
"Maaf, aku takut kehilangan mu. " Gael membawa Nia kedalam pelukannya. Namun Nia mendorong tubuh Gael sampai Gael terduduk di lantai kamar mandi.
Gael berdiri kemudian mengambil kan jubah mandi untuk Nia. "Pakai lah kau bisa masuk angin. " Gael mencoba memakaikan jubah mandi itu kepada Nia.
"Aku bisa sendiri. " Nia menepis tangan Gael, mengambil jubah mandi itu dari tangan Gael. "Kau keluarlah! " Suruh Nia masih dengan posisi duduk sambil memeluk lutut nya menutupi tubuh polosnya.
"Maaf. " Lirih Gael menatap Nia dengan rasa bersalah.
Nia memalingkan wajahnya, enggan untuk melihat Gael. "Baiklah aku akan keluar. " Akhirnya Gael mengalah keluar dari kamar mandi tersebut.
Sudah hampir tiga puluh menit Nia didalam kamar mandi membuat Gael gelisah. Gael mondar mandir didepan pintu kamar mandi sembari menunggu Nia keluar.
Clek
Nia keluar dari kamar mandi, berjalan melewati Gael yang sedang menatapnya. Nia mengambil pakaiannya didalam lemari kemudian mengganti pakaiannya didepan Gael.
Gael menatap Nia yang sedang memakaikan pakaiannya satu persatu. Tidak biasanya Nia melakukan hal itu didepan Gael namun kali ini Nia tak perduli lagi dengan keberadaan Gael. Toh semua yang ada ditubuh Nia sudah Gael lihat dan sentuh.
"Kau mau kemana? " Gael menarik tangan Nia ketika Nia hendak berjalan kearah pintu.
Nia melepaskan tangan Gael dari tangannya tanpa menjawab sepatah kata pun. Nia keluar dari kamar itu mengabaikan Gael yang memanggil namanya.
Hari yang sudah senja, Nia menatap satu persatu bunga yang ada di taman belakang mansion namun hatinya berada ditempat lain. Nia bingung dengan perasaannya sendiri. Di satu sisi yang dilakukan Gael terhadapnya bukanlah sebuah kesalahan hanya saja Gael melakukannya dengan memaksa.
Nia tertidur dibangku taman sambil bersandar di sandara kursi yang terbuat dari kayu itu. Mungkin karena merasa lelah dan badannya terasa remuk akibat perbuatan Gael sebelumnya sehingga Nia sampai tertidur disana.
Gael yang mengetahui keberadaan Nia di taman belakang, datang untuk melihat apa yang sedang di lakukan Nia disana.
__ADS_1
"Kau ternyata ketiduran disini? " Gael ikut duduk disebelah Nia. Ditatapnya wajah teduh itu, jari telunjuknya menyusuri seluruh wajah Nia seolah ia sedang melukis kan wajah itu dihatinya. Mengecupi seluruh wajah Nia dengan lembut. "Semua yang ada pada diri mu adalah milik ku." Gael berbicara sendiri seolah Nia sedang mendengarkannya.
"Mata ini, pipi ini, hidung ini dan bibir ini semuanya milik ku. " Tegas Gael. "Maaf jika aku melukai perasaan mu Nia. Aku tak tau dengan perasaan ku ini tapi satu yang aku tau aku tak bisa melihat mu dekat dengan pria lain. Sekali pun itu pria yang sudah kau anggap sebagai sahabat itu." Gael menghentikan ucapannya sejenak sebelum melanjutkan ucapannya kembali.
"Aku tak tau perasaan apa ini?" Gael kembali mengusap wajah Nia dengan lembut sebelum ia mengangkat tubuh Nia. Membawanya meninggalkan taman itu menuju kamar mereka.
"Ada apa dengan nyonya tuan? " Pak Agus mengikuti langkah tuannya itu menaiki tangga ke lantai dua mansion.
"Tidak apa-apa, dia ketiduran di taman belakang mungkin dia hanya kelelahan." Terang Gael terus berjalan menuju kamarnya.
Pak Agus berlari melewati tuannya itu dan dengan sigap membukakan pintu kamar untuk tuannya. "Terima kasih pak Agus. " Ucapan Gael membuat pak Agus kebingungan karena tidak biasanya tuannya itu mengucapakan kata terima kasih kepadanya.
"S-sama-sama tuan. " Ucap pak Agus kikuk.
Gael meletakkan tubuh Nia diatas ranjang dengan hati-hati agar Nia tidak terusik dari tidurnya.
"Tuan ada yang bisa saya bantu? " tanya pak Agus mendekati tuannya itu yang masih sibuk memperbaiki posisi tidur Nia serta memakaikan Nia selimut.
"Baik tuan, saya permisi. " Pak Agus membungkukkan badannya sebelum pergi meninggalkan tuannya.
"Umm. "
"Seperti nya nyonya Nia membawa perubahan besar pada tuan Gael. Biasanya dia tak pernah berterima kasih kepada ku dan tadi beliau melakukan itu. Sungguh hal tak pernah aku dengar sebelumnya." Gumam pak Agus sambil terus berjalan keluar dari kamar tuannya itu.
Nia menggerakkan badannya, membuka matanya secara perlahan. Ia menatap langit-langit kamar. "Kenapa aku ada di kamar bukan kah tadi aku sedang berada di taman belakang? " Gumam Nia merasa heran kenapa dia tiba-tiba sudah berada didalam kamar.
"Sudah bangun? " Suara Gael menyadarkan Nia dari pikirannya. Menoleh kearah sumber suara tersebut. Bukannya menjawab Nia malah memiringkan badannya membelakangi Gael.
__ADS_1
"Kau tunggu sebentar, aku akan memberi tahu kan pak Agus untuk menyiapkan malam untuk kita. "
"Aku tidak lapar. " Sahut Nia tanpa membalikkan badannya menghadap Gael.
Gael tidak mendengarkan ucapan Nia, ia justru tetap meminta pak Agus untuk menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.
"Pak Agus, siapkan makan malam untuk kami dan tolong bawakan kekamar nanti. " Perintah Gael.
"Baik tuan. " Pak Agus segera melakukan apa yang dikatakan tuannya itu. "Tadi kata Terima kasih, dan sekarang tolong. Sungguh tuan Gael berbeda dari sebelumnya. " Ucap pak Agus mengecilkan suara nya.
"Nia, kau makan lah dulu. " Suruh Gael membawa nampan yang sudah berisikan makan malam untuk mereka yang baru saja dibawakan oleh pak Agus.
"Aku tidak lapar. " Ketus Nia.
"Tapi Nia.. "
"Apa kau tidak mendengarnya? aku tidak lapar. " Nia mengulangi ucapan nya.
"Baiklah, jika kau sudah lapar makan lah." Gael meletakkan makanan tersebut diatas nakas yang ada disebelah ranjang.
Gael tau mungkin Nia butuh waktu sendiri,dan Gael pun meninggalkan Nia, ia memilih untuk pergi ke ruang kerjanya.
Gael mencoba mengalihkan pikirannya dari Nia namun tetap saja tidak bisa. "Nia seperti itu karena ulah ku yang tak bisa memintanya dengan lembut. Tapi bagaimana mungkin dia akan mau melakukannya dengan ku jika hatinya tidak untuk ku?" Gumam Gael.
Sudah satu jam Gael berada di ruang kerjanya itu tanpa melakukan apa pun. Ia meninggalkan Nia di kamar karna merasa Nia tak ingin melihatnya.
Gael memutuskan untuk kembali ke kamarnya. "Ternyata dia tidak memakan makanannya. " Gael menatap makanan itu dan Nia secara bergantian.
__ADS_1
"Bagaimana cara ku memulai berbicara dengannya. Aku takut jika kau benar-benar membenci ku Nia setelah aku melakukan itu pada mu. Tapi aku hanya, Argghh! " Gael mengusap wajah nya kasar.
Kali ini seorang tuan Gael yang dikenal dengan sikap dinginnya justru tidak bisa tenang karna Nia mengacuhkannya. Kebingungan sendiri mencari cara bagaimana ia akan memulai hubungannya dengan Nia. Bahkan Nia saja sudah mendiamkannya, jika saja Gael tidak melakukannya Nia tidak akan seperti itu. Namun hal itu sudah terjadi, Gael tidak menyadari jika ia mulai mencintai Nia.