ijin dari mama dan juga Serli bilang kau tidak akan marah jika aku pergi bersamanya. " Terang Nia apa adanya.
"Apa kalian begitu dekat? sepertinya Serli banyak tau tentang mu. " Ucap Nia lagi. "Lain kali jika ingin pergi dengan siapapun itu kau harus meminta ijin dari ku terlebih dahulu. " Peringat Gael sambil melonggarkan dasi yang masih ia kenakan.
"Baiklah. " Nia yang melihat Gael sedang melepaskan dasinya ikut membantu melepaskan dasi tersebut. "Mandilah mama sudah menunggu dibawah. " Suruh Nia dan segera Gael memasuki kamar mandi membersihkan tubuhnya.
Dimeja makan Mita yang sudah menunggu Gael dan Nia untuk makan malam bersama, tersenyum melihat keduanya berjalan menuruni tangga dengan bergandengan tangan. Sesampainya di meja makan Gael menarik kursi untuk Nia dan mempersilahkan Nia untuk duduk dengan lembut. Suatu kemajuan yang luar bisa menurut Mita dimana putra itu sudah bersikap lebih baik dari sebelumnya yang artinya hubungan keduanya perlahan mulai layaknya sepasang suami istri yang saling mencintai.
Disela-sela makan malam Gael memberitahu mama Mita agar tidak mengijinkan Serli untuk membawa Nia sesuka hatinya tanpa sepengetahuan darinya. Awalnya Mita yang tak mengerti dengan maksud ucapan dari putranya itu. Namun Mita yang melihat raut wajah Gael tau betul jika putranya itu sedang bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
Mita hanya mengiakan tanpa banyak bertanya karena ia tau betul jika Gael mempunyai alasan dengan semua ucapannya. Sementara Nia yang sedang bingung mengurungkan niatnya ketika hendak protes kepada Gael ketika melihat mama Mita juga tidak bertanya apa alasan Gael berkata seperti itu.
Selesai makan malam Gael langsung kembali kedalam kamar meninggalkan Nia dan Mita yang masih berbincang di ruang tengah mansion. Dan kemudian Nia juga segera menyusul Gael tak lama setelah Gael kembali kekamar.
"Apa kau sudah tidur? " tanya Nia hanya sekedar bertanya yang melihat Gael sudah berada diatas tempat tidur.
"Kemarilah! " Gael meletakkan ponsel nya diatas nakas. Nia mendekat dan ikut duduk diatas tempat tidur disamping Gael. "Ada apa? " tanya Nia.
"Mendekatlah! " suruh Gael dan Nia pun mendekatkan tubuhnya kearah Gael. "Kau harus dihukum karena sudah tidak meminta ijin dari ku sebelum keluar dari mansion. " Tegas Gael.
__ADS_1
"Aku kan pergi keluar atas ijin dari mama dan apa salahnya jika aku pergi bersama dengan Serli dia itukan temanmu. " Protes Nia tidak ingin mendapat hukuman.
"Siapa bilang jika dia itu teman ku? " Terang Gael.
"Iss, kau ini. " ya sudah lain kali aku tidak akan pergi keluar mansion sebelum mendapat ijin dari mu. " Ucap Nia berharap Gael melupakan hukuman untuknya.
"Tetap saja aku akan menghukum mu. " Gael menarik tangan Nia sampai Nia berada didalam pelukan Gael. Tanpa menunggu lama Gael mencium bibir Nia sekilas kemudian menatap Nia dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
Ketika Gael hendak mencium bibir Nia kembali, Nia menahan dada bidang Gael dengan kedua tangannya. "Tunggu! " ucap Nia.
"Ada apa? " selidik Gael yang sudah menahan hasratnya. "Jelaskan dulu kenapa aku harus meminta ijin jika aku keluar dengan Serli padahal kan aku sudah diijinkan oleh mama. " Terang Nia.
"Nia, ini bukan waktu yang tepat untuk membahas itu. " Kesal Gael. "Kenapa? " tanya Nia lagi.
Umh..
Nia mendorong tubuh Gael. "Kau mau membunuh ku? " protes Nia ketika ia hampir saja kehabisan oksigen untuk bernafas.
Namun Gael tidak mendengarkan keluhan Nia ia kembali mengulangi mencium bibir Nia semakin lama ciuman itu semakin menuntut. Gael memperdalam ciumannya dengan menggigit bibir bawah Nia. Dan begitu bibir itu sedikit terbuka Gael memasuki setiap sudut mulut Nia dan semakin lama ciuman itu semakin turun ke leher jenjang Nia.
Malam itu mereka habiskan dengan menikmati indahnya surga dunia. Yang terdengar hanyalah suara ******* keduanya. Gael terus melakukannya sampai Nia sudah benar-benar merasa remuk diseluruh badannya terkapar diatas ranjang dengan tubuh polosnya.
__ADS_1
Gael mengecup kening Nia dengan lembut dan cukup lama ia menempelkan bibirnya disana. "Terima kasih sayang" Ucap Gael yang hanya dibalas senyuman oleh Nia, kemudian Gael menarik selimut dan menyelimuti tubuh polos istrinya itu.
Gael ikut berbaring disamping Nia, memeluk tubuh yang sudah menjadi candu baginya dan ingin terus mengulangi kegiatan panas mereka namun ia mengurungkan niatnya melihat Nia sudah benar-benar lelah akibat ulahnya bahkan ia terus menggempur Nia hingga pukul satu malam.
Tak lama kemudian Gael pun ikut tertidur bersama dengan Nia yang sudah lebih dulu tertidur.
Keesokan harinya Gael lebih dulu bangun dari pada Nia, namun karena tidak tega membangunkannya Gael terpaksa mempersiapkan semua keperluannya sendiri. Bahkan Nia belum juga bangun sampai melewatkan sarapannya. Ketika Gael hendak berangkat pun Nia belum juga terbangun.
Sebelum Gael berangkat terlebih dulu ia berpesan kepada pelayan untuk mengantarkan sarapan buat Nia dan meminta mereka untuk tidak mengganggu Nia.
Ketika salah satu pelayan di mansion ingin mengantarkan sarapan kepada Nia, Mita meminta agar ia saja yang membawakan nya untuk menantunya itu.
Mita meletakkan sarapan yang dibawanya diatas nakas dan kemudian melihat kearah tempat tidur dimana Nia masih berada dibawah selimutnya.
Mita mendekati Nia dan membangunkan Nia dengan lembut. Nia yang terusik dengan suara panggilan Mita perlahan membuka matanya dan menggeliat kan tubuhnya sehingga tanpa sadar selimut yang menutupi tubuhnya sedikit terbuka memperlihatkan sedikit tubuh bagian atasnya.
Seketika Mita membelalakkan matanya melihat bagian tubuh Nia yang banyak sekali tanda merah kebiruan disana akibat ulah darin putranya itu.
"Sayang, kau sarapanlah dulu ini sudah siang. " Suruh Mita kepada menantunya itu dengan lembut sambil tersenyum karena ia sudah menyadari apa yang terjadi kepada anak dan menantunya itu.
Nia memperbaiki selimutnya sampai menutupi semua tubuhnya hanya memperlihatkan wajahnya saja. "I ia mah. " Ucap Nia kaku merasa malu dengan apa yang sudah dilihat mertuanya itu.
__ADS_1
"Kalau gitu mama keluar dulu dan cepat habiskan sarapan mu! " Ucap Mita sambil mengelus rambut Nia dengan lembut.
"Ia mah. " Balas Nia. Setelah Mita keluar dari kamarnya dan menutup pintu Nia merutuki dirinya sendiri. "Bisa-bisanya aku bangun siang bahkan mama melihat ku dalam keadaan seperti ini." Keluh Nia dan sepersekian detik Nia teringat akan Gael. "Astaga!! jangan bilang ia akan menghukum ku lagi setelah pulang nanti karena sudah membiarkan dia menyiapkan kebutuhannya sendiri sebelum berangkat tadi. " Ucap Nia cemas.