
Gael manatap Nia yang sudah tertidur pulas. Terukir senyuman dibibir Gael sebelum ia naik ke atas ranjang. Berbaring disamping Nia, mendekatkan tubuhnya. Memeluk Nia sebelum ia memejamkan mata menyusul Nia masuk kealam mimpi.
"Apa ini? Kenapa terasa berat? " Nia terbangun dan berusaha mengumpulkan kesadarannya sambil mengerjap-erjapkan matanya menatap langit-langit kamar. Menoleh kebagian bawah yang terasa berat. Sebuah tangan melingkar dibagian perut Nia dan bahkan sebelah kaki Gael ikut naik keatas tubuhnya. Menoleh kearah samping melihat sang pemilik tangan.
Aa... Nia mendorong kuat tubuh Gael sampai terjatuh ke lantai.
Bruk.
"Aduh." Gael meringis kesakitan sekaligus terkejut. Menggerutu dalam keadaan setengah sadar. Meraih pinggiran ranjang berpegangan sambil berdiri. Sementara tangan satu lagi mengelus bokongnya yang baru saja menyentuh lantai.
"Kenapa kau mendorong ku? " tanya Gael menatap tajam Nia dengan wajah bantalnya.
"Maaf tuan, tadi aku terkejut karena tuan.. " Nia meremas jarinya tak bisa melanjutkan kata-katanya itu.
"Kau? " Gael kembali naik keatas ranjang. Nia dengan sigap meringsut menjauhkan dirinya.
"Mau kemana? " Gael menarik tangan Nia. "Jangan harap kau bisa lari dari ku setelah membuatku jatuh ke lantai."
"Maaf tuan, aku benar-benar tidak sengaja tadi. Itu hanya gerakan spontan karena aku terkejut ketika terbangun dan melihat tangan tuan memeluk ku." Jelas Nia berharap bisa terlepas dari Gael.
"Aku memeluk mu? " Gael menunjuk dirinya sendiri.
"I-ia tuan. " Nia menjawab dengan terbata-bata sambil menganggukkan kepalanya.
"Jangan asal bicara. Atau mungkin yang terjadi adalah sebaliknya? " Gael penuh dengan seringai di bibirnya.
"Tidak tuan, mana mungkin saya berani memeluk tuan. " Elak Nia membela dirinya.
"Tapi aku merasa kau sedang membohongi ku. " Tuduh Gael dengan sorot mata tajamnya.
"Ya, ya kau adalah rajanya yang selalu benar meskipun kau yang salah. " Gumam Nia tentunya dalam hati.
"Maaf tuan. " Nia memilih mengalah karna bagaimana pun Gael akan terus memojokkannya.
"Jika ingin ku peluk seharusnya kau bilang." Gael merentangkan kedua tangannya hendak mendekap tubuh Nia.
Nia memundurkan badanya menjauh dari Gael sebagai bentuk penolakannya. "Kenapa? " Gael menurunkan kedua tangannya. "Bukan kah kau tadi melakukannya diam-diam? sekarang lakukanlah dengan terang-terangan. " Seringai licik dibibirnya Gael. Memutar balikkan fakta.
"Tidak tuan, aku masih belum mandi. Nanti tuan merasa tidak nyaman dengan bau badan ku." Nia turun dari ranjang dengan wajah gugupnya berlari masuk ke kamar mandi.
Gael menatap Nia yang berlari menghindar darinya dengan senyuman penuh kemenangan berhasil menggoda Nia.
"Dasar, dia yang tidur sambil memeluk ku tapi dia malah menuduhku yang memeluknya." Gerutu Nia didalam kamar mandi.
__ADS_1
"Pagi pak Gus. " Nia berjalan menghampiri pak Agus yang sedang berada di meja makan bersama pelayan yang lainnya sedang menyiapkan sarapan.
"Pagi nyonya muda. " Pak Agus membungkukkan badannya yang juga diikuti oleh pelayan yang lainnya.
"Tuan Gael bilang beliau mau sarapan di kamar saja. " Terang Nia.
"Baik nyonya. " Pak Agus mengisyaratkan kepada pelayan itu untuk menyiapkan sarapan untuk tuannya itu.
"Biar saya saja. " Nia mengambil nampan yang sudah berisikan sarapan itu, hendak dibawa oleh salah satu pelayan.
"Silahkan nyonya. " pelayan tadi pun memberikan nampan tersebut kepada Nia.
"Terima kasih." Nia membawa nampan tersebut menuju kamar. "Silahkan tuan. " Nia meletakkan nampan tersebut diatas meja yang ada di hadapan tuan Gael.
"Duduk. " Gael menepuk sofa disampingnya. Nia pun mengikuti perintah Gael duduk disana. "Sekarang apa lagi? " Batin Nia hanya bisa pasrah. "Suapi aku. " Gael berpura-pura sibuk dengan ponselnya tanpa menoleh kepada Nia.
"Apa? " Nia menoleh.
"Kau tidak dengar? aku meminta mu menyuapi ku." Masih tetap fokus dengan ponselnya.
"Baik tuan. " Nia mulai menyuapkan sarapan untuk Gael. "Kau juga makan. " Gael menarik sendok yang ada ditangan Nia kemudian menyuapkan makanan itu kemulut Nia.
"Tidak usah tuan, aku bisa sendiri. " Tolak Nia. "Buka mulut mu. " Tegas Gael tak ingin di bantah.
"Maaf tuan. " Nia yang mengerti maksud dari ucapan Gael kembali menyuapkan makanan itu ke mulut Gael.
"Ada apa ini? apa dia salah minum obat? " Nia membatin.
Mereka menghabiskan sarapan di pagi itu dengan sepiring berdua. Walaupun sebenarnya Nia tidak. menginginkan hal itu namun tetap saja ia tak bisa menolak apa yang diinginkan tuannya itu.
Nia berjalan dibelakang Gael menuruni tangga mengantarkan Gael berangkat ke kantor sampai ke pintu utama mansion.
Pak Agus dan Daren yang sedari tadi sudah menunggu tuannya itu untuk turun bergerak mengikuti langkah Gael.
Nia manatap mobil yang membawa suaminya itu sampai tidak terlihat baru lah ia kembali masuk kedalam mansion. "Jika kau terus bersikap baik pada ku seperti tadi, aku takut jika aku sampai jatuh cinta pada mu. Dan jika itu terjadi maka pada akhirnya aku akan terluka. Terluka karena mencintai orang yang tak seharusnya aku cintai." Gumam Nia dalam hati sambil terus melangkah masuk.
"Nyonya.. " Panggil pak Agus yang melihat Nia berjalan sambil melamun tanpa memperhatikan langkahnya yang terlihat gontai.
"Ha?" Nia tersadar dari lamunannya.
"Apa nyonya baik-baik saja? " tanya pak Agus sudah mendekati nyonya mudanya itu.
"Aku baik-baik saja. " Nia menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil berlalu meninggalkan pak Agus yang menatapnya bingung.
__ADS_1
Siang harinya.
"Daren, kau hubungi Nia. Suruh dia datang dan membawakan ku makan siang." Perintah Gael.
"Baik tuan. " Daren mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya.
"Halo pak Agus."
"Hei.. Kenapa kau malah menghubungi pak Agus, bukan kah aku mengatakan pada mu untuk menghubungi Nia? "
"Maaf tuan, tapi ponsel nyonya.. "
"Kau lanjutkan. " Gael sudah tau penyebabnya kenapa Daren menghubungi pak Agus bukan menghubungi Nia. Karena ia sudah mengingat jika ponsel Nia sudah dirusak oleh nya.
Daren kembali berbicara dengan pak Agus melalui sambungan telpon untuk meminta pak Agus memberitahu kan kepada Nia perintah dari tuannya itu. Dan tak beberapa lama Daren menyimpan kembali ponsel miliknya kedalam sakunya.
"Kau belikan ponsel baru untuknya. " Perintah Gael.
"Baik tuan. "
"Apa? " Nia tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari pak Agus.
"Tuan meminta anda datang ke kantor tuan Gael dan membawakan makan siang untuk tuan. " Pak Agus mengulangi kata-katanya.
"Katakan padanya aku sedang tidak enak badan sekarang. " Nia mencari alasan agar tidak pergi menemui Gael ke kantornya.
"Tapi nyonya tuan pasti akan marah jika nyonya tidak mendengarkan perintah beliau. "
"Ayolah pak Gus, sekali ini bantulah aku. " Mohon Nia mengatupkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Maaf nyonya jika anda ingin mendapat masalah tolong jangan libatkan saya. "