
Selama makan malam Gael tak ada lagi berbicara dengan Nia. Mendiamkan Nia karena Nia tidak terlihat marah kepadanya.
"Kenapa dia diam saja? apa aku membuat kesalahan? tapi bukankah aku yang seharusnya mendiamkannya karena telah pergi bersama dengan wanita itu? ah.. Aku sungguh bodoh bagaimana bisa aku marah karena hal seperti itu? Dia tuannya dan dia punya kebebasan melakukan apa saja yang ia inginkan. " Gumam Nia melirik Gael.
"Ada apa? " Gael akhirnya membuka suaranya. Meletakkan sendok dari tangannya kepiring sambil mendongakkan kepalanya.
"T-tidak ada. " Jawab Nia gugup.
Gael meraih tissu dan membersihkan mulutnya kemudian meninggalkan Nia yang masih mengunyah makanannya. "Apa dia sudah selesai? " Nia mengarahkan pandangannya kearah Gael dan piring yang berisikan makan malam milik Gael yang belum habis.
Nia melanjutkan makan malamnya sendiri tanpa memperdulikan Gael yang menatapnya sedang duduk dipinggiran ranjang sambil menyandarkan punggungnya bersandarkan bantal.
"Kau bahkan tak menanyakan ku sudah selesai dengan makan malam ku apa tidak. Kau masih bisa melanjutkan makan malam mu tanpa memperdulikan ku. " Gumam Gael terus mengamati Nia makan dengan lahapnya.
Keesokan harinya, drama yang dibuat Gael mendiamkan Nia masih berlanjut sampai Gael berangkat ke kantor. Jika biasanya Gael akan memberi sebuah kecupan di kening Nia. Maka pagi ini berlalu tanpa seperti biasanya. Gael memasuki mobil tanpa berkata apapun kepada Nia.
"Kemarin dan hari ini kau berbeda dari biasanya. Apa ini karna wanita itu? " Lirih Nia menatap mobil yang ditumpangi oleh Gael dengan sendu.
Siang ini Nia menemui Tian di sebuah kafe. Setelah Tian memintanya untuk bertemu, Nia langsung menyetujuinya dan meminta ijin kepada mama Mita.
Tian melambaikan tangannya melihat Nia dipintu masuk kafe. Nia tersenyum dan menghampiri Tian. "Maaf kak membuat mu menunggu. " Nia menarik kursi didepan Tian untuk ia duduk.
"Tidak apa, aku juga belum lama menunggu mu. " Ucap Tian. "Mau pesan apa? " tanya Tian.
"Tidak usah kak, aku sudah makan sebelum berangkat kesini tadi." Terang Nia menolak tawaran Tian.
"Kalau begitu minuman? " Tian memanggil pelayan di kafe itu tanpa menghiraukan Nia yang hendak menolak. "Jus sirsaknya satu. " Ucap Tian kepada pelayan itu. "Baik tuan. Mohon ditunggu. " Pelayan itu pun pergi dari meja Tian dan Nia.
"Ada apa kak Tian ingin bertemu dengan ku? " tanya Nia menatap Tian. "Aku hanya merindukan mu. " Ucap Tian membuat Nia tersipu malu.
"Apa aku harus punya alasan baru bisa menemuimu? " selidik Tian. "Bukan begitu kak. " Nia seperti salah berbicara saja.
"Silahkan. " Pelayan tadi membawakan pesanan untuk Nia.
"Terima kasih. " Ucap Nia yang di anggukan kepala oleh pelayan itu.
"Aku hanya ingin menemui mu kau sudah lama tidak datang menemui ku. " Terang Tian.
Cukup lama keduanya berada disana. Tian melirik jam tangan yang ada di pergelangan tangannya. "Aku harus kembali kekantor sekarang. " Terang Tian.
"Ya sudah kakak berangkatlah. " Ucap Nia.
"Bagaimana kalau kau ikut saja dengan ku? " ajak Tian. "Tidak usah kak aku bisa pulang sendiri." Tolak Nia.
__ADS_1
"Aku tidak mengatakan jika aku tak bisa mengantarkan mu tapi aku ingin mengajak mu ke kantor ku. " Terang Tian.
"Sepertinya aku tidak bisa kak. " Tolak Nia.
"Tidak ada penolakan Nia. Kau harus ikut dengan ku. " Tegas Tian. Mau tidak mau Nia terpaksa ikut dengan Tian.
Diperjalanan Tian menerima panggilan dari sekretarisnya. "Sebentar lagi aku akan tiba katakan padanya untuk menunggu ku didalam ruangan ku. " Terang Tian kemudian mematikan sambungan telepon dengan begitu saja.
"Ada apa kak? " Selidik Nia.
"Aku kedatangan tamu dikantor ku. " Terang Tian sambil terus fokus mengemudikan mobilnya.
"Kalau kakak sibuk lain laki saja aku datang kekantor kakak. Biar aku turun disini saja. " Pinta Nia merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa Nia. Aku tidak sibuk, tamu ku pasti akan senang bertemu dengan mu." Ucap Tian.
Nia hanya mengganggukkan kepalanya tanpa menaruh rasa curiga atas apa yang sudah direncanakan oleh Tian.
CORT grup
Mengikuti langkah kaki Tian memasuki perusahan milik keluarga Mahendra. Semua karyawan yang berada disana membungkukkan badan mereka sebagai bentuk rasa hormat mereka kepada pemimpin perusahaan.
Nia merasa canggung ketika semua orang menatapnya dengan tatapan yang berbeda. Entah apa yang mereka pikirkan tentang Nia pada saat itu. Yang jelas Nia dapat merasakan pandangan beberapa karyawan disana menatapnya dengan tidak suka.
Namun ada juga yang bersikap ramah memberikan senyumannya walaupun mereka belum mengenal siapa Nia yang berjalan bersama dengan Ceo mereka.
Nia merasa lega begitu mereka sudah memasuki lif khusus untuk Ceo. Menarik nafasnya dalam dan membuangnya dengan kasar
"Kau kenapa? " Tian menoleh kearah Nia.
"Tidak. Aku hanya tidak terbiasa dengan cara orang melihat ku seperti barusan." Jelas Nia.
"Mereka hanya ingin merasakan seperti mu yang bisa berjalan bersama ku. " Ucap Tian acuh.
"Memangnya kenapa? "
"Kau tidak sadar sedang bersama dengan siapa? " Ucap Tian dengan suara datarnya.
__ADS_1
"Ia ia aku tau sedang bersama dengan tuan Tian Mahendra. Ceo dari perusahaan ini. " Terang Nia mengerucutkan bibirnya.
"Nah itu kau tau. "
Nia hanya geleng-geleng kepala dengan sikap narsis Tian.
Pintu lif terbuka. Tian melangkah keluar lebih dulu kemudian diikuti oleh Nia. "Dimana mereka? " bertanya kepada wanita cantik sebagai sekretarisnya yang berada di meja kerjanya diluar ruangan Tian.
"Beliau ada didalam tuan. " Ucap wanita cantik itu sambil tersenyum kearah Nia.
Dengan spontan Nia juga ikut membalas senyuman wanita cantik itu.
Clek
"Maaf sudah membuat kalian menunggu. " Terang Tian begitu membuka pintu ruangannya.
"Tidak masalah. "
Suara itu, suara yang begitu tidak asing ditelinga Nia.
Deg
Pandangan mata Nia dan Gael saling bertemu satu sama lain. "*Kenapa dia ada disini*? " Nia mulai panik.
Sementara Gael tidak berkata apapun namun tatapan mata yang sangat tajam membuat Nia bisa menebak apa yang akan terjadi setelah ini.
"Nyonya, kenapa anda ada disini? " Tanya Daren merasa perlu menanyakan hal itu.
Tian menatap Daren, Nia dan Gael secara bergantian. Bingung dengan sebutan nyonya Daren kepada Nia.
Belum sempat Nia menjawab dan Tian masih dengan rasa bingungnya, Gael sudah lebih dulu mengalihkan pembicaraan. "Ada apa kau memanggilku kemari? " Tanya Gael dengan raut wajah yang sudah tidak bersahabat.
"Gael, ayolah apa aku tidak boleh untuk meminta sahabat ku datang mengunjungi ku? "Jawab Tian.
"Jika tidak ada yang penting aku rasa aku tidak bisa berlama-lama disini. " Tegas Gael hendak berdiri dari duduknya.
"Apa hubungan mu dengan Nia sebenarnya? "
__ADS_1