Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin

Terpaksa Menikah Dengan Pria Dingin
Membawa Ica


__ADS_3

Ruangan yang tampak sangat tertata rapi, Ica duduk disofa sambil mengarahkan pandangannya mengelilingi setiap sudut ruangan. Ia kagum dengan desain ruangan yang begitu indah menurutnya. Daren meletakkan sebotol minuman dingin di meja tepat didepan Ica.


"Minum dulu. " Suruh Daren kepada Ica.


"Ini dimana? " selidik Ica masih terus memutar bola matanya mengamati ruangan itu.


"Ini apartemen ku. " Terang Daren.


"Kau tinggal disini sendirian? " tanya Ica yang sedari tadi tidak melihat penghuni lain selain Daren berada di dalam gedung itu.


Daren menganggukkan kepalanya kemudian menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


"Kalau kau tidak keberatan bisakah aku menanyakan sesuatu? " tanya Daren menatap wajah Ica.


"Tentu saja, kau ingin menanyakan apa? " balas Ica.


"Apa yang terjadi tadi? " selidik Daren merasa perlu mengetahui apa sebenarnya yang terjadi kepada Ica setelah Daren mendengar perdebatan Ica dan tantenya. Bagaimana pun juga Ica adalah seseorang yang penting baginya dan merasa harus tau apa yang terjadi dan membuat Ica menangis.


Ica menundukkan kepalanya. "Kau pasti sudah mendengarnya bukan? " Lirih Ica tanpa berani menatap wajah Daren karena malu dengan kelakuan tantenya.


"Bisa kau jelaskan agar aku bisa membantu mu? " Pinta Daren. Ica mendongakkan kepalanya menatap Daren.


Ica pun akhirnya menceritakan semuanya kepada Daren bagaimana tantenya memperlakukan dirinya yang selalu saja menyusahkan Ica bahkan Ica selalu menghabiskan semua hasil keringatnya untuk memenuhi semua kebutuhan tante Sarah yang siring pulang dalam keadaan mabuk.


Bahkan Ica menceritakan alasan dia pergi tiga tahun lalu untuk meninggalkan tante Sarah yang selalu saja menyusahkannya. Namun tetap saja Ica tidak tega kepada tantenya itu. Sering Ica mendapatkan telpon dari orang-orang yang tidak dikenalnya untuk menagih hutang tante Sarah kepadanya.


Bahkan dengan meninggalkan Sarah tidak bisa dengan begitu mudahnya. Hatinya selalu saja merasa iba kepada Sarah walaupun ia sendiri harus menderita dengan banting tulang namun hasilnya akan habis begitu saja tanpa ada yang tersisa untuknya

__ADS_1


Dan terakhir yang membuat Ica harus pulang karena tante Sarah membuat keributan ketika dalam keadaan mabuk dan berakhir dikantor polisi. Terpaksa Ica datang memohon kepada orang yang sudah ingin memperkarakan tantenya.


Tentunya Ica menjadi jaminan jika tantenya tidak akan membuat keributan lagi kepada orang yang sudah memperkarakan nya.


"Untuk apa kau bertahan dengan orang seperti itu? " Selidik Daren dengan suara datarnya namun jauh didalam lubuk hatinya ia merasa kasihan kepada Ica yang banyak mengalami kesulitan karena tantenya.


ingin rasanya Daren minjamkan bahunya untuk Ica menyandarkan kepalanya disana.


"Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Beliau yang sudah membesarkan ku setelah kedua orang tua ku tiada dan aku hanya ingin membalas semua kebaikannya." Ica menarik nafasnya sejenak sebelum ia kembali melanjutkan ucapannya.


"Aku tau betul dia seperti itu karena dicampakkan oleh suaminya karena wanita lain. Aku tau kalau tante aku sebenarnya orang baik hanya saja dia berubah seperti itu karena merasa sakit hati dihianati orang yang sangat ia cintai. " Jelas Ica panjang lebar.


"Tapi tetap saja perbuatannya itu tidak bisa dibenarkan. " Ucap Daren.


"Kau benar maka dari itu aku tetap berada disampingnya untuk merubahnya kembali menjadi orang yang seperti sebelumnya. Tante Sarah ku yang dulu bukanlah orang seperti yang sekarang ini dan aku yakin aku bisa mengembalikan jati dirinya seperti dulu. " Ucap Ica penuh harap.


"Jika itu yang kau mau maka lakukanlah dan jika kau membutuhkan ku maka hubungi saja aku. Aku akan senang hati membantu mu. " Terang Daren menatap wajah Ica dengan serius.


"Bagaimana? apa kau sudah merasa lebih baik? " Daren menatap lekat wajah Ica. Wanita yang pernah ia cintai dan sampai sekarang pun perasaan itu masih ada dan tetap sama seperti dulu.


Perasaan cintanya yang begitu dalam kepada Ica membuat Daren masih sendiri sampai pada saat ini. Ia selalu berharap jika suatu saat nanti ia akan bertemu kembalubtidak akan menyia-nyiakan waktunya seperti dulu yang pernah ia lakukan. Ia tidak akan pernah melepaskan Ica lagi.


"Ia. Terima kasih sudah mau mendengarkan ku. " Terang Ica kemudian mengambil minuman dingin yang tadi dibawakan oleh Daren dan meneguknya.


"Jika kau belum siap bertemu dengan tante mu maka menginap lah disini. " Daren berbicara dengan santai sementara Ica sudah memikirkan yang bukan-bukan.


"Tidak perlu sebaiknya aku pulang. " Tolak Ica dengan lembut.

__ADS_1


"Baiklah jika itu yang kau mau. " Daren berdiri dari duduknya dan diikuti oleh Ica.


"Oya masukkan nomor mu. " Daren menyodorkan ponselnya kepada Ica. Dengan ragu-ragu Ica pun mengetikkan nomor ponselnya dan begitu selesai Ica mengembalikan ponsel milik Daren.


"Kali ini jangan ganti nomor tanpa sepengetahuan ku! " Tegas Daren. Karena Ica menganti nomornya dulu tanpa memberitahukannga kepada Daren dan hal itu juga yang menyebabkan keduanya tidak pernah berhubungan satu sama lain.


"Umm. " Hanya itu yang keluar dari mulut Ica.


Ketika Daren menghentikan mobilnya tepat didepan rumah yang ditinggali oleh Ica bertepatan tante Sarah juga baru tiba dengan keadaan mabuk.


"Selalu saja seperti ini. " Lirih Ica.


"Kau pulanglah dan terima kasih atas waktu mu. " Ica hendak membuka pintu mobil. "Apa kau perlu bantuan ku? "Terang Daren merasa khwatir kepada Ica.


"Tidak usah kau pulanglah aku bisa mengatasi tante Sarah lagian dia pasti akan langsung tidur setelah ini. " Jelas Ica.


"Baiklah kalau begitu aku pulang. " Pamit Daren dan Ica pun turun dari mobil dan menyusul tante Sarah yang tergopoh-gopoh meraih gagang pintu masuk.


"Tante. " Ica menahan tubuh Sarah agar tidak terjatuh. Membuka pintu dengan satu tangannya. "Kau dari mana ha? dan sejak kapan kau pulang dengan mobil mewah seperti itu? " cecar Sarah yang sempat melihat Ica turun dari mobil yang dimaksud oleh Sarah.


Ica tidak menanggapi ucapan tantenya memilih diam dan membawa masuk Sarah yang sudah mabuk. Menuntun Sarah menuju kamarnya.


Setelah Ica menutup pintu barulah Daren pergi dari tempat itu.


Ica menghempaskan tubuh Sarah diatas tempat tidur dengan nafas ngos-ngosan. Membetulkan kedua kaki Sarah yang masih tergantung dipinggiran tempat tidur.


Ica menjambak Rambutnya sambil menggigit bibir bawahnya sementara tangan satunya dia letakkan pinggangnya. Menatap tantenya dengan tampang yang memprihatinkan.

__ADS_1


Merasa tak bisa berbuat apa-apa, Ica menyelimuti tubuh Sarah kemudian keluar dari kamar Sarah menuju kamarnya sendiri.


"Bagaimana cara ku menyadarkan tante jika perbuatan tante ini salah. Dan bukan begini caranya untuk melupakan semua yang sudah terjadi." Lirih Ica sedih mengingat kondisi Sarah yang hampir tiap malam pulang dalam keadaan mabuk.


__ADS_2