
"Maaf tapi ini demi kebaikan kita. " Lirih Gael sebelum kembali keatas ranjang nya.
Keesokan harinya.
"Kak Aidan... " Teriak seseorang berlari kecil kearah Aidan yang sedang berada dimeja makan bersama mama Mita juga Nia. Wanita itu memeluk Gael dari belakang meskipun sedikit terhalang oleh sandaran kursi yang diduduki oleh Gael.
"Mauren... Aku sedang makan! " Suara datar Gael. "Is.. Mentang-mentang sudah menikah, biasa nya juga Mauren selalu begini tapi kak Aidan tidak protes. " Kesal Mauren melepaskan tangannya dari bahu Gael.
"Tidak ada hubungannya dengan menikah Mauren... Bagaimana jika aku tersendak karena ulah mu itu? " Terang Gael meluruskan maksud nya.
Sementara Nia hanya diam sambil memperhatikan keduanya dengan tatapan sendunya. "Apa kabar tante? " Mauren menghampiri Mita dan mencium pipi Mita. "Baik sayang, bagaimana dengan mu? " tanya Mita. "Kabar baik tante! " Mauren beralih mendekati Nia yang duduk disamping Gael.
"Dan ini pasti kak Nia istri dari kak Aidan. " Seru Mauren yang hanya diangguki kepala oleh Nia sembari tersenyum kaku. "Hai kak, Aku Mauren. " Mauren mengulurkan tangannya ke Nia. "Nia. " Balas Nia menjabat tangan Mauren.
"Ternyata benar kata mommy kau sangat cantik. " Puji Mauren. "Kak Aidan ternyata pintar dalam hal memilih wanita untuk dijadikan istri!" Mauren menggoda Aidan yang sedang pokus dengan sarapannya. "Dan kenapa kalian menikah tanpa memberi tahu ku? " selidik Mauren menatap Gael dengan tatapan meminta penjelasan darinya.
Namun Gael tidak menghiraukan perkatan Mauren yang mengundang kekesalan Mauren. "Kak aku bertanya pada mu! " ucap Mauren lagi yang masih ingin menggoda Gael.
"Mauren.. Kau datang pagi sekali kesini hanya untuk menanyakan hal itu? " Gael menghentikan makannya menatap Mauren. "Sekalian numpang sarapan juga! " pekik Mauren sambil mengambilkan roti dan mengoleskan nya dengan selai.
"Kau ini, cepat lah habiskan sarapan mu dan pulang lah! " Ucap Gael kemudian melanjutkan kembali sarapannya.
__ADS_1
"Kakak mengusir ku? " Mauren mulai kesal dengan ucapan Gael. "Mauren, Gael kalian lanjutkan sarapan kalian dulu baru setelah itu kalian lanjutkan perdebatan kalian! " Mita menengahi keduanya.
"Oke, siap tan! " Lagi-lagi Mauren membuat Gael menggelengkan kepalanya.
"Ternyata kau bisa juga banyak berbicara. " gumam Nia menatap Gael dengan perasaan yang tak menentu pasalnya Gael tidak pernah banyak berbicara dengannya.
Setelah selesai sarapan Gael langsung berangkat ke kantornya. Sementara Mauren dan juga Nia kini sedang duduk bersama diruang tengah yang ada didalam mansion itu.
"Kak Nia.. Apa kak Aidan memperlakukan mu dengan baik? " selidik Mauren yang sudah mengetahui apa yang terjadi sehingga kakaknya itu menikah secara tiba-tiba.
"Ya dia sangat baik padaku. " Ucap Nia menutupi kebenarannya dari Mauren. "Kakak harus bisa meluluhkan hatinya dan bantu kak Aidan melupakan masa lalunya! " Lirih Mauren.
"Masa lalu? " Nia bingung maksud dari ucapan Mauren. "Kak Aidan itu pernah mempunyai kekasih namun ternyata kekasihnya itu diam-diam bertunangan dengan sahabatnya sendiri tanpa sepengetahuan kak Aidan." Jelas Mauren mengingat kembali kejadian itu.
"Umm" sahut Mauren.
"Tapi kenapa kekasihnya melakukan itu? " Nia masih belum percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mauren.
"Karena wanita itu tidak pernah tau persis siapa kak Aidan sebenarnya dan dia mau menerima pertunangan itu karena desakan dari orang tuanya yang pada saat itu dalam masalah keuangan jadi secara tidak langsung orang tuanya menjodohkan putrinya itu untuk menyelamatkan perusahan nya yang sedang dalam masalah keuangan." Terang Mauren menceritakan semuanya kepada Nia.
Nia pun mengangguk-anggukan kepalanya mengerti dengan penjelasan dari Mauren. "O ya apa aku boleh bertanya? " Selidik Nia. "Tentu saja kak, apa itu? " Ucap Mauren. "Kenapa kau memanggil Gael dengan sebutan Aidan bukan kah namanya Gael? " tanya Nia dengan polosnya.
__ADS_1
"Ya ampun kak, kau tidak tau nama lengkap kak Aidan yang sudah menjadi suami kakak? " Mauren tak habis pikir bagaimana mungkin Nia tidak mengetahui hal itu.
"Tidak! " Nia menggelengkan kepalanya lemah membuat Mauren merasa kasihan kepadanya.
"Aidan Gael Atmaja" Seru Mauren memberitahu kan Nia nama panjang pria yang sudah menjadi suaminya itu.
"Maaf. " Lirih Nia merasa malu dengan kebodohannya itu. "Tidak apa kak, Aku tau kau butuh waktu dan proses untuk mengenal semua tentang suami mu itu. " Mauren mengambil tangan Nia dan menggenggam nya memberikan dukungan kepada Nia.
"Terima kasih. "Nia merasa lebih baik dengan adanya dukungan Mauren kepada nya. "Sama-sama Kak ipar. " Mauren memeluk tubuh Nia dan mengelus punggung Nia dengan lembut.
"Kak, aku harus pergi sekarang!" Mauren mengurai pelukannya menatap mata Nia dengan berbinar. "Baiklah kau hati-hati lah! " seru Nia memperingatkan Mauren.
"Kakak ipar tenang saja aku tidak sendiri, karena dad ku tidak mengijinkan ku untuk pergi sendiri dan jika kakak butuh bantuan ku jangan sungkan untuk menghubungi ku! " Ucap Mauren sebelum ia pergi meninggalkan mansion itu.
"Tentu! " sahut Nia ikut berdiri dari duduknya kemudian mengantarkan Mauren sampai kedepan pintu.
"Aku tidak tau apa-apa tentang suami ku, bagaimana bisa aku bertahan di situasi seperti ini sampai waktu yang sudah ditentukan oleh tuan Gael." Lirih Nia menatap mobil yang ditumpangi oleh Mauren sampai tak terlihat dari pandangan matanya.
Mauren berbalik hendak kembali masuk kedalam mansion namun ia terkejut dengan keberadaan pak Agus yang sudah berada tepat dibelakangnya.
"Astaga!!! pak Gus... Bapak mengagetkan ku saja. " Nia mengelus dadanya. "Maaf nyonya mengagetkan anda! saya hanya ingin memastikan bahwa nyonya baik-baik saja karena saya perhatikan sedari tadi nyonya melamun sambil berdiri sendiri disini. " Ungkap pak Agus mengutarakan kekhawatiran nya.
__ADS_1
"Aku bai-baik saja pak Gus..! "Terang Nia kemudian pergi meninggalkan pak Agus disana.
Bersambung.