Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Tidak ingin menyulitkan ku


__ADS_3

"Mama? " Nia terkejut dengan kehadiran mama mertuanya. Berdiri dari duduknya yang diikuti oleh Halima. "Apa benar apa yang barusan mama dengar? " Mita berjalan mendekati Nia.


"I-itu. " Nia menundukkan kepalanya. "Maaf ma. "


"Ikut mama. " Perintah Mita.


Menghela nafasnya kasar. Memutar kepalanya kearah Halima. "Bagaimana ini? " Liriknya. "Maaf Nia tapi aku juga tak bisa berbuat apa-apa. "


Menganggukkan kepalanya sebelum pergi mengikuti Mita. "Bagaimana ini? apa yang harus aku katakan? " Nia mulai gusar untuk menghadapi kemungkinan yang akan terjadi.


"Pak. Tolong beritahu kepada Gael agar kembali sekarang juga. " Perintah Mita kepada pak Agus begitu ia berada diruang tengah mansion. "Baik nyonya. " Membungkukkan badannya sebelum melakukan perintah dari nyonya Mita. "Ada apa lagi ini? " gumam pak Agus melirik kearah Nia yang terlihat cemas dari raut wajahnya.


"Duduklah. " Suruhnya kepada Nia yang diikuti oleh Nia tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Memilih untuk duduk agak jauh dari mertuanya nya.


Tiga puluh menit kemudian Gael tiba di mansion bersama dengan Daren. "Dimana mama? " tanyanya begitu keluar dari mobil kepada pak Agus. "Beliau ada diruang tengah tuan bersama dengan nyonya muda." Terang pak Agus kemudian mengikuti langkah kaki tuan Gael memasuki mansion yang disusul oleh Daren dari belakang.


"Kapan mama tiba? " tanyanya tanpa menghentikan langkah kakinya. "Kurang lebih satu jam yang lalu tuan. " Lapor pak Agus.


Begitu tiba diruang tengah, Gael manatap Mita kemudian beralih menatap Nia yang tak berani melihat kearahnya. Gael mulai merasakan ketegangan diruangan itu


"Mah.. "


"Duduklah. " Mita memotong ucapan Gael.


Gael duduk didepan Nia. Sementara pak Agus memilih pergi dari ruangan yang terasa menegangkan itu. Namun tidak dengan Daren yang setia berdiri disamping tempat duduk tuannya itu.


"Ada apa mama memanggilku? " harap cemas menantikan ucapan dari Mita ibunya. "Kau bisa tanyakan langsung kepada Nia. " Melemparkan tatapan kepada Nia.


"Ada apa? " Suara Gael masih terdengar datar.


"A-aku.. " Nia menggigit bibir bawahnya tak bisa melanjutkan kata-katanya. "Katakanlah apa yang tadi mama dengar dari mu. " Suruh Mita kepada Nia.


"Mah.. Aku tidak bermaksud untuk.. " Ucapan Nia terhenti ketika Gael memotong ucapannya. "Ada apa ini sebenarnya? " menatap Nia dan mama Mita secara bergantian.


"Apa Gael mengetahuinya? " Kali ini mama Mita yang bertanya kepada Nia. Menggelengkan kepalanya tanpa berani mengeluarkan suaranya.


"Haah. " Mita terkejut dengan keberanian dari menantunya. "Maaf mah. " Lagi dan lagi Nia meminta maaf untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


"Apa kau tau, Nia memakai alat kontrasepsi penunda kehamilan? " Tanya Mita tanpa basa basi.


"Apa? "


"Sudah kuduga kau tidak tau apapun tentang istrimu. " Sindir mama Mita.


Gael menatap tajam kearah Nia. "Apa kau masih belum bisa menerima Nia sebagai istri mu? " Kesal Mita tidak ingin menyalahkan perbuatan Nia sepenuhnya. Karena ia tau pasti ada alasan dibalik perbuatan Nia.


"Kenapa kau melakukan itu? " tanya Gael menahan marahnya bahkan kini ia sudah mengepalkan kedua tangannya.


"Aku melakukan itu hanya karna aku tidak ingin menambah masalah yang lebih menyulitkan ku. Dan aku tau kau juga tidak akan menginginkan ku lebih lama lagi bersama mu. " Terang Nia.


"Mama kecewa dengan kalian berdua. Mama pikir dengan memberikan ruang kepada kalian berdua akan bisa saling menerima satu sama lain. Ternyata mama salah berpikir semua akan lebih baik. " Lirih Mita.


"Mah.. " Nia merasa bersalah dengan perbuatannya.


"Sudahlah. Sekarang mama menyerahkan semua keputusan kepada kalian berdua. Karena bagaimana pun juga kalian yang akan menjalani semuanya. " Perkataan Mita sungguh menyesakkan hati Nia.


"Aku bisa selesaikan masalah ini. " Mencoba untuk meninggalkan ruan tengah mansion. "Kalian bicarakan masalah ini baik-baik. Mama tidak ingin kau mengambil langkah yang salah. " Ucap Mita menghentikan langkah kaki Gael.


Pergi setelah selesai dengan ucapannya meninggalkan ruang tengah dengan rasa kecewa yang mendalam.


"Ia tuan. "


"Kau kembalilah dan tangani masalah kantor. "Perintah Gael yang langsung dilakukan oleh Daren.


"Baik tuan. " Daren pun hendak pergi namun menghentikan langkahnya ketika Gael. kembali. berbicara kepadanya. "Setelah dari perusahaan kau datang kemari dan bawakan beberapa berkas yang harus ku selesaikan."


"Baik tuan, saya permisi. " Pamit Daren.


"Dan kau, ikut aku. "


"Ha? " Mendongakkan kepalanya melihat Gael.


Dengan cepat Nia berdiri dari duduknya menyusul Gael yang sudah menaiki tangga ke lantai dua. Nia memastikan jika Gael akan pergi kekamar.


"Kenapa kau melakukan itu? " Selidik Gael sambil melepaskan jas kantornya kemudian melonggarkan dasinya.

__ADS_1


"Jawab! " Meninggikan suaranya kepada Nia yang masih diam mematung.


"Aku.. Aku tau kau terpaksa menikahi ku. Aku tau cepat atau lambat kau akan menceraikan ku. " Lirih Nia menundukkan kepalanya. Berusaha keras agar tidak terlihat lemah didepan Gael dengan menahan air matanya.


"Sejak kapan kau mengunakannya? " Suara Gael terdengar menakutkan.


"Sejak kau memaksa ku melakukan setelah kita menikah. " Terang Nia mulai memberanikan diri menatap Gael.


"Apa kau sudah memikirkannya sebelum kau melakukannya? " selidik Gael dengan sorot mata tajamnya.


"Tentu saja aku sudah memikirkannya. Aku takut jika kau melakukannya kembali kepada ku. Dan aku tidak ingin mempersulit keadaan ku. Jadi aku memutuskan untuk melakukannya dengan begitu aku tidak akan takut jika suatu hari nanti kau dan aku berpisah. " Jelas Nia.


"Beraninya kau lakukan itu? Apa kau pikir kau mempunyai hak untuk melakukan itu? " bukankah seharusnya lebih baik jika kau mengandung anak ku? "


"Tidak. Aku tidak ingin mempunyai anak dari orang yang tidak mencintai ku begitu juga sebaliknya. "


"Apa kau serius dengan ucapan mu itu? "


Nia menjawab hanya dengan menganggukkan kepalanya. "Beraninya kau berpikir untuk meninggalkan ku. " Gumam Gael mengepalkan keduanya tangannya.


"Dimana benda itu? " mulai mencari didalam setiap laci nakas. "Untuk apa? " tanya Nia.


"Aku ingin memastikan jika ucapan mu itu adalah benar. " Dengan polosnya Nia mengambil tablet pencegah kehamilan yang ia konsumsi selama ini dari dalam tasnya.


"Ini. " Menunjukkan kepada Gael. Dengan penuh amarah Gael mengambil benda yang ada ditangan Nia. Membuka pil pencegah kehamilan itu dari kotaknya sambil berjalan menuju kamar mandi. Membuang semua isinya kedalam kloset.


"Apa yang kau lakukan? " Nia ikut masuk kedalam kamar mandi dan melihat apa yang dilakukan oleh Gael.


"Kau masih bisa bertanya apa yang ku lakukan setelah kau melihat semuanya. " Seringai disudut bibir Gael.


"Kenapa kau membuangnya? "


Gael membalikkan badanya. Menangkup wajah Nia dengan kedua tanggannya Menempelkan bibirnya di bibir milik Nia.


Terkejut dengan serangan tiba-tiba dari Gael. Tubuh Nia diam mematung. Merasa tak ada penolakan Gael memperdalam ciumannya.


Me••••• bibir Nia dengan lembut. Awalnya Nia nerima sentuhan dari Gael namun kemudian ia tersadar dan mendorong tubuh Gael dengan keras sampai terdorong kebelakang menjauh darinya.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan? "


__ADS_2