Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Melakukan untuk kedua kalinya


__ADS_3

"Seberapa dekat hubungan mu dengan Tian? " selidik Gael sambil terus mengemudikan mobilnya.


"Bukan urusan mu! " Nia tampaknya tidak ingin membahasnya dengan Gael.


"Dimana kesopanan mu dalam berbicara? " Gael melirik kearah Nia.


Nia enggan untuk meladeni Gael yang selalu berujung dengan perdebatan. Nia memilih memejamkan matanya dengan posisi wajahnya mengarah kesamping kirinya.


Gael berusaha berkomunikasi dengan baik kepada Nia namun perkataan yang terucap selalu bertolak belakang dengan keinginannya itu. Dimana Gael akan selalu menanyakan sesuatu dengan penempatan kata-kata yang membuat keduanya berdebat dan tak jarang juga membuat Nia merasa sakit hati dengan ucapannya.


Begitu tiba Dimansion Nia keluar dari mobil tanpa menunggu Gael terlebih dahulu. Nia benar-benar tidak ingin berlama-lama bersama dengan Gael, ia berlari masuk ke mansion dan segera naik ke kamarnya.


"Kita belum selesai bicara. " Pekik Gael begitu membuka pintu kamar dan mendapati Nia sedang memainkan ponsel nya.


Nia mengabaikan ucapan Gael, sibuk dengan ponsel nya membalas pesan dari Pirdo.


Gael yang sedari tadi mengamati apa yang sedang Nia lakukan kini tak bisa menahan dirinya lagi. Gael menarik paksa ponsel Nia. "Kembalikan!" Nia mencoba mengambil ponsel nya dari tangan Gael.


"Berhenti disitu! " tunjuk Gael ketika Nia berusaha kembali merebut ponsel tersebut dari tangan Gael. Keberanian Nia menciut ketika Gael menatapnya dengan tatapan membunuhnya.


Merasa tidak ada lagi pergerakan dari Nia, Gael melihat layar ponsel itu dan membaca pesan dari Pirdo. "Apa ini? " Gael mencoba menarik turunkan layar ponsel Nia membaca satu persatu pesan antara dirinya dan Pirdo.


"Kau? " Gael mencengkram kuat ponsel Nia.


"Apa? " Nia merasa tak ada salah.


Sorot mata Gael terlihat jelas bahwa ia sedang menahan amarahnya. "Kembalikan ponsel ku? " Nia mengulurkan tangannya kearah Gael.


"Kau mau ini? " Gael mengangkat ponsel tersebut melewati kepalanya. "Ambillah! " suruh Gael. Nia hendak berjalan mendekati Gael namun langkahnya terhenti begitu Gael melemparkan ponsel milik Nia membentur dinding kamar.


Prangk

__ADS_1


Nia mengikuti arah ponsel nya yang dilempar oleh Gael barusan. Nia menatap penuh amarah melihat ponsel bututnya hancur berserak dilantai.


"Kau! " Nia menoleh kearah Gael sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Apa kau pantas membicarakan suami mu sendiri seperti itu kepada pria lain? " Gael mendekati Nia dan meraih pinggang Nia tidak menyisakan jarak diantara keduanya.


"Lepaskan! " Nia berusaha terlepas dari Gael. Bukannya melepas Gael justru mempererat rangkulannya dipinggiang Nia.


"Kau jangan membicarakan ku seperti itu. " Gael. menatap lekat wajah Nia yang begitu dekat dengan wajahnya. Hembusan nafas satu sama lain saling beradu. Pandangan mata Gael tertuju pada bibir merah Nia.


"Lepas... " Suara Nia tenggelam disaat Gael menyatukan bibirnya dengan bibir Nia. Nia terdiam sejenak, terkejut dengan perlakuan Gael yang tiba-tiba.


Umm


Nia mendorong tubuh Gael menjauh dari nya namun Gael kembali mencium bibir Nia dengan kasar. Tangan Gael semakin mempererat rangkulannya dipinggiang Nia dan tangan satu lagi ia gunakan untuk menahan tengkuk leher Nia agar tak bisa terlepas darinya.


Pangutan bibir itu terlepas ketika Gael menyadari Nia hampir kehabisan nafasnya. Memberi ruang untuk Nia mengisi oksigen sebelum ia kembali mel****bibir itu.


Nia berusaha menghindar dari Gael, Nia berlari menuju pintu kamar namun usahanya itu sia-sia. Gael menarik tubuh Nia kemudian Gael mengunci pintu kamar lalu membuang kunci itu kesembarang arah.


Nia mulai ketakutan, bayangan pada malam itu kembali lagi ketika Gael berhasil mengambil kehormatan nya. "Mau apa? " Nia terus berjalan mundur menjauhi Gael.


Gael mendekati Nia, menarik paksa tangan Nia kemudian memeluk erat tubuh Nia. "Aku mohon lepaskan aku. " Pinta Nia. Namun Gael mengabaikan ucapan Nia.


Gael menghempaskan tubuh Nia keatas ranjang dan dengan gerakan cepat Gael sudah berada diatas tubuh Nia. Kembali menyatukan bibirnya dibibir Nia. Dibawah kungkungan Gael, Nia masih berusaha terlepas dari Gael dengan memalingkan wajahnya kesembarang arah.


Namun Gael yang sudah mode on berusaha kembali mencium bibir Nia. me***** bibir itu dengan nafas yang sudah memburu. Nia menggigit bibir Gael berusaha menghentikan ciuman itu.


"Ssit!" Gael melepaskan pangutan bibirnya. Gael kembali menciumi Nia mengabaikan rasa sakit dibibirnya akibat ulah Nia. Kali ini Gael menjelajahi leher jenjang Nia meninggalkan tanda kepemilikan nya disana.


Gael menarik paksa pakaian yang Nia kenakan dengan sekali tarikan sehingga memperlihatkan gundukan Nia yang masih tertutup dengan dalaman berwarna hitam. Membuka paksa dalaman itu sehingga memperlihatkan gundukan Nia dengan Jelas. Dengan rakusnya Gael men**** di sana me***** dada Nia.

__ADS_1


Gael mencengkram kedua tangan Nia, membuka celana jins yang dikenakan oleh Nia. Dan hal yang sama pun terjadi kembali. Dimana Gael melakukan penyatuan nya dengan Nia untuk kedua kalinya.


Nia tidak lagi memberontak ketika merasakan bagian bawahnya terasa penuh. tubuhnya lemas dimana ia tidak bisa melawan dibawah tubuh Gael yang terus memajukan mundurkan senjata nya dibawah sana.


Begitu Gael mendapat pelepasannya, ia merebahkan tubuhnya disamping Nia. Namun Nia membalikkan badanya membelakangi Gael. Merasakan gerakan Nia, Gael ikut memiringkan badannya kearah Nia.


Gael memeluk Nia dalam keadaan masih polos tanpa sehelai benang pun. Nia menepis tangan yang melingkar di pinggangnya itu. Mendudukkan dirinya di pinggiran ranjang. "Aku membenci mu." Nia beranjak masuk kedalam kamar mandi meninggalkan Gael yang sedang memikirkan perkataan nya itu.


Nia mengunci pintu kamar mandi dari dalam. Disana ia menghadap ke cermin yang ada didalam kamar mandi itu memperlihatkan tubuhnya yang dipenuhin tanda merah kebiruan itu.


Nia menggosok tubuhnya sampai berulang kali. "Kenapa ini tidak bisa hilang? " erang Nia frustasi. Mencoba kembali menggosok tubuhnya berharap dapat menghilangkan semua tanda yang ada dibagian leher dan dadanya itu.


"Aahhh. " Teriak Nia dari dalam kamar mandi.


"Nia..." Panggil Gael dari luar. "Ada apa? " Gael menggedor-gedor pintu kamar mandi. "Buka pintunya Nia." Teriak Gael namun Nia mengabaikan teriakan dari Gael.


"Nia, ada apa? jangan membuat ku takut! " Gael terus berusaha agar Nia membuka pintu itu.


Cukup lama Gael menunggu agar Nia membuka pintu kamar mandi itu namun tak ada tanda-tanda pintu itu terbuka.


Gael yang tak bisa menunggu lagi akhirnya mendobrak paksa pintu itu.


Bruk


Pintu itu akhirnya berhasil dibuka paksa olehnya. "Nia... " Gael terkejut mendapati Nia duduk di lantai kamar mandi sambil memeluk tubuh polosnya sambil terisak.


Gael mendekati Nia dan berusaha mengangkat tubuh Nia. "Lepas." tepis Nia tanpa melihat kearah Gael.


"Ada apa Nia? " Gael menangkup wajah Nia dengan kedua tangannya sehingga pandangan mata keduanya bertemu. "Aku membenci mu. " Ucap Nia sambil terisak.


"Maaf, aku takut kehilangan mu. " Gael membawa tubuh Nia kedalam pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2